Rabu, 12 Desember 2018


Senin, 19 Maret 2018 09:11 WIB

Datang dan Pergi Tidak Untuk Meninggalkan Benteng Muara Tembesi (Catatan Perjalanan)

Reporter :
Kategori : Jejak

Salah Satu Bangunan Kolonial Belanda di Benteng Muara Tembesi. Dok.Pribadi

Oleh: Jumardi Putra*

/1/



Hari masih pagi benar, embun belum terusir dari pucuk rerumputan. Selain kokok ayam jantan, kicau burung susul menyusul di atap rumah, dan si ibu pedagang sayur, seperti biasa mengulang-ulang bunyi klakson motor yang dikendarainya. Mafhum. Itu semacam kata sandi untuk emak-emak di sekitaran rumah segera kumpul dan membeli dagangan plus ngota sesamanya.

Langit pagi itu jauh dari gumpalan awan hitam. Syukurlah. Anak saya masih tertidur lelap. Kepada sang istri saya pamit dan bergegas menyalakan motor meninggalkan Beliung Patah menuju Karya Maju, menjemput Edi Syahroni, pemuda asal Tungkal yang bukan kebetulan meminati sejarah dan budaya Jambi.  

Kami berangkat meninggalkan Kota Jambi menuju Batanghari dengan jarak tempuh sekira 85 kilo meter. Melampaui separoh Jalan Nes Jambi-Muarabulian, kami singgah sejenak di kediaman Dayat, sahabat saat kami sama-sama kuliah di Yogyakarta beberapa tahun lewat.

Jarum jam menunjukkan angka 9.25 WIB. Kepadanya saya mengutarakan maksud perjalanan ke kawasan Benteng Muara Tembesi. Dayat pun menawarkan menggunakan mobil miliknya sekaligus menghubungkan saya ke beberapa pemuda Batanghari yang membantu saat di kawasan tersebut.

Terhadap tawaran itu sulit bagi saya menolaknya, apatahlagi saya maupun Edi belum pernah berkunjung ke daerah itu sebelumnya.

Pukul 10.25 WIB kami memasuki wilayah Bumi Serentak Bak Regam, julukan daerah berkultur tua, yaitu kabupaten Batanghari. Sebelum menuju lokasi Benteng Tembesi, kami singgah lagi di rumah Ansori, sohib si Dayat.

Di situ berkumpul tiga-empat sahabat, yang semuanya masih aktif kuliah di perguruan tinggi di Batanghari. Kepada mereka saya mengatakan persis sebagaimana maksud yang saya sampaikan ke Dayat sebelumnya.  

Terjadi diskusi di antara kami perihal kawasan bersejarah yang sebagian warga menyebutnya Tangsi Tembesi. Apalagi kawasan tersebut pernah menjadi tempat studi lapangan mereka sebagai tugas di kampus. Informasi dari mereka tentu sangat membantu saya.

Mereka pun memilih ikut menemani saya ke lokasi. Saya tentu senang dan kami berangkat menuju lokasi Benteng yang tersisa 20-an kilometer dari kediaman Ansori. Dalam perjalanan Ansori menghubungi karib-juniornya, Iwan, pria asal Desa Rambutan Masam, Kecamatan Muara Tembesi, yang kebetulan mengerti dan memiliki keluarga di kelurahan Pasar Muara Tembesi, untuk segera menyusul dan sama-sama bertemu di  lokasi Benteng Tembesi.

Lain Kota Jambi yang cerah saat kami berangkat, lain pula Batanghari tengah hari itu yang diguyuri hujan, tepat saat saya dan kawan-kawan tiba di lokasi Benteng Tembesi.

Sesampai di mulut jalan menuju kawasan Benteng Tembesi, yang memisahkan antara jalan ke arah Kelurahan Pasar Muara Tembesi dengan jalur utama Lintas Sumatra Provinsi, tak jauh dari rumah orangtuanya Bupati Batanghari sekarang, Syahirsyah, pada sisi kanan jalan ke arah Benteng, terdapat komplek pemakaman tua.

Diakui warga setempat, dan saya melihat langsung, di situ terdapat beberapa makam Orang Belanda saat Benteng Tembesi masih aktif sebagai pemukiman dan  perkantoran militer Belanda.

Khusus mengenai identitas mereka yang tertera di nisan-nisan makam tersebut tentu memerlukan penelitian lebih lanjut. Sependek pengetahuan saya belum ada hingga sekarang kajian yang mengupas soal demikian itu.

/2/

Tibalah kami tepat di hadapan papan penunjuk arah ke Benteng Muara Tembesi. Sekira enam ratus meter dari bibir jalan utama pasar Muaratembesi tadi. Secara fisik, jelas papan penunjuk jalan berwarna jingga itu adalah kenang-kenangan mahasiswa Kukerta Universitas Jambi angkatan 2016.

Meski hujan belum reda, kami memilih turun dari kendaraan menuju sisa bangunan kolonial Belanda yang terdekat dengan posisi kendaraan. Tak syak, kedatangan kami ketika itu membuat beberapa warga yang melihat kami memasang rona muka bercampur kaget dan bingung.

Kepada mereka kami melempar senyum, bersalaman sekaligus menyampaikan maksud kedatangan kami ke lokasi ini.

Umumnya warga yang menghuni sisa-sisa bangunan Belanda di tepi sungai itu para pendatang dan warga lokal yang sehari-hari bekerja mendulang pasir. Mereka tak banyak menceritakan tentang kawasan ini, kecuali kedatangan orang-orang seperti kami bukanlah yang pertama bagi mereka.

“Sebelum ini banyak nian orang berkunjung ke sini, baik dari unsur pemerintah, kampus, kalangan tivi, turis maupun warga biasa. Tapi, ya, beginilah keadaan kami”, tutur mereka dengan suara pelan.

Usai bincang-bincang tentang keseharian mereka, masih dalam kondisi hujan, kami memasuki satu demi satu bangunan kolonial di pinggir Batang Tembesi itu. Sesekali pandangan saya agak lama ke arah sungai.

Dari arah bangunan menghadap ke sungai, tampak jelas Batang Tembesi yang ada di Kelurahan Pasar Tembesi, bercabang membentuk salah satu huruf. Oleh warga sekitar sungai itu sering disebut berbentuk huruf Y dan atau dalam bentuk lain serupa ketapel.

Apa sebab? Menjadi satu dari yang semula bercabang. Sungai dari arah kanan menuju kabupaten Sarolangun dan Bangko. Sedangkan dari arah kiri menuju arah Jambi.

Belakangan, saya baru menyadari bahwa warna biru pada logo pemerintah Kabupaten Batanghari yang seperti huruf (Y),  itu adalah representasi cabang sungai Batanghari (Batang Tembesi) yang ada di Kelurahan Pasar Tembesi tersebut.

/3/

Tinggalan Belanda yang masih layak huni di kawasan itu sekarang tersisa yang ditempati warga. Selebihnya bangunan-bangunan kuno yang tak terawat. Hancur. Roboh. Sebagian besar lapuk dimakan usia maupun oleh faktor alam dan kelalaian manusia. Bahkan di dalamnya tumbuh beberapa batang pohon sawit dan jenis tanaman lainnya.

Ambil contoh, bangunan Kantor Opas Belanda, yang berada di pertigaan Pasar Tembesi sempat menjadi kantor polisi. Setelah kantor itu pindah ke Pal 5, akhirnya menjadi kantor LKMD. Namun, dikarenakan tak ada aktifitas hingga sekarang, bangunan yang juga tempat berdirinya Tugu Penyerahan Kedaulatan Belanda ke Pemerintah Republik Indonesia pada 1949, itu kini kondisi dinding dan lantainya banyak yang lapuk, dan malahan ada yang sudah lepas.

Termasuk vanish (penjara Belanda), separuh bangunan ke belakang sudah tidak terurus. Hanya bangunan depannya masih bagus lantaran ada warga yang menempati serta merawatnya.

Begitu juga sebuah bangunan tua yang menjadi ruang persenjataan Belanda tak jauh dari bibir batang Tembesi. Saat ini bangunan itu tak ubahnya puing-puing rumah yang terbakar. Atap-atapnya roboh. Dindingnya pun kusam menghitam.

Sebenarnya, di kawasan ini terdapat beberapa bangunan yang mencerminkan fungsi ketika dahulu dihuni oleh kaum elit Belanda, yaitu, antara lain, tempat tinggal orang-orang Belanda; termasuk toke getah, penjara; gedung bioskop; sumur tempat mengubur para tentara pejuang; gedung persenjataan belanda, makam kuno, dan bangunan-bangunan pendukung lainnya.

Atas saran pak Ilham, ketua RT 01, kami diminta mengunjungi kediaman Datuk Bakhtiar Oedin, lelaki berusia 95, warga setempat yang menjadi saksi hidup zaman Benteng Tembesi masih aktif sebagai pusat administrasi militer Belanda.

“Banyak orang yang ingin mengetahui masa lalu di kawasan Bentang Tembesi ini selalu kami arahkan menemui Datuk Baktiar. Sebab beliau yang masih hidup dan mengerti. Sementara kami hanya mendapat sedikit cerita secara turun temurun dari orang tua” tuturnya.

Hari elok ketiko baik. Itu kato orang Jambi. Nah, Datuk Sutan Bachtiar Oedin yang disebut pak RT tadi, nyatanya berada di rumah. Alhamdulillah.

Bachtiar merupakan pelaku sejarah yang mengerti sejarah Benteng Tembesi, yang juga mantan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) mengatakan, "Belanda menduduki  Pasar Muara Tembesi sejak 1901 dan memuncak dalam perang Rajo Batu atau Serikat Abang pada 1916. Waktu itu kita kalah, Belanda menggunakan senjata api sedangkan kita hanya mengunakan bambu runcing." 

Tak hanya itu, pria kelahiran 1920 ini menambahkan sejak 1901 hingga 1916, Muaro Tembesi ini merupakan salah satu lokus penting dalam kaitan kedatangan penjajah sekaligus perlawan rakyat Jambi terhadap koloni Belanda, dan hubungannnya dengan perjuangan daerah-daerah lain dalam wilayah Provinsi Jambi ini. Apalagi perlawanan dari Sultan Taha Saifuddin, baik sebelum maupun sepeninggalannya.

Bahkan, lanjutnya, di dekat Benteng itu ada sumur yang digunakan oleh Jepang untuk membuang mayat-mayat para pejuang. “Sumur kematian itu dibuat masa Jepang merebut Benteng dari Belanda pada 1942.  Meski Jepang menjajah hanya 3 tahun, tapi sangat membuat rakyat menderita. Sayangnya, sumur pembuangan mayat tersebut tidak ditemukan lagi lokasi pastinya, karena telah amblas akibat abrasi”, ungkapnya. 

“Bagaimana cerita Bioskop Mawar di sini. Tentu keberadaannya menunjukkan wilayah ini ramai dikunjungi warga?”, tanya saya

“Betul. Bioskop Mawar itu didirikan era 50-an. Dahulu ramai kali penontonnya di sini. Sayang kondisi bangunannya sekarang tak terawat”, balasnya.

 “Bagaimana kehidupan orang Belanda ketika itu”, kilah saya. 

“Secara budaya terpisah dengan warga biasa di sekitar kawasan Benteng. Kondisi bangunan yang sekarang tak terawat sangat berbeda jauh dengan situasi dahulu. Bersih dan dirawat sedemikian rupa. Mereka ekslusiv. Warga biasa tak mudah berinteraksi dengan kebiasaan mereka”, terangnya.

“Wah, menarik bila kita mengkaji relasi sosial masyarakat Tembesi dengan kaum kolonial Belanda ketika itu. Ya, ambil misal, cerita sehari-hari warga masa itu”, ungkap saya diamini Datuk dan kawan lainnya. 

Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Benteng Tembesi dibangun pada 1901 setelah Belanda berhasil menguasai Muara Tembesi. Belanda menjalankan aktivitas militer dan  pemerintahan di Kecamatan Muara Tembesi ini. Tujuannya ketika itu menjadi lini pertahanan militer guna menghancurkan dan membunuh Sultan Thaha Saifuddin beserta pasukanya yang mundur dan bertahan di salah satu Desa di Muara Tebo.

Mulanya, Benteng Tembesi didirikan sebagai tempat kediaman dan  perkantoran  para kaum elit Belanda yang berada di Jambi. Namun karena letaknya yang strategis ini  tempatnya yang tinggi,  Benteng ini pun dijadikan tempat  bagi Belanda untuk mengintai musuh-musuhnya. 

Itulah kenapa bila dibandingkan dengan Benteng-Benteng sisa kolonial Belanda yang lain di negeri ini dibangun dengan batu atau batu bata, yang kita jumpai di Muara Tembesi justru dibuat dari kayu-kayu keras berasal dari pohon Tembesu dan Bulian. Hal itu dapat dipahami karena tujuan utama pembangunan ketika itu hanya untuk dijadikan kantor pemerintahan kolonial belanda. Apalagi saat itu seluruh tempat di provinsi Jambi hampir dikuasai oleh tentara belanda. 

“Dari dua jenis pohon khas kabupaten Batanghari itulah daerah ini dinamai hingga sekarang dengan pasar Muara Tembesi kompleks Benteng peninggalan Belanda”, tukas Datuk.

/4/

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 menandai berakhirnya kekejaman tentara Jepang di Muara Tembesi dan sekitarnya. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menyerang dan berhasil merebut Benteng tersebut kemudian menjadikannya sebagai basis pertahanan serta asrama bagi para tentara pejuang.

“Seluruh pasukan Jepang mundur dari Benteng tersebut. Hanya pada agresi militer Belanda II ke seluruh wilayah republik Indonesia, Benteng Tembesi kembali dikuasai oleh tentara Belanda. Mereka mengusir seluruh tentara keamanan rakyat dari Benteng tersebut”, ingat Bachtiar.

Di samping itu, lanjutnya, keberhasilan lobi-lobi (untuk menyebut diplomasi) yang dilakukan pemerintah pusat ikut berdampak baik bagi kondusifitas keadaan di wilayah Muara Tembesi. Pasar Tembesi yang menjadi kompleks benteng Tembesi dikembalikan kepada pemerintah Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda.

Dikatakan Bachtiar, penyerahan kedaulatan dilaksanakan pada 1949 dengan sebuah upacara yang dilaksanakan di kawedanan. Kawedanan juga dijadikan tempat penyerahan kedaulatan seluruh wilayah sumatera dari pemerintah belanda kepada pemerintah Republik Indonesia.

"Penyerahan kedaulatan saat itu dihadiri Wakil Presiden RI, Mohammad Hatta. Beliau juga sempat bermalam bersama warga di pesanggrahan milik Belanda, yang sekarang menjadi SMP I Batanghari" tutur Bachtiar.

“Siapa perwakilan Jambi yang mendampingi Bung Hatta dalam momen bersejarah itu”, tanya saya.

“Dari pihak Tentara Indonesia diwakili oleh Kolonel Raden Mattaher, yang sekaligus mengambil alih Benteng beserta baraknya dari tentera Belanda,” Jawabnya.

/5/

Hampir tiga jam kami mendengarkan cerita dari Datuk Bachtiar di kediamannya. Di luar rumah, rinai hujan masih membasahi tanah. Beberapa kawan lain mendengarkan penjelasan beliau sambil merebahkan badan di lantai rumahnya.

Suasana ketika itu betul-betul akrab. Bahkan, sesekali topik pembicaraan kami mengupas kiprah organisasi sang Datuk, yang pernah aktif di organisasi Partai Masyumi cabang Batanghari. Buktinya, di dinding rumah Datuk masih terpasang daftar pengurus organisasi Masyumi se-provinsi Jambi.

Beliu juga lancar berkisah tentang keluarga besarnya hingga kesukaan dirinya mengoleksi kaset lagu-lagu tempo dulu. Satu lemari penuh di rumahnya berisikan kaset lagu. Mulai dari genre dangdut, pop hingga lagu daerah.

Situasi ini membuat kami tidak merasa bosan di rumah beliau. Bahkan, obrolan kami yang semula di dalam ruang tamu berlanjut di serambi depan rumahnya. Betul-betul khidmat dan bersahabat. Di lain kesempatan, cerita soal beliau akan saya tulis tersendiri.

Jarum jam menunjukkan angka 15.54 WIB. Kami pun pamit meninggalkan kediaman datuk Bachtiar. Saat pamit itu, beliau memberi pesan bernada harapan, agar aset-aset bersejarah di Pasar Muara Tembesi ini diperhatikan. Kalau tidak ada perhatian, seperti merenovasi bangunan-bangunan bersejarah ini, maka ke depan tidak akan ada lagi bukti sejarah yang mendandai tapak perjuangan rakyat Jambi.

“Baik Tuk. Terima kasih. Semoga pemerintah daerah Batanghari, pemerintah provinsi Jambi dan segenap lapisan masyarakat, baik dalam maupun di luar daerah Batanghari memiliki pandangan yang sama untuk pelestarian kawasan bersejarah ini”, balas saya diamini sahabat lainnya, tak terkecuali Datuk.

/6/

Usai dari kediaman Datuk, kami menuju Kantor Kelurahan Pasar Muara Tembesi. Kebetulan saat yang sama, di kantor itu berlangsung musyawarah kelurahan. Sesampai di situ kami disambut dengan ramah. Kami pun menyampaikan maksud kedatangan kami.

Mendengar pertemuan kami bersama Ketua RT dan Datuk Bachtiar sebelumnya, Suyarno, sang Lurah pun antusias. “Nah, cukuplah informasi dari Datuk kito tuh. Siapo pun dari mano-mano selamo ini yang ingin tahu sejarah Benteng Muara Tembesi selalu ke Datuk tu lah”, ujar pak Lurah.

“Kira-kira apa informasi yang bisa kami berikan”, ungkapnya memulai obrolan agak serius dari sebelumnya, yang dipenuhi gurauan antara kami dan beberapa warga setempat.

“Bagaimana upaya kelurahan atau pun warga di sini agar kawasan ini tertata baik dan ujungnya memberi pengaruh baik bagi keberlangsungan ekonomi warga”, tanya saya.

Dengan mimik muka agak serius, bapak Lurah mengutarakan, Kelurahan Pasar Muara Tembesi sekarang hanya sebuah kelurahan kecil, tetapi bila menulusuri jejak masa lalu wilayah Benteng Tembesi ini, tak lain merupakan kota tua, yang menyimpan sejarah yang kompleks dan penting. 

Senada dengan Pak Lurah, dalam penelusuran kami dari satu bangunan ke bangunan lain, warga setempat menyampaikan, bahwa tiada keraguan mereka agar kawasan ini diperhatian secara serius. 1000 persen mereka setuju bila kawasan Benteng dijadikan kawasan destinasi sejarah.

“Sayang, sampai sekarang kelurahan ini, ya, berjalan begini-begini saja. Dukungan pemerintah daerah Batanghari hingga sekarang belum terlihat jelas mau diapakan kawasan ini. Kalaupun ada kerja-kerja riset terhadap sisa bangunan kolonial Belanda di sini oleh kampus maupun lembaga terkait, itu pun belum terlihat hasil kongkrit bagi penguatan kafasitas masyarakat sebagai pendukung utama wilayah ini”, terangnya panjang lebar.

Lurah menambahkan, Pasar Tembesi di sini, pada 1975 sampai era 80-an merupakan pasar yang paling ramai pengunjungnya, yang datang dari berbagai kecamatan Kabupaten Batanghari, seperti Kecamatan Mersam, Sungai Rengas yang kini dikenal Kecamatan Marosebo Ulu, Bajubang Batin XXIV, Muara Bulian dan daerah lainnya untuk berbelanja pada setiap hari Jum'at, kini hanya menjadi kenangan. Sementara Pasar Tembesi sekarang, apatahlagi setelah keberadaan pasar besar di Muara Bulian, membuatnya sepi.

“Tadi sebelum masuk Benteng Tembesi, saya membaca papan nama bertuliskan ini kawasan tanah hak miliki TNI-AD. Bisakah dijelaskan soal ini?” ungkap saya mengkonfirmasi.

“Betul. Kawasan ini masih berkait erat dengan pihak TNI-AD di sini. Kita tahu sejarah usai penyerahan kedaulatan Belanda ke Pemerintah Republik Indonesia pada 1949, yakni Benteng ini menjadi asrama Tentara Keamanan Rakyat (sekarang TNI). Sejak itu pemeliharaan seluruh sisa-sisa bangunan kolonial Belanda diserahkan untuk dirawat dan dikelola sepenuhnya oleh TNI-AD”, balasnya.

“Sejatinya tak ada masalah, apabila antara jajaran pemerintah daerah, TNI, warga dan perangkat kelurahan bahu membahu menata kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah. Saya yakin dapat memberi pengaruh positif bagi keberlangsungan ekonomi warga di sini,” ungkapnya.

Tak terasa, hampir satu jam bincang-bincang kami dengan pak Lurah di kantornya. Kami memilih pamit dan diakhiri dengan foto bersama di halaman kantor kelurahan (yang menurutnya dahulu di lokasi ini berdiri bangunan Kawedanan Belanda).

Nah, sebelum pulang, saya dihadiahi beberapa soft file foto lawas tentang kawasan Bentang Muara Tembesi ini. Utamanya mengenai peristiwa kebakaran besar di Pasar Tembesi pada 1975 dan beberapa bangunan kolonial Belanda, kondisi tepi Batang Tembesi, serta foto tugu tanda penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Pemerintah Republik Indonesia yang sempat dihadiri Bung Hatta pada 1949.

/7/

Sore kian mendekatkan diri hingga terbenamnya matahari. Jarum menunjukkan angka 17.11 WIB. Lantan sedari pukul 11-an belum makan berat, kami memilih istirahat sambil menikmati mie ayam di sebuah warung,  tak jauh dari kantor kelurahan Pasar Muara Tembesi.

Dari situ kami berpisah menuju alamat rumah masing-masing. Saya, Edi Syahroni dan Dayat melanjutkan perjalanan ke Kota Jambi. Hujan belum sepenuhnya reda. Kepada Dayat dan Edi saya berujar, semoga kunjungan ini bukanlah yang terakhir, melainkan bisa berkali-kali ke depannya. “Amin”, balas mereka.

Waktu terus berjalan. Benteng Muara Tembesi kian sayup-sayup terdengar dari Kota Jambi, tempat saya dan keluarga tinggal dan bekerja. Kabar tentang bangunan yang didirikan pada 1901 itu hilang-timbul seiring diskusi lepas di jejaring sosial facebook bersama peminat sejarah dan budaya Jambi hingga dipercakapkan dalam satu episode dialog di Beranda Budaya TVRI Jambi (19 November 2017).

Berselang bulan setelah itu, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi mengangkat topik tentang Kawasan Benteng Muara Tembesi dalam forum sarasehan sejarah rutin mereka. Datuk Bachtiar, sang juru kunci, hadir sebagai pembicara utama bersama narasumber dari Badan Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jambi.

Dari situ, tak ada informasi baru dari Datuk Bachtiar. Yang disampaikan beliau tak lah berbeda dengan informasi yang saya terima saat berkunjung ke kediamannya setahun lalu. Bahkan sangat kurang. Hal itu (mungkin) dikarenakan faktor usia dan keadaan fisik beliau yang tak lagi sebugar anak muda, atau bahkan mungkin rasa keingintahuan (untuk menyebut kemampuan bertanya) dari audiens yang tidak maksimal, sehingga belio irit bercerita memberikan informasi. Tapi saya bersyukur, beliau masih sehat dan bersetia menceritakan pada generasi-generasi jauh setelahnya.

Apa di tengah semua ini? Terbesit dalam pikiran saya, yaitu sekalipun tinggi nian harapan, bila tak segera dicari jalan terbaik bagi pelestarian kawasan ini, fakta bahwa kepunahan Benteng Tembesi (yang juga memori kolektif warganya) adalah kondisi yang sulit dibantah untuk kita terima beberapa tahun ke depan.

Bahwa saksi hidup tinggal hitungan jari adalah juga alarm bagi generasi sekarang untuk segera mencatat, mencatat, dan mencatat.

Bahwa sudah ada Ranperda Cagar Budaya yang disusun oleh DPRD Kabupaten Batanghari, tentu kita menyambut baik. tapi tidak cukup  berhenti sampai di situ. Mesti dikongkritkan dalam kerja penelitian multidisiplin, sinergsitas antara institusi/lembaga/kelompok, baik Kabupaten Batanghari, pemerintah Provinsi Jambi, pemerintah pusat, dan yang tak kalah penting, muncul gerakan dari warga masyarakat setempat sebagai pemilik "sah" kawasan bersejarah tersebut. 

Keterangan: Catatan ini merupakan buah dari kunjungan saya di Kawasan Benteng Muara Tembesi di ujung ujung 2016. Cukup banyak peristiwa dan informasi yang perlu terus menerus disusun untuk kepentingan dokumentasi pengetahuan dan pelestarian kawasan bersejarah tersebut. Semoga membawa manfaat.


Tag : #Batanghari #Serikat Abang #Benteng Muara Tembesi #Hatta ke Muara Tembesi 1949 #Cagar Budaya #Wisata Bersejarah



Berita Terbaru

 

Kecelakaan Maut
Rabu, 12 Desember 2018 19:09 WIB

Ini Identitas Korban Meninggal Kecelakaan Mobil Dinas Camat Jangkat Timur


Kajanglako.com, Batanghari – Mobil dinas Camat Jangkat Timur yang masuk ke dalam jurang yang digenangi air banjir di Jalan AMD Muarabulian, Batanghari,

 

Rabu, 12 Desember 2018 18:43 WIB

Menolak Revisi UU Tipikor, Antasari: KPK Sikat Habis Koruptor jika Ada Bukti


Kajanglako.com, Jambi - Antasari Azhar, mantan Ketua KPK periode 2007-2009 memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Universitas Adiwangsa di Jambi. Usai

 

Rabu, 12 Desember 2018 18:33 WIB

Kenakan Lacak, Antasari Azhar Ajak Mahasiswa Bantu KPK


Kajanglako.com, Jambi - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Antasari Azhar, melakukan kunjungan ke Jambi. Ia memberikan kuliah umum di

 

Kecelakaan Maut
Rabu, 12 Desember 2018 17:39 WIB

Tiga Korban Tewas yang Kecelakaan Bersama Camat Jangkat Timur Merupakan Santri


Kajanglako.com, Batanghari - Kecelakaan tunggal yang mengakibatkan tiga korban tewas di Jalan AMD Muarabulian, Kabupaten Batanghari, ternyata merupakan

 

Kecelakaan Maut
Rabu, 12 Desember 2018 16:37 WIB

Breaking News! Camat Jangkat Timur Kecelakaan, Tiga Korban Meninggal di TKP


Kajanglako.com, Batanghari - Sodri, Camat Jangkat Timur, Merangin, beserta keluarganya sekitar pukul 15.00 WIB, Rabu (12/12), mengalami kecelakaan di Jalan