Minggu, 18 November 2018


Sabtu, 28 April 2018 08:24 WIB

Para Penjelajah Berpisah Jalan di Padang

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Van Hasselt harus membagi waktu baik-baik. Selain mengatur keberangkatan tim, ia juga harus mengurus serah-terima jabatannya sebagai Kontrolir di daerah Soepajang dan Alahan Pandjang kepada pejabat yang akan menggantikannya, yaitu Kontrolir Kroesen.



Setelah serah-terima dilakukan, tak ada lagi yang dapat menunda-nunda dimulainya penjelajahan itu. Mereka dapat meninggalkan Sumatra Hotel. Pada tanggal 8 Maret, dengan menumpang bendinya sendiri, van Hasselt berangkat ke Soepajang. Veth dan Snelleman menyusul ke tempat itu pada tanggal 10 Maret, dua hari kemudian.

Mengapa mereka ke Soepajang? Hal itu terpaksa dilakukan karena ternyata kuda-kuda yang ingin dibawa menjelajahi trayek Loeboe Kilangan-Solok tak dapat diperoleh di Padang.

Sesampai di Soepajang, van Hasselt mengirimkan kuda-kuda miliknya sendiri ke Loeboe Prakoe. Dengan demikian, trayek perjalanan di antara Padang dan Solok dilakukan sebagai berikut: Padang – Loeboe Kilangan (17,4 km) berkendara bendi; Loeboe Kilangan – Loeboe (3 km) berjalan kaki; Loeboe Prakoe – Solok (44 km) berkuda.

Setelah segala persiapan selesai dan van Hasselt telah berangkat, mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi Apenberg (Gunung Monyet). Gunung batu itu terletak di seberang muara sungai Padang. Sebuah perahu yang terbuat dari sebatang kayu yang dibuat berongga dengan kayu-kayu melintang sebagai rusuknya.

Penampungnya harus duduk diam-diam, tanpa banyak bergerak karena  perahu itu tidak terlalu stabil di atas air. Setelah tiba dan mendaki jalan setapak yang sangat curam sampai ke puncaknya, segala lelah pendakian itu lenyap melihat pemandangan alam yang terbentang di depan mata.

Tempat yang paling baik untuk menikmati pemandangan itu adalah di sekitar menara mercu suar yang lampunya bersinar menandakan kedatangan sebuah kapal. Pepohonan di sekitar bangunan itu telah ditebang habis. Pandangan mata terbuka lebar ke arah laut, Poelau Pisang dan kapal-kapal yang melempar sauh di sekitaran pelabuhan Padang.

Di arah sebaliknya, tampak punggung pegunungan yang memberikan nama ‘Dataran Tinggi’ di daerah itu. Goenoeng Talang dan Singalang terdapat di kejauhan. Akan tetapi, monyet yang seharusnya banyak berkeliaran di sebuah tempat yang bernama Goenoeng Monyet sama sekali tak ada di tempat mereka berdiri.

Binatang-binatang itu hidup di sisi yang menghadap laut dan tampak melompat-lompat dari bebatuan yang bermunculan di permukaan laut. Monyet-monyet itu makan kerang-kerang kecil dan sampah yang dibuang dari kapal-kapal di pelabuhan dan terbawa ke darat.

**

(van Hasselt, Snelleman dan Veth menjelajah ke arah Solok. Suka-duka perjalanan dan penjelajahan mereka selanjutnya tidak akan diolah lagi. Untuk selanjutnya, rubrik ‘Telusur Jambi’ akan mengikuti perjalanan Schouw Santvoort).

**

Schouw Santvoort, yang menunggu kabar dari Batavia tentang kepala adat yang akan memandunya dalam perjalanan, berada di Padang Pandjang ketika rekan-rekannya berangkat ke tujuan masing-masing.

Di Padang Pandjang, informasi yang telah dikumpulkannya dengan berbicara dan berdiskusi dengan Toean van Ophuyzen, mantan-Residen Palembang di Padang, dilengkapinya lagi dengan berbicara dengan orang-orang lain.  Setelah telegram yang ditunggu-tunggunya tiba, ia segera berangkat.

Pada tanggal 19 Maret, dari Soerian, ia menulis surat kepada rekan-rekannya: “Kemaren saya tiba di Alahan Pandjang. Saya menginap di rumah von Köckritz. Kebetulan Kroesen pun ada di sana.

Kroesen membantu mencarikan beberapa ekor kuda dan pemandu sehingga saya dapat segera meneruskan perjalanan dan kini telah tiba di Soerian, di rumah Toean Stebbler, tuan rumah yang sangat ramah. Besok pagi saya akan meneruskan perjalanan ke Moeara Laboe. Di situ, saya akan mengatur hal-hal terakhir dengan Kontrolir Welsink.”

Doesoen Moeara Laboe yang terletak di lembah Soengei Pagoe merupakan tempat tugas Kontrolir onderafdeeling Lolo dan Soengei Pagoe. Perjalanan Schouw Santvoort berakhir tragis. Belum sempat ia menuliskan laporan. Ia bahkan, boleh dikata belum sempat betul-betul mulai menjelajah.

Untuk mengisi kekosongan cerita di awal penjelajahan ekspedisi dan untuk memberikan suara kepada Schouw Santvoort, tim redaksi Aardrijkskundig Genootschap memutuskan untuk memuat surat-surat Schouw Santvoort di dalam buku ini.

Pada tanggal 26 Maret, ia mengirimkan surat berikutnya.

“Ketika saya tiba, Radja di Sambah pun tiba. Dengan senang hati, saya berkenalan dengannya. Rupanya, ia bersedia menemani saya sampai ke Djambi, akan tetapi berita yang diterima oleh Welsink pada tanggal 22 malam mengenai dirinya, membuat saya tidak dapat menerima tawarannya. Ia akan pulang ketika saya nanti naik ke kapal. Namun demikian, ia menawarkan anaknya atau adiknya (keduanya merupakan Katib) sebagai pemandu. Selain dengan Radja di Sambah, saya juga berbicara dengan para Penghoeloe dari Bedar Alam dan Loeboe Malaka—untuk menambah informasi.”

Lalu, Schouw Santvoort meneruskan cerita tentang rencana perjalanan yang digagasnya. Ia menulis: “Dari Bedar Alam, saya berpikir untuk ke Soengei Koenjit. Perjalanan ini akan memakan waktu satu hari. Saya dengar bahwa Radja di tempat itu bersedia membantu. Dari Soengei Koenjit, ke Galangan—satu hari; dari Galangan ke  Padang Boengoes—satu hari; dari  Padang Boengoes ke Kota Baroe—satu hari; dari Kota Baroe ke Tandjoeng Si Malidoe—satu hari. Seluruh perjalanan itu akan memakan waktu lima hari.”

Ia menambahkan keterangan: “Tandjoeng Si Malidoe terbagi dua: sebagian termasuk daerah Menangkabo; sebagian lagi termasuk daerah Djambi. Di tempat itu, yang terletak di aliran Batang Hari, saya akan dapat memperoleh beberapa perahu untuk membawa saya ke  Djambi. Rupanya,  Tandjoeng Si Malidoe merupakan tempat pertama untuk memulai pelayaran karena tersedianya perahu-perahu yang cukup besar di sana.

Akan tetapi, karena Sultan Djambi yang terusir rupanya berkuasa di sini (nyata ataukah hanya dalam nama saja?), beberapa orang khawatir bahwa Kjai Lipati Niti di Tandjoeng Si Malidoe akan berkeberatan bila saya melalui daerahnya. Bila memang nanti hal ini terjadi, maka saya tidak akan berlama-lama tinggal di sana. Setelah meyakinkan diri bahwa kapal uap kita dapat berlayar sampai ke Tandjoeng Si Malidoe, saya akan mencoba membentuk hubungan baik dengan Kjai itu.

Saya telah membawa beberapa cenderamata untuknya. Saya juga akan mencoba membina hubungan juga dengan  para kepala adat di kampong-kampong dan negari yang terdapat di antara Bedar Alam dan  Tandjoeng Si Malidoe. Setelah itu, saya akan segera kembali ke Padang dan menumpang kapal pos, kembali ke Batavia untuk menjemput kapal uap kita.

Akan tetapi, bila saya tidak berhasil mendapatkan perahu atau, bila ada pedagang yang bersedia membawa saya, saya akan berusaha untuk langsung pergi ke Djambi. Bila ini yang dilakukan, saya berniat tidak akan berhenti di mana-mana sebelum tiba di Djambi atau sebelum saya dapat menemui Said Hassan.”

Schouw Santvoort menutup suratnya sebagai berikut: “Namun, pastilah semua ini tidak mudah dilakukan. Sekarang pun banyak kesulitan untuk mencari kuli. Saya hanya berhasil mendapatkan beberapa orang saja, jumlah minimal yang kita perlukan. Radja di Sambah, yang dapat membantu mencarikan kuli-kuli yang baik, ternyata tidak seaktif yang saya harapkan. Barangkali ia akan lebih banyak membantu bila ia diperbolehkan ikut sepenuhnya sampai ke Djambi.”

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Midden Sumatra #Ekspedisi Belanda ke Djambi #Jambi #Schouw Santvoort #Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie



Berita Terbaru

 

Minggu, 18 November 2018 17:28 WIB

EBN Siap Layani Keluhan Pedagang 24 Jam


Kajanglako.com, Jambi - Memaksimalkan aktivitas Pasar Rakyat Angsoduo Baru, PT EBN sebagai pengelola berkomitmen akan melayani keluhan pedagang selama

 

Minggu, 18 November 2018 16:50 WIB

Perhatian Pemerintah Minim, Pengrajin Batik Rikzan Bertahan dengan Peralatan Manual


Kajanglako.com, Sarolangun – Minim perhatian dari pemerintah, tak menyurutkan semangat Rikzan, Pengrajin Batik di Sarolangun untuk konsisten memperkenalkan

 

Minggu, 18 November 2018 16:22 WIB

Jambi Siap Jadi Tuan Rumah yang Ramah di Rakornas KAHMI, Wapres JK Akan Pimpin Pembukaan


Kajanglako.com, Jambi - Majelis Nasional (MN) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (KAHMI) akan menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas)

 

Lakalantas
Minggu, 18 November 2018 15:44 WIB

Toko Buah Hancur Dihantam Truk Batubara tanpa Muatan


Kajanglako.com, Batanghari - Diduga dalam keadaan mengantuk, sopir truk batubara tanpa muatan menghantamkan kendaraannya ke toko buah. Akibatnya, tempat

 

Minggu, 18 November 2018 12:27 WIB

Pimpin Launching Germas di Kerinci, Dianto: Budayakan PHBS dari Hal Kecil dan Keluarga


Kajanglako.com, Jambi - Sekda Provinsi Jambi, M Dianto, bersama ratusan masyarakat Kerinci melakukan senam sehat dalam kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup