Selasa, 24 April 2018


Senin, 25 September 2017 09:22 WIB

Lek Toha dan Mimpi Literasi Panting I Tungkal

Reporter :
Kategori : Sosok

masa awal rintisan Taman Baca Giat

Oleh: Joni Imron*

“Jadilah seorang pembaca, dan bertemanlah dengan buku. Pikiran yang luas akan menjadikan hidup Anda luas dan tidak terbatas”. Itulah bunyi pepatah bijak tentang arti penting membaca.



Faktanya, kegemaran membaca, apalagi menulis, masih menjadi permasalahan utama di negeri ini, tak terkecuali di wilayah Provinsi Jambi. Dalam keadaan demikian, memulai suatu gerakan agar warga gemar membaca adalah jawaban tepat tinimbang kita mengutuk keadaan.

Itulah yang dilakukan Lek Toha, begitu ia akrab disapa, berinisiatif merintis taman baca di tempat tinggalnya, yaitu Desa panting I (satu) sejak tahun 2010.  

Desa Panting I (satu) terletak kurang lebih dua puluh kilo meter dari kota Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Jika berkendara dari Ibukota Kabupaten ke lokasi itu, bisa ditempuh dalam waktu relatif singkat: seperempat jam mengendarai motor. Lahannya dengan karakteristik gambut, ditambah belahan parit dengan warna air yang pekat, mencirikan desa ini dekat dengan laut.

Di sekitar desa bisa dijumpai banyak pohon kelapa, susul-menyusul dengan deretan pohon pinang. Di bawahnya, kadang ditanami kopi jenis Liberica. Sebagian dari lahan bergambut itu, ada pula yang ditanami sawit.

Tak hanya itu, meski mobil dan jenis kendaraan roda dua sering lalu-lalang di sepanjang jalan raya, yang menghubungkan Kuala Tungkal dengan Kota Jambi, tetapi lantaran banyaknya jenis tumbuh-tumbuhan di kiri-kanan jalan, menjadikan udara di Panting I segar kembali.

Itulah pengalaman langsung saya beberapa waktu lalu saat mengunjungi Tungkal sekaligus singgah di Taman Baca yang diberi nama GIAT oleh pemiliknya, lek Toha.

Bangunan taman baca ini terlihat permanen, yang berdiri kurang lebih enam meter dari bahu jalan. Letaknya di sebelah kiri jalan, jika kita dalam perjalanan dari kota Kuala Tungkal menuju kota Jambi, atau sebaliknya. Penanda lainnya, bangunan taman baca tersebut berada persis setelah jembatan yang memotong parit Panting I.

Di dalam bangunan empat kali enam meter (kurang lebih) itu, saya jumpai rak-rak kayu berisi buku tersusun rapi. Koleksi bukunya, antara lain, literatur umum seperti karya fiksi dan non fiksi, buku paket belajar anak sekolah, dan beberapa buku agama. Tercatat 700-an judul buku yang menjadi koleksi Taman Baca Giat. Di dalam taman baca itu juga terdapat perlengkapan seperti sound system, tape, dan meja tempat membaca.

“Selain buku, taman baca juga menyediakan kursus komputer bagi anak-anak”, ujar Toha, lelaki yang menamatkan sarjana-nya di jurusan Ilmu Tafsir, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kepada saya, Toha mengakui bahwa taman baca yang ia kelola sangat kekurangan koleksi buku. “Hanya ada buku-buku lama”, imbuh Toha. Dia katakan sangat kesulitan mendapatkan tambahan koleksi buku. Sudah beberapa kali mengajukan proposal ke Pemerintah Daerah (Pemda), tetapi belum ada tanda-tanda bantuan akan turun.

Meski demikian, menurut Toha, pengunjung Taman Baca Giat tetap ramai “Terutama anak-anak usia sekolah,” ungkap Toha. Daftar kunjungan yang ada di meja tamu, menjadi penguat pernyataan penyuka touring dan tergabung dalam komunitas vespa tersebut.

Tanpa sepengetahuan Toha, saya menyempatkan memeriksa buku agenda yang berisi daftar kunjungan tamu yang terbuka di atas meja, di samping pintu masuk.

Lek Toha sehari-hari mengajar di MTs Panting I. Ia biasa mengajar pada siang hari. Jika sudah jadwal mengajar, taman baca “Giat” dibiarkan terbuka dan tak ada yang menjaga. Bila sudah demikian, mengenai mekanisme peminjaman buku, Lek Toha mengandalkan kejujuran si peminjam.

‘Tamu yang ingin meminjam dipersilahkan mengambil dan menuliskan sendiri identitas diri dan buku yang dipinjamnya di buku peminjaman” imbuhnya pelan.

Memanjakan diri selepas mengamati seisi bangunan Taman baca “Giat”, duduk di luar bangunan, membawa kesejukan tersendiri. Saya pun melanjutkan obrolan bersama pemilik taman baca di teras bangunan. Bukan hanya tersebab matahari yang sudah beringsut turun, dan berada di barat sehingga cuaca tidak terik, angin sepoi-sepoi juga menambah nikmatnya duduk di teras bangunan taman baca “Giat”.

Apalagi, si pemilik taman baca menyuguhkan kelapa muda sebagai pelepas dahaga saya ketika itu. “Alamaaak… Lengkap sudah rasanya kunjungan singkat saya sore ini”.

Sayang, saya tak bisa berlama-lama di taman baca rintisan lek Toha. Langit sore itu sudah mulai memerah, pertanda tidak lama lagi malam menyusul datang. Artinya, saya sudah harus bertolak ke Kota Jambi. Akan tetapi, semangat “Giat” membaca yang dirintisnya sejak tujuh tahun lalu semakin menyadarkan saya: betapa membaca itu penting!

Demikian semangat yang ditularkan Lek Toha kepada anak-anak dan warga kampungnya di Panting I. “Semoga anak-anak di Kampung kami gemar membaca. Bahkan kita berharap mereka juga senang menulis”, imbuh bapak satu anak ini menutup perbincangan.

*Pecinta Buku. Kini tinggal dan bekerja di Kota Jambi


Tag : #literasi #melek baca #pustaka bergerak #jambi #tanjung jabung barat



Berita Terbaru

 

Selasa, 24 April 2018 22:59 WIB

Gara-gara Ini, Paripurna Penyampaian LKPJ Bupati Bungo Ditunda Hingga Tiga Hari


Kajanglako.com, Bungo - Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bungo dalam rangka, "Pengantar LKPJ Bupati Bungo Tahun 2017 disertai

 

Selasa, 24 April 2018 22:47 WIB

Begini Kondisi Jalan Alternatif Truk Batubara


Kajanglako.com, Batanghari - Setelah menggelar rapat bersama terkait perbaikan jalan alternatif untuk truk angkutan batubara. Sekda Batanghari, Asisten

 

Selasa, 24 April 2018 21:10 WIB

Jalan Alternatif Angkutan Batubara Segera Dibangun


  Kajanglako.com, Batanghari - Permasalahan angkutan batubara belum menemui titik terang. Selasa (24/4) Pemkab Batanghari menggelar rapat bersama

 

Kasus Gratifikasi Zola
Selasa, 24 April 2018 18:35 WIB

KPK Ternyata Juga Geledah Rumah Apif di Muara Sabak


Kajanglako.com, Jambi – Selain menggeledah rumah H Jais, kontraktor yang merupakan Timses Zola. Penyidik KPK ternyata juga menggeledah rumah Apif

 

Selasa, 24 April 2018 18:14 WIB

Diancam dengan Senpi, Yulianto Serahkan Uang ke Orang Tak Dikenal


Kajanglako.com, Merangin - Yulianto (25) warga Sungai Suhut, Kecamatan Tabir Selatan, tidak berkutik ketika uangnya dibawa kabur orang tak dikenal. Informasi