Minggu, 19 Agustus 2018


Sabtu, 14 April 2018 07:58 WIB

DD Veth dan JF Snelleman Menginap di Hotel Sumatra

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sambil menunggu jawaban atas surat-surat yang telah dikirimkan, Santvoort memutuskan untuk pergi dulu ke Padang Pandjang. Sementara itu, DD Veth dan JF Snelleman beruntung berhasil memperoleh penginapan di Hotel Sumatra.



Mereka akan tinggal di tempat itu selama mereka menyiapkan segala perbekalan agar mudah dibawa dalam penjelajahan ke daerah Dataran Tinggi. Untunglah mereka tidak harus berlama-lama menginap di sana karena Hotel Sumatra milik Toean Dil jauh dari nyaman dan asri.  

Hotel itu dibangun di atas tiang. Di atas tanah terdapat beberapa batu besar. Di atas batu-batu itu didirikan tiang-tiang kayu. Bangunan hotel itu, yang keseluruhannya terbuat dari kayu—termasuk jendela dan daunnya, terletak di atas tiang-tiang itu.

Di bagian depan, sekitar 10 buah anak tanggamengantar seseorang ke serambi terbuka yang dapat ditutup dengan kain atau sekat. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang makan, walau biasanya di hotel-hotel lain di nusantara, ruang untuk makan disiapkan di serambi  belakang.

Bangunan hotel itu dibelah oleh gang dengan kamar-kamar penginapan di kiri-kanannya. Gang panjang itu berakhir dengan tangga-tangga ke bawah, ke halaman belakang hotel itu. Setiap kamar memiliki pintu yang membuka ke gang tadi dan dua buah jendela yang menghadap ke luar bangunan.

Gang panjang di tengah-tengah bangunan hotel cukup lebar untuk dapat digunakan sebagai tempat menyimpan koper dan peti-peti para tetamu. Seluruh bangunan itu dipoles rapi dengan kapur berwarna putih dan tertutup oleh atau dedaunan kering yang menjulur beberapa meter melewati dinding-dinding bangunan.

Atap itu ditunjang oleh tiang-tiang yang bagian bawahnya berbentuk segi empat dan bagian atasnya berbentuk segi delapan. Inilah satu-satunya dekorasi rumah itu. Ruangan di bawah bangunan hotel itu digunakan sebagai dapur dan gudang.

Hotel Sumatra tidak terawat. Lantainya sudah reyot dan bangunan hotel itu sendiri sudah tampak miring-miring dan batu-batu yang menopang tiang-tiangnya sepertinya sudah mulai tenggelam ke dalam tanah.

Tak jauh dari bangunan induk itu terdapat bangunan-bangunan lain, yang juga dibangun di atas tiang, namun lebih rendah. Kondisi bangunan-bangunan tambahan ini lebih miris lagi.

Veth dan Snelleman menginap di salah satu bangunan tambahan itu. Di depan jajaran beberapa kamar terdapat serambi panjang yang dilindungi oleh atap yang lebar. Di serambi ini, bukan tiang yang menopang atap itu, melainkan bambu, bahan utama untuk membuat bangunan-bangunan tambahan itu.

Bila angin laut bertiup kencang, dedaunan yang menutupi atap bangunan-bangunan tambahan itu terangkat sedikit dan bambu-bambu penopangnya bergoyang-goyang tidak karuan.

Penginapan di bangunan-bangunan tambahan itu terdiri dari satu ruangan besar dan satu ruangan kecil di belakangnya. Dinding ruangan yang besar tertutup oleh pelapis dinding dari kertas yang terlepas dari lemnya di sana-sini.

Tikus-tikus, yang pada siang hari tidur dan bersembunyi di balik kertas pelapis dinding itu, muncul dan berkeliaran di malam hari. Lantai, yang terbuat dari kayu atau bambu, berlubang-lubang dan retak di sana-sini sehingga orang yang berjalan di atasnya harus berhati-hati agar tidak menjatuhkan apa-apa yang dapat hilang terjatuh ke bawah bangunan itu.

Perabotan yang tersedia sesuai dengan suasana di penginapan itu. Diterangi sinar lampu teplok yang diisi dengan minyak kelapa, barulah mereka berkesempatan memperhatikan kamar yang akan digunakan untuk tidur malam itu.

Cahaya remang-remang dari lampu itu, kapuk di dalam bantal, sabun di wastafel, semuanya tampaknya digunakan bersama-sama dengan tikus-tikus yang terdengar gemericit. Malam itu dan malam-malam selanjutnya, mereka cepat terbiasa mendengar suara-suara itu.

Veth dan Snelleman bersemangat menghadapi hari-hari pertama di Insulinde. Peti-peti berisi barang dan perbekalan ekspedisi penjelajahan itu diturunkan satu per satu, dari lambung kapal Conrad ke perahu-perahu besar dan kecil.

Perahu-perahu yang aneka model itu membawa barang-barang itu ke darat, ke kantor pabean. Seorang petugas pabean mencatat dan mengeluarkan surat yang diperlukan, lalu barang-barang itu segera dinaikkan di atas pedati-pedati yang ditarik kerbau dan dibawa ke gudang van Houtan, Stefan dan Co.

Gudang luas milik perusahaan itu terletak di tepi sungai Padang, tak jauh dari muaranya. Menyediakan tempat penyimpanan barang di gudang mereka, hanyalah satu bentuk bantuan yang diberikan perusahaan itu kepada tim penjelajahan.

Bantuan penyimpanan itu sangat diperlukan karena tim penjelajahan itu tak mungkin membawa-bawa semua barang mereka sekaligus karena mereka sendiri akan berpisah-pisah dan menuju ke tempat-tempat berlainan—yang kesemuanya mudah dicapai dari Padang. Karena itu, kalau pun mereka perlu menambah atau mengambil sesuatu, hal itu akan mudah dilakukan.

Veth dan Snelleman membuka peti-peti itu dan membungkus lagi perbekalan mereka ke dalam bungkusan dan kotak-kotak yang lebih kecil dengan bobot masing-masing sekitar 20 kg. Ini adalah batas maksimal yang diperkirakan dapat diangkut oleh seorang kuli. Di awal perjalanan, perbekalan itu dapat dibawa dengan pedati.

Akan tetapi, dalam waktu singkat, barang-barang itu terpaksa dibawa oleh para kuli—di atas kepala mereka—menyusuri jurang, naik-turun gunung, dan melintasi hutan dan sungai. Tak mungkin kuli-kuli itu dapat melewati jalan-jalan setapak itu sambil menggotong barang dan perbekalan yang terlalu berat.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Hotel Sumatra Padang #Ekspedisi Sumatra Tengah #Jambi #Santvoort



Berita Terbaru

 

HUT ke-73 RI
Minggu, 19 Agustus 2018 21:41 WIB

Serunya Lomba Pacu Perahu di Desa Mendalo Laut, Ada Kategori untuk Ibu-ibu


Kajanglako.com, Muarojambi - Memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-73 Republik Indonesia, Pemerintah Desa Mendalo Laut mengadakan lomba pacu perahu tradisional

 

HUT ke-73 RI
Minggu, 19 Agustus 2018 21:25 WIB

Bupati Syahirsah Saksikan Atraksi Pawai Kebudayaan


Kajanglako.com, Batanghari - Bupati Batanghari, Ir Syahirsah Sy, beserta istri menyaksikan langsung pawai kebudayaan. Terlihat ribuan masyarakat Batanghari

 

HUT ke-73 RI
Minggu, 19 Agustus 2018 16:52 WIB

Video [KJTV] - Upacara Pengibaran Bendera Peringati HUT 73 RI


 

Minggu, 19 Agustus 2018 12:53 WIB

Lempar Guyonan di Gowes BI, Fasha: Jelang Pileg Bakal Banyak Kegiatan Gowes


Kajanglako.com, Jambi - Walikota Jambi, Syarif Fasha, menghadiri acara Gowes 73 KM yang digelar Bank Indonesia, Minggu (19/8).   Saat memberikan sambutan,

 

Minggu, 19 Agustus 2018 09:00 WIB

Diduga Ingin Selundupkan Ganja, Pengunjung Lapas Bungo Diamankan


Kajanglako.com – Nekat membawa ganja saat berkunjung ke Lapas Klas 2B Bungo, ID (19) warga Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, ditangkap