Selasa, 22 Mei 2018


Jumat, 16 Maret 2018 16:11 WIB

Agama Teks dan Teks Agama

Reporter :
Kategori : Sudut

ilustrasi. sumber foto: araaita.com

Oleh: Al-Zastrouw Ngatawi*

Di saat turun hujan lebat, ada seseorang yang asyik menyiram tanaman sambil berpayungan. Suatu keadaan yang terlihat aneh dalam penglihatan orang-orang normal.



Ketika ditanya, mengapa masih menyiram pohon di tengah hujan lebat? Dengan tegas dan yakin orang tersebut menjawab bahwa menyiram tanaman adalah tugas dan kewajiban yang harus dilakukan sesuai perintah yang diberikan. Dan dia merasa harus menjalankan perintah itu apapun kondisinya tanpa melihat konteks dan menganalisa tujuan dari perintah tersebut.

Kejadian ini bisa diibaratkan orang-orang yang memahami dan mengamalkan agama secara tekstual, mengabaikan kondisi sosial dan makna konotatif yang tersirat dalam suatu teks.

Padahal tidak semuat ayat dan teks agama bisa dimaknai dan dipahami secara tekstual, denotatif. Menurut para ahli tafsir, banyak teks agama memiliki makna konotatif, terutama ayat-ayat mutasabihat.

Pada ayat seperti ini diperlukan pemahaman atas konteks sosiologis dan historis turunnya ayat untuk mengetahui makna yang lebih tepat dan akurat. Atas dasar ini maka lahir beberapa perangkat ilmu untuk bisa menafsirkan dan memahami teks agama, misalnya, ilmu asbabul nuzul, asbabul wurud, ulumul qur'an, musthalah hadits, balaghah, nahwu, shorof dan sejenisnya.

Perangkat keilmuan ini sangat diperlukan bukan saja karena tingginya nilai sastra dan gaya bahasa (uslub) dari teks-teks agama yang penuh metafora, aligoris dan simbolik, tetapi juga karena pembuat teks agama adalah Tuhan, sesuatu yg tak tersentuh oleh indera dan tak terjangkau akal sehingga tidak mungkin dilakukan konfirmasi atas makna yang sebenarnya dari teks yang diturunkanNya.

Selain perangkat ilmu alat, diperlukan juga kebersihan hati dan kejernihan jiwa untuk memahami dan mengatahui makna suatu teks agama. Inilah yang menyebabkan banyak ulama melakukan riyadlah dan olah batin secara ketat demi menjaga kebersihan hati saat memaknai dan menafsirkan teks agama. Ini merupakan bentuk kehati-hatian dari para ulama terdahulu dalam menyampaikan dan menjaga teks agama.

Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan, semua ulama besar selalu menjalani olah batin dan laku spiritual saat berguru dan menuntut ilmu. Imam ibn Katsir yang ahli tafsir, fiqh dan hadits menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya untuk berguru sehingga memperoleh ijazah secara spiritual maupun akademik dari ulama-ulama besar, di antaranya Abu Musa Al-Qarafi, Abu Fath ad-Dabbusi, Ali bin Umar Assawani dan lain-lain.

Imam Al-Quthubi penulis beberapa kitab tafsir dan hadits, selalu menjaga diri dari kesenangan dunia denga besikap zuhud untuk menjaga kejernihan hati dan kebersihan jiwa agar ilmu yang diperolehnya tidak terkotori oleh nafsu.

Hal yg sama juga dialami oleh Imam Syafi'i. Beliau melakukan riyadloh sejak kecil melalui berbagai kesulitan hidup sehingga membuat beliau memiliki hati yang jernih dan peka. Dalam hal ini Imam Malik pernah bicara langsung pada Imam Syafi'i: "Sesunguhnya Allah SWT telah menaruh cahaya dalam hatimu, maka jangan padamkan dengan perbuatan maksiyat"

Ulama-ulama besar Nusantara juga melakukan hal yang sama. Syech Nawawi Al-Batani, syech Arsyad al Bajari, Abdussomad al Falimbangi, Chatib al Minangkabowi dan lain-lain selalu berdzikir dan melakukan berbagai riyadloh batin saat belajar. Mbah Hasyim Asy'ari dan mbah Ahmad Dahlan sering melakukan puasa sunnah saat berguru pada Kyai Sholeh Darat. Tempaan batin dengan berbagai laku spiritual ini terus dialami Mbah Hasyim saat beliau berguru pada Kai Kholil Bangkalan.

Berkat olah batin melalui berbagai laku riyadlah ini para ulama bisa konsentrasi penuh dalam belajar sehingga bisa menguasi berbagai ilmu agama yang bisa digunakan untuk memahami dan menafsirkan berbagai teks dan ayat-ayat Allah. Mereka tidak saja membaca ayat qauliyah (teks agama) secara tekstual dan memahaminya secara denotatif, tetapi juga membaca ayat-ayat kauniyah untuk membantu memahami ayat qauliyah yang tekstual.

Dengan cara ini, teks-teks ‘mati’ dari ayat qauliyah menjadi lebih hidup karena tidak saja dipahami secara tekstual seperti sosok yang menyiram tanaman sambil payungan saat hujan demi melaksanakan perintah.

Jika setiap perintah hanya dipahami secara tekstual dogmatis, tanpa mengkaitkan dengan konteks dan spirit dari perintah tersebut, sebagaimana penyiram tanaman di atas memahami teks, maka agama akan kehilangan konteks, bahkan bisa mengalami disfungsi dan terpisah dari realitas. Karena realitas terus berkembang, sedangkan teks itu statis.

Atas dasar ini, maka para ulama melakukan berbagai ijtihad untuk memahami dan menjabarkan ajaran agama yang tercermin dalam teks, agar agama tetap relevan sepanjang zaman dan bermanfaat secara nyata dalam kehidupan manusia.

Dengan keilmuan dan kedalaman spiritual para ulama memilah mana teks dogmatis yang harus dipertahankan secara tekstual dan mana teks-teks yang bisa direinterpretasi secara terus menerus sesuai realitas zaman. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi teks dogmatis. Ini terjadi karena tidak semua perintah yang ada dalam teks itu bermakna dogmatis.

Dengan cara ini teks agama benar-benar menjadi penunjuk jalan dan fondasi iman yang tetap memerlukan akal dan spiritual dalam pelaksanaan dan penjabarannya. Sebaliknya, jika semua teks agama hanya dipahami dan diamalkan secara tekstual maka umat beragama akan terbelenggu dalam penjara teks. Dan itu sama dengan menjadikan teks agama sebagai agama itu sendiri.

*Dr. Alzastrouw Ngatawi merupakan pegiat budaya dan dosen Pascasarjana Universitas Nahdatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta. Penulis memiliki ciri khas selalu memakai blangkon dan cukup sering mengisi acara di TV. Tulisan ini semula diunggah penulis di laman fb pribadi pada 16 Januari 2018. Pemuatan di sini atas seizin penulis. Redaksi melakukan penyuntingan seperlunya.




Berita Terbaru

 

Selasa, 22 Mei 2018 09:39 WIB

Kebutuhan Uang Selama Ramadhan dan Idul Fitri di Jambi Rp 2,27 Triliun


Kajanglako.com, Jambi – Dalam rangka mengantisipasi kebutuhan uang masyarakat periode Ramadhan dan Idul Fitri 1439H/2018M, Kantor Perwakilan Bank

 

Selasa, 22 Mei 2018 09:24 WIB

Warga Mengeluh, Disperindag Ingatkan Agen dan Pangkalan Gas Soal HET


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur – Tingginya kebutuhan penggunaan gas bersubsidi saat Ramadhan, dimamfaatkan sejumlah agen dan pangkalan gas

 

Pencemaran Lingkungan
Selasa, 22 Mei 2018 09:04 WIB

Limbah PT LSP Diduga Cemari Aliran Sungai


Kajanglako.com, Sarolangun – Dugaan pembuangan limbah ke sungai secara sengaja oleh PT Lambang Sawit Perkasa (LSP) yang berlokasi di Kecamatan Bathin

 

Senin, 21 Mei 2018 23:29 WIB

Dua Incumbent Lolos, Ini Lima Komisioner KPU Provinsi Jambi Terpilih


Kajanglako.com, Jambi – Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah mengumumkan peserta calon Anggota KPU Provinsi yang terpilih menjadi Komisioner

 

Senin, 21 Mei 2018 21:29 WIB

Charta Politika Rilis Hasil Surnas: Ada Fakta Menarik


Kajanglako.com, Jakarta - Lembaga survei Charta Politika Indonesia, Senin (21/5), merilis hasil Survei Nasional (Surnas) di Jakarta. Survei yang dilakukan