Selasa, 16 Oktober 2018


Senin, 02 April 2018 14:27 WIB

Surat J.J. van de Velde Kepada Instansi di Belanda (Jambi, 3 Januari 1949)

Reporter :
Kategori : Jejak

ilustrasi. Jambi Tempoe Doloe

Oleh: Jumardi Putra*

Jan Johannes van de Velde lahir di Teteringen pada 3 Desember 1904. Teteringen merupakan sebuah Desa di provinsi Brabant Utara, bagian selatan negara Belanda. 27 Juli 1928, ia dipekerjakan sebagai pejabat Dewan Nasional Hindia Belanda.



Setelah tinggal singkat di Kalimantan ia ditempatkan di Aceh. Di sana dia dipromosikan menjadi calon inspektur. Pada 1935 ia menjadi kontrolir di Seulimeum (Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh). Pada 1937 ia dituntut dengan pengamatan hubungan Sekretariat Jenderal di Batavia, tetapi dua tahun kemudian dia kembali ke Sumatra sebagai pengawas kelas 1 di mana dia segera menjadi asisten residen.

Setelah penahanannya selama pendudukan Jepang, Van de Velde mendapatkan pangkat sebagai residen lalu ditunjuk sebagai penasihat pemerintah untuk urusan politik di Sumatera. Pada 24 Desember 1949 dia menjadi penasihat umum untuk Perwakilan Tinggi Mahkota, melalui penunjukan yang hampir bertepatan dengan penyerahan kedaulatan dari Hindia Belanda. Akibatnya, ia diberhentikan dari Dinas Nasional tak lama kemudian.

Selama bertugas di Sumatra, Van de Velde cermat menulis seputar kegiatan sehari-hari, peristiwa kemasyarakatan maupun pemerintahan di tempatnya bertugas dan senantiasa ia kabarkan kepada orangtuanya, keluarga dan instansi-instansi di Belanda. Seluruh Korespondensinya itu terhimpun dalam buku Brieven uit Sumatra, 1928 – 1949 (Franeker, 1982).

Guna memasyaratkan literatur-literatur mengenai sejarah dan budaya Jambi, berikut redaksi sertakan salah satu surat Van de Velde saat berada di Jambi, 3 Januari 1949:

“Dari radio dan surat kabar, kalian tentu sudah tahu bahwa aksi polisionil kedua sudah dimulai. Sekarang, Dewan Keamanan tentu akan memutuskan bahwa pasukan-pasukan kita harus kembali, dan itu, tidak mungkin, maka akan keluarlah sangsi-sangsi. Banyak tulisan dan kata-kata dari dunia luar tentang kekerasan bersenjata di pihak kita (red-Belanda), tapi, kekerasan bersenjata, yang sudah berbulan-bulan dilakukan republik atas orang-orang tak bersalah, kepala-kepala kampung dan sebagainya, tak pernah disebut-sebut dalam pers dunia. Direktur B.B (Pangreh Praja) telah menutup kantorku untuk urusan-urusan politik di Sumatra. Untuk sementara, aku mendapat tugas mengurus wilayah sekitar Jambi dengan pangkat T.B.A. (Territorial Bestuurs-Adviseur atau Penasehat Pemerintah Teritorial). Beberapa hari lagi, aku terbang ke sana. Aneh, bahwa Jambi yang, beritanya tahun-tahun terakhir ini, begitu banyak kudengar lewat orang-orang Jambi yang datang ke Singpaura, untuk minta bantuan Belanda”.

*Sumber acuan: Brieven uit Sumatra, 1928 – 1949 (Franeker, 1982). Edisi bahasa Indonesia buku ini diterbitkan Pustaka Azet, 1987. Sedangkan mini biodatanya merujuk Nationaal Archief, Den Haag 1989. Pemuatan korespondensi Dr. J. J. van de Velde ini bertujuan memasyaratkan literatur-literatur mengenai sejarah dan budaya Jambi.


Tag : #Sumatra #Jambi #Hindia Belanda #Korespondensi J.J. van de Velde



Berita Terbaru

 

Penerimaan CPNS 2018
Selasa, 16 Oktober 2018 11:34 WIB

243 Pelamar CPNS Pemprov Jambi Tak Lolos Verifikasi


Kajanglako.com, Jambi - Pendaftaran online CPNS 2018, secara resmi telah ditutup Minggu (14/10) pukul 23.59 WIB   Khusus pelamar CPNS Pemprov Jambi,

 

Selasa, 16 Oktober 2018 11:21 WIB

Pendirian Tempat Ibadah Harus Rekom FKUB


Kajanglako.com, Merangin - Untuk pendirian tempat ibadah baru di Merangin harus mendapat izin Bupati. Pada prosesnya setiap pembangunan tempat ibadah harus

 

Selasa, 16 Oktober 2018 09:43 WIB

Bagi yang Lolos Seleksi CPNS 2018, Ini Gaji yang Kamu Terima


Kajanglako.com - Tahun 2018 ini, Pemerintah telah resmi membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Baik untuk Kementerian, Lembaga dan Pemerintah

 

Karya
Selasa, 16 Oktober 2018 09:02 WIB

Seputar 'Sang Nabi' Kahlil Gibran


Oleh: Widodo* Beberapa hari lalu, saya mengunjungi Gramedia Jambi. Dan saya terkejut. Di antara koleksi pustaka sastranya yang minimalis, ternyata toko

 

Selasa, 16 Oktober 2018 08:06 WIB

5 Tahun Berturut Tak Diraih, Pemkab Sarolangun Bertekad Rebut Kembali Adipura


Kajanglako.com, Sarolangun - Sudah 5 tahun Kabupaten Sarolangun tak lagi diganjar sebagai kota bersih, untuk itu Pemerintah Kabupaten kembali menargetkan