Rabu, 12 Desember 2018


Minggu, 18 Maret 2018 07:17 WIB

Warisan Pemikiran Indonesianis Benedict Anderson

Reporter :
Kategori : Sosok

Benedict Anderson

Oleh: Roedy Haryo Widjono AMZ*

Benedict Richard O'Gorman Anderson, akrab disapa Benedict Anderson lahir di Kunming, Tiongkok, 26 Agustus 1936 dalam sebuah keluarga Anglo-Irlandia. Ia dibesarkan di California dan belajar di Universitas Cambridge. Saudaranya, Perry Anderson, adalah seorang intelektual Marxis.



Ben Anderson dikenal sebagai profesor emeritus dalam bidang Studi Internasional di Universitas Cornell. Pemikiran Ben Anderson mulai diperbincangkan tatkala menerbitkan buku legendaris bertajuk Imagined Communities (Komunitas Terbayang).

Dalam buku itu secara sistematis ia menggambarkan, dengan menggunakan pendekatan materialis historis atau Marxis, faktor-faktor utama yang menyebabkan munculnya nasionalisme di dunia. Ia juga diakui sebagai pakar sejarah dan Indonesianis.

Pemikiran Anderson menegaskan bahwa sebab utama munculnya nasionalisme dan terbentuknya suatu komunitas terbayang adalah berkurangnya akses istimewa terhadap bahasa-bahasa tulis tertentu, gerakan untuk menghapuskan gagasan pemerintahan ilahi dan monarki, serta munculnya mesin cetak di bawah sistem kapitalisme, yang disebut Anderson sebagai 'kapitalisme cetak'.

Pendekatan materialis historis Anderson dapat dibandingkan dengan pendekatan individualis metodologis Liah Greenfeld atau Max Weber dalam "Nationalism: Five Roads to Modernity" (Nasionalisme: Lima Jalan menuju Kemodernan).

Analisis dan pemikirannya yang kritis menyebabkan selama bertahun-tahun Anderson dilarang masuk ke Indonesia oleh pemerintahan Orde Baru, namun setelah Soeharto jatuh dari panggung kekuasaannya, Anderson dapat kembali lagi ke Indonesia.

Ben Anderson wafat pada Sabtu, 12 Desember 2015, di kota Batu, Malang, jenazahnya dikremasi dan abunya disebarkan di Laut Jawa. Sejatinya sosok Ben Anderson merupakan simbol dari “manusia tanpa warga negara” sebagai wujud dari konsistensi pemikirannya ihwal imagined communities. Mendiang Ben Anderson pernah meraih beberapa perhargaan, diantaranya Award for Distinguished Contributions to Asian Studies (1998), Fukuoka Asian Culture Prizes (2000), Albert O. Hirschman Prize (2011).

Majalah Tempo edisi 20 November 2011 meneguhkan Ben Anderson sebagai Indonesianis generasi kedua bersama William Liddle, Herbert Feith dan Daniel S. Lev. Indonesianis berdarah Yahudi ini selama hidupnya pernah dicekal oleh pemerintah Orde Baru sejak 1973-1999. Tentu penyebabnya karena ia mengkritisi sepak terjak politik rezim Orde Baru.

Padahal salah satu karyanya bertajuk "The Cornel Paper" memberi sudut pandang berbeda tentang peristiwa Gerakan Tiga Puluh September (G30S). Makalah yang ditulis bersama Ruth McVey menyimpulkan bahwa G30S merupakan persoalan internal Angkatan Darat dan sama sekali tidak mengulas peran PKI. Tensu saja pemikiran Ben Anderson berlawanan dengan teori dan tafsir tunggal yang selama ini dibangun Orde Baru, bahwa PKI merupakan dalang tunggal peristiwa Gerakan Tiga Puluh September (G30S).

Ben Anderson mewariskan beberapa karya monumental selain The Cornell Paper, misalnya Java in a Time of Revolution, yang mendeskripsikan perlawanan Indonesia terhadap Belanda yang dilakukan oleh gerakan pemuda.

Selain itu buku Imagined Communities, menurut Ronny Agustinus (pemimpin redaksi penerbit Marjin Kiri), di Israel buku ini diterjemahkan oleh Open University of Israel untuk menentang ortodoksi politik Zionis dan Kata Pengantar nya ditulis oleh ilmuwan Palestina.

Buku tersebut intinya berbicara mengenai gerakan Nasionalisme di seantero dunia. Selain buku termaksud, beberapa buku karya Ben Anderson di antaranya adalah Debating World Literature; Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia; The Spectre of Comparisons; Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination; Gurobariseshon Wo Kataru "Benedict Anderson on Globalization; Yashigara-wan no Soto he - Out from Under the Coconut Halfshell; dan Dibawah Tiga Bendera; Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial.

*Direktur Nomaden Institute Cross Cultural Studies. Kini bermukim di Samarinda.


Tag : #The Cornell Paper #Java in a Time of Revolution #G30S



Berita Terbaru

 

Selasa, 11 Desember 2018 21:05 WIB

Nelayan Ini Ditemukan Luka-luka di Kapal Pompongnya


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Diduga mengalami kecelakaan kerja saat melaut, seorang nelayan di Tanjab Barat ditemukan luka-luka dan terbaring

 

Program Sosial Bank Indonesia
Selasa, 11 Desember 2018 20:19 WIB

Cabai hingga Trigona, Potensi Mahad Aljamiah jadi Kawasan Ekowisata


Kajanglako.com, Jambi – Tak usah diragukan lagi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi begitu menaruh perhatian besar terhadap pengembangan

 

Selasa, 11 Desember 2018 18:31 WIB

Dirikan Tenda, Warga Mandiangin dari 12 Desa Duduki Kantor Bupati


Kajanglako.com, Sarolangun – Buntut dari kisruh antara warga 12 Desa di Kecamatan Mandiangin dengan PT AAS, ratusan warga mendatangi Kantor Bupati

 

Selasa, 11 Desember 2018 17:54 WIB

BP2KBP3A Layangkan Surat ke PLN, Saryoto: jika Tak Digubris Kita Tempuh Jalur Hukum


Kajanglako.com, Batanghari - Hingga saat ini, KWH arus listrik di Kantor Badan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan

 

Selasa, 11 Desember 2018 17:33 WIB

Pol PP Punya Catatan Buruk saat Jaga Kantor Gubernur, Edi: Kami Siap jika Diminta Kembali


Kajanglako.com, Jambi - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi, Fachrori Umar, meminta Pengamanan Dalam (Pamdal) Kantor Gubernur Jambi pada tahun 2019 ditiadakan. Kebijakannya