Rabu, 24 Januari 2018
Pencarian


Jumat, 11 Agustus 2017 16:42 WIB

Puisi-Puisi Iman Budhi Santosa

Reporter :
Kategori : Jejak

Penyair Iman Budhi Santosa

` Ziarah Ulat, Kepompong, dan Kupu-kupu `

 



Melacak bercak tapak manusia dan serangga

bersama ulat, kepompong, kupu-kupu

simpan dulu bulu duri, racun dan bisa

di luar lembar halaman kamus metamorfosa

 

Tapi setujukah ulat tahun, juga kupu-kupu malam

mengupas asal mula jerat kutuk ramalan

yang memenjarakan. Menanggalkan selimut sakti

kulit warna-warni, hidup menapak ke bumi

ikhlas menerima sejengkal persinggahan

menutup tiga kali lahir berganti wujud isi terpenuhi

 

Jika tidak, ajak mereka bertapa lagi atau mati suri

ke ladang imaji dan biarkan menjelma puisi

menikmati lekuk-liku cinta perempuan laki-laki.

Agar selama diam sepi menempuh kisaran waktu

berlatih fasih menyebut ayah ibu

khidmat khusyuk mengkaji pengembaraan ulat

puasa batin kepompong dan tarian sakral kupu-kupu

 

Seandainya hanya selebar sayap ini duniamu

beranikah mengepak jauh mencari pasangan bulan madu

melalui pintu demi pintu

sekaligus menyisir kembali jalan menuju ke hulu?

 

Ketika ulat dan manusia bertatap mata

siapa percaya mereka benar-benar serupa

dalam tanah seia-sekata

sujud berdampingan memuji Tuhannya

 

2013

 

` Belajar Malu pada Burung Hantu `

 

Sepanjang siang ia merenung meneladani patung

di balik tandan buah enau atau geriap rumpun bambu.

Ranting daun tak tega menegurnya. Burung lain pun tahu

ia sedih bunyi paruh azimatnya terdengar aneh dan lucu

 

“Kata mereka wajahku menyerupai hantu.”

Bisiknya terbata-bata, seolah mengadu

sambil matanya berkaca-kaca

 

Saat senja merapat berbaur bunyi tonggeret menebar isyarat

pertapaan keramat pun perlahan ditinggalkan

seakan gelap hanya persinggahan kala tersesat.

Lalu masih dengan kecut ia beringsut melepas cengkeraman

pada dahan pilihan, berhenti sembunyi

dari sengatan matahari yang membutakan

 

Waktu puluhan kelelawar menghambur keluar

ia tetap sendiri. Tak mau meniru dan ditiru

malu pada sosok hantu yang senantiasa keliru

disamakan dengan pencuri

baru dimaafkan setelah mati

dan menjelma kesturi

 

2013

 

` Dongeng Labah-labah `

 

Dahulukala, ada seekor labah-labah tersesat

di kepala seorang raja. Tapi ia tak menyesal dan takut

dan malah ingin bersarang di sana.

Sebab, ia merasa akan lebih pintar dengan belajar

menyaksikan akal pikiran sang raja berputar-putar

dengan cerdiknya di balik mahkota

sampai seluruh punggawa bersujud mencium kakinya.

 

Ia juga percaya tak perlu lagi puasa berlama-lama

sebab pada saatnya nanti akan berubah jadi manusia

(seperti raja dan dirimu) yang dulu buta aksara

sekarang  pandai membaca angka dan huruf

kemudian merangkainya menjadi ungkapan bermakna

 

“Jangan tidur dulu. Dengarkan cerita ini sampai selesai.”

Bisik kakek lembut sambil mengelus rambut

dan aku merasa belaiannya serupa kaki arthropoda labah-labah

merambat mencari rumah baru di luar habitatnya

 

Dulu, aku tak percaya. Benar tak percaya. Kakek pasti bohong.

Bagaimana mungkin labah-labah berubah jadi manusia.

Dari kaki delapan lalu berkaki dua. Ke mana enam kaki

yang lain? Dibuang atau hilang begitu saja, atau……

 

Kini, bukan dalam dongeng atau mimpi

aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri

jutaan manusia berubah jadi ular, musang, harimau, buaya

gemar memangsa segala benda

ketika dunia penuh berada dalam genggamannya

 

2015

 

` Perempuan Pilar Jembatan `

 

Bertahun-tahun ia menepi, dituntun pincang sebelah kaki

bertahun-tahun menjual mainan dan dipermainkan

serupa pilar jembatan penuh coretan angan-angan

gumam tak beraturan dan makian menakjubkan

 

Bertahun-tahun ia tak menangis. Lupa punya air mata

juga lupa meletakkan di mana.

Bertahun-tahun ia tak punya nama

dan orang-orang boleh memanggil siapa saja

 

Kini, bertahun-tahun sudah ia pergi, meninggalkan pilar jembatan

seperti hilang disapu petugas kebersihan zaman.

Orang-orang baru terpana ketika seorang penyair besar

membacakan nama dan sajaknya

yang ditulis dengan huruf-huruf cakar ayam

dipungut dari kotak pembuangan sampah kota

menggambarkan wajah seekor katak menjilat lalat

tersenyum bahagia mirip seorang manusia

 

2015

 

~ Capung di Stupa Candi Sari ~

 

Tak ubahnya capung aku harus terbang

tanpa sambutan decak kagum dan pengakuan

walau puncak dan tonggak melihat siapa paling sakti

menyamai liuk gemulai berahi merpati

 

Akankah selamanya aku bertarung indah

dengan seriti, bersabung cepat dengan langau

 

beroleh tempat di teduh dangau?

Demikian jauhkah altar untuk bersimpuh

hingga ke mana-mana memanggul kias

bingung mencari sanjung

dari binatang yang tak punya kelas?

 

Pada stupa Candi Sari musim ketiga

seorang anak terpesona menyaksikan seekor capung

hinggap di sana. Namun, ibunya mengingatkan

“Jangan melamun. Stupa itu hanya batu.

 

Sampai ke atas sana karena diletakkan

tangan nenek moyang kita dahulu…”

 

Begitulah, kadang batu jauh lebih mulia

karena capung tak pernah memulas derita

yang disandangnya. Beda tumpukan batu candi

selalu ditatah menjadi suaka jutaan manusia

rumah singgah  ketika lelah mengapung

serupa capung dikepung badai dunia nyata

 

2014

 

Biodata Singkat

Iman Budhi Santosa merupakan penyair senior kelahiran Magetan, 28 Maret 1948. Bersama Umbu Landu Paranggi Cs. mendirikan Persada Studi Klub (PSK) komunitas penyair muda di Malioboro (1969). Menulis puluhan karya sastra (novel, puisi, esai, dan cerpen) dan kebudayaan dalam dwi bahasa, Indonesia dan Jawa.

Kumpulan puisi Matahari-Matahari Kecil merupakan salah satu dari lima finalis Khatulistiwa Literary Award (2005). Menerima penghargaan sebagai Penggerak Sastra Indonesia dari Balai Bahasa Yogyakarta (2009), KSI Award (2012), Anugerah Seni Sastra Pemprov DIY (2013), Anugerah Yasayo (2015). Antologi puisi: Ziarah Tanah Jawa mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta (2014), diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Badan Bahasa, Jakarta, dan diikutsertakan pada Frankfurt Book Fair 2015. Kontak person/HP: 081328883027. Email: imanbudhisantosa@yahoo.com


Tag : #Jawa #Sunyi #Sublim #Filsafat



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Januari 2018 23:50 WIB

Dugaan Kecurangan Toke Karet Terkuak, Warga Bandingkan Hasil Timbangan dengan Milik Sendiri


Kajanglako.com, Bungo – Petani Karet yang ada di Wilayah Kecamatan Muko-muko Bathin VII, Kabupaten Bungo, mulai resah dengan hasil timbangan yang

 

Penyelundupan Satwa Langka
Selasa, 23 Januari 2018 20:26 WIB

BKIPM Jambi Gagalkan Penyelundupan 7 Anak Buaya Via Bandara


Kajanglako.com, Jambi – Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jambi bekerja sama dengan Avsec Bandara Sultan Thaha, berhasil menggagalkan

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:14 WIB

Selain Diselingkuhi, Juanda Mengaku Juga Sering Dianiaya Istrinya


Kajanglako.com, Batanghari - Sebelum belang sang istri yang kedapatan selingkuh dengan Kades Padang Kelapo mencuat. Juanda akui sudah seringkali dianiaya

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:03 WIB

Juanda Lapor ke Inspektorat, Kades Padang Kelapo Berdalih Hanya Ajak 'EN' Rapat


Kajanglako.com, Batanghari - Kasus perselingkuhan Kades Padang Kelapo akhirnya berlanjut. Juanda, beserta sejumlah saksi melaporkan kasus tersebut ke Inspektorat

 

Selasa, 23 Januari 2018 19:49 WIB

Heboh, Kades Padang Kelapo Dikabarkan 'Gituan' di Semak-semak


Kajanglako.com, Batanghari - Selaku pemimpin desa harusnya bisa membimbing warga desanya dengan baik. Namun, yang terjadi kali ini bertolak belakang. Jangankan