Senin, 20 Agustus 2018


Kamis, 03 Mei 2018 13:41 WIB

Lawatan Sejarah Nasional 2018 di Serambi Mekkah: Catatan Lapangan

Reporter :
Kategori : Ensklopedia

Laawatan Sejarah Nasional di Aceh (27 April-1 Mei 2018).

Oleh: Dedi Arman*

Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) di Bumi Serambi Mekah, Aceh, 27 April-1 Mei 2018 berakhir sudah. Semua peserta larut menjadi satu di tengah keberagaman. Sayangnya, penutupan kegiatan di Sabang nyaris tak berkesan. Tak ada kemegahan. Bahkan santer terdengar Lasenas 2019 bakal ditiadakan. Apa yang terjadi?



Lasenas 2018 diikuti 250 peserta. Terdiri dari siswa SMA sederajat, guru sejarah SMA sederajat, wartawan, utusan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), lembaga swadaya masyarakat dan komunitas kesejarahan.

Paling istimewa ada tiga peserta pelajar SMA sederajat dari setiap provinsi yang dikirim dalam perhelatan ini. Satu provinsi didampingi satu orang guru atau tenaga pendamping. Semua peserta diinapkan di Asrama Haji banda Aceh. Sejumlah kegiatan juga dipusatkan di sana, di antaranya seminar sejarah dan presentasi karya tulis yang diikuti 10 finalis utusan BPNB.

Pembukaan Lasenas dilakukan di Anjong Mon Mata Pendapa Gubernur Aceh. Hal yang menarik semua peserta wajib memakai baju adat (tradisional) daerah masing-masing saat acara pembukaan. Kegiatan pembukaan juga digabungkan dengan pembukaan Inti Bangsa yang diikuti 250 guru sejarah se-Indonesia.

Lasenas 2018 dibuka Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid. Hilmar menyebutkan, pelajaran sejarah memiliki peran strategis dalam memberikan pemahaman kearifan masa lampau. Selain itu, pelajaran sejarah juga berperan mempererat dan mengguatkan karakter bangsa.

"Aceh memiliki sejarah yang panjang. Semua peserta selama kegiatan bisa mempelajari dan memahami sejarah Aceh,"ujar Hilmar.

Sekdaprov Aceh, menilai masyarakat Aceh sangat senang untuk berbagi, berdiskusi maupun bertukar pengalaman mengenai sejarah, adat dan budaya Aceh. Dermawan juga tidak lupa mengimbau para peserta agar ketika pulang ke daerah masing-masing, menceritakan kondisi Aceh saat ini yang aman dan damai. Apa sebab? Selama ini banyak masyarakat luar yang memandang negatif terhadap kondisi Aceh.

"Mudah-mudahan dengan mengenal Aceh lebih dalam, bapak, ibu dan anak-anak kami semua semakin bangga dengan keberagaman yang ada di negeri kita,"tukasnya.

Ziarah Sejarah

Momen yang ditunggu-tunggu peserta adalah melawat ke obyek sejarah. Sabtu (28/4) pagi, situs pertama yang dikunjungi adalah Makam Pahlawan Nasional Teungku Chik Di Tiro, Masjid Indrapuri, Museum Negeri Aceh,  dan Makam Raja-raja Aceh, seperti Iskandar Muda, Makam kandanmg XII dan Kandang Meuh.

Perjalanan dilanjutkan melihat replika Seulawah RI 001 dan berakhir di Masjid Bairurahman, Bandaaceh. Selama lawatan peserta pelajar dibagi atas beberapa kelompok dan diminta panitia membuat tugas, seperti membuat vlog, video dan foto setiap obyek yang dikunjungi.

Hari kedua lawatan, Ahad (29/4) pagi, peserta mengunjungi Makam Laksamana Malahayati di Aceh Besar, Benteng Iskandar Muda, Benteng Indrapatra, Gunongan dan berakhir di kediaman atau rumah Cut Nyat Dien.

Tak hanya melawat ke obyek sejarah, dalam Lasenas 2018 ini juga ada acara seminar sejarah dan presentasi karya tulis pelajar. Seminar sejarah dilaksanakan di Asrama Haji Banda Aceh.

Ada tiga narasumber, yakni Prof Dr Taufik Abdullah (AIPI), Kamaruzzaman Bustaman P.hD (IAIN Ar Raniry) dan Dr Doni Koesoema (Kemendikbud). Sementara presentasi karya diikuti 10 finalis. Sebanyak lima siswa utusan Yogya,tiga siswa utusan BPNB Kepri dan dua orang dari BPNB Aceh.

Kegiatan Lasenas 2018 jadwalnya cukup padat. Siang hingga malam, aktivitas peserta cukup padat. Apalagi siswa harus menyelesaikan tugas kelompok baik vlog, video dan foto. Namun, para peserta nampak menikmati rangkaian kegiatan. Meskipun mereka menginap bukan di hotel berbintang, tapi hanya di asrama haji.

Mereka dibagi atas kelompok dan penginapannya juga dibedakan. Peserta dari berbagai daerah bercampur menjadi satu. Tak ada lagi perbedaan agama, suku atau pun warna kulit. Semuanya jadi satu dan berstatus sama sebagai peserta Lasenas. 

Begawan sejarah Taufik Abdullah yang mengikuti acara sampai akhir mengaku sangat menikmati kegiatan Lasenas ini. Para peserta datang dari daerah berbeda, namun semuanya membaur. Menurutnya, kerukunan dan keberagaman itu tak sekedar dibicarakan, tapi dipraktekkan.

"Lihat anak-anak sekarang. Mereka begitu pintar. Pandai presentasi. Jago Bahasa Inggris. Saya untuk dapat ijazah sarjana muda, skripsinya tulis tangan. Kalau sekarang, anak-anak sudah mahir teknologi semua,"kata Taufik.

Ia menilai tepat memilih Aceh untuk lokasi Lasenas. Peserta dari seluruh Indonesia bisa mempelajari dan memahami sejarah panjang Aceh. Aceh, katanya sangat istimewa dalam sejarah republik ini.

Negeri yang heroik dalam melawan penjajah, sejarah keislaman hingga aksi ketidakpuasan pada pemerintah pusat. "Anak-anak bisa tahu. Tak benar anggapan Belanda menjajah 350 tahun. Aceh baru awal abad 20 mulai ditaklukan Belanda. Itu pun dimana-mana masih ada perlawanan,"ujarnya.

Peserta Lasenas 2018 juga sempat berkunjung ke titik nol kilometer di Sabang, Senin (30/4) siang. Peserta menyeberang menggunakai kapal feri dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Sabang. Hanya satu titik yang dikunjungi di Sabang dan peserta ke penginapan untuk beristirahat.

Penutupan yang Tergesa-gesa

Rencananya penutupan Lasenas 2018 digelar di Pelabuhan Sabang malam harinya. Tapi panitia memajukan jadi sore hari pukul 17.00 WIB hingga magrib. Saat penutupan dilakukan penyerahan pemenang lomba karya tulis sejarah.

Penutupan kegiatan yang kesannya terburu-buru sangat disayangkan. Perwakilan dari 11 BPNB se-Indonesia dijadwalkan tampil. 

Namun dengan waktu penutupan yang sempit, hanya lima utusan BPNB yang bisa menunjukkan kebolehannya. Tak ayal lagi sejumlah utusan BPNB mengungkapkan kekecewaannya. Para peserta dari Papua bertangisan di lokasi penutupan.

Mereka yang sudah berdandan habis-habisan dan memakai baju tradisional Papua tak jadi tampil. Panitia tak mengemas dan menyiapkan acara penutupan dengan bagus. Tak ada pentas atau lokasi pertunjukkan yang khusus dibuat untuk penutupan acara Lasenas.

Penutupan dilakukan menumpang di event kegiatan yang lain. Di panggung pertunjukkan spanduk Lasenas 2018 ditempelkan menutupi spanduk kegiatan lain. Begitu penutupan, spanduk Lasenas dicabut dan nampaklah event lain yang dibuat dalam tempat yang sama.

"Penutupan sangat amburadul. Jadwalnya malam dimajukan sore. Panggung acara menumpang di kegiatan Festival Pesisir. Nampak sekali panitianya tak siap. Jelang Magrib, penutupan acara sudah selesai. Anak-anak dari 11 BPNB bagaimana mau tampil, jadwal mepet gitu," kata salah seorang pendamping dari BPNB yang enggan disebutkan namanya.

Tak habis di sana, kepulangan para peserta Lasenas juga amburadul. Peserta dari Sabang berangkat pagi menggunakan kapal feri. Dari Pelabuhan Ulee Lhue menuju ke Bandara Iskandar Muda pakai bus. Sebagian besar rombongan mengejar jadwal penerbangan pukul 10.00 WIB.

Sejumlah bus yang membawa peserta baru sampai bandara pukul 09.30 WIB. Hal yang jadi masalah adalah barang-barang milik peserta letaknya tak beraturan. Tas diturunkan dari bus dan para peserta berlarian mengejar tas masing-masing.

Saat proses pencarian tas, para penumpang sudah diminta naik ke pesawat. Sejumlah peserta tasnya tercecer. Ada yang ketinggalan tas berisi oleh-oleh, ada pula yang berisi laptop. Peserta langsung naik ke pesawat. Tas yang tinggal nantinya diselamatkan panitia lokal dari BPNB Aceh.

Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan dari pelaksanaan Lasenas 2018 ini, hal yang patut disyukuri semua peserta dapat menikmati lawatan ke berbagai obyek sejarah dan keramahan masyarakat Aceh.

Di tengah desas desus tahun 2019 tak ada lagi Lasenas, besar harapan kegiatan ini tetap dipertahankan. Betapa indah mengumpulkan ratusan pelajar dari 34 provinsi se-Indonesia yang latar belakang berbeda bisa berkumpul bersama.

 

*Dedi Arman adalah peneliti sejarah. Kini bekerja di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepri.


Tag : #Lasenas 2018 di Aceh #Ziarah Sejarah #Sejarah dan Keberagaman #Lokalitas dan Kemajemukan #Hilmar Farid Buka Lasenas 2018



Berita Terbaru

 

Senin, 20 Agustus 2018 01:41 WIB

Sempat Kabur, Polisi Ringkus Istri yang Bunuh Suami dengan Sadis


Kajanglako.com, Bungo - Jajaran Polres Bungo berhasil menangkap pelaku pembunuhan sadis, yang diduga dilakukan oleh istri terhadap suaminya sendiri. Di

 

Senin, 20 Agustus 2018 01:27 WIB

Kesal Kerap Dimarahi, Istri Habisi Nyawa Suami dengan Sebilah Kayu


Kajanglako.com, Bungo - Seorang istri di Dusun Sungai Mengkuang RT 5 Kampung Pal 8, Kecamatan Rimbo Tengah, nekat menghabisi nyawa suaminya sendiri dengan

 

Jelang Pilpres 2019
Minggu, 19 Agustus 2018 22:58 WIB

Diketuai Filius Chandra, Gerakan Nasional Cinta Prabowo Provinsi Jambi Terbentuk


Kajanglako.com, Jambi – Gerakan Nasional Cinta Prabowo atau GNCP Provinsi Jambi resmi terbentuk. Terpilih sebagai Ketua GNCP Provinsi Jambi, yakni

 

HUT ke-73 RI
Minggu, 19 Agustus 2018 21:41 WIB

Serunya Lomba Pacu Perahu di Desa Mendalo Laut, Ada Kategori untuk Ibu-ibu


Kajanglako.com, Muarojambi - Memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-73 Republik Indonesia, Pemerintah Desa Mendalo Laut mengadakan lomba pacu perahu tradisional

 

HUT ke-73 RI
Minggu, 19 Agustus 2018 21:25 WIB

Bupati Syahirsah Saksikan Atraksi Pawai Kebudayaan


Kajanglako.com, Batanghari - Bupati Batanghari, Ir Syahirsah Sy, beserta istri menyaksikan langsung pawai kebudayaan. Terlihat ribuan masyarakat Batanghari