Selasa, 22 Mei 2018


Rabu, 02 Mei 2018 14:52 WIB

Mata Air Keteladanan Ki Hadjar Dewantara

Reporter :
Kategori : Sudut

Ki Hadjar Dewantara. Sumber: Edukasi Kompas/Jitet

Oleh: Widodo*

Suatu hari Ki Hajar Dewantara menyambut serombongan tamu. Mereka utusan pemerintah daerah Yogyakarta. Mereka hendak meminta persetujuan Ki Hajar untuk menggunakan namanya sebagai nama jalan raya yang membentang di depan rumahnya.



Dengan tegas, secara halus Ki Hajar menolak kehormatan itu. Dia tak mau dikultuskan. Enggan ditokohkan secara berlebihan.

Selain itu, Ki Hajar pun ingin generasi mendatang lebih mengenang lembaga pendidikan dan kebudayaan yang dibangunnya, yaitu Tamansiswa, daripada mengenang pribadinya. Seluruh ajaran luhurnya sudah dilembagakannya dalam badan perjuangan tersebut. Secara tersirat, dia mau mengatakan, "Jangan lihat aku. Tapi pandanglah Tamansiswa kita."

Karena itu, kepada utusan pemda, Ki Hajar menawarkan alternatif. Namakanlah jalan di depan rumah itu dengan Jalan Tamansiswa. Tawaran itu diterima. Hingga sekarang, jalan yang membentang di depan rumah Ki Hajar (kini menjadi museum) tersebut masih bernama Jalan Tamansiswa.

Sejarah menyaksikan, Ki Hajar bukan tipe manusia yang mencari penghormatan dari publik. Dia tak mengejar pujian. Tak mau dipuja-pula. Dia lebih suka hidup sederhana dengan rakyat kecil yang terdiskriminasi. Pemihakan sosialnya amat jelas, pasti, dan mantap.

Sebagai keturunan bangsawan Pakualaman, jalan untuk hidup sukses secara material terbuka lebar baginya. Dan dia sempat menikmati salah satu fasilitas pendidikan kolonial paling berkualitas pada zamannya. Tetapi karena panggilan nurani, dia memilih drop out.

Pada umur 40, Ki Hajar mengganti namanya, dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Itu artinya, dia menanggalkan (gelar) kebangsawanannya. Dia mengikuti jejak Kartini yang juga telah melepas gelar kebangsawanan. Kelak, langkah populis mereka diteladani sastrawan Pramoedya Ananta (Mas)toer yg menghapus kata 'mas' dari namanya. Kata 'mas' menandakan kebangsawanan dan hal ini menunjukkan bahwa Pramoedya masih keturunan bangsawan Jawa.

Sebagaimana Kartini dan Pramoedya, Ki Hajar pun kritis terhadap feodalisme dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Melalui Tamansiswa, Ki Hajar mengajarkan prinsip kemanusiaan. Tamansiswa menjalankan pancadharma (lima tugas pelayanan), yaitu kodrat alam, kemanusiaan, kemerdekaan, kebudayaan, dan kebangsaan.

Karena pelayanan untuk kemanusiaan inilah Ki Hajar melepas gelar kebangsawanan dan tidak menerima tawaran untuk menjadikan namanya sebagai nama jalan. Kemanusiaan bertumpu pada empati, kerendahan hati, persaudaraan, kesetaraan, dan musyawarah yang dipimpin hikmah (bukan nafsu dan akal egois). Pendek kata, kemanusiaan sepenuhnya ditopang oleh keikhlasan dan hidayah. Pilar kemanusiaan adalah kesucian hati (zuhud/ikhlas).

"Dengan suci hati," begitu pesan Ki Hajar kepada para guru, "kita berhamba kepada Sang Anak". Maksudnya, berbekal keikhlasan, kita mengabdi kepada-Nya dengan mendidik anak-anak kita. Menjadi guru, bagi Ki Hajar, adalah ibadah, bukan sekadar profesi.

Demikian sekelumit profil Ki Hajar Dewantara, guru bangsa kita. Hari ini kita memperingati hari maulidnya sebagai hari pendidikan nasional.

Saya yakin, di luar sana, masih banyak guru yang mendidik tanpa pamrih seperti Ki Hajar. Untuk mereka, kami ucapkan terima kasih. Kami panjatkan doa-doa indah. Kami haturkan takzim sejujur-jujurnya.

Masyarakat dan negara boleh jadi belum menghargai perjuangan sunyi Anda, bahkan belum "melihat" Anda. Akan tetapi berbahagialah, murid-murid yang Anda cintai dan mencintai Anda, tidak melupakan Anda. Bersukacitalah, cinta tulus yang Anda berikan kepada murid-murid Anda menandakan bahwa Anda dicintai Langit. Adakah penghormatan yg lbh tinggi selain dicintai Langit?

La takhaf wa la tahzan. Innallaha ma'ana. Tak perlu takut. Tak perlu pula bersedih. Dia menemani Anda.

 

*Penulis merupakan alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Penyuka bacaan filsafat, sejarah, sastra dan budaya.


Tag : #Hari Pendidikan Nasional #Tokoh Pendidikan Ki Hadjar Dewantara #Pendidikan Untuk Semua



Berita Terbaru

 

Selasa, 22 Mei 2018 09:39 WIB

Kebutuhan Uang Selama Ramadhan dan Idul Fitri di Jambi Rp 2,27 Triliun


Kajanglako.com, Jambi – Dalam rangka mengantisipasi kebutuhan uang masyarakat periode Ramadhan dan Idul Fitri 1439H/2018M, Kantor Perwakilan Bank

 

Selasa, 22 Mei 2018 09:24 WIB

Warga Mengeluh, Disperindag Ingatkan Agen dan Pangkalan Gas Soal HET


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur – Tingginya kebutuhan penggunaan gas bersubsidi saat Ramadhan, dimamfaatkan sejumlah agen dan pangkalan gas

 

Pencemaran Lingkungan
Selasa, 22 Mei 2018 09:04 WIB

Limbah PT LSP Diduga Cemari Aliran Sungai


Kajanglako.com, Sarolangun – Dugaan pembuangan limbah ke sungai secara sengaja oleh PT Lambang Sawit Perkasa (LSP) yang berlokasi di Kecamatan Bathin

 

Senin, 21 Mei 2018 23:29 WIB

Dua Incumbent Lolos, Ini Lima Komisioner KPU Provinsi Jambi Terpilih


Kajanglako.com, Jambi – Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah mengumumkan peserta calon Anggota KPU Provinsi yang terpilih menjadi Komisioner

 

Senin, 21 Mei 2018 21:29 WIB

Charta Politika Rilis Hasil Surnas: Ada Fakta Menarik


Kajanglako.com, Jakarta - Lembaga survei Charta Politika Indonesia, Senin (21/5), merilis hasil Survei Nasional (Surnas) di Jakarta. Survei yang dilakukan