Minggu, 22 April 2018


Kamis, 15 Maret 2018 23:29 WIB

Islam Lokal, Puritanisme Agama dan Kapitalisme

Reporter :
Kategori : Oase Esai

Jamaah melaksanakan shalat idul adha di puncak gunung Bakaraeng. Sumber foto: gosulsel.com

Zastrouw al-Ngatawi*

Ada tradisi unik di kalangan masyarakat Gowa, Sulawesi Selatan. Tradisi tersebut adalah berhaji di puncak Gunung Bawakaraeng. Tradisi ini dilaksanakan bertepatan dengan perayaan Idul Adha pada 10 sd 13 Dzulhijjah. Orang-orang yang datang ke gunung Bawakareang kemudian melaksanakan shalat dan berkurban di tempat tersebut maka dianggap sudah seperti melaksanakan ibadah haji.



Dalam tesis Mustaqim Pabajjah (2010) yang berjudul "Medan Kontestasi Masyarakat Lokal: Kajian Terhadap Keberadaan Komunitas Haji Bawakaraeng di Sulsel" disebutkan bahwa tradisi haji Bawakaraeng merupakan bentuk perlawanan terhadap agama resmi (Islam) yang dominan. Karena menurut Mustaqim, tradisi ini sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke daerah Gowa.

Dalam kata lain, Mustaqim menyebut bahwa tradisi haji Bawakaraeng merupakan bentuk adaptasi tradisi lokal terhadap ritual Islam (Haji). Ini dibuktikan dengan adanya asumsi di kalangan masyarakat pelaku tradisi tersebut bahwa kehajian mereka sudah diwakili oleh syech Yusuf al-Makassari, seorang ulama besar penyebar Islam di kawasan Sulawesi Selatan. Asumsi ini membuktikan bahwa para pelaku tradisi tersebut adalah kaum muslimin karena percaya pada ulama dan mau melaksanakan ibadah haji sebagai rukun Islam.

Berdasar data penelitian Mustaqim ini bisa dilihat sebenarnya tradisi ini lebih tepat disebut sebagai adaptasi dan resistensi kultural, yang membentuk afinitas budaya antara tradisi lokal dengan ritual Islam (haji).

Ini bisa terjadi karena kearifan dan kecerdasan para ulama penyebar Islam yang mampu membaca dan menangkap realitas sosial dengan konstruksi tradisi yang berlaku di daerah tersebut. Para ulama pada saat itu tidak memberangus tradisi yang sudah ada, tetapi menjadikannya sebagai sarana (wasilah) dan metode (manhaj) dalam menyebarkan dan mengajarkan Islam. Metode ini sama dengan proses menetapan ritual haji yang juga berasal dari tradisi jahiliyah yang sudah ada sebelumnya kemudian diadopsi menjadi bagian dari ritual Islam.

Pada saat itu, hampir mustahil orang pegunungan yang berada di pedalaman Sulsel bisa naik haji, karena keterbatasan sarana dan prasarana. Atas kondisi yang demikian itu, maka untuk menjaga perasaan dan spirit keimanan orang-orang Islam, para ulama berpendapat bahwa ibadah shalat dan qurban yang dilakukan di Bawakaraeng pada hari Idul Adha sudah sama dengan ibadah haji. Ini dilakukan agar umat Islam di sana merasa sudah menjadi Islam yang sempurna karena sudah melaksanakan rukun Islam yang lima.

Apa yang dilakukan oleh para penyebar Islam di Gowa ini bukan untuk mengubah ajaran Islam, tetapi sebagai bentuk strategi budaya yang kreatif dan efektif. Melalui strategi ini para ulama berhasil memberikan solusi kreatif atas hambatan pelaksanaan ibadah haji karena keterbatasan sarana dan prasarana.

Pengakuan bahwa ibadah di Bawakaraeng sama dengan ibadah haji ini lebih bersifat substantif spiritual, bukan bersifat legal formal. Kejadian ini sama persis dengan kisah orang yang mau berangkat haji, tetapi batal karena biaya naik hajinya diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.

Meski secara ritual formal dan fisik orang tersebut gagal pergi haji, tetapi tetap saja dianggap sudah melaksanakan ibadah haji. Artinya, apa yang dilakukan orang tersebut sama dengan ibadah haji. Jelas di sini terlihat tak ada ajaran dan ritual Islam yang diubah melalui tradisi ini, karena secara formal para ulama tetap mengakui pelaksanaan ritual haji di Makkah.

Tradisi haji Bawakaraeng ini merupakan bentuk dari Islam lokal. Yaitu ekspresi keislaman melalui tradisi dan budaya lokal yang khas. Suatu proses dialog antara Islam dengan tradisi lokal yang kreatif dan cerdas. Melalui strategi ini ajaran Islam bisa diterima dan dipahami secara mudah serta diamalkan dengan penuh suka cita, sehingga Islam yang shoheh fi kulli zamaanin wa makanin benar-benar bisa diwujudkan dan dijalankan secara nyata.

Inilah kehebatan ulama masa lalu yang mampu menyebarkan Islam dengan penuh hikmah, tanpa menimbulkan kegaduhan, ketakutan dan kebencian pada kelompok lain.

Sayangnya, cara pandang yang penuh kearifan ini tidak dipahami konteks dan maknanya oleh kaum puritan yang sudah terjebak pada simbolisme dan formalisme agama. Akibatnya, mereka dengan gampang menganggap tradisi ini sebagai bentuk penyimpangan ajaran Islam dan menuduhnya sebagai ajaran sesat.

Ini merupakan bentuk arogansi iman dan egoisme beragama. Karena merasa Imannya sudah kuat dan pemahaman agamanya yang paling benar maka mereka menista pemahaman orang lain dengan cara memberangus tradisi dan budaya lokal yang sebenarnya merupakan ekspresi religiusitas keislaman.

Pemahaman keislaman yang simbolik formal tekstual yang modern dan anti tradisi ini tidak saja bisa menggerus tradisi lokal, tetapi juga rentan tergelincir dalam ideologi kapitalisme. Ketika kesalehan hanya diukur dari model pakaian dan tampilan fisik, ketika ajaran agama hanya diukur dengan ritual formal maka akan memunculkan berbagai peluang bisnis yang bisa mendatangkan keuntungan material.

Misalnya, dengan adanya standarisasi jilbab syar"i yang lebih banyak memerlukan kain dari pada jilbab biasa, berapa keuntungan dunia fashion deng munculnya isu tersebut. Ketika pergi haji dan umrah menjadi yang faktual dan fisik menjadi trend untuk mengukur kesalehan, maka banyak bermunculan biro travel dan hotel untuk memenuhi kebutuhan beribadah haji dan umrah.

Saat ini muncul berbagai bentuk industri religi untuk memenuhi kebutuhan ritual ibadah formal simbolik umat beragama yang banyak mendatangkan keuntungan material. Dan rata-rata bisnis tersebut dikuasai oleh kaum kapitalis.

Dari sini terlihat bahwa kebaragamaan yang puritan, simbolik dan formal paling rentan ditunggangi dan dimanfaatkan kapitalisme. Demikian sebaliknya, sikap keberagamaan yang kuktural dan tradisional, yang lebih menekankan aspek substansial akan lebih sulit dimasuki kapitalisme. Atas dasar ini bisa dipahami kalau puritanisme dan kapitalisme berupaya melindas berbagai bentuk tradisi Islam lokal karena dianggap menggangu kepentingan masing-masing.

Menghadapi arogansi kapitalisme yang rakus dan kuatnya tarikan puritanisme dan formalisme agama yang bisa mempersempit dan mendangkalkan spirit keislaman, ada baiknya kita kembali melihat berbagai bentuk ekspresi Islam lokal. Karena di sana tidak hanya menyediakan kearifan yang melimpah, tetapi juga merupakan sumber mata air peradaban yang bisa membuat agama menjadi indah dan membahagiakan bagi siapa saja.

*Dr. Zastrouw al-Ngatawi adalah budayawan dan ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI) periode 2004-2009. Penulis memiliki ciri khas selalu memakai blangkon dan cukup sering mengisi acara di TV. Tulisan ini semula diunggah penulis di laman fb pribadi (16 Maret 2018). Pemuatan di sini atas seizin penulis. Redaksi melakukan penyuntingan seperlunya.


Tag : #Berhaji di Puncak gunung Bawakaraeng #Islam simbolik #formal tekstual #Tradisi Lokal #Agama dalam Kungkungan Kapotalisme



Berita Terbaru

 

Bawaslu
Sabtu, 21 April 2018 19:36 WIB

Tambah Anggota Bawaslu Provinsi, Ini Muatan Penting Pengumuman Bawaslu RI


Kajanglako.com, Jambi - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia (RI) resmi menetapkan tim seleksi Bawaslu untuk 27 Propinsi di Indonesia yang

 

Pilkada Kerinci 2018
Sabtu, 21 April 2018 17:56 WIB

Undangan Tatap Muka Kian Padat, Zainal-Arsal Berbagi Tugas


Kajanglako.com, Kerinci - Dukungan untuk Zainal Abidin dan Arsal Apri, calon Bupati dan Wakil Bupati Kerinci nomor urut 3 terus mengalir.    Dukungan

 

Sabtu, 21 April 2018 15:13 WIB

Hadir Dua Kali Seminggu, Warga Apresiasi Pengobatan Gratis dr Maulana


Kajanglako.com, Kota Jambi - Setelah pada Sabtu lalu pengobatan gratis dokter Maulana hadir untuk masyarakat Kelurahan Rajawali, kali ini dokter Maulana

 

Sabtu, 21 April 2018 14:02 WIB

Memotivasi Ratusan Pelajar, Fasha: Jangan Remehkan Teman


Kajanglako.com, Kota Jambi - DR Syarif Fasha, Wali Kota Jambi yang saat ini tengah cuti, memberikan motivasi dihadapan ratusan pelajar di Abadi Convetion

 

Sabtu, 21 April 2018 13:08 WIB

Maulana Hadiri Peringatan Harlah Fatayat NU ke-68


Kajanglako.com, Kota Jambi - Ketua Harian Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Jambi, DR. dr. H. Maulana MKM menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) Fatayat