Rabu, 18 Juli 2018


Selasa, 19 September 2017 07:33 WIB

Radikalisme Lokal di Jambi, 1916: Potret Gerakan Sarekat Abang (1)

Reporter :
Kategori : Jejak

ilustrasi pemerontakan petani. sumber foto: 2.bp.blogspot.com

Oleh Fridiyanto*

Kajian perlawanan masyarakat lokal terhadap kuasa kolonial di Jambi diakui belum banyak dilakukan, terutama bila dibandingkan dengan penelitian ‘radikalisme’ lokal sezaman di daerah-daerah lain di Indonesia, ambil misal, yang diteliti Mestika Zeid dalam disertasinya, Kepialangan Politik dan Revolusi: Palembang 1900-1950, Sartono Kartodirjo dalam salah satu karya masterpiecenya tentang Pemberontakan Petani di Banten 1888, dan disertasi Anton Lucas di Monas University (1986), perihal Oposisi dan Perlawanan Lokal terhadap Pendudukan Jepang di Jawa tahun 1942-1945.



Dari yang sedikit itu, untuk menyebut contoh, gerakan Sarikat Abang di balik tabir sumir ‘radikalisme’ lokal di Jambi, yang terjadi dalam rentang 1900-1916, merujuk disertasi Jang Aisah Muttalib di Columbia University pada 1977, yang berjudul Jambi, 1900-1916: From War to Rebellion atau topik kajian sezaman setelahnya, sebagaimana disertasi Mestika Zeid tersebut di atas, menjadi penting diketengahkan.

A.P.E. Korver, dalam bukunya, Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil, (Grafiti, 1982), menyebutkan Sarekat Abang menyebar ke sebagian besar Sumatra Selatan sebelum tahun 1916. Selain di Jambi, Sarekat Abang juga terdapat di Lampung.

Korver menambahkan janganlah membayangkan Sarekat Abang sebagai organisasi yang kompak dan tunduk di bawah satu pimpinan pusat, serta terdapat cabang-cabang organisasi. Sarekat Abang lebih merupakan bermacam-macam sub-gerakan kecil lepas yang memiliki persamaan milenaristis tertentu.

Tak hanya sebatas itu, Sarekat Abang disebut sebagai gerakan rakyat yang unik, yang di dalamnya bercampur antara ajaran Islam, klenik, dan perjuangan politik yang mempunyai sikap tegas, yaitu menolak pemerintah kolonial Belanda. Selain itu, Sarekat Abang juga memiliki sifat nativistis yang akhirnya mampu meledak dalam pemberontakan di Jambi, dan juga di Palembang.

Sejak akhir Agustus 1916, merujuk Mestika Zed (Kepialangan Politik dan Revolusi ...,2003), bahwa orang Sarekat Abang mulai menampakkan identitas mereka dengan melengkapi diri dengan simbol-simbol tertentu, salah satunya yaitu Orang Sarekat Abang sering mengadakan pertemuan dengan berpakaian warna “abang” (merah) yang dilengkapi dengan berbagai senjata tajam.

Kemudian ditambahkan Korver (1982), yaitu dalam tindak tanduknya anggota Sarekat Abang menyimpan tanda-tanda pengenal rahasia, misalnya warna destar, berjabat tangan dengan cara tertentu, dan menggunakan kertas-kertas beraneka warna untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Saat yang sama orang Sarekat Abang juga sering melakukan pengajian agama dan latihan bela diri.

Bertolak dari kekhasan tersebut, penulis ingin melihat hubungan Sarekat Abang dengan Sarekat Islam, dan bagaimana konsepsi “Ratu Adil” yang biasanya mencirikan khas pergerakan masyarakat lokal di Jawa juga terjadi di Jambi, sebagaimana diprakarsai Sarekat Abang.

Menurut Jang Muttalib (1977), nama Sarekat Abang dikarenakan peran “Ilmu Abang”. Ilmu Abang adalah ilmu yang mengandung ajaran sufi dari berbagai aliran tarikat, seperti: Sammaniyah, Naqsabandiyah, dan ilmu kebal. Karena ilmu Abang itulah kemudian kelompok ini sering dikenal dengan nama Sarekat Abang. Pun Korver menambahkan, yaitu nama “sarekat” dalam Sarekat Abang berasal dari Sarekat Islam.

Di Palembang, Sarekat Islam didirikan oleh Tjokroaminoto pada tahun 1913. Kemudian Mei 1914, Raden Goenawan mendirikan Sarekat Islam di Jambi. Hanya dalam periode tiga bulan, menurut Jang A. Muttalib (1980), Sarekat Islam berhasil memperoleh anggota sebanyak 2000 anggota.

Husodo, dalam penelitan kelompoknya, Gerakan Sosial di Residen Jambi pada Awal Abad XX, Universitas Andalas, 2002) dan Jang A. Muttalib (Prisma, 1980), menjelaskan bahwa saat itu terdapat dua Sarekat Islam. Pertama, SI yang lebih bergerak memperbaiki ekonomi golongan Bumiputera. Basis kegiatan SI ini berada di Tembesi dan Bangko. Pun Korver (1982) menambahkan, Kader Sarekat Islam di Tembesi dan Bangko menyokong para pejabat, sehingga itu kelompok pemberontak di kalangan Sarekat Abang menjuluki mereka dengan “Sarekat Kompeni”. Kedua, Sarekat Islam radikal dan anti pemerintah kolonial yang berada di Rawas. SI Rawas yang sering melakukan pemberontakan ini disebut dengan Sarekat Abang.

SI di Rawas dan SI di Jambi memunculkan pandangan yang kontras. Berdasarkan catatan Sekretaris SI cabang Muara Tembesi, K.M. Amin, bahwa Ketua Cabang Sarekat Islam di Tembesi, H. Agoes, diancam dan dipaksa kelompok Sarekat Abang untuk bergabung dalam pemberontakan. Oleh Sarekat Abang, H. Agoes dijadikan “kepala urusan agama kerajaan baru” yang dibentuk oleh Sarekat Abang. Hal itu dilakukan oleh Sarekat Abang agar H.Agoes dapat diperintah mendaftarkan semua penduduk Muara Tembesi dan sekitarnya menjadi anggota SI, dan peristiwa seperti  ini juga terjadi di Bangko.

Puncaknya, di tahun 1916, yaitu adanya ancaman pembunuhan terhadap pejabat-pejabat pemerintah, pasirah, controleur, membuat pemerintah kolonial bersikap tegas dengan melarang pendaftaran anggota Sarekat Islam yang baru. Buah pelarangan itu membuat banyak calon anggota baru yang berada di Sarolangun, Muara Tembesi, Jambi secara diam-diam mendaftarkan diri ke Surulangun (merujuk ibu kota Distrik Rawas di Karesidenan Palembang).

Hal itu dilakukan karena pendaftaran di Surulangun masih memungkinkan, karena letaknya yang jauh dari karesidenan sehingga tidak terpantau. Sementara itu, Sarolangun yang merupakan perbatasan dan berdekatan dengan Rawas, yang faktanya adalah basis Sarekat Islam radikal sejak tahun 1914 menjadikan Sarolangun juga disorot oleh pemerintah kolonial sebagai markasnya kaum ekstrimis. Dan Oktober 1916 Orang Sarekat Abang di Rawas melakukan agitasi dan propaganda serta serangkaian pemberontakan.

Hal demikian menguatkan yang dikatakan Mestika Zed dalam disertasinya, Kepialangan Politik dan Revolusi: Palembang 1900-1950, yaitu pusat pergerakan (pemberontakan Sarekat Abang) sebenarnya lebih bergairah  di Karesidenan Palembang, dikarenakan ketua Sarekat Abang yang dipimpin oleh HA Goh, itu merupakan orang Dusun Talang Balai, Ogan Ilir. 

 

Hubungan Rumit

Hubungan antara Sarekat Islam dan Sarekat Abang tidaklah sederhana, laiaknya kelompok yang dipersatukan oleh sentimen kolonial semata.

Kover melihat hubungan Sarekat Islam dan Sarekat Abang adalah adanya pemimpin Sarekat Islam setempat yang sekaligus menjadi anggota Sarekat Abang, dan aktif dalam gerakan pemberontakan, namun ini hanya untuk Sarekat Islam Rawas.

Hal tersebut sesuai temuan Mestika Zeid mengenai tertangkapnya pemberontak, Haji Koeris, yang dalam sidang pengadilan mengatakan bahwa “SA adalah pengerasan dari SI”, suatu militant element dalam SI. Namun pengurus Sarekat Islam Palembang menampik tuduhan tersebut dengan menegaskan bahwa Sarekat Islam tidak mengenal onderbouw yang bernama Sarikat Abang.

Sarekat Islam Palembang menilai bahwa terdapat perbedaan pandangan dengan Sarekat Abang yang mengandung ajaran mistik. Jika merujuk pandangan ideologi Sarekat Islam Merah, yang kental dengan filsafat materialismenya, tentu saja penolakan Sarekat Islam ini cukup bisa diterima.

Jika dilihat siapa yang lebih dulu ada, Laporan Liefrink, 20 Oct.1917: Meedelingen der Regeering omtrent enkele Onderwerpen van Algemen Belang, “Vb 17 Januari 1918, No.1,ARA. Den Haag,” menjelaskan bahwa Sarekat Abang sudah ada jauh sebelum Sarekat Islam masuk ke daerah Rawas.

Merujuk laporan Liefrink tersebut, dapat dikatakan bahwa Sarekat Abang lebih dulu berada di Rawas. Maka pola hubungan Sarekat Abang dan Sarekat Islam adalah politis. Hal ini sebagaimana Korver yang mengatakan bahwa pemimpin Sarekat Abang ingin memanfaatkan Sarekat Islam untuk mencapai tujuan mereka. Hal demikian itu dapat dilihat dari kekuatan Sarekat Islam di Muara Tembesi yang digunakan sebagai gerakan masa pendukung, namun Sarekat Abang tetap barisan terdepan.

Sikap politik Sarekat Abang demikian itu, dapat dilihat dari nota K.M. Amin, 10-12-1916,mr. 543/17 yang secara harfiah (sebagaimana dikutip Korver, 1983: 86) berbunyi demikian: “SI adalah sebuah perkumpulan kawula-kawula Raden Gunawan, yang oleh Raja Turki ditetapkan sebagai penggantinya, dan dengan demikian menjadi Raja SI. SA adalah perkumpulan untuk pemimpin (raja-raja) dan pemuka (hulubalang-hulubanlang).

*Penulis merupakan kandidat doktor di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Kini aktif sebagai tenaga pengajar di UIN Sumatera Utara.


Tag : #Sarikat Abang #perlawan lokal #Kolonialisme Belanda #Messianisme #Ratu Adil #Sejarah Sumatra #Palembang #Jambi



Berita Terbaru

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 11:48 WIB

Ini Bacaleg Golkar yang Berpotensi Dulang Suara di Kota Jambi


Kajanglako.com, Kota Jambi - Golkar Kota Jambi optimis akan meraih maksimal di Pemilu 2019, mereka menargetkan 7 hingga 8 kursi di DPRD Kota Jambi.    Pengurus

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 11:15 WIB

Jumlah Bacaleg yang Terdaftar di KPU Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Proses penerimaan pendaftaran Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) Pemilu 2019 untuk DPRD Provinsi Jambi, telah rampung dilaksanakan

 

Rabu, 18 Juli 2018 09:09 WIB

Pertanyakan Akuisisi Pertagas oleh PGN, Ihsan: Apa Urgensinya?


Kajanglako.com, Jakarta - Selasa, 17 Juli 2018, Komisi VI DPR RI melanjutkan rangkaian Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan mitra komisi. Kali ini RDP berlangsung

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 03:49 WIB

Ini Dasar KPU Bungo Tolak Berkas Partai Garuda Hingga Tereleminasi


Kajanglako.com, Bungo - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bungo menolak berkas pendaftaran Bacaleg dari Partai Garuda. Penolakan tersebut disebabkan masih

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 03:42 WIB

Hari Terakhir Pendaftaran di KPU Bungo, Bacaleg Partai Garuda Tereleminasi


Kajanglako.com, Bungo - Banyak partai politik di Kabupaten Bungo memilih mendaftarkan bakal calon legislatifnya pada akhir waktu. Padahal tidak ada