Minggu, 18 November 2018


Kamis, 19 April 2018 08:12 WIB

Ekofeminisme dan Krisis Lingkungan

Reporter :
Kategori : Perspektif

ilustrasi. sumber: beritalive

Oleh: Desri Erwin*

Meningkatnya laju kerusakan lingkungan hidup disertai datangnya berbagai bencana ekologis, sejatinya memperlihatkan bahwa model pembangunan yang selama ini dominan bersifat eksploitatif mesti ditelaah secara kritis.



Model pembangunan seperti ini menegasikan Hak Asasi Manusia terhadap tersedianya lingkungan hidup yang baik dan sehat. Apa sebab?

Ekspansi yang masif dan kerakusan korporasi mengeruk sumber daya alam dengan cara-cara eksploitatif telah membawa alam dan lingkungan hidup menjadi semakin rusak sehingga sangat sulit untuk dipulihkan kembali (irreversible).

Kegiatan bisnis yang hanya mengejar keuntungan (profitabilitas), juga terbukti berkontribusi melahirkan penderitaan bagi berjuta-juta masyarakat di wilayah yang dieksploitasi.

Salah satu korban yang paling menerima dampak buruk dari situasi ini adalah kaum perempuan. Publikasi Forum Masyarakat Sipil (CSF) Untuk Keadilan Gender Tahun 2011 menyebutkan, dalam konteks kerusakan sumber daya alam serta dampak dari adanya perubahan iklim, kaum perempuan menjadi pihak yang paling rentan serta paling menderita atas apa yang terjadi.

Sementara penelitian Peterson (Aguilar, 2009) menyimpulkan, bahwa potensi perempuan mengalami kematian adalah 14 (empat belas) kali lebih besar dibandingkan laki-laki, bila terjadi bencana.

 

Ekofeminisme

Tingginya laju kerusakan alam dan lingkungan yang membuat kaum perempuan menjadi kian menderita telah mendorong munculnya gerakan Ekofeminisme. 

Ekofeminisme yang merupakan gabungan dari gerakan feminisme dan ekologi memiliki satu visi, yakni hendak membangun pandangan dunia dan praktiknya yang tidak berdasarkan model dominasi.

Jika ekologi melihat baik mahluk hidup, maupun mahluk yang tidak hidup sama dan sederajat, sama halnya dengan feminisme yakni ingin memperjuangan relasi sosial atau hubungan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, di mana baik laki-laki ataupun perempuan tidak ada yang berposisi dominan maupun subordinan (Susilo, 2012).

Dituliskan Susilo, gerakan Ekofeminisme memberikan penghormatan atas bentuk-bentuk kehidupan  non-manusia. Artinya tidak hanya kehidupan manusia saja yang harus dihormati, tetapi menghormati mahluk hidup yang lain seperti bintang, tumbuh-tumbuhan, dan habitat-habitat di sekitar.

Ekofeminisme pertama kali muncul pada 1974 dalam buku tulisan Francoise d’eaubonne yang berjudul le feminisme ou la mort. Dalam buku itu, Francoise d’eaubonne  mengungkapkan pandangannya terkait hubungan langsung antara eksploitasi alam dengan penindasan pada kaum perempuan.

Ariel Salleh (1988) mendefinisikan ekofeminisme merupakan pengembangan pemikiran terkini dari kaum feminisme yang menyatakan bahwa krisis lingkungan global akhir-akhir ini diramalkan sebagai hasil dari kebudayaan patriarkhal.                

Definisi Ariel Salleh diperkuat oleh pandangan Karen J Warren yang menyatakan bahwa: “kayakinan, nilai, sikap, dan asumsi dasar dunia barat atas dirinya sendiri dan orang-orangnya dibentuk oleh bingkai pemikiran konseptual patriarki yang menindas, yang bertujuan untuk menjelaskan, membenarkan, dan menjaga hubungan antara dominasi dan subordinasi secara umum, serta dominasi antara laki-laki dan perempuan pada khususnya”.

Masih merujuk Susilo (2012), yakni cara berpikir patriarki, dualistik, dan menindas telah berakibat rusaknya alam dan kaum perempuan sebab perempuan dinaturalisasi (dialamiahkan)  dan alam difeminisasi (dianggap perempuan), akibatnya tidak jelas kapan penindasan satu berakhir dan kapan yang lain mulai.

Di samping itu, paham Ekofeminsime menegaskan bahwa akar kerusakan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari paham antroposentrisme sebagai kepanjangan tangan dari sistem kapitalis yang dihasilkan oleh budaya patriarki.

Pembebasan salah satunya tidak bisa dilakukan tanpa membebaskan penindasan yang lain. Kedua-duanya tidak bisa dipisahkan sebab persoalan lingkungan dan perempuan sangat ditentukan keterpusatan yang terletak pada laki-laki (androsentrisme).

Dalam kaitan itu, titik temu antara gerakan ekologis dan feminis memperlihatkan betapa energi feminitas sangat berpengaruh di dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup di planet dimana tempat kita hidup saat ini (Wulan, 2007).

 

Dari Regulasi Menuju Gerakan

Dalam kehidupan bernegara kita, ada beberapa regulasi dikeluarkan oleh pemerintah yang mendukung filosofi gerakan Ekofeminsme, di antaranya: UUD 1945, pada Pasal 28H Ayat 1 yang menyebutkan bahwa “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Masih dalam satu tarikan nafas, UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 9 Ayat 3; UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pada Pasal 65, ayat 1 sampai ayat 5; dan UU No 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, pasal 68 ayat 1 dan 2.

Berbagai regulasi yang dibuat oleh negara di atas dapat menjadi dasar dalam memperjuangan keberlanjutan serta  kesetaraan hak perempuan dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam.

Namun berbagai regulasi tersebut harus ditindaklanjuti dengan langkah nyata agar gerakan Ekofeminsme bisa menjadi arus utama, serta dapat berperan strategis dalam upaya memperbaiki posisi dan hak perempuan dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam. Pekerjaan rumah ini harus diselesaikan bersama sehingga gerakan Ekofeminsme bisa semakin nyata tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Dalam rangka menghentikan berbagai ketidakadilan terhadap hak dan posisi kaum perempuan dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam,  maka menurut penulis, kaum perempuan perlu mengambil inisatif sendiri untuk mulai tampil dan terlibat dalam setiap proses pengambilan keputusan, pelaksanaan, dan pengawasan dalam program atau aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam.

Setakat hal itu, kaum perempuan perlu secara sadar terus berupaya meningkatkan pengetahuan, pemahaman, serta kapasitas mereka dalam rangka mengambil peran, fungsi, dan tanggung jawab, serta dapat berpartisipatif aktif dalam pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam baik secara kultural maupun struktural dalam bentuk kerja-kerja organisatoris, seperti, untuk menyebut contoh, secara bersama-sama mendorong serta memfasilitasi agar kaum perempuan untuk membangun aliansi dan jaringan dengan komponen masyarakat sipil yang lain seperti LSM, Akademisi, berbagai asosiasi profesi, kaum petani, nelayan, dan lain-lain  yang concern, serta memiliki empati dan kepedulian terhadap hak kaum perempuan di dalam pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam.

Dengan demikian, kesadaran akan peran perempuan dan situasi pengelolaan alam dan lingkungan yang mendesak untuk ditelaah secara serius, perlu diinternalisasi pada setiap elemen masyarakat, baik di golongan yang saat ini pada posisi mendominasi maupun yang didominasi. Sehingga, akan tercipta tatanan yang menjunjung tinggi kehidupan bermasyarakat tanpa eksploitasi, tanpa penindasan, tanpa kekerasan, dan tanpa ketidakadilan.

 

*Penulis merupakan aktivis lingkungan. Salah satu pendiri Perkumpulan Walestra.


Tag : #Ekofeminisme #Krisis Lingkungan #Bencana Ekologis #Eksploitasi Alam



Berita Terbaru

 

Minggu, 18 November 2018 17:28 WIB

EBN Siap Layani Keluhan Pedagang 24 Jam


Kajanglako.com, Jambi - Memaksimalkan aktivitas Pasar Rakyat Angsoduo Baru, PT EBN sebagai pengelola berkomitmen akan melayani keluhan pedagang selama

 

Minggu, 18 November 2018 16:50 WIB

Perhatian Pemerintah Minim, Pengrajin Batik Rikzan Bertahan dengan Peralatan Manual


Kajanglako.com, Sarolangun – Minim perhatian dari pemerintah, tak menyurutkan semangat Rikzan, Pengrajin Batik di Sarolangun untuk konsisten memperkenalkan

 

Minggu, 18 November 2018 16:22 WIB

Jambi Siap Jadi Tuan Rumah yang Ramah di Rakornas KAHMI, Wapres JK Akan Pimpin Pembukaan


Kajanglako.com, Jambi - Majelis Nasional (MN) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (KAHMI) akan menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas)

 

Lakalantas
Minggu, 18 November 2018 15:44 WIB

Toko Buah Hancur Dihantam Truk Batubara tanpa Muatan


Kajanglako.com, Batanghari - Diduga dalam keadaan mengantuk, sopir truk batubara tanpa muatan menghantamkan kendaraannya ke toko buah. Akibatnya, tempat

 

Minggu, 18 November 2018 12:27 WIB

Pimpin Launching Germas di Kerinci, Dianto: Budayakan PHBS dari Hal Kecil dan Keluarga


Kajanglako.com, Jambi - Sekda Provinsi Jambi, M Dianto, bersama ratusan masyarakat Kerinci melakukan senam sehat dalam kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup