Rabu, 15 Agustus 2018

Sabtu, 07 April 2018 00:52 WIB

Mengenang 'Penyair Gerimis' Dimas Arika Mihardja

Reporter : Redaksi
Kategori : Sosok

Dimas Arika Mihardja

Jagat kesastraan tanah air berkabung. Penyair Dimas Arika Mihardja (DAM) pseudonim dari nama Sudaryono, meninggal dunia pada kamis, 5 April 2018, sekitar pukul 19.00 WIB. Ia menghembuskan nafas terakhir di RS Bratanata, Kota Jambi dalam usia 59 tahun.

Pria kelahiran Yogjakarta 5 Juli 1959, itu tercatat dalam buku satrawan angkatan 2000, yang disusun oleh sastrawan kenamaan (alm) Korrie Layun Rampan. Tahun 1985 ia hijrah ke Jambi menjadi dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan Universitas Jambi hingga sekarang.



Sajak-sajak Dimas Arika Mihardja terangkum dalam antologi tunggal seperti Sang Guru Sejati (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1991), Malin Kundang (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1993), Upacara Gerimis (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1994), Potret Diri (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri,1997), dan Ketika Jarum Jam Leleh dan Lelah Berdetak (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri danTelanai Printing Graft, 2003).

Sajak-sajaknya juga dipublikasikan oleh media massa lokal Sumatera: Jambi, Padang, Palembang, Lampung, Riau, dan Medan; media massa di Jawa: Surabaya, Malang, Semarang, Jogja, Bandung, dan Jakarta.

Sejumlah puisinya terhimpun dalam puluhan antologi bersama terbitan pusat dan daerah. Sedang novelnya, Catatan Harian Maya, dimuat secara bersambung di Harian Jambi Independent (2002). Cerpen, esai, dan kritik sastra yang ia tulis tersebar di berbagai media massa koran dan jurnal-jurnal ilmiah. DAM, panggilang akrab Dimas Arika Mihardja kini menetap di Jln. Kapt. Pattimura Kenali Besar, Kotabaru, Jambi.

Gelar doktor Dimas Arika Mihardja diraih pada tahun 2002 dengan disertasi Pasemon dalam Wacana Puisi Indonesia (telah dibukukan oleh Kelompok Studi Penulisan, 2003).

Suminto A. Sayuti (5/4/), Guru Besar bahasa dan sastra Universitas Negeri Yogyakarta, yang juga pembimbing S3 Dimas, mengungkapkan bersyukur karena ikut mengantar almarhum mencapai derajat doktor di Universitas Negeri Malang.

Baginya Dimas Arika Mihardja merupakan sosok sederhana, apa adanya, dan sangat peduli kepada sesama teman, dan menerima apapun dengan ikhlas. Puisi-puisinya juga dicipta dengan estetika sederhana, tetapi mampu memberi sesuatu kepada pembacanya.

"Semoga almarhum husnul khatimah. Diampuni dosa dan kesalahannya. Diterima amal ibadahnya oleh Allah SWT. Selamat jalan Dimas, sang penyair. Doa kami menyertaimu", doa Suminto.

Senafas dengan Suminto, penyair Acep Syahril, sahabat lama Dimas Arika Mihardja, yang kini mukim di Indramayu, Jawa Barat, di laman facebook pribadinya, 6 April 2018, menulis kenangan 31 tahun lalu ketika dirinya mulai akrab dan menekuni dunia puisi bersama DAM. Berikut catatan lengkap Acep Syahril:

Tepatnya pertengahan April 1987, sekitar pukul 16.30, aku mendatangi rumah (bedeng) Sudaryono pseudonya Dimas Arika Mihardja, di depan Lorong Nangka, Sipin Jambi. Di situlah awal perkenalanku dengan penyair ini, dan sebagai awal proses kreatif kepenulisan beliau selanjutnya. Setelah beberapa tahun terhenti menulis ketika dia hijrah dari Jogja ke Jambi.

Di situlah awal perkenalanku dengan penyair ini, dan sebagai awal proses kreatif kepenulisan beliau selanjutnya. Setelah beberapa tahun terhenti menulis ketika dia hijrah dari Jogja ke Jambi.

Di rumah itu hanya ada istrinya Rita Indrawati dan gadis kecilnya Marenda Atika Mh. Perkenalanku dengan keluarga ini sungguh sangat berkesan, keakraban kami terasa seperti pertemuan dua sahabat yang lama terpisah.

Dan saat itu juga kusampaikan maksud dan tujuan kedatanganku sore itu, kalau aku berencana menerbitkan buku kumpulan puisi sejumlah penyair Jambi, Riak-Riak Batanghari, dengan menyodorkan sejumlah nama, seperti: Iif Ranupane, Bing F Laro, Iriani R Tandi, Helmi Bakar (almarhum), Thomas Heru Sudradjat, Acep Syahril, Ridwan Junaedi, Husni Akbar, Maman Saleh Supraba.

“Ini satu nama lagi, Maizar Karim Elha. Sekarang dia ngajar di FKIP Unja sama dengaku,” jelasnya. Berarti semuanya ada 11 nama termasuk Sudaryono pseudonya Dimas Arika Mihardja.

Sejak pertemuan itu, Dimas Arika Mihardja seperti tidak lepas dari puisi, hidupnya pun kemudian mengalir seperti puisi hingga suatu kali, dalam pembicaraan kumpulan puisinya Upacara Gerimis di Taman Budaya Jambi, aku menyebutnya sebagai “Penyair Gerimis”.

Walaupun setelah itu kami jarang bertemu karena aku lebih banyak hidup di luar Jambi, tapi setiap kedatanganku ke rumahnya selalu disambut seperti keluarga, bahkan pipi ketiga gadis-gadis kecilnya, Marenda Atika Mh, Riyandari Asrita Mh, dan Dyah Ayu Sukmawati pun waktu itu selalu kutempel sebagai bagian dari ekspresi kekeluargaan.

Dan kukira inilah saatnya pemerintah Jambi memberikan perhatian terhadap keluarga almarhum, karena atas gagasan serta pemikirannya untuk memajukan gerak kesusastraan di Jambi.

Selamat jalan mas, semoga Allah memberi tempat yang layak bagimu.


Tag : #Dimas Arika Mihardja Tutup Usia #Jambi #Dosen FKIP UNJA #Penyair Gerimis



Berita Terbaru

 

Perburuan Satwa Langka
Rabu, 15 Agustus 2018 08:59 WIB

Beli Kulit Harimau dari SAD, Dua Warga Jangkat Timur Ditangkap Polisi


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin mengamankan dua pelaku penjual kulit Harimau Sumatera. Kedua pelaku diamankan di wilayah Bangko Barat, Selasa

 

Fasilitas Air Bersih
Selasa, 14 Agustus 2018 22:21 WIB

Pelanggan PDAM Tirta Pengabuan Mulai Nikmati Air Bersih Tebing Tinggi


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Di peringatan Dirgahayu ke-53 Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Pemkab berhasil merealisasikan penyaluran air bersih

 

HUT ke-53 Tanjab Barat
Selasa, 14 Agustus 2018 22:08 WIB

Lestarikan Tradisi Bahari, Pemkab Tanjabbar Gelar Balap Pompong


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Sebagai bentuk upaya melestarikan tradisi masyarakat bahari, sekaligus memeriahkan HUT Tanjab Barat ke-53 dan HUT

 

Ibadah Haji 2018
Selasa, 14 Agustus 2018 21:50 WIB

Satu Jamaah Haji Asal Batanghari Wafat di Makkah


Kajanglako.com, Batanghari - Satu jamaah haji asal Kabupaten Batanghari Suratman bin Mohan (76) yang tergabung dalam Kloter 21 meninggal dunia di Makkah.  Informasi

 

Pemilu 2019
Selasa, 14 Agustus 2018 19:30 WIB

Satu Bacaleg PPP Dapil Sarolangun-Merangin Meninggal Dunia


Kajanglako.com, Jambi - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendapatkan kabar duka di tengah persiapan menghadapi Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, Satu