Senin, 16 Juli 2018


Rabu, 02 Mei 2018 14:52 WIB

Mata Air Keteladanan Ki Hadjar Dewantara

Reporter :
Kategori : Sudut

Ki Hadjar Dewantara. Sumber: Edukasi Kompas/Jitet

Oleh: Widodo*

Suatu hari Ki Hajar Dewantara menyambut serombongan tamu. Mereka utusan pemerintah daerah Yogyakarta. Mereka hendak meminta persetujuan Ki Hajar untuk menggunakan namanya sebagai nama jalan raya yang membentang di depan rumahnya.



Dengan tegas, secara halus Ki Hajar menolak kehormatan itu. Dia tak mau dikultuskan. Enggan ditokohkan secara berlebihan.

Selain itu, Ki Hajar pun ingin generasi mendatang lebih mengenang lembaga pendidikan dan kebudayaan yang dibangunnya, yaitu Tamansiswa, daripada mengenang pribadinya. Seluruh ajaran luhurnya sudah dilembagakannya dalam badan perjuangan tersebut. Secara tersirat, dia mau mengatakan, "Jangan lihat aku. Tapi pandanglah Tamansiswa kita."

Karena itu, kepada utusan pemda, Ki Hajar menawarkan alternatif. Namakanlah jalan di depan rumah itu dengan Jalan Tamansiswa. Tawaran itu diterima. Hingga sekarang, jalan yang membentang di depan rumah Ki Hajar (kini menjadi museum) tersebut masih bernama Jalan Tamansiswa.

Sejarah menyaksikan, Ki Hajar bukan tipe manusia yang mencari penghormatan dari publik. Dia tak mengejar pujian. Tak mau dipuja-pula. Dia lebih suka hidup sederhana dengan rakyat kecil yang terdiskriminasi. Pemihakan sosialnya amat jelas, pasti, dan mantap.

Sebagai keturunan bangsawan Pakualaman, jalan untuk hidup sukses secara material terbuka lebar baginya. Dan dia sempat menikmati salah satu fasilitas pendidikan kolonial paling berkualitas pada zamannya. Tetapi karena panggilan nurani, dia memilih drop out.

Pada umur 40, Ki Hajar mengganti namanya, dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Itu artinya, dia menanggalkan (gelar) kebangsawanannya. Dia mengikuti jejak Kartini yang juga telah melepas gelar kebangsawanan. Kelak, langkah populis mereka diteladani sastrawan Pramoedya Ananta (Mas)toer yg menghapus kata 'mas' dari namanya. Kata 'mas' menandakan kebangsawanan dan hal ini menunjukkan bahwa Pramoedya masih keturunan bangsawan Jawa.

Sebagaimana Kartini dan Pramoedya, Ki Hajar pun kritis terhadap feodalisme dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Melalui Tamansiswa, Ki Hajar mengajarkan prinsip kemanusiaan. Tamansiswa menjalankan pancadharma (lima tugas pelayanan), yaitu kodrat alam, kemanusiaan, kemerdekaan, kebudayaan, dan kebangsaan.

Karena pelayanan untuk kemanusiaan inilah Ki Hajar melepas gelar kebangsawanan dan tidak menerima tawaran untuk menjadikan namanya sebagai nama jalan. Kemanusiaan bertumpu pada empati, kerendahan hati, persaudaraan, kesetaraan, dan musyawarah yang dipimpin hikmah (bukan nafsu dan akal egois). Pendek kata, kemanusiaan sepenuhnya ditopang oleh keikhlasan dan hidayah. Pilar kemanusiaan adalah kesucian hati (zuhud/ikhlas).

"Dengan suci hati," begitu pesan Ki Hajar kepada para guru, "kita berhamba kepada Sang Anak". Maksudnya, berbekal keikhlasan, kita mengabdi kepada-Nya dengan mendidik anak-anak kita. Menjadi guru, bagi Ki Hajar, adalah ibadah, bukan sekadar profesi.

Demikian sekelumit profil Ki Hajar Dewantara, guru bangsa kita. Hari ini kita memperingati hari maulidnya sebagai hari pendidikan nasional.

Saya yakin, di luar sana, masih banyak guru yang mendidik tanpa pamrih seperti Ki Hajar. Untuk mereka, kami ucapkan terima kasih. Kami panjatkan doa-doa indah. Kami haturkan takzim sejujur-jujurnya.

Masyarakat dan negara boleh jadi belum menghargai perjuangan sunyi Anda, bahkan belum "melihat" Anda. Akan tetapi berbahagialah, murid-murid yang Anda cintai dan mencintai Anda, tidak melupakan Anda. Bersukacitalah, cinta tulus yang Anda berikan kepada murid-murid Anda menandakan bahwa Anda dicintai Langit. Adakah penghormatan yg lbh tinggi selain dicintai Langit?

La takhaf wa la tahzan. Innallaha ma'ana. Tak perlu takut. Tak perlu pula bersedih. Dia menemani Anda.

 

*Penulis merupakan alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Penyuka bacaan filsafat, sejarah, sastra dan budaya.


Tag : #Hari Pendidikan Nasional #Tokoh Pendidikan Ki Hadjar Dewantara #Pendidikan Untuk Semua



Berita Terbaru

 

Senin, 16 Juli 2018 13:15 WIB

Antisipasi Pemadaman Listrik, Traffic Light Akan Dilengkapi Aki Cas


Kajanglako.com, Kota Jambi – Fasilitas Traffic Light atau yang sering disebut Lampu Merah di Kota Jambi saat ini masih bergantung dengan aliran listrik

 

Waspada Karhutla
Senin, 16 Juli 2018 12:58 WIB

Titik Panas Terpantau Menyebar di Empat Kabupaten


Kajanglako.com, Jambi - Saat ini Provinsi Jambi telah memasuki musim kemarau, hal ini dapat dilihat dalam satu pekan terakhir di mana curah hujan sangat

 

Pernetiban PKL
Senin, 16 Juli 2018 12:44 WIB

Satpol PP Terlibat Adu Mulut dengan Pedagang Durian


Kajanglako.com, Kota Jambi – Satpol PP Kota Jambi menertibkan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di atas trotoar dan bahu jalant. Kawasan Tugu

 

Senin, 16 Juli 2018 10:40 WIB

Pasar Rakyat Tak Berpenghuni, Pemkab Merangin Akan Relokasi PKL Liar


Kajanglako.com, Merangin - Pasar rakyat yang berdiri cukup megah di tengah Kota Bangko, ternyata tidak diminati pedagang. Meski sudah dibangun cukup lama,

 

Minggu, 15 Juli 2018 20:05 WIB

Pelantikan Pengurus IKBJ Dijadwalkan Awal Agustus


Kajanglako.com, Jambi – Panitia Pelantikan Pengurus Ikatan Keluarga Bungo Jambi (IKBJ) telah menjadwalkan pelantikan pada awal Agustus, acara pelantikan