Rabu, 24 Januari 2018
Pencarian


Senin, 18 September 2017 14:50 WIB

Cerita Rakyat Jambi (yang) Terbuang

Reporter :
Kategori : Jejak

ilustrasi cerita rakyat. sumber foto: www.harnas.co

Oleh: Jumardi Putra*

Mengamati isi buku Nilai Budaya dalam Beberapa Karya Sastra Nusantara: Sastra Daerah di Sumatera oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (1993), cerita rakyat Jambi menjadi penyumbang terbanyak di antara daerah lain.

Mulanya tersusun 91 cerita rakyat Jambi. Akan tetapi, oleh penyusun yang terdiri atas Edwar Jamaris, Nikmah Sunardjo, Muhammad Jaruki, Mu’jizah, B. Trisman, Maini Trisna Jayawati, dan Yeni Mulyani S., dari 91 itu bersurut menjadi 38, dengan mempertimbangan beberapa hal berikut ini:

(1) Ringkasan cerita terlalu singkat sehingga penyusun atau pembaca tidak mendapat gambaran yang jelas tentang jalan cerita;

(2) Dalam penguraian nilai-nilai budaya yang ada dalam tiap-tiap cerita rakyat jambi itu, pengolah data tidak menyertakan beberapa kutipan sebagai pendukung. Hal itu penting untuk menguraikan nilai-nilai budaya yang ada;

(3) Beberapa cerita yang dikatakan bahwa dalam cerita tersebut tidak memuat nilai budayanya. Kemudian cerita ITU ditinggalkan begitu saja, tanpa penjelasan apa pun. Hal seperti itu terlihat dalam cerita "Si Mata Empat dan Si Pahit Lidah" (hlm. 249) dan cerita "Dua Orang Kakak Beradik" (hlm. 65). Padahal, asumsi dasar bahwa semua cerita mengandung nilai budaya; dan

(4) Beberapa nilai budaya dalam suatu cerita tidak dirinci dalam bentuk yang lebih khusus, misalnya nilai keagamaan. Nilai itu tidak diuraikan ke nilai yang lebih khusus, yaitu nilai berserah diri kepada Tuhan atau nilai tawakal. Padahal, nilai-nilai yang lebih khusus itulah yang sangat dibutuhkan dalam penyusunan ini. Begitu juga halnya dengan nilai lain, seperti nilai moral.

Karena hal-hal di atas, dari 91 cerita rakyat yang ada, dipilih 38 cerita yang dianggap mewakili cerita rakyat Jambi. Berikut Cerita rakyat Jambi yang dipilih:

1. "Putri Putih Unduk" (PPU)
2. "Si Klingking" (SK)
3. "Raja Banting" (RB)
4. "Syekh Abdul Kadir Jaelani" (SAKJ)
5. "Raja Mudo" (RM)

6. "Burung Tiung" (BT)
7. "Ulaq Lantan" (UL)
8. "Si Kalapak" (SK)
9. "Si Amang Putih (SAP)
10. "Si Tamak dan Intan-Intannya" (STI)

11. "Nenek Puti" (NP)
12. "Raja Tiangso" (RT)
13. "Batu Betung Bertakuk" (BBB)
14. "Batu Larung" (BL)
15. "Perpatih Nan Sebatang (PNS)

16. "Bujang Senaning (BS)
17. "Pulau Rengas" (PR)
18. "Bukit Bulan" (BB)
19. "Putri Tanglung" (PT)
20. "Napal Sisik" (NS)

21. "Perahu Lancang Gading" (PLG)
22. "Aminuddin dan Aminullah" (AA) 



23. "Raden Mathahir Singa Kumpeh" (RMSK)
24. "Bukit Kancah" (BK)
25. "Malin Tembesu" (MT)

26. "Pendekar Bujang Senaya" (PBS)
27. "Kemilai Air Emas" (KAE)
28. "Sebakul" (Sb)
29. "Kutojoyo" (Kj)
30. "Buah Gelumpang" (BG)

31. "Orang Kayo Hitam (OKH)
32. "Si Nam Berenam Bertujuh dengan Putri Bungsu" (SBBPB)
33. "Asal-Usul Raja Jambi" (ARJ)
34. "Panglima Syawal" (PS)
35. "Bukit Sanggar Puyuh" (BSP)

36. "Sayang Tabuang" (ST)
37. "Putri Retno Pinang Masak" (PRPM)
38. "Cerita Depati Sebelas" (CDS)

Merujuk hal di atas, menurut hemat saya, meski terbuka masing-masing kita menyoal "batasan-batasan" di atas, yang dijadikan rujukan oleh tim penyusun dalam proses penyeleksian, di samping itu juga menyembul beberapa pertanyaan-pertanyaan mendasar lainnya.

Pertama, dari yang 91 ataupun 38, sebagaimana termuat dalam buku ini, terbuka kemungkinan adanya kerancuan kategori antara batas wilayah budaya sebagai satuan geografis-administratif (provinsi), area kultural, atau kelompok etnis, yang menyebar luas di wilayah Provinsi Jambi.

Kedua, bagaimana dengan keberadaan 53 cerita rakyat Jambi (yang tidak termuat di dalam buku tersebut) dengan alasan empat poin di atas tadi? Hal itu menjadi penting, mengingat tidak saja merupakan data yang mesti dirawat, melainkan juga perlu ditindaklanjuti ke dalam penelitian dan penulisan lanjutan?

Ketiga, bagaimana riwayat penulisan dan publikasi cerita rakyat Jambi dewasa ini di luar soal intrinsik-struktural? Meski masih problematis, saya memandang semangat inovatif, yang kerap menjadi medan bagi sastrawan (dan seniman) pada umumnya adalah “jalan lain” yang bisa ditempuh untuk mendekatkan cerita rakyat kepada masyarakat saat ini.

Upaya tersebut tidak dalam pengertian pertarungan yang berujung kalah-menang ataupun reduksi antara tradisi lisan dan tulis, melainkan relasional. Apa pasal? Di situlah cerita rakyat yang lazimnya hadir dengan serangkaian gaya bahasa klise dan penyajian peristiwa yang bertele-tele bisa menjadi kisah yang renyah dan menawan.

Dalam pada itu, merujuk Maman S. Mahayana di dalam Dongeng Negeri Kita (2015), cara penceritaan yang renyah dan menawan itulah sesungguhnya hal yang penting dilakukan bagi usaha melakukan transformasi dari cerita rakyat sebagai bagian dari tradisi lisan menjadi teks yang bergerak dalam wilayah keberaksaraan.

Keempat, apa urgensi cerita-cerita rakyat Jambi dihadirkan di tengah kemajuan teknologi yang berlari kencang sekaligus mobilitas sosial tanpa limit saat ini? Saya berpandangan, sebagai karya kreatif, cerita rakyat, seperti juga bentuk ekspresi seni lainnya, menyembulkan hiburan sekaligus wahana pendidikan, ajaran moral, dan etika, bahkan juga pengetahuan. Sudahkah ia menjadi alasan kuat bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi dan Kantor Bahasa Provinsi Jambi berpihak pada pelestarian cerita rakyat Jambi?

Akhirnya, kegiatan membicarakan, menulis ulang, dan menerbitkan cerita rakyat untuk didistribusikan secara luas merupakan usaha sadar melompat lebih jauh, tidak saja keluar dari kejumudan instrumen intrinsik-struktural, tetapi juga kesanggupan membangun relasi yang berkesadaran dengan rung hidup dan ingatan kolektif dari seluruh warganya sebagai karya seni sosial. Bukan begitu?

*Penikmat Seni. Kini tinggal dan bekerja di Kota Jambi

 


Tag : #Cerita Rakyat Jambi #Sastra #revitalisasi



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Januari 2018 23:50 WIB

Dugaan Kecurangan Toke Karet Terkuak, Warga Bandingkan Hasil Timbangan dengan Milik Sendiri


Kajanglako.com, Bungo – Petani Karet yang ada di Wilayah Kecamatan Muko-muko Bathin VII, Kabupaten Bungo, mulai resah dengan hasil timbangan yang

 

Penyelundupan Satwa Langka
Selasa, 23 Januari 2018 20:26 WIB

BKIPM Jambi Gagalkan Penyelundupan 7 Anak Buaya Via Bandara


Kajanglako.com, Jambi – Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jambi bekerja sama dengan Avsec Bandara Sultan Thaha, berhasil menggagalkan

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:14 WIB

Selain Diselingkuhi, Juanda Mengaku Juga Sering Dianiaya Istrinya


Kajanglako.com, Batanghari - Sebelum belang sang istri yang kedapatan selingkuh dengan Kades Padang Kelapo mencuat. Juanda akui sudah seringkali dianiaya

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:03 WIB

Juanda Lapor ke Inspektorat, Kades Padang Kelapo Berdalih Hanya Ajak 'EN' Rapat


Kajanglako.com, Batanghari - Kasus perselingkuhan Kades Padang Kelapo akhirnya berlanjut. Juanda, beserta sejumlah saksi melaporkan kasus tersebut ke Inspektorat

 

Selasa, 23 Januari 2018 19:49 WIB

Heboh, Kades Padang Kelapo Dikabarkan 'Gituan' di Semak-semak


Kajanglako.com, Batanghari - Selaku pemimpin desa harusnya bisa membimbing warga desanya dengan baik. Namun, yang terjadi kali ini bertolak belakang. Jangankan