Rabu, 24 Oktober 2018


Minggu, 18 Maret 2018 07:26 WIB

Komunitas Terbayang dan Di Bawah Tiga Bendera

Reporter :
Kategori : Pustaka

Karya Ben Anderson: Di Bawah Tiga Bendera

Oleh: Roedy Haryo Widjono AMZ*

Karya Ben Anderson bertajuk “Komunitas Terbayang” ini merupakan terjemahan dari judul asli “Imagined Communities: Reflection on the Origin and Spread of Nationalism”, yang diterbitkan Insist Press dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta yang pada cetakan III diterbitkan pada September 2008.



Sejatinya membongkar kembali makna nasionalisme bukanlah perkara mudah. Benedict Anderson dalam Komunitas Terbayang telah membuktikan betapa upaya pembedahan ulang ihwal makna nasionalisme sesungguhnya amat dilematis karena keniscayaan membongkar kembali luka sejarah yang telah terjadi atau yang masih berlangsung di sebuah negara.

Nasionalisme “dimantrakan” sebagai pemersatu, acapkali justru mengkhianati suku bangsa yang dipaksa bernaung di bawahnya. Soempah Pemoeda 1928: satu bahasa, bangsa dan tanah air dalam konteks ke-lampau-an niscaya mengandung makna hakiki sebagai keniscayaan, namun dalam relevansi konteks kekinian justru kian terusik.

Relevansi substansi konteks dari sumpah satu bahasa, bangsa, dan tanah air justru memantik kegundahan ihwal maksud bangsa, kebangsaan, dan rasa kebangsaan. Satu bahasa tidaklah membuat Indonesia menjadi satu bangsa, dan satu bangsa tidaklah mengharuskan kita berbicara satu bahasa.

Begitu juga ihwal sumpah satu tanah air juga tidak dengan sendirinya membuat Indonesia menjadi satu bangsa. Aceh adalah contoh paling berdarah, Papua adalah “panggung” paling mengusik nurani dan rasa kemanusiaan, tentu pula Timor Timur adalah contoh paling tragis, tulis Daniel Dhakidae dalam kata pengantar buku ini.

Buku Komunitas Terbayang yang terbit pertama kali tahun 1983, menegaskan bahwa bangsa merupakan komunitas yang melampaui proses radikal berupa konstruksi sosial menjadi komunitas politik terbayang, bersifat terbatas secara inheren, dan berkedaulatan.

Akhirnya, bangsa dibayangkan sebagai sebuah komunitas, sebab tak peduli akan ketidakadilan dan penghisapan yang tak terhapuskan dalam setiap bangsa, bangsa itu sendiri selalu dipahami sebagai kesetiakawanan. Maka pada akhirnya, rasa persaudaraan inilah yang memungkinkan komunitas bersedia jangankan melenyapkan nyawa orang lain, merenggut nyawa sendiri pun rela demi pembayangan tentang yang terbatas itu. (Komunitas Terbayang, hal. 11)

Dalam pemikiran Ben Anderson, nasionalisme lebih dihubungkan dengan kesetiakawanan dan persaudaraan yang merupakan makna komunitas dalam pengertian modern. Anderson juga mengkritisi relasi kental antara kapitalisme media sebagai unsur pembentuk nasionalisme. Jika komunitas bergerak dalam kerangka kesetiakawanan dan persaudaraan, media membingkai gerakan tersebut menjadi sebuah kesadaran baru yaitu kebangsaan.

Pertanyaan penting adalah mengapa Ben Anderson memaknai bangsa sebagai komunitas terbayang? Menurut Anderson, dikatakan terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekali pun tidak akan tahu dan kenal sebagian besar anggota lain, tidak akan bertatap muka dengan mereka, bahkan mungkin pula tidak pernah mendengar tentang mereka.

Bangsa merupakan sebuah proyeksi ruang dan waktu yang membuat semua orang membayangkan dirinya terlibat dalam sebuah bangsa dan kebangsaan. Namun nasionalisme sebagai sebuah bangun-rasa atas kebersamaan yang terbayang tetapi terbatas, kerap disalahpahami oleh negara sehingga terjadilah pemaksaan atau yang diistilahkan Bung Karno sebagai nasionalisme yang menyerang wilayah lain, sehingga makna nasionalisme berubah menjadi sempit dan sombong.

Dalam buku Komunitas terbayang, kisah tragis nasionalisme ditampilkan melalui tragedi antara sesama negara Marxis yaitu Republik Rakyat Cina (RRC), Vietnam dan Kamboja. Tragedi Vietnam dan Kamboja menjadi titik pendorong dalam penyusunan buku ini, di samping banyak contoh dari negara lainnya yang ditampilkan termasuk Indonesia.

Ben Anderson juga acapkali menampilkan berbagai kasus di Indonesia dalam menguatkan gagasannya untuk membantu pembaca memahami permasalahan kebangsaan di negara lain. Tragedi Timor Timur misalnya, yang melenyapkan 100.000-200.000 nyawa rakyat Bumi Lorosai dan puluhan ribu tentara Indonesia dalam invasi sejak 24 Desember 1975 (sehari menjelang perayaan Natal), menjadi studi kasus paling menarik mengenai kesombongan nasionalisme Indonesia.

Luka sejarah yang dibongkar melalui perspektif kebangsaan, akan terus mengingatkan mengenai pemusnahan jiwa secara masal yang lahir dari salah tafsir mengenai nasionalisme. Jika suatu bangsa mencemooh kehancuran nasionalisme negara-negara lain dan memuja nasionalismenya sendiri sementara praktik kekerasan masih kerap terjadi, maka tepatlah yang diujarkan pujangga Latin Quintus Horatius Flaccus “Quid rides, Indonesia? Mutato nomine, de te fabula narratur!” yang terjemahannya adalah “Mengapa engkau tertawa, Indonesia? Hanya dengan mengubah nama, tentang engkaulah hikayat ini dituturkan!”

 

Di Bawah Tiga Bendera

Kepakaran Ben Anderson atas tiga negara Asia Tenggara terbukti dengan bukunya berjudul The Spectre of Comparisons yang terbit tahun 1998. Dalam buku itu Ben Anderson membuktikan keahliannya ihwal tiga negara di Asia Tenggara yakni Indonesia, Thailand, dan Filipina.

Ia menguraikan dengan detail perihal yang belum pernah dipikirkan dengan matang oleh pakar Indonesia terutama tentang berakhirnya pendudukan Orde Baru atas Timor Leste, pakar Filipina tentang bagaimana Jose Rizal memperoleh gagasan dalam menulis dua novelnya dan pakar Thailand tentang lemahnya borjuasi walaupun Thailand tidak pernah mengalami penjajahan.

Ben Anderson selanjutnya secara khusus juga menulis buku tentang tiga negara yang dipelajarinya, tentang Indonesia, ia menulis Revoloesi Pemuda, buku pertamanya yang terbit tahun 1972, terjemahan Indonesia terbit 1988.

Sedangkan tentang Thailand The Fate of Rural Hell (2012) dan tentang Filipina Anderson menulis Under Three Flags (2005) yang kemudian terbit dalam bahasa Indonesia bertajuk “Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial” diterjemahkan oleh Ronny Agustinus, diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Dalam buku ini, ia menyelidiki gelanggang perpolitikan dan kebudayaan akhir abad ke-19 berfokus pada gerakan anarkisme militan di Eropa dan benua Amerika, runtuhnya imperium Spanyol yang ditandai pemberontakan bersenjata José Martí di Kuba dan tumbuhnya nasionalisme Filipina, serta protes-protes antimperialis di Tiongkok dan Jepang.

Ben Anderson memetakan interaksi intelektual yang kompleks antara dua penulis besar Filipina, José Rizal dan Isabelo de los Reyes, dengan perpolitikan dan sastra avant-garde Eropa serta menunjukkan bagaimana simpul-simpul terbentuk dan terhubung dalam “globalisasi perdana” antara gerakan-gerakan nasionalis dengan para aktivis anarkis global saat itu.

Ben Anderson menyempatkan hadir dalam peluncuran buku tersebut, sekaligus mengisi kuliah umum 'Anarkisme dan Nasionalisme' di Universitas Indonesia. Dalam kuliah umum tersebut, Ben Anderson menegaskan, sepanjang sejarah anarkisme telah menjadi bagian dari perlawanan terhadap sistem yang korup.

Anarkisme, sebagai konsekuensi dari korupnya sebuah sistem, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu damai atau kekerasan. Pada zaman dulu, sistem yang dilawan itu bernama imperialisme dan aristokrasi, sedangkan kini adalah kapitalisme global.

*Direktur Nomaden Institute Cross Cultural Studies. Kini mukim di Samarinda.


Tag : #Thailand The Fate of Rural Hell #Under Three Flags #he Spectre of Comparisons #Imagined Communities: Reflection on the Origin and Spread of Nationalism



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:34 WIB

Pemkab Bungo dan UGM Sepakati Kerjasama di Empat Bidang


Kajanglako.com, Bungo - Pemkab Bungo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi melakukan kerjasama. Ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:12 WIB

Warga 8 Kecamatan dan 5 Kelurahan di Bungo Ini Harus Waspada Banjir


Kajanglako.com, Bungo - Delapan Kecamatan dan Lima Lurah di Kabupaten Bungo yang sudah dicap langganan banjir harus waspada, mengingat curah hujan yang

 

Kejurwil Panjat Tebing
Selasa, 23 Oktober 2018 22:19 WIB

Ketua KONI Batanghari Jamu Atlet Panjat Tebing se-Sumatera Makan Malam


Kajanglako.com, Jambi - Sambutan spesial dilakukan Ketua KONI Batanghari,  Arzanil, kepada seluruh atlet panjat tebing se-Sumatera yang berlaga di

 

Kejurwil Panjat Tebing
Selasa, 23 Oktober 2018 21:55 WIB

Hari Kedua, Atlet Panjang Tebing Jambi Sumbang Satu Emas


Kajanglako.com, Jambi - Memasuki hari kedua Kejuaraan Wilayah (Kejurwil) Panjat Tebing se-Sumatera yang digelar di Venue Garuda Kabupaten Batanghari, Atlet

 

Selasa, 23 Oktober 2018 21:29 WIB

9 Kabupaten/Kota Diganjar WTP, Hanya 2 Daerah Ini Raih WDP


Kajanglako.com, Jambi - Selain Pemerintah Provinsi Jambi, 9 Kabupaten/Kota di Jambi juga meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas laporan