Rabu, 26 September 2018


Sabtu, 05 Mei 2018 07:14 WIB

Rute Perjalanan Schouw Santvoort ke Jambi

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Surat yang ditulis oleh Schouw Santvoort menunjukkan bahwa ia sebetulnya merencanakan rute perjalanan yang lain dengan rute yang akhirnya ditempuhnya. Tampaknya ia lebih suka memilih menjalankan rencana yang digagas di negeri Belanda seandainya ia memang dapat melakukan penjelajahan memintas Pulau Sumatra.



Dalam rencana awal itu, sebetulnya orang bertolak dari pemikiran bahwa ia pertama-tama akan menuju Gasing, suatu tempat yang letaknya tak jauh dari perbatasan timur Dataran Tinggi Padang. Gasing terletak di tepian kiri Batang Hari. Dari tempat ini, direncanakan bahwa ia akan mengikuti aliran sungai utama itu.

Menurut FHJ  Netscher, perjalanannya di daerah perbatasan timur Dataran Tinggi Padang aman dilakukan. Dari Gasing, orang dapat berperahu tanpa hambatan apa pun.

Ini yang didengarnya dari penduduk setempat. Mereka juga menyampaikan bahwa perjalanan berperahu daru Gasing ke Moeara Koempeh dapat ditempuh dalam waktu enam atau delapan hari. Perjalanan kembali memerlukan waktu tiga kali lebih lama karena perahu-perahu itu akan melawan arus.

Perubahan rencana perjalanan itu kemungkinan berubah pertama-tama karena penentuan Radja di Sambah sebagai pemandu. Karena adanya perubahan itu, ia tidak akan melewati perbatasan di Gasing, melainkan di Bedar Alam.

Supaya dapat secepat mungkin kembali ke rute perjalanan awal, Schouw Santvoort berniat menuju Si Malidoe melalui jalan darat dari Soengei Koenjit. Menurut informasi yang diterimanya, jalan di antara kedua tempat itu melewati Galangan, Padang Boengoes dan Kota Baroe.

Tampaknya, tak lama setelah menulis surat yang terakhir itu, Schouw Santvoort juga mengubah rencana menelusuri aliran air Djoedjoean sampai ke muaranya di Batang Hari (yang berarti, sama sekali tidak menyinggahi Si Malidoe).

Kemungkinan besar perubahan ini dilakukan atas saran Radja di Sambah. Dasar-dasar pertimbangannya mengubah rencana perjalanannya terbaca dari laporan-laporan yang ditulis dan dikirimkannya ke negeri Belanda mengenai pengalamannya selama tinggal dan berada  di Moeara Laboe dan en Bedar Alam.

Radja di Sambah memperkenalkan Schouw Santvoort dengan Orang Toewa Katib Sampono, yang memiliki hubungan pertemanan baik dengan Toemenggoeng dari  Rantau Ilir dan Sirih Sakapoer.

Sebetulnya Orang Toewa Katib Sampono berniat untuk pergi naik haji ke Mekkah, namun Schouw Santvoort berhasil membujuknya untuk ikut menjelajah. Sebagai imbalan, ia berjanji akan menanggung ongkos Orang Toewa Katib Sampono ke Singapura bila mereka berhasil sampai ke Djambi.

Bahwa Schouw Santvoort sangat menekankan pentingnya hubungan baik Orang Toewa dengan para kepala (adat) di Rantau Ilir dan  Sirih Sakapoer menunjukkan harapannya bahwa para kepala adat itu dapat membantu kelancaran perjalanannya.

Schouw Santvoort juga menulis tentang sikap membantu para kepala adat yang ditemuinya sehingga perjalanan menelusuri Soengei Djoedjoean menjadi lebih mudah.

Sikap membantu ini kemungkinan juga menjadi alasan baginya untuk mengubah rute perjalanannya. Dari Moeara Laboe, ia berjalan ke Bedar Alam, ibukota daerah XII Kota.

Di tempat ini, kepala-kepala laras diperbantukan (dan digaji oleh Hindia-Belanda) pada Kontrolir Lolo dan Soengei Pagoe (daerah-daerah paling selatan di Dataran Tinggi Padang).

Penghoeloe Kapala dari Loeboe Malaka memperkenalkannya dengan teman Radja Tandjoeng Alam, salah sebuah daerah merdeka yang harus dilaluinya. Perkenalan ini memberinya kesempatan untuk mengumpulkan banyak informasi.

Ia juga memperoleh surat yang memperkenalkannya dengan Radja itu. Penghoeloe Kapala Bedar Alam juga mengutus anak lelakinya ke Rantau Ilir—konon untuk meminta Toemenggoeng di sana menyelesaikan perkara utang-piutang dengan seorang warga di doesoen itu, tetapi juga sekalian untuk memberitahukan Sang Toemenggoeng mengenai kedatangan Schouw Santvoort.

Schouw Santvoort tinggal selama  tiga hari di Bedar Alam. Dalam waktu itu, untuk memenuhi tuntutan adat, ia mengirimkan utusan untuk menemui  para Radja di tiga negeri yang terdapat di aliran Soengei Djoedjoean, yaitu Radja Soengei Koenjit, Radja Indamar dan Radja Tandjoeng Alam. Selain menyampaikan cenderamata dari Schouw Santvoort, para utusan itu menyamaikan permohonan agar diizinkan memintas di daerah-daerah mereka. Para utusan itu juga ditugaskan untuk membeli perahu yang dapat digunakan Schouw Santvoort melayari Djoedjoean.

Utusan yang dikirim untuk membuka jalan bagi Schouw Santvoort adalah Orang Toewa Katib Sampono dan seorang warga Bedar Alam yang menikah dengan cucu perempuan Penghoeloe Kapala dan berteman baik dengan dengan ketiga Radja yang disebutkan di atas.

Mereka membawa cenderamata yang terdiri dari lima paket berisi bahan katun berwarna hitam untuk celana, bahan katun berwarna kuning (warna para raja) untuk sabuk, bahan katun keputihan bermotif bunga-bunga untuk baju, kain untuk mandi, selembar kain sarung, selendang atau penutup kepala, enam buah anak kancing untuk baju, sebuah gunting dan sebuah kotak kecil berisi tembakau atau gambir.

Uraian di atas menunjukkan bahwa Schouw Santvoort sudah memutuskan untuk mengikuti aliran Soengei Djoedjoean, anak sungai Batang Hari yang bersumber Goenoeng Toedjoeh dan akhirnya bermuara di  Telokh Kajoe Poetih.

Ia rupanya juga sudah memutuskan menjelajahi daerah-daerah Soengei Koenjit, Indamar dan Tandjoeng Alam (di wilayah Menangkabo) untuk akhirnya tiba di Rantau Ilir (yang termasuk wilayah Djambi).

Dari muara Djoedjoean, ia berencana untuk berperahu ke hilir sampai ke Djambi, tempatnya akan bertemu dengan Pejabat Politik Hindia-Belanda di sana. Di kemudian hari, ternyata bahwa Schouw Santvoort sudah mengumpulkan informasi mengenai rute perjalanan itu.

Walaupun, informasi yang diterimanya terkadang tidak terlalu jelas, rute perjalanannya sudah digambarkannya di dalam sebuah peta sementara. Dalam pikirannya, peta sementara itu dapat diperbaiki dan dilengkapi dengan pengetahuan baru yang dikumpulkan melalui pengalaman penjelajahannya sendiri.

 

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie #Ekspedisi Belanda ke Jambi #Jambi #Sumatra #Batanghari #Penjelajahan Sumatra Tengah



Berita Terbaru

 

Rabu, 26 September 2018 12:15 WIB

Bacakan Visi Misi MANTAP, Al Haris Ajak Fauzi dan Nalim Bangun Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Bupati dan Wakil Bupati Merangin, Al Haris-Mashuri, Rabu (26/9), membacakan visi dan misi membangun Merangin 2018-2023.   Visi

 

Rabu, 26 September 2018 12:03 WIB

Santriwati Korban Nikah Paksa Habib Bahrun Datangi Polres Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari - Sekira pukul 10.00 WIB, Rabu (26/9), P Batubara dengan anaknya MG (18) korban ataupun santriwati yang pernah bernaung di Pondok

 

Rabu, 26 September 2018 11:51 WIB

Sempat Tertunda, Akhirnya Kapolri Mendarat di Bandara Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, beserta rombongan akhirnya tiba di Bandara Muara Bungo, sekira pukul 10.22 WIB, Rabu (26/9).   Kedantangan

 

Rabu, 26 September 2018 11:40 WIB

Dua Wakil Ketua DPRD Tak Hadiri Paripurna Pidato Penyampaian Visi Misi HAMAS


Kajanglako.com, Merangin - Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Merangin dengan agenda penyampaian pidato visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Merangin Haris

 

Agama dan Pemikiran
Rabu, 26 September 2018 10:51 WIB

Corak Pemikiran 4 Imam Mazhab


Oleh: K.H. Husein Muhammad* Memenuhi permintaan beberapa orang kiyai muda (ustaz) tentang corak pemikiran para Imam mazhab empat, aku menulis ini : Dr.