Rabu, 24 Oktober 2018


Minggu, 18 Maret 2018 07:17 WIB

Warisan Pemikiran Indonesianis Benedict Anderson

Reporter :
Kategori : Sosok

Benedict Anderson

Oleh: Roedy Haryo Widjono AMZ*

Benedict Richard O'Gorman Anderson, akrab disapa Benedict Anderson lahir di Kunming, Tiongkok, 26 Agustus 1936 dalam sebuah keluarga Anglo-Irlandia. Ia dibesarkan di California dan belajar di Universitas Cambridge. Saudaranya, Perry Anderson, adalah seorang intelektual Marxis.



Ben Anderson dikenal sebagai profesor emeritus dalam bidang Studi Internasional di Universitas Cornell. Pemikiran Ben Anderson mulai diperbincangkan tatkala menerbitkan buku legendaris bertajuk Imagined Communities (Komunitas Terbayang).

Dalam buku itu secara sistematis ia menggambarkan, dengan menggunakan pendekatan materialis historis atau Marxis, faktor-faktor utama yang menyebabkan munculnya nasionalisme di dunia. Ia juga diakui sebagai pakar sejarah dan Indonesianis.

Pemikiran Anderson menegaskan bahwa sebab utama munculnya nasionalisme dan terbentuknya suatu komunitas terbayang adalah berkurangnya akses istimewa terhadap bahasa-bahasa tulis tertentu, gerakan untuk menghapuskan gagasan pemerintahan ilahi dan monarki, serta munculnya mesin cetak di bawah sistem kapitalisme, yang disebut Anderson sebagai 'kapitalisme cetak'.

Pendekatan materialis historis Anderson dapat dibandingkan dengan pendekatan individualis metodologis Liah Greenfeld atau Max Weber dalam "Nationalism: Five Roads to Modernity" (Nasionalisme: Lima Jalan menuju Kemodernan).

Analisis dan pemikirannya yang kritis menyebabkan selama bertahun-tahun Anderson dilarang masuk ke Indonesia oleh pemerintahan Orde Baru, namun setelah Soeharto jatuh dari panggung kekuasaannya, Anderson dapat kembali lagi ke Indonesia.

Ben Anderson wafat pada Sabtu, 12 Desember 2015, di kota Batu, Malang, jenazahnya dikremasi dan abunya disebarkan di Laut Jawa. Sejatinya sosok Ben Anderson merupakan simbol dari “manusia tanpa warga negara” sebagai wujud dari konsistensi pemikirannya ihwal imagined communities. Mendiang Ben Anderson pernah meraih beberapa perhargaan, diantaranya Award for Distinguished Contributions to Asian Studies (1998), Fukuoka Asian Culture Prizes (2000), Albert O. Hirschman Prize (2011).

Majalah Tempo edisi 20 November 2011 meneguhkan Ben Anderson sebagai Indonesianis generasi kedua bersama William Liddle, Herbert Feith dan Daniel S. Lev. Indonesianis berdarah Yahudi ini selama hidupnya pernah dicekal oleh pemerintah Orde Baru sejak 1973-1999. Tentu penyebabnya karena ia mengkritisi sepak terjak politik rezim Orde Baru.

Padahal salah satu karyanya bertajuk "The Cornel Paper" memberi sudut pandang berbeda tentang peristiwa Gerakan Tiga Puluh September (G30S). Makalah yang ditulis bersama Ruth McVey menyimpulkan bahwa G30S merupakan persoalan internal Angkatan Darat dan sama sekali tidak mengulas peran PKI. Tensu saja pemikiran Ben Anderson berlawanan dengan teori dan tafsir tunggal yang selama ini dibangun Orde Baru, bahwa PKI merupakan dalang tunggal peristiwa Gerakan Tiga Puluh September (G30S).

Ben Anderson mewariskan beberapa karya monumental selain The Cornell Paper, misalnya Java in a Time of Revolution, yang mendeskripsikan perlawanan Indonesia terhadap Belanda yang dilakukan oleh gerakan pemuda.

Selain itu buku Imagined Communities, menurut Ronny Agustinus (pemimpin redaksi penerbit Marjin Kiri), di Israel buku ini diterjemahkan oleh Open University of Israel untuk menentang ortodoksi politik Zionis dan Kata Pengantar nya ditulis oleh ilmuwan Palestina.

Buku tersebut intinya berbicara mengenai gerakan Nasionalisme di seantero dunia. Selain buku termaksud, beberapa buku karya Ben Anderson di antaranya adalah Debating World Literature; Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia; The Spectre of Comparisons; Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination; Gurobariseshon Wo Kataru "Benedict Anderson on Globalization; Yashigara-wan no Soto he - Out from Under the Coconut Halfshell; dan Dibawah Tiga Bendera; Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial.

*Direktur Nomaden Institute Cross Cultural Studies. Kini bermukim di Samarinda.


Tag : #The Cornell Paper #Java in a Time of Revolution #G30S



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:34 WIB

Pemkab Bungo dan UGM Sepakati Kerjasama di Empat Bidang


Kajanglako.com, Bungo - Pemkab Bungo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi melakukan kerjasama. Ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:12 WIB

Warga 8 Kecamatan dan 5 Kelurahan di Bungo Ini Harus Waspada Banjir


Kajanglako.com, Bungo - Delapan Kecamatan dan Lima Lurah di Kabupaten Bungo yang sudah dicap langganan banjir harus waspada, mengingat curah hujan yang

 

Kejurwil Panjat Tebing
Selasa, 23 Oktober 2018 22:19 WIB

Ketua KONI Batanghari Jamu Atlet Panjat Tebing se-Sumatera Makan Malam


Kajanglako.com, Jambi - Sambutan spesial dilakukan Ketua KONI Batanghari,  Arzanil, kepada seluruh atlet panjat tebing se-Sumatera yang berlaga di

 

Kejurwil Panjat Tebing
Selasa, 23 Oktober 2018 21:55 WIB

Hari Kedua, Atlet Panjang Tebing Jambi Sumbang Satu Emas


Kajanglako.com, Jambi - Memasuki hari kedua Kejuaraan Wilayah (Kejurwil) Panjat Tebing se-Sumatera yang digelar di Venue Garuda Kabupaten Batanghari, Atlet

 

Selasa, 23 Oktober 2018 21:29 WIB

9 Kabupaten/Kota Diganjar WTP, Hanya 2 Daerah Ini Raih WDP


Kajanglako.com, Jambi - Selain Pemerintah Provinsi Jambi, 9 Kabupaten/Kota di Jambi juga meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas laporan