Rabu, 24 Oktober 2018


Kamis, 05 April 2018 14:06 WIB

Masjid Jawa di Kota Bangkok (Catatan Perjalanan Ramdani Sirait)

Reporter :
Kategori : Oase Esai

Umat Muslim melintas di depan Masjid Jawa, Sathorn, Bangkok, Thailand. Sumber foto: Antara

Hari masih pagi, namun suasana ruangan lantai dua sebuah masjid di tengah kota Bangkok tampak meriah. Masjid dengan bangunan sederhana sebenarnya. Beberapa bagian masih berdinding papan. Namun, ini masjid ini memiliki sejarah panjang, sejarah yang kembali menyadarkan kita bahwa nenek moyang kita orang pelaut, berlayar hingga ke segala sudut dunia.

Masjid memang tidak terlalu banyak di kawasan Sathon, di bagian Selatan kota Bangkok, ibukota Thailand itu. Bahkan, tidak semua tahu bahwa ada masjid komunitas keturunan Jawa di kota ini.



Tidak sulit sebenarnya untuk mencapai lokasi ini. Dari tengah kota Bangkok, kita dapat naik kereta BTS dan turun di stasiun Surasak (Surasak BTS) lalu berjalan kaki sekitar 10 menit melewati sebuah gang di samping St. Louis Hospital.

Saat masuk gang, Anda bisa bertanya kepada orang-orang yang ada, dimana Surau Jawa, atau Jawa Mosque. Orang-orang di situ tahu semua, karena mereka rata-rata orang-orang keturunan Jawa dan Melayu.

Membaur dengan 19 orang di masjid pada hari Minggu itu seolah kita seperti berada di Indonesia. Secara fisik mereka sangat mirip dengan orang Indonesia kebanyakan. Pakaiannya pun demikian. Perempuan muslim yang ikut berkumpul pagi itu berpakaian muslimah, persis seperti perempuan-perempuan muslimah yang ada di Indonesia. Hijabnya pun, hijab yang banyak dijual di tanah Abang. Seorang laki-laki berpakaian batik tangan panjang.

Mirip orang Indonesia tapi bukan berarti mereka riuh dengan lontaran kata “saya” dan “kamu”. Kata-kata yang terucap di antara obrolan mereka pagi itu, sangat terlihat perbedaannya. Logat mereka sangat lain dengan orang Indonesia yang biasa memadati mal dan pantai di Pattaya untuk berlibur.

Ya, muslimin dan muslimah yang berkumpul hari itu adalah bagian dari komunitas Islam warga negara Thailand, yang merupakan keturunan dari orang-orang Jawa yang sudah sangat lama tinggal di Bangkok. Mereka rata-rata lahir di Thailand dan menikah serta melahirkan anak-anak mereka juga di Thailand.

Itulah sebabnya, hari Minggu adalah saatnya mereka melemaskan lidah untuk mulai menggunakan kata-kata dan Bahasa leluhur mereka. Setidaknya, mengurangi logat Thailand yang sangat kental di lidah dan menambah kosa kata.

(ket: Ramdani Sirait bersama Dr. Yurdi Yasmi Msc (paling kanan) dan warga kampung Jawa Bangkok pada awal Maret 2018)

Adalah Diaspora Indonesia di Thailand yang memfasilitasi pelajaran Bahasa Indonesia untuk warga Thailand keturunan Jawa-Indonesia itu. Lumayan, beberapa dari mereka sudah bisa berbicara kalimat Bahasa Indonesia sederhana dengan lancar, walaupun logat Thailand memang masih lekat di lidah.

“Pelajaran bahasa Indonesia ini saya inisiasi sejak saya ditunjuk menjadi Ketua Diaspora Indonesia Thailand dua tahun lalu,” kata Dr. Yurdi Yasmi Msc.

Dia sering datang ke Masjid Jawa ini, dan terkesan dengan persatuan masyarakat Muslim Thailand keturunan Jawa yang merupakan jamaah terbanyak di masjid ini. Ide pun muncul,tentu akan bermanfaat jika mereka mendapat tambahan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia.

Yurdi Yasmi, pria asal Payakumbuh, Sumatera Barat yang bekerja sebagai Koordinator Program Food and Agricultural Organization untuk kawasan Asia Pasifik yang berkantor di Bangkok pun menyediakan waktu akhir pekannya untuk mengajar di masjid Sathonini.

Sang isteri, Nieke yang juga asal Sumatera Barat pun satu kata dan satu niat. Dia bahkan selalu menemani Yurdi untuk ikut mengajar sejak dua tahun lalu. Seperti kata pepatah, burung yang sama corak bulunya akan mengumpul, demikian pula beberapa orang Indonesia lainnya berkomitmen ikut mengajar.

Keturunan Jawa

Kelas bahasa Indonesia itu berlangsung baik dan  dikelola dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya kelas rutin setiap hari Minggu pagi, buku panduan dengan dua bahasa (Thailand dan Indonesia) juga dibuat untuk kelancaran kegiatan belajar dan mengajar.

Modul pelajaran pun dibuat penuh variasi termasuk memperkaya kosa kata. Seperti Minggu pagi itu, para peserta diminta mempresentasikan poster yang mereka buat secara berkelompok tentang negara-negara di Asia Tenggara, semua dalam bahasa Indonesia. Lalu dilanjutkan dengan bernyanyi bersama, diiringi keyboard yang dipandu oleh Kang Iwan, pria asal Sukabumi yang sehari-hari bekerja sebagai guru di Sekolah Indonesia di Bangkok.

Tidak ada yang tahu pasti jumlah Masyarakat Thailand keturunan Indonesia yang berada di kota Bangkok saat ini. Tapi menurut seorang sesepuh dari mereka, Rangsan Binkamson, Masjid Jawa itu memiliki sekitar 4.000 jamaah. Sedangkan di sekitar mesjid sekitar 200 keluarga.

“Bahkan, dahulu lebih ramai lagi. Kini sebagian dari jamaah sudah pindah ke tempat lain,” tutur laki-laki berusia 76 tahun yang memiliki nama lain yaitu Muslimin.

Orangtua Rangsan berasal dari Kendal, Jawa Tengah. Dia adalah keturunan ketiga dari keluarganya di Thailand. Menurut cerita, leluhurnya dulu pergi naik haji ke tanah suci Makkah dengan menggunakan kapal dari Jawa.

Namun sepulangnya dari Makkah, banyak yang turun di Thailand ketika kapalnya transit di negara ini dari Mekkah. Sejak itu, mereka menetap tinggal di Thailand, termasuk leluhurnya yang kemudian menikah dengan perempuan Thailand. Pada masa mudanya, Rangsanadalahpengusaha ekspor impo di Thailand, termasuk importir peralatan militer negara itu,

Salah seorang peserta yang belajar bahasa Indonesia,  adalah Phenphan Siriwattana. Menurutnya,  ayahnya berasal dari Magelang, sebuah kota dingin di sekitar Candi Borobudur. Dia sendiri saat ini sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai Dosen Bahasa Prancis di salah satu universitas di Thailand.

Setelah mengenal akar budaya Jawa-nya, dia mencari-cari nama Jawa yang cocok untuknya. Akhirnya, dia memilih Rahayu. Dia pun dikenal sebagai Ibu Rahayu di kalangan muslim di kampung Jawa itu.

Rahayu merasa sangat bahagia bisa mempelajari bahasa Indonesia. Menurutnya pelajaran di masjid Jawa ini sangat berguna untuk masyarakat keturunan Jawa di situ dan juga untuk generasi muda setelah mereka yang jumlahnya sangat banyak saat ini.

Berada di Masjid Jawa Bangkok itu, kita memang seperti berada di banyak masjid di Indonesia. Keramahan Indonesia ada di situ, pakaian mereka adalah keramahan khas kita. Mereka bersarung, bahkan berbaju batik. Begitu juga dengan para perempuan dewasa yang berpakaian muslimah Indonesia.

Bahkan, makanan yang mereka bawa untuk dimakan bersama juga mirip dengan panganan Indonesia. Masjid itu didirikan di atas tanah wakaf milik Haji Muhammad Saleh, seorang perantauan Jawa pada tahun 2448 dalam tahun Thailand atau sekitar tahun 1906 yang juga mertua dari tokoh pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan.  Saat itu, masjid ini dibangun sebagai fasilitas ibadah untuk orang-orang Indonesia yang bekerja di Thailand.

 “Saya berharap ada banyak generasi muda Thailand keturunan Indonesia yang mau datang belajar bahasa Indonesia yang kami selenggarakan ini. Dengan ini, kita bisa mempertemukan mereka-mereka yang memiliki sejarah dengan Indonesia, untuk kemudian berlanjut dengan interaksi di bidang-bidang lainnya seperti pendidikan,” kata Yurdi Yasmi.

Begitulah, masjid ini seolah menjadi representasi Indonesia di kota Bangkok. Banyak sekali orang Indonesia yang datang ke Bangkok. Kalau anda ke Bangkok, sisihkan waktu untuk mampir ke sini. Anda akan disapa ramah oleh mereka.

 

*Ramdani Sirait pernah bekerja sebagai koresponden Kantor berita Antara di Amerika Serikat periode 2001-2004. Menulis tiga buku (Green Card-2014, Jangan Bawa Pulang HIV/AIDS-2015, dan Going Global-2017). Kini tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai konsultan komunikasi. 


Tag : #Masjid Jawa Thailand #KH. Ahmad Dahlan #Warga Muslim Thailand



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:34 WIB

Pemkab Bungo dan UGM Sepakati Kerjasama di Empat Bidang


Kajanglako.com, Bungo - Pemkab Bungo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi melakukan kerjasama. Ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:12 WIB

Warga 8 Kecamatan dan 5 Kelurahan di Bungo Ini Harus Waspada Banjir


Kajanglako.com, Bungo - Delapan Kecamatan dan Lima Lurah di Kabupaten Bungo yang sudah dicap langganan banjir harus waspada, mengingat curah hujan yang

 

Kejurwil Panjat Tebing
Selasa, 23 Oktober 2018 22:19 WIB

Ketua KONI Batanghari Jamu Atlet Panjat Tebing se-Sumatera Makan Malam


Kajanglako.com, Jambi - Sambutan spesial dilakukan Ketua KONI Batanghari,  Arzanil, kepada seluruh atlet panjat tebing se-Sumatera yang berlaga di

 

Kejurwil Panjat Tebing
Selasa, 23 Oktober 2018 21:55 WIB

Hari Kedua, Atlet Panjang Tebing Jambi Sumbang Satu Emas


Kajanglako.com, Jambi - Memasuki hari kedua Kejuaraan Wilayah (Kejurwil) Panjat Tebing se-Sumatera yang digelar di Venue Garuda Kabupaten Batanghari, Atlet

 

Selasa, 23 Oktober 2018 21:29 WIB

9 Kabupaten/Kota Diganjar WTP, Hanya 2 Daerah Ini Raih WDP


Kajanglako.com, Jambi - Selain Pemerintah Provinsi Jambi, 9 Kabupaten/Kota di Jambi juga meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas laporan