Jumat, 22 Juni 2018


Sabtu, 07 April 2018 07:30 WIB

Penjelajahan J. Schouw Santvoort ke Djambi

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Menurut rencana awal, Johannes Schouw Santvoort akan berlayar naik kapal Conrad dari Batavia ke Djambi, akan tetapi ia memutuskan untuk tinggal dulu di Padang. Sebelum meninggalkan negeri Belanda, Santvoort menyampaikan rencananya untuk lebih dahulu menjelajahi Sumatra bagian tengah, mulai dari Padang dan berakhir di Djambi.



Ini akan dilakuan sebelum melayari sungai-sungai di sebelah timur. Dengan menelusuri Batanghari, ia akan dapat mengumpulkan data mengenai daerah aliran sungai itu dan data ini akan berguna bila mereka akan melayarinya dengan menggunakan kapal uap.

Komisi Ekspedisi di negeri Belanda mengizinkan Santvoort menjalankan rencananya bila ia mendapatkan lampu hijau dari  pejabat-pejabat yang berwenang di Sumatra.

Walau tadinya Santvoort berencana akan tetap berangkat—pun bila Gubernur memberikan advis negatif, ia akhirnya memutuskan untuk mendengarkan saran dari van Hasselt agar tetap tinggal dulu di Padang untuk merundingkan rencananya itu. Saran van Hasselt memang masuk akal dan bijaksana.

Santvoort, yang termasuk perancang gagasan ekspedisi itu, sangat optimistis akan mendapatkan aneka masukan ilmiah untuk mensukseskan penjelajahan itu. Dengan cara itu, Santvoort berharap dapat mengurangi jumlah orang yang menentang ekspedisi itu dan menambah jumlah donatur yang siap-sedia membuka kocek menambah dana penjelajahan.

Namun van Hasselt, yang lebih mengenal situasi daerah yang terletak di antara Sumatra barat dan timur dan telah mendengar informasi dari sesama pegawai dan para kontrolir di daerah-daerah perbatasan, berpendapat lain.

Di matanya, banyak kendala bila rencana Santvoort dilakukan. Pertama-tama, penjelajahan itu kemungkinan besar akan berbahaya bagi sang penjelajah—Santvoort—dan akan dapat pula membuat situasi tidak mengenakkan bagi penjelajah-penjelajah lainnya bila mereka tiba di daerah-daerah merdeka, setelah meninggalkan dataran tinggi Padang.

Sudut pandang van Hasselt terbaca jelas dalam surat yang ditulisnya kepada Gubernur Pesisir Barat Sumatra. Surat itu ditulisnya dari Soepajang pada tanggal 7 Desember 1876 ketika ia diangkat menjadi pemimpin penjelajahan di daerah dataran tinggi. Di bawah ini adalah kutipan dari surat itu.

“Dalam surat Aardrijkskundige Genootschap sama sekali tidak mengungkapkan pikiran pemerintah mengenai kemungkinan penjelajahan di daerah-daerah yang belum termasuk ke dalam daerah kekuasaan kita bila itu dilakukan oleh sekelompok kecil orang Eropa saja.

Sejauh rencana itu menyangkut penelitian di bagian selatan Dataran Tinggi Padang dan daerah-daerah yang langsung berbatasan dengannya, saya menyetujui rencana itu. Akan tetapi, saya pikir kendala untuk memasuki daerah Rantau di Baroeh, Pangkalan Djamboe, Serampei, Soengei Tenang, Asei dan Limoen akan lebih banyak dari yang dibayangkan oleh Aardrijkskundige Genootschap.

Sebelum berangkat ke daerah-daerah—yang saya dengar dari orang-orang setempat yang telah mengunjunginya—berpenduduk jarang, lebih baik kita mengirim utusan-utusan untuk memastikan bahwa kedatangan kita akan diterima baik di setiap nagari.

Itu pun, bila kita sudah memasuki daerah-daerah itu, komunikasi kita dengan daerah-daerah kekuasaan kita akan terputus dan kita akan terpaksa memasrahkan diri pada sarana-sarana yang tersedia di tempat-tempat yang didatangi karena mengirimkan kuli tot mengambil dan mengirimkan surat dan keperluan hidup takkan mungkin dapat dilakukan.

Dana yang disediakan oleh Aardrijkskundige Genootschap lebih dari cukup untuk meneliti daerah di selatan Dataran Tinggi Padang bila pengeluaran diatur dengan baik.

Namun, dana itu tidak akan cukup bila kita menjelajahi daerah-daerah yang masih merdeka. Kita harus membawa banyak kuli yang dapat dipercaya karena belum tentu kita akan dapat memperoleh kuli-kuli di daerah-daerah merdeka. Lalu, kita juga harus membawa dua orang ‘djoeroebasa’ (juru bahasa)  yang dibayar dengan baik.

Orang-orang ini telah menjelajahi daerah-daerah itu sebagai pedagang dan memahahi adat-istiadat setempat serta mengenal para kepala-kepala adat di daerah itu. Tambahan lagi, rombongan penjelajah harus memberikan cenderamata—tidak hanya kepada para radja yang berkuasa di sekitar daerah tempat tinggalnya saja, melainkan juga kepada semua panghoeloe di setiap nagari.

Bahan makanan pasti mahal dan perjalanan penjelajahan itu sendiri akan mengalami banyak kesulitan yang hanya dapat diatasi dengan mengeluarkan banyak uang.

Penjelajah-penjelajah di daerah lain di dunia berkeliling di negeri-negeri mereka dengan penduduk yang memiliki bayangan akan dikuasai oleh kekuasaan barat. Akan tetapi (di sini), diperlukan kemampuan persuasi yang besar untuk meyakinkan radja-radja dan para kepala adat di nagari-nagari yang akan didatangi bahwa ekspedisi ini tak ada kaitan sama sekali dengan pemerintah Hindia-Belanda dan bahwa ekspedisi ini bukanlah pelopor rencana ekspansi pemerintah.

Keterangan yang diberikan oleh Aardrijkskundige Genootschap dalam suratnya tertanggal 16 Oktober tidak cukup untuk mengantar seluruh ekspedisi ke penuntasan yang baik, namun memadai  untuk meneliti bagian selatan Dataran Tinggi Padang dan nagari-nagari  yang berbatasan langsung dengannya.

Dari penelitian di daerah itu barulah dapat dibuat diperkirakan apakah memungkinkan untuk meneliti daerah-daerah meredeka yang terletak lebih jauh ke pedalaman.”

Gubernur, yang dimintai pendapatnya, mendukung rencana Santvoort. Akan tetapi, tim ekspedisi masih merundingkan untung-rugi gagasan itu. Santvoort sendiri menyetujui banyak hal yang diungkapkan oleh van Hasselt: memang diperlukan seorang atau dua orang kepala adat dari Dataran Tinggi Padang untuk memandu perjalanan ke daerah Rantau supaya ia dapat mencapai daerah aliran Batang Hari yang dapat dilayari oleh kapal uap ekspedisi.

Van Hasselt menggarisbawahi lagi keberatan-keberatannya terhadap rencana perjalanan Santvoort dan ia mencatat beberapa hal untuk menghindari kesulitan yang mungkin dapat ditemui.

Ia mengusulkan untuk membawa beberapa orang kepala adat dari XII Kota atau Soengei Pagoe sebagai pemandu, dari tempat naik kapal di perbatasan daerah yang telah dikuasai Belanda sampai ke daerah yang lebih banyak berada di bahwa pengaruh dan kekuasaan Sultan Djambi. Van Hasselt juga meminta Gubernur memohon izin dari Gubernur-Jendral untuk menyetujui penugasan para pemandu itu.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Johannes Schouw Santvoort #Djambi #Sumatra #Midden Sumatra #Midden-Sumatra-expeditie 1877 - 1879



Berita Terbaru

 

Kebakaran
Kamis, 21 Juni 2018 23:00 WIB

Kebakaran Rumah Makan di Bungo, Diduga Sengaja Dibakar Orang Tak Dikenal


Kajanglako.com, Bungo - Sebuah rumah pribadi dan sekaligus rumah makan di bungo ditinggal mudik di Jalan Ali Sudin, Kamis malam (21/6), hangus sekejap

 

Kebakaran
Kamis, 21 Juni 2018 22:54 WIB

Di Tinggal Mudik, Satu Rumah Makan Hangus Terbakar


Kajanglako.com, Bungo - Sebuah rumah pribadi dan sekaligus rumah makan di Bungo yang ditinggal mudik di Jalan Ali Sudin, Kamis malam (21/6) hangus sekejap

 

Curat
Kamis, 21 Juni 2018 19:08 WIB

Polsek Pelawan Singkut Tangkap Kawanan Spesialis Bongkar Rumah


Kajanglako.com, Sarolangun - Dua orang pelaku tindak pidana Pencurian dengan Pemberatan (Curat) berhasil ditangkap Polsek Pelawan Singkut.    Penangkapan

 

Pilwako Jambi 2018
Kamis, 21 Juni 2018 18:48 WIB

Dugaan Tak Netral, Oknum ASN Dilaporkan Fasha-Maulana ke Panwaslu


Kajanglako.com, Kota Jambi - Diduga tak netral di Pilwako, oknum ASN dilaporkan Tim Fasha-Maulana ke Panwaslu Kota Jambi.    Dugaan Ketidaknetralan

 

Pilkada Serentak 2018
Kamis, 21 Juni 2018 17:41 WIB

Fasha Diundang Warga Tionghoa Hadiri Malam Kekaraban


Kajanglako.com, Kota Jambi – Isu soal kenaikan pajak di Kota Jambi yang selama tahapan Pilkada Kota Jambi terus ditujukan kepada Pasangan Calon nomor