Rabu, 24 Januari 2018
Pencarian


Selasa, 19 September 2017 07:40 WIB

Sarekat Abang Jambi: Gerakan Ratu Adil? (2)

Reporter :
Kategori : Jejak

sumber foto: www.boombastis.com

Oleh Fridiyanto*       

Membaca studi sejarah pergerakan, pemberontakan yang paling sering menjadi sorotan adalah pemberontakan Petani Banten dan pemberontakan Komunis Silungkang 1927. Perbedaan keduanya merujuk, yaitu pemberontakan petani Banten bercorak messianisme, sedangkan pemberontakan di Silungkang dipengaruhi gerakan komunisme.



Akankah gerakan sarekat Abang d Jambi dapat digolongkan ke dalam salah satu dari dua corak gerakan tersebut?

Jang A. Muttalib (1977 dan 1980) mengemukakan, pemberontakan yang dilakukan Sarekat Abang tahun 1916 merupakan gerakan messianis (Ratu Adil), sebagaimana yang juga menjadi salah satu kesimpulan Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani di Banten 1888, yaitu menggunakan tarekat sufi sebagai landasan organisasi.

Masih menurut Jang A. Muthalib, sebelum pemberontakan 1916, tepatnya tahun 1910 terdapat gerakan millenearisme di Dusun Sungai Dingin, distrik Datuk Nan Betigo, yang dipimpin oleh seorang pemuda bernama Alam Bidar, yang mengaku sebagai Imam Mahdi. Namun dalam sebuah perlawanan, Alam Bidar dan pengikutnya tewas oleh Belanda yang akan menangkapnya.

Sementara sejarawan Taufik Abdullah mengatakan, di Sarekat Abang juga terdapat pemimpin yang dianggap Imam Mahdi, yaitu Glambit yang memimpin Sarekat Abang di Rawas dan pedalaman Jambi,  pada tahun 1916 mengaku bahwa dirinya adalah sebagai Imam Mahdi. Glambit sangat cakap dalam orasi, sehingga membuat masyarakat kagum kepadanya. Dalam pidato-pidatonya, Glambit menyatakan bahwa perang melawan pemerintah kafir, wajib hukumnya bagi setiap anggota Sarekat Abang.

Dua pendapat di atas, dikuatkan A.P.E. Korver, dalam bukunya “Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil”, bahwa Sarekat Abang adalah gerakan milinearisme. Bahkan Korver menegaskan bahwa Sarekat Abang adalah suatu tarekat (lembaga mistik Islam). Namun justru dengan semangat perang suci tersebutlah yang membuat Sarekat Abang menjadi pendorong pemberontakan di Jambi.

Salah satu bukti yang menguatkan simpulan Kover, yaitu 6 Agustus 1916, terjadi pemberontakan bersenjata di Muara Tembesi. Para pemberontak menyerang tangsi polisi bersenjata, memaksa membuka penjara, dan membakar kantor pos Belanda. Dari Muara Tembesi kerusuhan kemudian menyebar dengan cepat ke daerah pedalaman di Jambi. Uniknya, menurut Korver  pemberontakan dari Sarekat Abang ini mengikuti perang suci yang dilakukan oleh Sultan Turki dalam Perang Dunia Pertama. Bahkan menurut Jang Mutthalib di dalam Sarekat Abang terdapat tradisi setiap anggota harus bersumpah untuk memerangi kekuatan kafir.

Bagaimana messianisme mengakar kuat dalam gerakan Sarikat Abang?

Menurut Mestika Zeid, salah satu cara Sarekat Abang mengembangkan aliran mistiknya yaitu melalui pengajian. Di pengajian itulah anggotanya mempelajari hakikat ilmu dan berzikir. Bahkan Korver juga menyebutkan keunikan sekaligus yang membedakan Sarekat Islam dengan Sarekat Abang adalah Sarekat Abang sangat kental dengan nuansa mistik sebagaimana laiaknya sebuah tarekat. Hanya saja kalau tarekat seringkali fatalistik, namun “Tarekat Sarekat Abang” lebih progresif revolusioner.

Terhadap hal demikian itu, tak pelak, selain soal politik gerakan, hubungan antara antara Sarikat Islam dan Sarikat Abang selalu dalam tegangan. Bahkan, ketua cabang Sarekat Islam Menggala, Kedistrikan Lampung, menganggap ajaran yang ada di Sarekat Abang sebagai “sihir setan”, dan pemimpin Sarekat Abang hanyalah para penipu. Oleh karena itu, ia mengambil kebijakan bahwa bagi yang ingin menjadi anggota Sarekat Islam harus menyatakan sumpah bahwa mereka tidak masuk Sarekat Abang. Sarekat Abang juga tidak akan cocok jika disandingkan dengan Sarekat Islam Merah yang bergerak dengan prinsip-prinsip Marxisme yang tentu saja anti Takhayul.

Leih jauh, hemat penulis, pandangan sebagaimana ketua cabang Sarekat Islam Lampung itu, merupakan pandangan umum Sarekat Islam terhadap isme-isme yang pernah diberitakan Oetoesan Hindia pada tahun 1916,sebagaimana dikutip Koveer dari Snouck Hurgronje: “Bahwa berkat Sarekat Islam jugalah hingga kini Indonesia terbebas dari nihilisme, anarkisme, Saminisme, dan Sarekat Abangisme.” 

 

Tiga Pandangan

Setidaknya, dalam bentangan penulis di atas, terdapat tiga pandangan utama, yaitu Pertama, Sarekat Abang memanfaatkan Sarekat Islam untuk perjuangan politiknya. Kedua, Orang Sarekat Abang pada dasarnya adalah orang Sarikat Islam, Ketiga, dalam melihat Sarekat Islam harus dilihat kondisi geografis di Jambi yang mempengaruhi sikap politik Sarekat Islam, maka Sarekat Islam di Kuala yang merupakan pusat pemerintahan kolonial, membuat anggotanya lebih memilih aktivitas perbaikan ekonomi.

Sedangkan Sarekat Islam yang di pedalaman, dikarenakan jauh dari kontrol pemerintah kolonial, maka mereka menjadi Sarekat Islam radikal dan juga karena dipengaruhi ajaran sufi (ilmu Abang) sehingga menjadi Sarekat Abang. Dari ketiga pandangan tersebut, saya lebih cenderung ke pendapat Korver, bahwa sebenarnya Sarekat Abang di Jambi merupakan gerakan ekspansi Sarekat Abang di Rawas yang meradikalisasi Sarekat Islam di Muara Tembesi, Sarolangun, dan Bangko. Hal ini juga didasarkan adanya penolakan pimpinan Sarekat Islam, Raden Goenawan dalam Pantjaran Warta, 22-9-1916 yang mengatakan bahwa ia dengan tegas menyatakan tidak turut serta dalam Sarekat Abang dan pemberontakan di Jambi. Begitu juga pimpinan Sarekat Islam di Palembang yang menampik tuduhan pemerintah kolonial bahwa Sarekat Islam terlibat dalam pemberontakan yang dimulai dari 1000 orang Sarekat Abang yang datang serentak dari Batu Kucing pada tanggal 9 Oktober 1916.

Dengan demikian, merujuk literatur kunci berkaitan keberadaan gerakan Serikat Abang di Jambi maupun Palembang, penulis tak menampik bahwa masih terdapat banyak celah penelitian mesti dilakukan guna menyibak tabir sumir gerakan Sarikat Abang di Jambi, baik dari sisi politik gerakan maupun pandangan keagamaan yang melatari gerakan.

*Penulis merupakan kandidat doktor di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Kini aktif sebagai tenaga pengajar di UIN Sumatera Utara.


Tag : #Sumatra #Jambi #Sarikat Abang #Palembang #Messianisme #Pemberontakan



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Januari 2018 23:50 WIB

Dugaan Kecurangan Toke Karet Terkuak, Warga Bandingkan Hasil Timbangan dengan Milik Sendiri


Kajanglako.com, Bungo – Petani Karet yang ada di Wilayah Kecamatan Muko-muko Bathin VII, Kabupaten Bungo, mulai resah dengan hasil timbangan yang

 

Penyelundupan Satwa Langka
Selasa, 23 Januari 2018 20:26 WIB

BKIPM Jambi Gagalkan Penyelundupan 7 Anak Buaya Via Bandara


Kajanglako.com, Jambi – Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jambi bekerja sama dengan Avsec Bandara Sultan Thaha, berhasil menggagalkan

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:14 WIB

Selain Diselingkuhi, Juanda Mengaku Juga Sering Dianiaya Istrinya


Kajanglako.com, Batanghari - Sebelum belang sang istri yang kedapatan selingkuh dengan Kades Padang Kelapo mencuat. Juanda akui sudah seringkali dianiaya

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:03 WIB

Juanda Lapor ke Inspektorat, Kades Padang Kelapo Berdalih Hanya Ajak 'EN' Rapat


Kajanglako.com, Batanghari - Kasus perselingkuhan Kades Padang Kelapo akhirnya berlanjut. Juanda, beserta sejumlah saksi melaporkan kasus tersebut ke Inspektorat

 

Selasa, 23 Januari 2018 19:49 WIB

Heboh, Kades Padang Kelapo Dikabarkan 'Gituan' di Semak-semak


Kajanglako.com, Batanghari - Selaku pemimpin desa harusnya bisa membimbing warga desanya dengan baik. Namun, yang terjadi kali ini bertolak belakang. Jangankan