Rabu, 25 April 2018


Jumat, 11 Agustus 2017 14:34 WIB

Evolusi Cengkedong

Reporter :
Kategori : Oase

Meiliana K. Tansri

Oleh: Meiliana K. Tansri

Malam itu saya dan keluarga besar berkumpul, menggelar sedekah pembacaan doa bagi salah seorang paman kami yang meninggal pagi harinya. Kami adalah keluarga besar yang multi-etnis dan multi-agama: puluhan saudara misan-sepupu lengkap dengan acek, acim, cece, koko, uwak, pakcik, bicik, datuk, nyai, abang, ayuk dari berbagai sudut kota Jambi. Setiap hari raya kami saling mengunjungi anggota keluarga yang merayakan, dan suasana setiap kebersamaan kami selalu menimbulkan rindu untuk segera berkumpul lagi.



Selain hari raya, pernikahan dan kematian juga merupakan saat berkumpul, seperti halnya pada saat sedekah paman almarhum. Sebagian dari kami membantu masak di dapur. Sebagian lagi membawa hidangan yang sudah dimasak dari rumah. Yang lain memasang tenda, membentangkan tikar, membeli air minum kemasan, dan mengurus berbagai keperluan acara lainnya bersama-sama. Suasana memang sedang dalam kedukaan, namun kebersamaan kami juga menimbulkan kegembiraan yang tidak terbendung. Sambil bekerja kami bersenda-gurau, mengenang almarhum semasa hidupnya, dan mendoakan arwahnya.

Ketika menerima hidangan sedekah dalam sebuah baskom plastik seukuran piring makan berjudul takir, sebersit kenangan tiba-tiba tersulut dalam benak saya, membawakan kembali masa kanak-kanak di kampung tempat saya dilahirkan, Pakuan Baru, Jambi Selatan, ketika sedekah dan kenduri identik dengan cengkedong.

Cengkedong – cangkedong dalam dialek Sunda dari daerah Ciamis Utara, di tempat lain disebut juga pontrang, kontrang, atau kisa–adalah takir dari anyaman daun kelapa. Semasa kecil saya selalu takjub melihat benda nyentrik yang satu ini: beberapa lembar daun kelapa dianyam membentuk mangkuk, lalu diikat pada keempat sudutnya.  Sebagai wadah makanan tradisional Sunda, cengkedong mengemban filosofi yang mendalam, yaitu sebagai sarana untuk sumber kehidupan. Masyarakat Sunda menggunakannya untuk wadah makanan dalam berbagai acara, termasuk juga acara maleman pada bulan Ramadhan, yaitu selamatan pada tanggal 20-an ganjil (lihat Toto Amsar Suanda, http://www.disparbud.jabarprov.go.id).

Para warga senior di Pakuan Baru yang kebanyakan berasal dari Jawa Barat dan bekerja sebagai kuli angkut pelabuhan membawa tradisi takir berbahan ramah lingkungan ini ketika bermukim di Jambi. Saat itu, awal tahun delapan puluhan, Jambi masih banyak tertutup oleh rimbun dedaunan durian, rambutan, jambu, embacang, kelapa, dan buah-buahan tropis lainnya. Rumah-rumah di kelurahan kami sebagian besar masih dari papan, atau paling banter semi permanen dengan halaman luas dan batang-batang pohon sebagai patok-patok tanahnya. Rindang dahan-dahan pepohonan itu adalah taman bermain kami, sekitar dua puluh anak kampung berusia SD, yang kebanyakan baru lancar membaca setelah duduk di kelas dua, tetapi sudah mahir memanjat sejak balita. Buah-buahan yang masak menurut musimnya adalah suplemen vitamin alami bagi kecerdasan kami, sekaligus kudapan yang disantap langsung dari sumbernya – kadang lengkap berikut getahnya – sementara ibu-ibu kami duduk mengobrolkan isu sehari-hari sambil mencari kutu secara berjamaah. Waktu itu belum ada televisi swasta, dan siaran TVRI baru mengudara pada jam lima sore. Hidup di kampung kami berjalan menurut rutinitas sederhana itu setiap hari.

Jarum kompas rutinitas kampung baru bergetar dan berubah arah kalau hari kenduri tiba. Pagi-pagi ibu-ibu biasanya sudah merajang bumbu dan menyiapkan bahan-bahan, sementara bapak-bapak membuat tungku di tanah dengan kayu bakar dan tumpukan batu untuk memasak. Anak-anak perempuan yang  agak besar sepulang sekolah disuruh membantu menampi dan memilih beras sebelum ditanak dalam belanga besar. Sementara itu bapak-bapak muda atau  remaja laki-laki – di kampung kami biasanya Kang Nadi atau Kang Diding – menebas pelepah kelapa. Daunnya kemudian disiangi, dan dianyam menjadi cengkedong oleh Bi Neti, Bi Ken, dan bibi-bibi lainnya sambil memasak. Setelah dialasi lembaran daun pisang, cengkedong diisi nasi beserta lauk-pauk, lalu dimakan selesai acara, atau dibawa pulang – tetapi tanpa dibungkus kantong plastik. Paman-paman saya yang muslim tidak pernah absen mengikuti kenduri di kampung kami, dan tentunya, pulangnya meninggalkan artefak yang kami jadikan mainan

Demikianlah, dari asalnya di Jawa Barat, sesampai di Jambi cengkedong bukan hanya mendapat perubahan nama akibat pengaruh dialek Sumatera Selatan, namun juga tempat baru dalam masyarakat heterogen di kampung kami.  Lazimnya pada masa itu, hidangan kenduri disajikan dalam piring yang diletakkan di atas hamparan kain panjang di lantai, lalu disantap dengan tangan sambil duduk lesehan. Namun Abah Madi, orang terkaya di kampung, tuan tanah dan pemilik bedeng tempat orangtua saya mengontrak, selalu lebih suka menggunakan cengkedong – mungkin karena mengurangi kerepotan cuci piring.

Belakangan kebiasaan ini diadopsi oleh warga dan menjadi kelaziman baru di kampung kami. Kenduri menjadi identik dengan cengkedong, dengan harum getah daun kelapa, dengan gerak lincah tangan-tangan yang menganyamnya, dengan celoteh, canda, dan curhat warga yang bergotong-royong menyiapkan acara. Cengkedong hadir dalam setiap perayaan maupun penghiburan. Mewadahi sukacita ketika Teh Dahlia menikah dengan Kang Udin, dalam khitanan Entong, namun juga menampung dukacita dan mengalasi lafaz Al-Fatihah ketika Kang Diding meninggal dunia dalam usia 17 tahun karena malaria yang tak terobati pada tahun 1985. Dalam sebentuk wadah makanan yang sederhana, Abah Madi, Wak Hasan, dan warga Sunda perantau yang mereka wakili telah menjadi sepotong mata rantai dalam proses persebaran kebudayaan yang telah mendampingi umat manusia sepanjang sejarah peradaban.

Patut disayangkan bahwa setelah proses berbudaya yang amat heroik ini, kemudian – entah sejak kapan – cengkedong mulai digantikan dengan baskom plastik. Saya masih tinggal di Pakuan Baru sampai tamat SMA pada tahun 1993, tetapi pada waktu itu, dalam beberapa kali kesempatan kenduri, hidangan sudah disajikan secara prasmanan, dan dibungkuskan dalam kantong plastik berikat karet gelang untuk dibawa pulang. Proses lengkap perubahan dari cengkedong menjadi baskom tidak saya saksikan seluruhnya, dan mungkin saja terjadi secara tiba-tiba, dipicu oleh beberapa faktor besar.

Pertama adalah faktor alami dari pertambahan penduduk, yang berimbas pada meningkatnya permintaan rumah tinggal dan meroketnya bisnis properti pada akhir tahun delapan puluhan. Tingginya harga tanah sangat menggiurkan sehingga Abah Madi pun menjual sepetak demi sepetak dari berpuluh-puluh tumbuk tanahnya, yang dulu menjadi tempat tumbuh pohon-pohon kelapa, bahan baku cengkedong. Wajah kampung dengan cepat berubah. Pepohonan ditebangi, lapangan dibangun rumah tinggal dan ruko. Pohon kelapa tinggal satu-dua batang, bahan baku pun berkurang. Alih-alih kegiatan sosial yang menyenangkan, menganyam cengkedong malah menjadi kesulitan. Tanpa bahan baku, cengkedong tidak mampu bertahan hidup, terpaksa menyerah dalam kuasa seleksi alam yang didesak oleh siklus supply-demand.

Faktor kedua yang sangat erat berhubungan dengan itu adalah dinamika peradaban dalam bentuk gelombang modernisasi. Pada akhir tahun delapan puluhan itu juga, di Jambi mulai beroperasi pabrik pengolahan plastik. Sejalan dengan makin langkanya bahan baku cengkedong, perabot plastik pun menjadi pilihan yang sejatinya tidak mengurangi makna. Asal bisa berfungsi sama, tidak ada cengkedong, baskom pun jadi. Barangkali tidak terpikirkan bahwa tidak kalah pentingnya adalah rangkaian kegiatan mempersiapkan kenduri, yang merupakan saat interaksi antarwarga, yang jadi hilang karena cengkedong tidak dibutuhkan lagi sehingga tidak diperlukan gotong-royong membuatnya. Belum lagi kenduri 'modern' banyak sudah dilayani oleh katering sehingga juga tidak perlu gotong-royong memasak, sedangkan cuci piring bisa ditugaskan pada pembantu.

Ketiga adalah faktor tak terelakkan dari kemajuan teknologi. Meningkatnya intensitas arus informasi dengan mulai mengudaranya televisi swasta dan beredarnya koran lokal membawa perubahan yang merasuk ke dalam cara pikir dan gaya hidup masyarakat. Generasi warga yang lebih muda, yang banyak di antaranya bekerja di kantor, pabrik, atau mal, tidak antusias mewarisi tradisi menganyam cengkedong sebelum kenduri, ketika biasanya mereka masih di kantor atau tempat kerja lainnya. Lahir di perantauan dan terpapar modernisasi, mereka cenderung tidak merasakan ikatan dengan budaya asal yang menjadi identitas masyarakat tempat mereka hidup. Cengkedong menjadi tidak penting. Kenduri bisa berlangsung tanpa cengkedong karena ada katering dan takir baskom plastik. Bahkan, dibandingkan perabot makan atau nasi kotak dari katering yang mentereng, cengkedong tampak kampungan dan tidak berkelas. Siapa yang masih berminat mengedarkan takir daun kelapa ketika nasi dalam kotak kertas mengkilap tampak lebih bergengsi? Gabungan ketiga faktor ini menggerus sisi-sisi romantis kehidupan kampung yang terwakili dalam sebentuk cengkedong secara terus-menerus, sampai akhirnya sekarang cengkedong tinggal kenangan.

Jangan salah, bukan cengkedongnya yang jadi masalah, melainkan masyarakat yang dilambangkan oleh cengkedong: orang-orang yang sederhana dan berprinsip, yang keberadaannya mengukir romantisme bagi proses berkarya saya pribadi. Keluarga besar orang sekampung yang melalui hidupnya telah mengasuh dan mengasah naluri mencipta dalam diri saya. Raibnya cengkedong untuk digantikan oleh baskom plastik dari dunia perkendurian hanyalah hilangnya sebuah simbol, tetapi proses penumpulan ini harus kita waspadai, karena kalau dibiarkan tanpa terkendali, akan menumpulkan sisi-sisi lain dari budaya dan tradisi yang menjadi sumber inspirasi para seniman.

 

Biodata Penulis:

Meiliana K. Tansri adalah penulis Trilogi Darah Emas (Mempelai Naga, Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus, Sembrani) dan beberapa judul Novel lainnya : Konser, Layang-layang Biru, Kupu-kupu, Belajar Terbang yang diterbitkan oleh Gramedia.

Beberapa karyanya telah memenangkan Sayembara Cerber Femina : Perahu Kertas (Juara I, 1997), Bunga Jambu (Juara II,1999), Kupu-Kupu (Juara II,2000), dan Belajar Terbang (Juara I, 2001). Kini, Meiliana tinggal dan bekerja di Jambi


Tag : #Cengkedong #Jambi #Seni



Berita Terbaru

 

Selasa, 24 April 2018 23:36 WIB

Asik Minum Tuak di Arena MTQ, Empat Pemuda Ditangkap Satpol PP


Kajanglako.com, Batanghari - Jelang perhelatan akbar MTQ ke-48 Tingkat Provinsi yang akan digelar beberapa bulan mendatang, Satpol PP Kabupaten Batanghari

 

Selasa, 24 April 2018 23:28 WIB

Tiga Nama Calon Ketua DPW PAN Pengganti Zola Beredar


Kajanglako.com, Jambi – Posisi Ketua DPW PAN Provinsi Jambi saat ini tengah kosong, pasca ditahannya Zola oleh KPK. Untuk mengisi posisi Zola, tiga

 

Selasa, 24 April 2018 22:59 WIB

Gara-gara Ini, Paripurna Penyampaian LKPJ Bupati Bungo Ditunda Hingga Tiga Hari


Kajanglako.com, Bungo - Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bungo dalam rangka, "Pengantar LKPJ Bupati Bungo Tahun 2017 disertai

 

Selasa, 24 April 2018 22:47 WIB

Begini Kondisi Jalan Alternatif Truk Batubara


Kajanglako.com, Batanghari - Setelah menggelar rapat bersama terkait perbaikan jalan alternatif untuk truk angkutan batubara. Sekda Batanghari, Asisten

 

Selasa, 24 April 2018 21:10 WIB

Jalan Alternatif Angkutan Batubara Segera Dibangun


  Kajanglako.com, Batanghari - Permasalahan angkutan batubara belum menemui titik terang. Selasa (24/4) Pemkab Batanghari menggelar rapat bersama