Jumat, 22 Juni 2018


Sabtu, 31 Maret 2018 09:52 WIB

Kedatangan di Pelabuhan Padang

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Dalam Laporan Pemerintah tahun 1878 itu juga tampak bahwa Hindia-Belanda telah menciptakan gambaran—yang lebih mirip dengan ilusi mengenai Djambi—untuk pembenaran bagi dampak terhadap tindakan-tindakan keras yang diambil pegawainya di akhir tahun 1877 terkait Pangeran Ratoe dan (Sultan) Ahmad.



Bahwa pelayaran Residen Palembang di Soengei Batang Hari dengan kapal uap Barito di bulan Februari 1878 aman-aman saja dan tidak mengalami hambatan apa pun dari penduduk yang ditemui dalam perjalanan, mendukung ilusi itu.

Akan tetapi, ilusi itu tidak bertahan lama. Laporan Pemerintah tahun 1879 memberikan gambaran lain: “Perjalanan para Residen di Dataran Tinggi Djambi, yang tidak mengalami gangguan apa pun, menyamarkan ketegangan-ketegangan di Dataran Tinggi Djambi. Namun, ketegangan-ketegangan di daerah itu menampakkan diri ketika penelitian yang dilakukan oleh Aardrijkskundig Genootschap (Lembaga Geografi Belanda) mulai dilakukan.”

Kalimat singkat ini disusul dengan keterangan ikhtisar singkat mengenai pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh penduduk setempat dan keputusan Cornelissen, van Hasselt dan Beth untuk membatalkan penjelajahan di pedalaman. Lembaga Geografi Belanda  pun menuntut agar membatalkan sama sekali penjelajahan ke daerah itu.

Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh Ekspedisi Sumatra Tengah akan tergambar dalam cerita mengenai perjalanan mereka. Gambaran mengenai situasi politik di Djambi dalam periode waktu setelah pembatalan penjelajahan ke daerah itu akan tergambar pula di akhir cerita perjalanan itu.

Demikianlah PJ Veth menutup kata pengantarnya. Minggu ini dan minggu-minggu mendatang, pembaca rubrik ‘Telusur Jambi’ akan memulai penjelajahan bersama anggota-anggota tim ekspedisi Sumatra Tengah. Penjelajahan itu dimulai dengan kedatangan mereka di Padang.

Pada tanggal 23 Februari 1877, kapal Conrad milik maskapai pelayaran Belanda merapat di dermaga Padang. Dataran Sumatra sudah betul-betul di depan mata. Setelah perjalanan yang begitu panjang sejak mereka meninggalkan Belanda, pemandangan itu sungguh membuat mereka takjub.

Dari perairan di dekat dermaga Padang, Pulau Sumatra tampak sebagai gunung dan perbukitan kokoh yang tertutup hutan-belantara dan kabut halus. Kaki gunung itu terendam jauh ke dalam laut. Pepohonan yang tumbuh di dinding-dindingnya hijau tua, membuat dinding-dindingnya seolah terbelah-belah oleh gurat-gurat dalam yang tak tertembus sinar matahari.

Jauh di atas aneka nuansa hijau itu, puncak-puncak gunung berapi mencakar langit. Dari kejauhan, mereka sama sekali tidak melihat adanya tanda-tandanya kehidupan manusia. Hal itu membuat tim ekspedisi itu merasa seolah-olah merekalah manusia-manusia pertama yang akan menjejak dataran misterius itu.

Sebuah perahu kecil membawa mereka ke daratan, menuju muara. Setelah melewati batu-batu besar—kaki gunung yang menjorok ke laut, barulah tampak rumah-rumah pergudangan dan perahu-perahu besar dan kecil yang bergerak-gerak diayunkan air. Pohon-pohon kelapa dengan dedaunan yang melambai tumbuh di sekitar bangunan rumah-rumah dan pergudangan itu.

Tampak pula orang-orang berdiri di tepian pantai. Setelah kaki menjejak darat, sesaat mereka terdiam. Segala-gala yang ditangkap oleh indra-indra penglihatan, penciuman dan pendengaran—yang selama ini hanya diketahui melalui bacaan, kini betul-betul nyata terasa dan dialami.

Schouw Santvoort, pemimpin ekspedisi, turun pertama dari kapal penambang itu. Ia segera disusul oleh Veth dan Snelleman. Mereka terkejut ketika melihat sosok  van Hasselt menyambut kedatangan mereka. Mereka baru mengenal namanya saja. Van Hasselt sebetulnya bekerja sebagai Kontrolir di sub-distrik Soepajang di Residensi Pesisir Barat Sumatra. Ia diizinkan mengambil cuti dari pekerjaannya untuk ikut serta dalam ekspedisi itu dan menyambut anggota-anggota tim yang baru tiba.

Dari dermaga, mereka naik dua buah kereta kuda ke Sumatra Hotel. Padang bukanlah kota dengan jalan-jalan dan gang-gang kecil yang penuh dengan pertokoan dan kafe serta rumah-rumah yang berhimpitan ke atas dan ke samping-samping seperti kota-kota di Belanda. Itu sebetulnya sudah diketahui.

Walaupun demikian, dengan setiap langkah di jalan-jalan lebar yang dilalui, mata mereka seolah-olah berharap akan menemukan sesuatu yang dapat mengingatkan mereka pada kota-kota besar dengan ribuan penduduk yang biasa dihadapi di Eropa. Rumah-rumah besar yang setengah tersembunyi di balik pepohonan rindang lebih mengesankan semua taman kota daripada permukiman penduduk.

Di Sumatra Hotel, banyak tamu berkumpul: beberapa penumpang dari kapal Conrad dan penumpang dari kapal yang akan berlayar ke Batavia. Kelompok yang satu berusaha menghilangkan keletihan dari perjalanan panjang yang baru saja dilewati dan kelompok yang lain berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Orang-orang itu membuat suasana ramai. Meriah, tetapi kurang menyenangkan untuk orang yang mencari ketenangan.

Rombongan tim ekspedisi merapatkan diri ke meja makan untuk menikmati makan. Rijsttafel pertama di nusantara. Baru saja mereka selesai makan, seorang pegawai hotel datang memberitahukan bahwa hotel itu sudah terlalu penuh. Tak ada lagi tempat untuk tetamu baru. Untunglah seorang tamu lain—yang akan berangkat, menawarkan kamarnya untuk tempat membersihkan diri dan mengganti pakaian.

Sore hari, mereka berangkat untuk menemui Toean E. Netscher, Gubernur Pesisir Barat Sumatra. Pejabat itu mengundang mereka makan. Setelah perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan, mereka menikmati makan dan kesempatan untuk mendiskusikan penjelajahan yang kini sudah betul-betul akan mulai dilakukan.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Jambi #Sumatra Barat #Sumatra #Ekspedisi Belanda ke Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah



Berita Terbaru

 

Kebakaran
Kamis, 21 Juni 2018 23:00 WIB

Kebakaran Rumah Makan di Bungo, Diduga Sengaja Dibakar Orang Tak Dikenal


Kajanglako.com, Bungo - Sebuah rumah pribadi dan sekaligus rumah makan di bungo ditinggal mudik di Jalan Ali Sudin, Kamis malam (21/6), hangus sekejap

 

Kebakaran
Kamis, 21 Juni 2018 22:54 WIB

Di Tinggal Mudik, Satu Rumah Makan Hangus Terbakar


Kajanglako.com, Bungo - Sebuah rumah pribadi dan sekaligus rumah makan di Bungo yang ditinggal mudik di Jalan Ali Sudin, Kamis malam (21/6) hangus sekejap

 

Curat
Kamis, 21 Juni 2018 19:08 WIB

Polsek Pelawan Singkut Tangkap Kawanan Spesialis Bongkar Rumah


Kajanglako.com, Sarolangun - Dua orang pelaku tindak pidana Pencurian dengan Pemberatan (Curat) berhasil ditangkap Polsek Pelawan Singkut.    Penangkapan

 

Pilwako Jambi 2018
Kamis, 21 Juni 2018 18:48 WIB

Dugaan Tak Netral, Oknum ASN Dilaporkan Fasha-Maulana ke Panwaslu


Kajanglako.com, Kota Jambi - Diduga tak netral di Pilwako, oknum ASN dilaporkan Tim Fasha-Maulana ke Panwaslu Kota Jambi.    Dugaan Ketidaknetralan

 

Pilkada Serentak 2018
Kamis, 21 Juni 2018 17:41 WIB

Fasha Diundang Warga Tionghoa Hadiri Malam Kekaraban


Kajanglako.com, Kota Jambi – Isu soal kenaikan pajak di Kota Jambi yang selama tahapan Pilkada Kota Jambi terus ditujukan kepada Pasangan Calon nomor