Minggu, 22 April 2018


Sabtu, 24 Maret 2018 10:09 WIB

Sriwijaya: Mitos atau Realitas?

Reporter :
Kategori : Pustaka

ilustrasi

Oleh; Widodo*

PADA 1918, buletin l’École Française d’Extrême-Orient menerbitkan artikel George Coèdes yang membuka babak baru kajian Asia Tenggara, berjudul Le Royaume de Sriwijaya. Coèdes menyatakan adanya kerajaan bernama Sriwijaya, imperium maritim yang menguasai sebagian besar wilayah Asia Tenggara dan yang berdiri sejak abad ke-7 hingga abad ke-14, dengan bukti-bukti yang bersifat tekstual. Sejak itu, bermulalah mitologisasi Sriwijaya. Banyak pihak, baik dari kalangan akademisi maupun politisi nasional, menerima dan mengikuti teori Coèdes yang dianggap benar belaka.



Akan tetapi, setidaknya sejak tiga dekade terakhir, pengaruh Coèdes berangsur-angsur menurun. Muncul sejumlah pertanyaan kritis: Apakah Sriwijaya nyata-nyata ada dan bukan ilusi akademis belaka? Apakah merupakan thalassocracy? Apakah berdiri selama tujuh abad? Cukup dan kokohkah argumen-argumen tekstual yang digunakan Coèdes untuk membuktikan keberadaan Sriwijaya?

Bottenberg, dengan tesisnya di Universitas Leiden ini, "Sriwijaya: Myth or Reality?", menjadi salah saorang pengkritik teori Coèdes tersebut sekaligus penggugat mitologisasi Sriwijaya. Tapi tentu ia bukan sarjana pertama yang melakukan hal itu. Sebelumnya, setelah mengadakan investigasi arkeologis di Palembang pada 1975 dan 1979, Bennet Bronson menarik kesimpulan yang cenderung menyangkal keberadaan Sriwijaya (hlm. 28). Setelah Bronson, pada 1981 Slamet Muljana menerbitkan bukunya yang kritis tetapi kurang terkenal, Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi (Yayasan Idayu, 1981).

Meskipun menerima keberadaan Sriwijaya sebagai imperium maritim di Asia Tenggara, Muljana menyatakan bahwa umur Sriwijaya singkat, hanya satu abad. Dibandingkan dengan kritik Muljana atas teori Coèdes tantang Sriwijaya, kritik Bottenberg lebih telak dan menyeluruh.

Menurut Bottenberg, teori Coèdes rapuh dan problematis. Penemuan Coèdes atas Sriwijaya “was not done by exploring deep into the tropical forests of Indonesia and stumbling upon ancient ruins, but by carefully studying the ancient texts and sources and basing a theory on those sources” (hlm. 13).

Sumber-sumber tekstual itu antara lain: teks Cina, misalnya catatan I-Tsing dan Chou Ja-Koua, cerita petualang Arab, misalnya cerita dari Sulayman dan Ibnu Rustah, dan inskripsi India, misalnya inskripsi Rajaraja dan Rjendracola (hlm. 14). Jadi, teori Coèdes tidak punya landasan arkeologis.

Ini menghasilkan perkembangan ilmiah yang merugikan. Terpengaruh Coèdes, banyak sarjana Asia Tenggara berupaya mencari dalam dunia nyata apa yang tersurat pada teks, "to search from the word to the world." Mereka mengidentifikasi dan melokalisasi toponim-toponim kerajaan yang tertera pada teks-teks kuno, misalnya catatan I-Tsing atau kronik Cina (hlm. 24).

Kajian menjadi lebih bersifat konfirmatif dan verifikatif, kurang falsifikatif. Dengan kata lain, kajian Sriwijaya menjadi sunyi dari dialektika yang fundemantal dan tidak mengalami kemajuan yang berarti. Kokohlah mitos Sriwijaya sebagai imperium maritim di Asia Tenggara.

Dalam rangka mengkaji Sriwijaya secara kritis, sebagai arkeolog, Bottenberg membalik cara kerja para sarjana pengikut Coèdes tersebut. Ia tidak mencari dalam dunia nyata apa yang tersurat pada teks, tetapi menjawab pertanyaan apakah Sriwijaya itu realitas ataukah mitos belaka, dengan berpijak pada kenyataan.

Bottenberg menganalisis kembali benda-benda budaya (material culture) hasil galian sejumlah arkeolog, terutama yang dilakukan di dua wilayah inti Sriwijaya, Pelembang dan Jambi, kemudian menghubungkan hasil analisisnya dengan sumber-sumber tekstual dan dengan kerangka teori yang digunakannya. Dengan cara itu, ia menemukan sejumlah kesimpulan yang sekaligus menjadi kritiknya atas teori Coèdes.

Kritik pertama Bottenberg terarah pada bentuk negara. Sriwijaya bukanlah sebuah thalassocracy: imperium maritim yang menguasai Selat Malaka, memiliki angkatan laut yang kuat, dan mempunyai sedikit kontak dengan wilayah pedalamannya. “Archaeological excavations and surveys,” tulisnya, “reveal no strong maritime empire, but polities or kingdoms, on Sumatra only and not polities across the Straits of Malacca” (hlm. 4).

Bersandar pada teori peer polity interaction, Bottenberg menerangkan bahwa Sriwijaya sebenarnya bukanlah nama sebuah imperium maritim, tetapi sebentuk pertukaran simbolik (symbolic exchange), identitas yang digunakan secara kolektif oleh negara-negara otonom berbudaya politik mandala yang ada di Sumatera.

Negara-negara ini berdiri berdampingan, tetapi bersaing memperebutkan hegemoni. “The one who controls most of the trade and is the most powerful, both military and economically, adopts the name of Sriwijaya, as part of competitive emulation and as part of symbolic exchange,” tulis Bottenberg (hlm. 37). Ia juga menulis, “I-Tsing’s statement that, Malayu was now Sriwijaya, may refer to a conquest or merging of different polities” (hlm. 33).

Thalassocracy hanya menjalin sedikit kontak dengan dan hanya punya sedikit kontrol atas wilayah pedalamannya. Sementara itu, dalam kasus Sriwijaya, relasi dengan wilayah pedalaman tersebut justru menentukan kemakmurannya.

Dari wilayah pedalaman itulah negara-negara Sriwijaya memeroleh komoditas ekspor yang diperdagangkannya dalam pasar internasional. “The exchange between Sriwijaya and its hinterland,” demikian Bottenborg, “is clear, particular in perishable materials such as NTFPs (Non-Timber Forest Products) and precious metals” (hlm. 34).

Di Sumatera, relasi ekonomi-politik antara negara-negara Sriwijaya dengan wilayah pedalamannya, yaitu Minangkabau dan Batak, telah berlangsung sebelum Sumatera terintegrasi ke dalam sistem perdagangan maritim internasional, atau sebelum pedagang Cina, India, dan Arab melakukan penetrasi di pulau tersebut (hlm. 36 dan 73).

Pernyataan ini bukan omong kosong, sebab “architectural and epigraphical evidence found in the hinterland of Sumatra, prove that trade, distribution and exchange happened within, and between, polities” (hlm. 37).

Faktor inilah yang melatarbelakangi pindahnya wilayah inti Sriwijaya pada abad ke-11, dari Palembang ke Jambi, di samping faktor serangan Kerajaan Cola. “Jambi,” jelas Bottenberg, “tried to come into direct contact with their hinterland by means of the Batang Hari, which is much closer to the homelands of the Batak and Minangkabau than the Musi River in South Sumatra” (hlm. 73).

Penemuan bukti-bukti arkeologis yang berasal dari abad ke-7 hingga abad ke-9 di Palembang menunjukkan bahwa Palembang sejak abad ke-7 merupakan negara induk Sriwijaya, tetapi kemudian berkurang pengaruhnya semenjak serangan Cola pada 1025. Sementara itu, di Jambi terdapat peningkatan jumlah temuan arkeologis yang berasal mulai dari abad ke-11 (hlm. 73). Bottenberg lantas menghubungkan dinamika politik di Sumatera sepanjang masa Sriwijaya ini dengan teori tata dunia (world systems theory)-nya A.G. Frank.

Tidak semua kesimpulan Bottenberg bertabrakan dengan teori tradisional tentang Sriwijaya. Berdasarkan temuan arkeologis dan inskripsi yang ada, dengan mengecualikan situs-situs Hindu yang ada di Sumatera, ia menyimpulkan bahwa “Sriwijaya appears to be Buddhist in nature” (hlm. 73). Tentu saja pengecualian ini merupakan persoalan yang harus dijawab Bottenberg.

Walaupun terdapat titik pertemuan antara kesimpulan Bottenberg dengan teori tradisional tentang Sriwijaya, sebagian besar kesimpulan Bottenberg, sebagaimana dipaparkan sebelumnya, bertolak belakang dengan dan merupakan bantahan terhadap teori Coèdes. Bottenberg tidak hanya menggugat, melainkan juga menghancurkan citra klasik Sriwijaya sebagai thalassocracy.

Citra ini mulanya dibangun oleh Coèdes dan para pengikutnya, kemudian dilanggengkan dan dikuatkan oleh pemerintah Indonesia dalam rangka pembangunan identitas dan kesadaran nasional (nation building), dan pengembangan industri pariwisata berbasis budaya (cultural tourism) (hlm. 26-27 dan 74).

*Penulis merupakan alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta asal Jambi. Penyuka bacaan filsafat, sejarah, sastra dan budaya.. Tulisan di atas merupakan telaah atas karya Roy-William Bottenberg, "Sriwijaya: Myth or Reality?", MA thesis, Leiden University, (2010).


Tag : #George Coèdes #Le Royaume de ?riwijaya #Jambi #Sumatra #Batanghari #Kuntala #?riwijaya dan Suwarnabhumi



Berita Terbaru

 

Bawaslu
Sabtu, 21 April 2018 19:36 WIB

Tambah Anggota Bawaslu Provinsi, Ini Muatan Penting Pengumuman Bawaslu RI


Kajanglako.com, Jambi - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia (RI) resmi menetapkan tim seleksi Bawaslu untuk 27 Propinsi di Indonesia yang

 

Pilkada Kerinci 2018
Sabtu, 21 April 2018 17:56 WIB

Undangan Tatap Muka Kian Padat, Zainal-Arsal Berbagi Tugas


Kajanglako.com, Kerinci - Dukungan untuk Zainal Abidin dan Arsal Apri, calon Bupati dan Wakil Bupati Kerinci nomor urut 3 terus mengalir.    Dukungan

 

Sabtu, 21 April 2018 15:13 WIB

Hadir Dua Kali Seminggu, Warga Apresiasi Pengobatan Gratis dr Maulana


Kajanglako.com, Kota Jambi - Setelah pada Sabtu lalu pengobatan gratis dokter Maulana hadir untuk masyarakat Kelurahan Rajawali, kali ini dokter Maulana

 

Sabtu, 21 April 2018 14:02 WIB

Memotivasi Ratusan Pelajar, Fasha: Jangan Remehkan Teman


Kajanglako.com, Kota Jambi - DR Syarif Fasha, Wali Kota Jambi yang saat ini tengah cuti, memberikan motivasi dihadapan ratusan pelajar di Abadi Convetion

 

Sabtu, 21 April 2018 13:08 WIB

Maulana Hadiri Peringatan Harlah Fatayat NU ke-68


Kajanglako.com, Kota Jambi - Ketua Harian Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Jambi, DR. dr. H. Maulana MKM menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) Fatayat