Rabu, 18 Juli 2018


Minggu, 17 September 2017 14:14 WIB

Revolusi Pancasila

Reporter :
Kategori : Pustaka

Oleh: Joko Arizal*

Hampir dua puluh tahun kita lepas dari kangkangan otoritarianisme Orde Baru,  tata-kelola kehidupan berbangsa dan bernegara mengalami perubahan yang signifikan. Hal itu tampak dari terbukanya ruang kebebasan bagi publik untuk mengekspresikan aspirasi dan kepentingan politiknya. Kondisi tersebut hanya mungkin tercapai bila kita menpraktekkan sistem demokrasi.  



Namun di lain sisi, demokrasi yang kita jadikan sebagai sistem pengaturan lalu-lintas politik telah mengalami pembajakan, seperti menguatnya oligarki politik, primordialisme, politik kartel, politik uang, kegaduhan politik yang tak produktif dan banal. Tapi yang amat menyedihkan adalah publik dijadikan sebagai mainan politik yang mengarah pada pemenuhan hasrat para kontestan politik.

Di samping itu, ketimpangan sosial semakin akut dimana sumber-sumber produksi dikuasai oleh segelintir orang sementara rakyat kian tertindas dan terpinggir dari mobilitas sosial-politik. Di sisi lain, konflik inter-antar agama, etnik,  dan saparatisme juga tumbuh subur seakan kita lupa untuk apa kita menjalani hidup berbangsa dan bernegara. Rakyat saling berbaku-hantam, sedangkan kalangan elit cenderung lepas tangan dan saling menyalahkan. Untuk memulihkan krisis yang melandai bangsa Indonesia, penulis buku ini menyuguhkan solusi dengan merevolusi pancasila.

Bagaimana merevolusi pancasila? sebelum menjelaskannya lebih jauh, perlu ditekankan bahwa ciri esensial dari revolusi bukan terletak pada kecepatannya—apalagi dikonotasikan dengan iringan kekerasan—melainkan dimensi kebaruan. Revolusi berarti suatu perubahan struktur mental dan keyakinan karena introduksi gagasan dan tatanan baru yang membedakan dirinya dari gagasan dan tatanan yang lama. Revolusi membawa perubahan mendasar pada basis material (relasi produksi perekonomian), super-struktur (nilai, ideologi, mental), dan domain politik sebagai agen perantara dalam perubahan sistem sosial.

Demikian halnya dengan Pancasila. Pancasila tidak hanya sebagai dasar atau falsafah Negara (philosophische grondslag), tetapi juga pandangan hidup (weltanschauung), ideologi, perekat segenap elemen bangsa, haluan dan tuntunan dinamis ke arah mana bangsa Indonesia akan melaju. Pancasila ini digali Bung karno dari berbagai kearifan suku-bangsa, agama dan aliran kepercayaan yang telah berurat-berakar dalam sanubari bangsa, sebagaimana disampaikan bung karno dalam pidato 1 juni 1945 di depan sidang BPUPKI (hal. 29-32).

Setelah mendudukkan dua konsep kunci—revolusi dan pancasila—sebagaimana diterangkan di atas, kini kita akan menilik lebih luas dan dalam makna “Revolusi Pancasila”. Revolusi Pancasila adalah suatu upaya perubahan mendasar pada sistem sosial (meliputi ranah material, mental, dan politikal) berlandaskan prinsip-prinsip pancasila dalam usaha mewujudkan perikehidupan kewarganegaraan yang merdeka, bersatu, berdaulat, dan makmur.

Revolusi pancasila bukanlah revolusi borjuis ala Prancis (1789) yang berlandaskan individualisme, juga bukan revolusi proletariat (buruh) ala Rusia (1917) yang melahirkan kediktatoran proletariat, akan tetapi revolusi kemanusiaan yang sealun-seirama dengan tuntutan budi nurani kemanusian yang bersifat universal dan melampaui batas-batas kelas dan golongan. Dengan demikian revolusi pancasila merupakan revolusi kemanusiaan yang bersifat multidimensional, dengan  cakupan yang multikompleks. Sifat kompleksitas revolusi pancasila mengandung 5 dimensi: revolusi nasional, politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Revolusi pancasila menghendaki model yang dinamis-interaktif: bahwa material dan mental bisa saling mempengaruhi. Karena itu revolusi material harus berjalan seiringan dengan revolusi mental. Di samping itu, relasi interaktif 2 revolusi ini menghendaki adanya mediasi dari kekuatan agensi (kepemimpinan moral-intelektual). Sebab revolusi material dan mental memerlukan dukungan kelembagaan dan kepemimpinan politik sebagai agen perubahan.

Orientasi dari ketiga ranah revolusi sosial itu adalah: pertama, revolusi material diarahkan untuk menciptakan perekonomian merdeka yang berkeadilan dan berkemakmuran yang berlandaskan gotong-royong; kedua, revolusi mental-kultural diarahkan menciptakan masyarakat religius yang berprikemanusiaan, egaliter, mandiri dan bebas dari berhala materialisme-hedonisme; dan ketiga, revolusi agensi diarahkan untuk menciptakan agen perubahan dalam bentuk konsentrasi kekuatan nasional (hal. 96-97). Ketiga ranah revolusi tersebut diarahkan untuk mencapai revolusi pancasila, yaitu mewujudkan prikehidupan bangsa dan kewargaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Adapun tahapan-tahapan revolusi pancasila ditempuh melalui program-program prioritas, yaitu; pertama, mengukuhkan pancasila sebagai ideologi negara dan pandangan hidup bangsa; kedua, mengukuhkan negara hukum pancasila; ketiga, memperjuangkan kedaulatan dalam politik; keempat, memperjuangkan kemandirian dalam perekonomian; kelima, memperjuangkan kepribadian dalam kebudayaan; keenam, menguatkan kohesi sosial; dan ketujuh, menguatkan sistem pertahanan-keamanan (hal. 168-180). Dengan demikian, tahapan-tahapan ini hendak menegaskan bahwa Pancasila yang menjadi pelita kehidupan bersama tak hanya sebatas common platform (kalimatun sawa’), tetapi juga menjadi  praksis-ideologis dalam menuntun perubahan sosial di Indonesia.

*Penulis adalah pemerhati sosial-politik. Alumni Sosiologi Pascasarjana UGM Yogyakarta.

 Data Buku:

Judul               : Revolusi Pancasila

Penulis             : Yudi Latif

Penerbit           : Mizan

Tebal               : xi + 208 halaman

Tahun              : 2015


Tag : #Pansila #Ideologi #Jalan Hidup #Revolusi #Fasafah Negara



Berita Terbaru

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 11:48 WIB

Ini Bacaleg Golkar yang Berpotensi Dulang Suara di Kota Jambi


Kajanglako.com, Kota Jambi - Golkar Kota Jambi optimis akan meraih maksimal di Pemilu 2019, mereka menargetkan 7 hingga 8 kursi di DPRD Kota Jambi.    Pengurus

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 11:15 WIB

Jumlah Bacaleg yang Terdaftar di KPU Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Proses penerimaan pendaftaran Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) Pemilu 2019 untuk DPRD Provinsi Jambi, telah rampung dilaksanakan

 

Rabu, 18 Juli 2018 09:09 WIB

Pertanyakan Akuisisi Pertagas oleh PGN, Ihsan: Apa Urgensinya?


Kajanglako.com, Jakarta - Selasa, 17 Juli 2018, Komisi VI DPR RI melanjutkan rangkaian Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan mitra komisi. Kali ini RDP berlangsung

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 03:49 WIB

Ini Dasar KPU Bungo Tolak Berkas Partai Garuda Hingga Tereleminasi


Kajanglako.com, Bungo - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bungo menolak berkas pendaftaran Bacaleg dari Partai Garuda. Penolakan tersebut disebabkan masih

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 03:42 WIB

Hari Terakhir Pendaftaran di KPU Bungo, Bacaleg Partai Garuda Tereleminasi


Kajanglako.com, Bungo - Banyak partai politik di Kabupaten Bungo memilih mendaftarkan bakal calon legislatifnya pada akhir waktu. Padahal tidak ada