Kamis, 22 Februari 2018


Rabu, 20 September 2017 08:40 WIB

Sekolah Tak Lagi Menyenangkan

Reporter :
Kategori : Perspektif

William Andri

Oleh: William Andri*

Praksis pendidikan yang terjadi di kelas-kelas tidak lebih dari latihan-latihan skolastik. Seperti mengenal, membandingkan, melatih dan menghapal, yakni kemampuan kognitif yang sangat sederhana, di tingkat paling rendah.



(Winarno Surachmad)

***

Suatu ketika keponakan saya melantunkan sebuah lagu yang sudah lama tidak saya dengar. Bunyi liriknya seperti ini, “Senang, riang, hari yang kunantikan kusambut hai pagi yang cerah, mataharipun bersinar terang menemaniku pergi sekolah. Senang, riang, hari yang kuimpikan jumpa lagi kawanku semua selamat pagi, guruku tersayang, ku siap mengejar cita –cita”.

Bagi yang menghabiskan masa kecilnya era 90-an, mungkin tak asing lagi dengan lagu ini. Lagu itu dilantunkan oleh Sherina pada 1999. Dimana, dalam lagu itu menggambarkan keceriaan anak-anak ketika masuk ke sekolah. Namun, lagu tersebut justru menuntun pikiran saya pada situasi terbalik yang terjadi pada siswa di sekolah-sekolah saat ini. Dimana, anak cenderung menganggap sekolah bukan lagi tempat yang menyenanggkan bagi mereka. Kenapa dan apa yang terjadi?

Di kelas, guru-guru tidak menjalankan fungsinya sebagai seorang pendidik, tetapi hanya menjalani fungsi pengajaran. Dimana, kegiatan yang dilakukan bersama siswa lebih mengarah kepada aspek kognitif atau intelektual. Sementara itu, aspek lain, seperti afektif atau sesuatu yang berakar kepada nilai moral dari pendidikan itu sendiri seolah terlupakan. Begitu pula dengan aspek psikomotorik yang sama sekali tak terjamah, kecuali saat mata pelajaran kesenian dan olahraga.

Akibatnya, pendidikan menghasilkan manusia yang skolastik dan pandai secara intelektual, tetapi kurang memiliki karakter utuh sebagai pribadi. Dan anak-anak, dalam hal ini siswa hanya diperlukan sebagai sebuah objek kepentingan yang pragmatis. Ya, kepentingan pragmatis. Kepentingan pragmatis siapa, kepentingan pragmatis guru yang ingin mengejar ketercapaian kurikulum, atau bahkan target mengejar kepentingan sertifikasi. Selanjutnya, kepentingan kepala sekolah yang ingin sekolahnya terlihat berjalan maksimal.

Pun kepentingan pragmatis orang tua yang ingin anaknya pintar, yang dipahami sebagian besar lebih dekat pada aspek kognitif. Demikian juga paradigma sebagian masyarakat yang memandang sekolah satu-satunya sebagai tempat mengembangkan kognisi anak-anaknya.

Berbicara tentang orang tua, terniang dalam otak saya, bagaimana akhir-akhir ini orang tua berlomba memasukkan anaknya ke layanan pendididikan usia dini. Kebanyakan orang tua ingin anaknya cepat bisa berhitung dan membaca, sehingga sejak kecil sudah tertanam di benak anak bahwa sekolah bukanlah tempat yang menyenangkan, tapi tempat untuk berkompetisi mencari prestasi. Jadi ada konsep yang salah dipikiran orang tua tentang sekolah sejak dari awal.

Padahal, layananan pendidikan anak usia dini, pada dasarnya merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Singkatnya, penyelenggara pendidikan seharusnya lebih memberikan pendidikan lewat bermain sambil belajar kepada anak, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini.

Faktanya, saat ini banyak sekali PAUD/TK yang memberikan layanan pendidikan yang seharusnya belum dibutuhkan oleh anak, seperti pemberian materi pelajaran Baca Tulis dan Hitung (Calistung), Matematika dan Bahasa Inggris. Dan, kesalahan dalam praktek layanan pendidikan ini tidak bisa sepenuhnya dititik-beratkan kepada penyelenggara PAUD. Pihak orang tua juga bertanggung jawab dalam munculnya permasalahan itu. Orang tua terkadang berambisi agar anaknya bisa Bahasa Inggris, Matematika dan sebagainya. Padahal itu belum waktunya.

Hemat saya, pemberian materi pelajaran yang tidak seharusnya diberikan kepada anak, yang berusia di bawah enam tahun selain menyalahi aturan, juga dapat menggangu tumbuh kembang dari anak itu sendiri. Pada usia tersebut aktivitas bermain lebih diperlukan oleh anak, ketimbang memberikan beban kognitif yang begitu besar kepada anak. Pada akhirnya sejak kecil anak-anak sudah dididik untuk berkompetisi sejak kecil dan memandang sekolah hanya sebagai tempat mengenal, membandingkan, melatih dan menghapal, yakni kemampuan kognitif. Lagi-lagi bermuara pemikiran bahwa sekolah bukanlah tempat yang menyenangkan. Dampaknya, anak akan jenuh belajar, bosan dan justru menghilangkan prestasi kedepannya.

Setakat hal di atas, sejatinya, sejak tahun 2010, Kementerian Pendidikan, telah mengusung tema Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa. Sebagai sebuah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai, sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil, dimana tujuan pendidikan karakter adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah melalui pembentukan karakter peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.

Dalam usaha pembangunan karakter peserta didik melalui pendidikan yang menyenangkan, itu kita perlu mengacu kepada Tri Pusat Pendidikan yang dikemukan oleh bapak pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, yaitu Tripusat Pendidikan, yang mengakui adanya pusat-pusat pendidikan yakni, pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di lingkungan perguruan, dan pendidikan di lingkungan kemasyarakatan atau alam pemuda.

Akhirnya, konsep sekolah yang menyenangkan mestilah berakar dari kesadaran dan keterlibatan bersama, yaitu dimulai dari guru yang bisa memahami dan mengimplementasikan konsep pendidikan yang sebenarnya, kesadaran orang tua, dan masyarakat tentang hakikat dari pendidikan itu sendiri. Dan semuanya harus saling mendukung.

*Penulis merupakan lulusan Magister Teknologi Pendidikan Universitas Jambi. Aktif menulis opini dan future.


Tag : #Pendidikan #Jam Mengajar #Sertifikasi #Hakikat Pendidikan #Tripusat Pendidikan #Ki Hajar Dewantara



Berita Terbaru

 

Kamis, 22 Februari 2018 10:40 WIB

Meski Ayah Jabat Walikota, Raehan Fasha Tak Suka Berfoya-foya


Kajanglako.com, Kota Jambi – Hidup dalam lingkungan keluarga yang serba kecukupan, ayahnya Walikota Jambi dan juga seorang pengusaha sukses. Tak

 

Kamis, 22 Februari 2018 10:31 WIB

Kenangan Pilu Masa Kecil Fasha, Pernah Dipanggil 'Anak Ibu yang Suka Berhutang'


Kajanglako.com, Kota Jambi -Walikota Jambi DR H Sy Fasha ME punya pengalaman pahit saat masih tinggal d Tembok Batu, Palembang. Tidak hanya mengalami keterbatasan

 

Kamis, 22 Februari 2018 10:21 WIB

Hanya Minum Air Tajin Saat Kecil, Memotivasi Fasha Berjuang Keras


Kajanglako.com, Kota Jambi -DR H Sy Fasha ME, Walikota Jambi, ternyata cukup akrab dengan kemiskinan. Sedari kecil, ia hidup di tengah-tengah keluarga

 

Kamis, 22 Februari 2018 10:06 WIB

Pintu Ruko Sulit Dibuka, Kawan Pencuri Gagal Kuras Isi Konter HP


Kajanglako.com, Kota Jambi - Empat unit Ruko yang menjual handphone beserta aksesorisnya di kawasan Jalan Kolonel Abunjani, Keluruhan Simpang III Sipin,

 

Sidang Suap RAPBD
Rabu, 21 Februari 2018 21:01 WIB

Hakim ke Sekwan: Jujur Saja, Anda Diancam Pimpinan Ya?


Kajanglako.com, Jambi – Emi Nopisah, Sekretaris Dewan (Sekwan) Provinsi Jambi yang dimintai keterangannya sebagai saksi dalam sidang kedua untukterdakwa