Sabtu, 18 Agustus 2018


Minggu, 22 April 2018 15:41 WIB

Illegal Drilling di Pompa Air Kian 'Menggila', Anak Sekolah Bahkan Terlibat

Reporter : Raden Suhur
Kategori : Berita Hukrim

Aktivitas illegal drailing di Desa Pompa Air/ foto: Suhur

Kajanglako.com, Batanghari - Sudah berulang kali aktifitas Illegal Drilling yang berlokasi di Desa Pompa Air Kecamatan Bajubang ditutup. 

Namun sepertinya penutupan tersebut tidak membuahkan hasil. Bahkan, aktivitas tersebut kian marak terjadi. 



Hal ini dibenarkan oleh Indra, Kades Pompa Air. Dirinya mengakui, aktivitas yang terjadi saat ini, tidak ada campur tangan desa. 

"Tidak ada sama sekali melibatkan desa. Saya juga sudah lepas tangan, saat ini tidak ada pendapatan untuk desa dari hasil Illegal Drilling tersebut," kata Indra.

Lebih jauh dikatakannya, para pekerja sebagai pengumpul limbah minyak di Pompa Air mayoritas warga setempat. 

"Iya, para pengumpul limbahnya orang orang sinilah. Banyak juga anak sekolah yang sudah pulang sekolah berprofesi sebagai pengumpul limbah. Upah mereka dibayar dengan hitungan liter. Setidaknya, satu liter limbah minyak ilegal dibayar para oknum sekitar Rp 2.000," sebutnya.

Dengan adanya aktivitas Illegal Drilling, sambungnya, ada dampak positif dan negatifnya bagi warga desa. 

"Selama adanya aktivitas tersebut, dampak positifnya kejahatan berkurang. Biasanya setiap malam pasti ada yang kehilangan motor, buah sawit dan karet yang sudah dipotong. Sejak ada kegiatan tersebut, tidak ada lagi laporan warga kehilangan buah dan sebagainya. Harapan kami, semoga ke depannya, Illegal Drailing bisa dijadikan BUMDes yang resmi. Sehingga kegiatan itu resmi bukan illegal lagi," ujarnya. 

Ia menerangkan, penutupan Ilegal Drailing yang dilakukan pemerintah dan SKK Migas baru baru ini, seperti jebakan Batman. 

"Penutupan beberapa waktu lalu hanya sekedar saja. Masalahnya, beberapa sumur bor yang terdeteksi hanya disemen saja. Saat ini, semen tersebut sudah banyak yang jebol. Untuk melakukan penutupan permanen biayanya sangat besar yakni lebih kurang Rp 2,5 Miliar untuk penutupan satu sumur. Sedangkan sumur yang ada dilokasi kurang lebih 11 sumur," kata Kades.

Salah seorang warga Desa Pompa Air yang ikut berperan mengumpulkan limbah minyak ilegal mengungkapkan bahwa limbah tersebut selalu keluar. Jika tidak dikumpulkan warga, limbah yang berpotensi uang miliaran rupiah itu mubazir. 

"Bagaimana tidak kami kumpulkan bang, limbahnya keluar terus. Jika dibiarkan pastilah mubazir. Hasil pengumpulan limbah lumayan besar bang. Anak anak sekolah saja pulang sekolahnya langsung mengumpulkan limbah. Penghasilan mereka sekitar Rp 300 ribu perhari," kata warga yang meminta agar namanya tak disebutkan. (kjcom)


Tag : #Illegal Drailing #Batanghari #Desa Pompa Air



Berita Terbaru

 

HUT ke-73 RI
Jumat, 17 Agustus 2018 21:26 WIB

Syahirsah Serahkan Remisi HUT RI Kepada 170 Napi


Kajanglako.com,Batanghari - Bupati Batanghari Ir Syahirsah Sy, menyerahkan berkas remisi (pengurangan hukuman) kepada ratusan narapidana. Bahkan 16 narapidana

 

Karhutla
Jumat, 17 Agustus 2018 20:52 WIB

50 Hektar Lahan Masyarakat di Desa Sogo Kumpeh Hangus Terbakar


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Provinsi Jambi kembali dilanda bencana Kebakaran Hutan dan Lahan atau Karhutla. Setidaknya beberapa Kabupaten, kebakaran

 

HUT ke-73 RI
Jumat, 17 Agustus 2018 20:21 WIB

Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan RI di Tanjabbar Berlangsung Khidmat


Kajangkako.com, Tanjung Jabung Barat - Upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih pada HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-73 Tahun 2018, Jumat

 

Jumat, 17 Agustus 2018 19:32 WIB

Perjuangan Ihsan Membuahkan Hasil, PTPN VI Buat Kesepakatan Replanting Karet ke Sawit dengan Petani di Jambi


Kajanglako.com, Jambi – Tak ada perjuangan yang sia-sia, upaya yang dilakukan Ihsan Yunus menunjukkan hasilnya. Bertepatan dengan hari kemerdekaan

 

Jumat, 17 Agustus 2018 19:01 WIB

Ancam dengan Senpi, Pria Paruh Baya Setubuhi Anak Tiri Hingga 10 Kali


Kajanglako.com, Sarolangun - Sat Reskrim Polres Sarolangun berhasil mengungkap kasus pencabulan anak di bawah umur, pelaku yang diketahui ayah tiri korban