Rabu, 26 September 2018


Sabtu, 21 April 2018 07:47 WIB

Schouw Santvoort Bersiap-siap Melayari Batanghari

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Hari-hari berlalu. D. D. (Daniël David) Veth dan JF. Snelleman sibuk dari pagi sampai menjelang membereskan segala keperluan penjelajahan. Bila keadaan memungkinkan, van Hasselt pun turun tangan membantu mereka.



Tak jarang, juga untuk mengganti suasana, mereka pergi ke toko-toko di Padang untuk melengkapi keperluan penjelajahan yang dirasa masih diperlukan. Tentu saja lelaki-lelaki itu terperangah melihat toko-toko di Padang yang penuh sesak dengan barang, tetapi ternyata masih juga tak menawarkan benda-benda yang dianggap sangat mendasar di sebuah rumah tangga Eropa.

Di mata seorang pegawai pemerintah jajahan (seperti van Hasselt) yang bekerja sebagai Kontrolir di suatu tempat terpencil di pedalaman Sumatra, toko seperti itu tampak seperti nirwana yang berlimpah harta.

Bagaimana pun, toko-toko itu tidak mengecewakan. Segala sesuatu yang dibutuhkan tersedia. Dan,  waktu senggang diisi dengan pintu-pintu rumah penduduk (Eropa) di Padang yang terbuka lebar menawarkan keramahtamahan.

Pada tanggal 7 Maret, melalui surat kepada van Hasselt, Gubernur menyampaikan bahwa ia telah menerima sebuah telegram dari Sekretaris I pemerintah Hindia-Belanda: Schouw Santvoort diizinkan untuk melayari Batang Hari, didampingi oleh Kepala Laras Soengei Pagoe, yaitu Toeankoe di Sambah.

Dalam suratnya, van Hasselt mengusulkan agar perjalanan Schouw Santvoort didampingi seorang kepala adat sampai ke tempat embarkasi kapal di perbatasan daerah yang sudah dikuasai Belanda.

Dengan kata lain, sampai ke sungai yang membatasi daerah yang berada langsung di bawah kekuasaan dan pengaruh Sultan Djambi. Karena sudah tahu betul tentang sikap permusuhan (mantan-) Sultan Taha terhadap pemerintah Hindia-Belanda yang telah menurunkannya dari tahta Kesultanan Djambi, yang diinginkan oleh van Hasselt adalah bahwa Kepala Laras itu akan mendampingi Schouw Santvoort dan tak akan meninggalkannya sebelum lelaki Belanda itu sampai di daerah di mana pengaruh Sultan Djambi sudah cukup kuat. Di daerah seperti itu, mereka tidak perlu takut lagi pada pengaruh Sultan Taha.

Schouw Santvoort membayangkan lain. Ia mengharapkan didampingi oleh para kepala adat yang dengan pengaruhnya, dapat memudahkan penjelajahan melalui daerah Ranau untuk mencapai sekitaran Batang Hari, tempat mereka dapat memulai pelayaran.

Jawaban Hindia-Belanda melenceng sama sekali dari kedua formulasi itu, yaitu bahwa seorang kepala adat akan mendampingi Schouw Santvoort sampai ke tempatnya naik kapal di Batang Hari.

Demikianlah muncul pemahaman bahwa Schouw Santvoort akan didampingi oleh Toeankoe di Sambah sampai ke tempat lelaki Belanda dapat melanjutkan perjalanannya dengan berperahu.

Akan tetapi, tempat itu sebetulnya masih termasuk di dalam wilayah kekuasaan Belanda; daerah yang masih dapat dianggap aman. Gagasan van Hasselt, yang diajukan atas dasar keamanan koleganya, menjadi tersisihkan. Dan memang, Toeankoe di Sambah akhirnya menganggap dirinya cukup mengantarkan Schouw Santvoort sampai ke dusun Rantau Ilir di tepian Soengei Djoedjoean (Jujuhan) saja.

Sementara menunggu kedatangan bagasi dan perlengkapan mereka di Solok (yang diangkut dengan pedati), anggota-anggota tim ekspedisi darat mengunjungi beberapa tempat terkenal di Dataran Tinggi Padang.

Mereka juga mengunjungi Residen Canne di benteng Fort de Kock. Untuk anggota-anggota tim yang baru saja tiba dari Eropa, kegiatan kunjungan itu diharapkan dapat memberikan gambaran sedikit mengenai daerah, warga masyarakat dan bahasa yang akan ditemui juga ketika penjelajahan sudah dimulai.

Van Hasselt disibukkan urusan keuangan. Aardrijkskundig Genootschap memberikan tunjangan sebesar ƒ 500. — per bulan untuk keperluan ekspedisi. Kepada setiap anggota tim penjelajahan, lembaga itu memberikan tunjangan sebesar f 300. — per bulan.

Akan tetapi, van Hasselt memperkirakan bahwa dana sebesar itu tidaklah cukup untuk menutup semua keperluan mereka di daerah-daerah merdeka, di luar wilayah kekuasaan Hindia-Belanda.

Van Hasselt menyarankan dan mengajak kolega-koleganya untuk menggabungkan saja tunjangan-tunjangan itu sehingga menjadi dana sebesar f 1400. — per bulan, dengan pertimbangan bahwa biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan bersama-sama biasanya lebih murah daripada bila masing-masing  orang membiayai keperluan sehari-hari  sendiri-sendiri. Saran itu disetujui oleh semua anggota tim.

van Hasselt memutuskan membeli seekor kuda untuk setiap anggota. Ia juga mengangkat beberapa orang untuk membantu penjelajahan itu. Salah seorang di antaranya adalah seorang lelaki Belgia bernama van Gussem. Lelaki yang tinggal di Solok itu, dikenal sebagai pemburu dan penembak yang jitu.

Orang kedua yang ingin diajaknya sebagai kuli dan mandor adalah polisi pengawalnya, Si Mai. Pilihannya tak salah karena ternyata dalam perjalanan, Si Mai ternyata membuktikan dirinya sebagai lelaki serba-bisa yang piawai mengolah kayu dan bahan lain untuk kebutuhan penjelajahan.

Van Hasselt juga mengusulkan untuk membawa dua orang pembantu lagi, yaitu Boelè, yang bertugas mengurus kuda-kuda mereka, dan Djemain yang menjadi pembantu umum. Kedua orang ini bergabung dengan tim ekspedisi di Soepajang.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Ekspedisi Sumatra #Schouw Santvoort #Veth #Snelleman #Kota Padang #Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah #ekpedisi sumatra 1877-1879



Berita Terbaru

 

Rabu, 26 September 2018 12:15 WIB

Bacakan Visi Misi MANTAP, Al Haris Ajak Fauzi dan Nalim Bangun Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Bupati dan Wakil Bupati Merangin, Al Haris-Mashuri, Rabu (26/9), membacakan visi dan misi membangun Merangin 2018-2023.   Visi

 

Rabu, 26 September 2018 12:03 WIB

Santriwati Korban Nikah Paksa Habib Bahrun Datangi Polres Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari - Sekira pukul 10.00 WIB, Rabu (26/9), P Batubara dengan anaknya MG (18) korban ataupun santriwati yang pernah bernaung di Pondok

 

Rabu, 26 September 2018 11:51 WIB

Sempat Tertunda, Akhirnya Kapolri Mendarat di Bandara Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, beserta rombongan akhirnya tiba di Bandara Muara Bungo, sekira pukul 10.22 WIB, Rabu (26/9).   Kedantangan

 

Rabu, 26 September 2018 11:40 WIB

Dua Wakil Ketua DPRD Tak Hadiri Paripurna Pidato Penyampaian Visi Misi HAMAS


Kajanglako.com, Merangin - Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Merangin dengan agenda penyampaian pidato visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Merangin Haris

 

Agama dan Pemikiran
Rabu, 26 September 2018 10:51 WIB

Corak Pemikiran 4 Imam Mazhab


Oleh: K.H. Husein Muhammad* Memenuhi permintaan beberapa orang kiyai muda (ustaz) tentang corak pemikiran para Imam mazhab empat, aku menulis ini : Dr.