Rabu, 24 Oktober 2018


Kamis, 29 Maret 2018 11:45 WIB

Mak Tantu dan Sejumput Pengalaman 'Menggambut' di Pematang Rahim

Reporter :
Kategori : Sosok

Perempuan Bugis Wajo Desa Pematang Rahim sebagai buruh ngocek pinang. Dok. Penulis

Oleh: Nor Qomariyah*

Hari itu belum pagi benar. Jarum jam mengarah ke angka 04.00 WIB. Mak Tantu dengan cekatan mengambil beras, mencuci lalu memasaknya di atas bara api di sudut dapur rumah panggungnya.



Secepat itu ia menanak nasi lantaran masih ada pekerjaan lain sebelum dirinya meninggalkan rumah lalu melanjutkan pekerjaan di kebun kelapa bersama suaminya.

Sambil menunggu nasi matang, Mak Tantu mengambil beberapa helai pakaian kotor, mencucinya dengan menyaring air terlebih dahulu dengan alat tradisional buatannya, menggunakan pasir, sabut, kain penyaring pada ember dan dialirkan melalui pipa.

Air merupakan hal utama bagi Mak Tantu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari, apatahlagi air bersih itu satu-satunya bersumber dari bor gambut yang tak bisa dikonsumsi secara langsung.

Selain Mak Tantu, aktivitas serupa juga berlangsung di rumah-rumah warga lainnya di Desa Pematang Rahim, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, seiring mulai tingginya matahari. Anak-anak berangkat ke sekolah, perempuan dengan membawa angkong, karung, parang panjang dan berbekal nasi secara individu bekerja penuh hari di kebun. Sedangkan laki-laki memanggul semprotan, parang panjang, maupun cangkul dan ember beraktivitas di kebun sawit, kelapa maupun pinang.

Mobil truk bolak-balik melintasi Desa memuat berbagai hasil panen, seperti sawit, kelapa serta pinang. Kehidupan di pelabuhan (yang dibuka sejak 2004) sedari pagi hingga siang (pukul 13.00 WIB) ramai oleh aktivitas bongkar muat penumpang maupun barang.

Untuk bongkar muat hasil panen dilakukan di pelabuhan KM 1. Pekerjaan ini didominasi oleh laki-laki yang memiliki lahan terbatas, atau bahkan tak punya lahan, seperti penyewa boat hingga pemilik boat.

***

Mak Tantu mengawali kisah kedatangannya di Desa pematang Rahim, Kecamatan Mandahara Ulu, Tanjung Jabung Timur, bersama rombongan dari Sulawesi Selatan. Melewati perjalanan yang cukup panjang, dari sejak 1667, dimana para pendahulunya dipukul mundur oleh Belanda dan La Tenritta Arung Palakka dengan menandatangani perjanjian Bongaya, hingga terpencar di penjuru Indonesia dan Malaysia.

Melalui Kepulauan Riau dan Provinsi Riau, para pendahulu mereka menuju Jambi yang saat itu masih terdiri dari hutan belantara. Jambi menjadi pilihan karena letaknya yang cukup strategis dan berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan dan Laut Pasifik (Pelras, The Bugis, 2006), serta mempunyai wilayah yang luas: 53.435, 72 km2.

Para rombongan migrasi ini, kemudian menyebar hampir di seluruh Kabupaten Tanjung Jabung Timur, yaitu: Pangkal Duri, Mendahara, Dendang, Lambur Luar, Lambur Dalam, Kota Kandis, Kampung Laut, Simbur Naik, Teluk Kijang, Pemusiran, Sungai Raya, Nipah Panjang, Sungai Itik, Sungai Lokan, Sadu,  Air Hitam Laut, Seponjen, Tangkit, Muara Sabak. Melalui pulau Kijang dan Mendahara hingga sampailah 9 rombongan pertama yang menginjakkan kaki di desa pematang Rahim atau dikenal saat itu dengan Simpang Kiri.

Sebelum menjadi petani, suami Mak Tantu adalah bekerja sebagai ‘pebalok’, sebutan profesi bagi umumnya laki-laki yang bekerja pada 1970 hingga 2000-an.

Sementara saat itu Mak Tantu hanya sebagai pekerja di rumah dan membantu sang suami berjualan minyak serta makanan kecil. “Semua tanah di sini rawang, airnya setinggi lutut. Tak ada orang berkebun seperti sekarang,” kenang Mak Tantu.

Sayang, mata pencaharian yang sempat menjadi primadona ini tak berlangsung lama, karena kayu di hutan mulai habis. Para laki-laki yang dibebani tanggungjawab memberi nafkah, terutama yang beridentitas Bugis Wajo, Pinrang dan Bone, mulai mencari akal untuk menyambung kehidupan mereka di wilayah Pematang Rahim.

Rasa malu dan gengsi jika harus kembali ke tanah kelahiran membuat mereka belajar berbagai cara, yakni mengolah lahan ‘rawang’ ini agar bisa ditanami. Gayung pun bersambut, ketika salah satu perusahaan sawit yang cukup besar masuk di wilayah ini, mulailah para laki-laki belajar mengeringkan lahan ‘rawang’ dengan melakukan kanalisasi pada 2003-an. Pasca itulah perempuan-perempuan Bugis di sini mulai terlibat.

Saat membuka lahan, perempuan-perempuan ini tanpa mengenal lelah, membantu sang suami mengumpulkan ranting pohon, dedaunan dan lainnya di tengah area lahan, dan menunggu sampai pukul 15.00 atau 16.00 sore untuk dibakar. Bahkan ada juga yang menggunakan sistem jalur, dengan 3-4 jalur lalu dibakar di bagian tengah pada setiap jalur.

Tak hanya itu, Mak Tantu sebagai perempuan Bugis Wajo, ia tak segan berhari-hari menginap di kebun membantu suaminya, mulai dari kali pertama membuka lahan, menebas, membakar, menanam, merawat, panen, pasca panen sampai negosiasi harga. Soal penentuan ‘toke’,  biasanya suami Mak Tantu yang melakukannya.

Berjalannya waktu, Mak Tantu hanya bisa menikmati proses produksi perkebunan ketika kebunnya masih ditanami komoditi kelapa. Tahun 2004, dimana komoditi sawit mulai dikenal di wilayah ini, perempuan-perempuan Bugis mulai jarang ikut ke kebun bersama suaminya. Hanya proses awal dan perawatan mereka aktif membantu.

Ketika proses panen, pasca panen, toke bahkan negosiasi harga praktis menjadi peran laki-laki. Secara tidak langsung, proses ini bisa dibilang ‘menghilangkan’ peran perempuan dari sistem produksi pertanian.

Tak hanya itu, banyak perempuan-perempuan yang beralih profesi sebagai buruh perusahaan, meskipun berupah rendah dan tak memiliki jaminan keamanan ketika melakukan penyemprotan pestisida pada sawit.

Potret masyarakat dalam kontribusi penciptaan ruang bagi lahan mereka yang justru semakin mendukung akumulasi modal bagi rantai produksi pasar perusahaan, sehingga membentuk perubahan tata guna lahan di wilayah mereka.

Belum lagi, adanya perubahan terkait konsesi agraria, meliputi ekstraksi sumber daya alam dan hutan, sumber tambang, serta konsesi perkebunan besar (Moeliono et al., 2009, Resosudarmo, et al. 2012), termasuk di desa Pematang Rahim, dimana luasan perkebunan sawit masih terus bertambah (4.775 ha-dari total luas 9.199,14 ha) berdekatan dengan berbagai perusahaan besar.

Sungguh ironi, situasi yang justru semakin mempersempit akses dan kontrol perempuan-perempuan atas peran produksi pertanian dan keterikatan mereka dalam tradisi ‘mappataneng’ (tradisi bertani padi lokal) berganti menjadi tradisi ‘cerak parit’ (tradisi syukuran sebelum menanam tanaman perkebunan berdasarkan lajur-parit).

Filosofi Adil dan Setara

Ada yang menarik ketika Mak Tantu membukakan beberapa ‘Pasang’ (filosofi) masyarakat Bugis dalam kitab yang dipegangnya, Tuhfatun Nafs, yang memuat berbagai tata aturan laki-laki dan perempuan Bugis.

Menurutnya, kitab ini merupakan sari dari sastra besar yang ditulis oleh La Galigo (I La Galigo), dan selalu dibaca pada acara-acara besar di Sulawesi Selatan, tempat asalnya. Tertulis dengan jelas di dalamnya, yakni bagaimana Bugis Pinrang menganut pasang (filosofi) ‘appaulu’ (perempuan sebagai penjaga harta di rumah). Karena itu anak perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam hak waris.

Filosofi lainnya adalah ‘jako parenta deppoki bahinennu, deppoa jinta nitukduppi nahajik’ (jangan istrimu diperintah seperti menginjak pematang sawah, karena pematang itu diinjak baru baik), burane mallempa, makkunrai majjujung, yang berarti pria memikul (2 bagian) perempuan menjunjung (1 bagian).

'Pasang' tersebut hampir menyamai dengan Bugis Makassar. Namun hal ini berbeda dengan ‘pasang’ untuk perempuan Wajo dan Bone, dimana dari peran rumah tangga hingga produksi lahan mengikuti ‘sipurepo’ (berbagi kesusahan).

Dalam makna lain, falsafah ini memberikan arti yang begitu kuat bagi perempuan dan tentu berpengaruh pada tataran bagaimana mereka memaknai lahan produksi yang menjadi sumber atas pangan bagi keluarga.

Bagi Mak Tantu, burane mallempa, makkunrai majjunjung tak dimaknai keadilan dalam jumlah bagian, namun kesejajaran dan bagaimana mengatur mekanisme kerjasama dalam berbagai peran.

Meskipun sejarah tak dapat lagi diulang dan kembali pada tumpuan tanah kelahiran, dimana padi lokal sebahai simbol kejayaan bagi ‘laki-laki dan perempuan’, bukan berarti perempuan Bugis kehilangan jati dirinya sebagai ‘perempuan petani’ (tak hanya ‘bertani di wilayah domestic), namun juga bertani di wilayah reproduksi sosial dan produksi lahan’.

Bertani, dalam kaitan itu, dimaknai sebagai kembali mempraktekkan warisan budaya, dengan turut bergerak, menjemput pengetahuan, informasi dan berbagai pelatihan tentang pentingnya tanah bagi keterkaitan manusia dengan alamnya.

***

Mak Tantu adalah satu di antara perempuan Bugis lainnya yang ada di Pematang Rahim, berusaha mengabarkan bahwa perempuan harus mulai melangkah untuk melihat kembali ‘tanah’ yang diinjak bukanlah tanah pegunungan nan datar tempat dahulu dilahirkan, namun tanah yang diinjak merupakan tanah yang rentan terhadap kekeringan dan banjir yang harus bisa ditekan elevasinya melalui peran perempuan, yakni dengan mengembalikan kearifan dalam memperlakukan tanah itu sendiri.

Suara Mak Tantu mungkin terdengar sayup di antara riuhnya perpolitikan dan gaduhnya lembaga Desa, namun bukan berarti tak bermakna. Paling tidak, Mak Tantu masih bisa berharap, tradisi ‘mappataneng’ secara maknawi tidak hilang begitu saja dengan hiruk pikuk kapitalis di tanah gambut, akan tetapi dengan lahan dan hutan gambut yang masih tersisa mampu membuka mata, bahwa ‘perempuan’ masih ada, tidak hanya sebagai pihak yang ‘berdampak langsung’ namun juga aktor yang sama bepegang pada norma dan tata guna lahan agar ke depan ‘mappadendang’ bisa kembali didendangkan oleh laki-laki dan perempuan di tanah gambut Pematang Rahim.

*Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana Universitas Jambi.  Bekerja sebagai Tim research specialist Komunitas Konservasi Indonesia Warsi. Ketertarikan soal gender dimulai sejak bergabung dengan Yayasan Rahima Jakarta di tahun 2008 dan penulis supplemen ‘nikah mut’ah antara agama dan tradisi’ di tahun yang sama sebagai buku saku.


Tag : #Perempuan Bugis #La Galigo #Filosofi Bugis #Tanjung Jabung Timur #Jambi #Sumatra #Migrasi Bugis ke Jambi



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:34 WIB

Pemkab Bungo dan UGM Sepakati Kerjasama di Empat Bidang


Kajanglako.com, Bungo - Pemkab Bungo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi melakukan kerjasama. Ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:12 WIB

Warga 8 Kecamatan dan 5 Kelurahan di Bungo Ini Harus Waspada Banjir


Kajanglako.com, Bungo - Delapan Kecamatan dan Lima Lurah di Kabupaten Bungo yang sudah dicap langganan banjir harus waspada, mengingat curah hujan yang

 

Kejurwil Panjat Tebing
Selasa, 23 Oktober 2018 22:19 WIB

Ketua KONI Batanghari Jamu Atlet Panjat Tebing se-Sumatera Makan Malam


Kajanglako.com, Jambi - Sambutan spesial dilakukan Ketua KONI Batanghari,  Arzanil, kepada seluruh atlet panjat tebing se-Sumatera yang berlaga di

 

Kejurwil Panjat Tebing
Selasa, 23 Oktober 2018 21:55 WIB

Hari Kedua, Atlet Panjang Tebing Jambi Sumbang Satu Emas


Kajanglako.com, Jambi - Memasuki hari kedua Kejuaraan Wilayah (Kejurwil) Panjat Tebing se-Sumatera yang digelar di Venue Garuda Kabupaten Batanghari, Atlet

 

Selasa, 23 Oktober 2018 21:29 WIB

9 Kabupaten/Kota Diganjar WTP, Hanya 2 Daerah Ini Raih WDP


Kajanglako.com, Jambi - Selain Pemerintah Provinsi Jambi, 9 Kabupaten/Kota di Jambi juga meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas laporan