Selasa, 21 Agustus 2018


Kamis, 15 Maret 2018 13:14 WIB

Pemukiman Kuno: Padang Rocok, Siguntur, Rambahan dan Rantau Panjang (II)

Reporter :
Kategori : Jejak

Ilustrasi. Rumah Tuo Rantau Panjang. Merangin, Jambi.

Oleh: Arif Rahim*

Situs Padang Rocok terletak di Desa Sungai Langsat-Siluluk, kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Sama halnya dengan situs Muaro Jambi situs ini juga dikelilingi oleh parit. Ukuran parit selebar 5 meter dengan kedalaman antara 1-5 meter. Kedua ujung parit bermuara di sungai Batanghari. Di situs ini ditemukan juga bekas kolam yang kini telah menjadi sawah penduduk yang mereka sebut Sawah Tabek.



Situs Padang Rocok merupakan situs percandian yang terdiri dari tiga buah bangunan candi bata dengan rincian satu candi induk dan dua candi perwara. Ketiga candi tersebut telah runtuh, dan reruntuhannya oleh penduduk setempat disebut munggu di Muaro Jambi disebut manapo.

Di areal ini juga ditemukan patung besar dengan tinggi 4,41 meter dan berat lebih dari 4 ton. Penduduk setempat menamakannya si Rocok. Sebelum dievakuasi oleh penduduk setempat dijadikan sebagai batu asahan menajamkan pisau (Rusli Amran, 1980: 14-15). Menurut Stutterheim patung ini adalah perwujudan Adityawarman, seorang bangsawan Majapahit asal Melayu dan pendiri kerajaan Minangkabau.

Survei arkeologi yang dilakukan tahun 1992 menemukan pecahan keramik Cina yang berasal dari zaman dinasti Sung (abad 10 -13 M). Juga ditemukan pecahan keramik dari masa dinasti Ming (abad 16- 17), bahkan jaga ada yang berasal dari masa yang lebih muda yakni dari zaman dinasti Qing (abad 18 – 20), serta keramik Eropa (abad 18-20). Keramik yang ditemukan pada umumnya berupa pecahan mangkuk, piring dan guci.

Bertolak dari tahun temuan tinggalan sejarah yang beraneka waktu tersebut dapat dikatakan bahwa kawasan ini adalah kawasan pemukiman penduduk yang sudah ditempati paling tidak sejak 10 M dan ditempati dalam masa yang tidak terputus hingga abad 20, serta terlibat aktif dalam kegiatan perdagangan dengan luar negeri terutama Cina dan Eropa.

Sekitar 20 an kilo meter di sebelah selatan Padang Rocok/Sungai Lansek terletak desa Siguntur yang merupakan bagian dari kecamatan Pulaupunjung, kabupaten Darmasraya. Di Siguntur terdapat kompleks pemakaman raja-raja Siguntur yang pembatas nisannya terbuat dari reruntuhan bangunan kuno (candi). Selain bata kuno tersebut ditemukan pecahan-pecahan keramik yang bersal dari zaman dinasti Qing (abad 18 M), dan keramik Eropa (abad 19-20 M).

Masih termasuk ke dalam Desa Siguntur yakni suatu tempat yang bernama Pulau Sawah, ditemukan lima munggu (runtuhan candi) dengan berbagai ukuran. Selain itu, ditemukan pula berbagai pecahan keramik yang terdiri dari satu buah guci, 8 buah mangkuk, dan dua buah piring. Guci dan mangkuk berasal dari zaman dinasti Sung (abad 10-11 M). Sedangkan dua piring masing-masing berasal dari zaman Dinasti Qing (abad 18-20 M), dan piring Eropa (abad 19-20).

Seorang aspiran-kontrolir pemerintah Hindia Belanda bernama Damste ketika melakukan inspeksi ke daerah XII Koto, yaitu daerah dulunya termasuk daerah rantau kerajaan Minangkabau, dan ketika singgah di rumah salah satu rumah penduduk, pernah melihat benda-benda pusaka kuno berupa senjata jenis keris, pedang, dan tombak yang mereka sebut Tumbak Majopaik.

Kemungkinan benda-benda tersebut adalah benda-benda berasal dari Jawa yang dibawa ke sana sewaktu ekspedisi Pamalayu. Pewaris pusaka itu adalah keluarga terpandang bergelar Dt. Rajo Bandaro, tiang pancang Muaro Sangir. (Rusli Amran, Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, 1980: 18).

Juga tak jauh dari Sungai Lansek terdapat pula sebuah dusun bernama Rambahan. Letaknya berada diantara Batang Lolo dan Batang Pangian, yang mana keduanya bermuara ke Batanghari. Di Rambahan terdapat situs tempat ditemukannya sebuah munggu yang dikelilingi tanggul buatan dan parit yang bermuara ke sungai Batanghari.

Di situs ini pulalah ditemukan sebuah arca yang sangat terkenal dalam sejarah yaitu patung Amoghapasa yakni sebuah arca yang dikirim oleh raja Kartanegara sewaktu dia melancarkan ekspedisi Pamalayu. Pada lapik arca tesebut terdapat suatu prassti yang dibuat oleh Kartanegara berangka tahun 1286 M. Sedangkan pada bagian belakang adityawarwan berangka tahun (1347 M). Menurut penduduk sekitar lokasi situs ini dulunya adalah sebuah desa yang telah ditinggal penduduknya sehingga sekarng menjadi padang lalang dan semak belukar.

Berdasarkan tingalan-tinggalan sejarah dan arkeologis dapat dikatakan bahwa timbulnya kawasan Padang Rocok/Sungai Lansek, Siguntur, dan Rambahan sebagai pusat pemukiman mulai sejak abad ke 10. Kawasan ini semakin berkembang ketika pusat kerajaan Melayu berpindah ke daerah ini dari Muaro Jambi.

Adapun pemindahan ibukota tersebut menurut sejarawan disebabkan pertimbangan keamanan dalam arti menjauhkan diri dari kemungkinan serangan musuh dari luar. Selain itu penguasa pada waktu itu memandang perlu pengawasan terhadap sumber alam. Daerah pedalaman terutama daerah Sumatera Barat (hulu Batanghari) merupakan daerah sumber emas dan lada. Hasi-hasil inilah yang dikelola oleh penguasa Melayu sebagai penghasilan kerajaan. (Bambang Budi Utomo, Batanghari Riwayatmu Dulu” Makalah disampaikan pada Seminar Sejarah Melayu Kuno, 1992 : 184).

Faktor-faktor itu pula yang barangkali yang menjadi alasan pemindahan ibu kota berikutnya dari Dharmasraya ke Pagaruyung pada abad ke 14.

Rantau Panjang dan Pemukiman-pemukiman Migran Minangkabau

Daerah rantau panjang termasuk dalam wilayah Kecamatan Tabir kabupaten Merangin, Jambi. Daerah ini tergolong pada salah satu pemukiman tua di provinsi Jambi. Penduduk daerah ini adalah suku Batin yang diduga sebagai penduduk asli.

Menurut sebuah sumber asal muasal penduduk Rantau Panjang berasal dari daerah Koto Rayo yaitu sebuah dusun yang terletak di sebelah hilir Batang Tabir. Daerah Koto Rayo diduga dahulunya adalah sebuah kerajaan, karena di sana ditemukan peninggalan-peninggalan berupa kuburan kuno, dan gundukan batu bata yang diduga runtuhan bangunan candi yang diduga se zaman dengan bata yang terdapat di Muaro Jambi.

Ketika terjadi peperangan di daerah sekitar muara Batang Tabir yakni sungai Batanghari, daerah Koto Rayo mengirim 20 orang pemuda pilihan untuk menjaga musuh yang sekiranya akan masuk ke Koto Rayo. Bentrokan dengan musuh terjadi dan menewaskan satu orang pemuda. Guna menghindarkan korban yang lebih besar 19 orang pemuda tersisa mengundurkan diri kembali ke Koto Rayo.

Namun setibanya mereka di Koto Rayo mereka mendapati kampung mereka yang telah kosong. Tak diketahui oleh mereka kemana penduduk kampung mereka itu mengungsi. Selanjutnya mereka berjalan mencari daerah pemukiman baru yang sekarang bernama daerah Rantau Panjang. (https://roedijambi.wordpress.com/2011/06/02/koto rayo pemukiman kuno di tepi sungai Tabir Jambi).

Hingga saat ini di Rantau Panjang masih didapati sebanyak 19 rumah tua yang menurut keterangan penghuninya telah berusia lebih dari 600 tahun. Rumah tua itu terbuat dari kayu sungkai, berarsitek panggung dengan ditopang beberapa tiang di bagian kolong rumah. Dindingnya dihiasi ukiran-ukiran, serta atapnya bercorak rumah gadang kajang lako. Menurut corak arsitekturnya rumah ini diperkirakan mendapat pengaruh dari Minangkabau (Nasruddin, Jambi Dalam Sejarah Nusantara, 1989: 60).

Hal ini besar kemungkinan karena daerah Tabir termasuk wilayah cakupan migrasi suku Minangkabau yang bergerak sejak abad 15 dan secara besar-besaran pada abad 17, dan selanjutnya mempengaruhi berbagai aspek kehidupan suku Batin, dan kawasan Jambi Hulu pada umumnya.

Pengaruh tersebut sangat terasa dalam berbagai aspek seperti adat, sistem sosial kekerabatan, bahasa, termasuk corak bangunan, bahkan hingga tingkat tertentu termasuk aspek pemerintahan kerajaan. (Elsbeth Locher Scholten, Kesultanan Sumatera dan Negara Kolonial, 2008: 45, Andaya, 2016 : 255-262 dan Lindayanti, Jambi dalam Sejarah 1500-1942, 2013: 21-24).

Rantau Panjang dapat dikatakan mewakili pemukiman kuno yang terbentuk paling belakangan. Hal ini didasarkan pada banyaknya jumlah bangunan yang masih utuh dan berfungsi hingga sekarang. Terbentuknya pemukiman adalah sebagai akibat migrasi penduduk yang umumnya bergerak dari daerah hulu (pedalaman) ke hilir.

Semakin berkembangnya jumlah penduduk mendorong orang untuk mencari daerah baru yang cocok dijadikan sebagai lahan kehidupan terutama untuk kegiatan pertanian. Selain itu adalah semakin banyaknya kebutuhan hidup yang berasal dari luar/seberang menyebabkan pemukiman mulai bergeser ke tempat yang dekat dengan jalur lalu lintas.

Faktor-faktor itulah yang mendorong perpindahan orang Batin yang semula terkonsentrasi di daerah dataran tinggi Minangkabau dan sekitar Kerinci ke daerah-daerah hilir (sebelah timur) menempati daerah daerah di Sarolangun, Bangko, dan Bungo yang disebut daerah tanah nan bajenang. (Lindayanti, Jambi dalam Sejarah 1500-1942, 2013 : 21-23).

Gelombang migrasi dari Minangkabau berikutnya mulai belangsung pada abad pada abad 15 dan mencapai puncaknya setelah kekalahan Aceh dari Belanda tahun 1667. Berbeda dengan masa sebelumnya migrasi pada periode lebih dipicu oleh upaya pencarian dan perdagangan emas di daerah hulu Batanghari. Para migran yang datang pada periode ini dalam masyarakat Jambi disebut Suku Penghulu.

Sebagaimana halnya orang Batin, suku Penghulu juga membangun pemukiman-pemukiman di daerah yang disebut tanah nan bajenang, terutama di daerah-daerah Batang Asai, Pangkalan Jambu, Limun, Tinting, Nibung, Ulu Tabir, dan lain-lain. Limun, Batang Asai dan Pangkalan Jambu tercatat sebagai daerah yang perdagangan emasnya cukup tinggi (Marsden, Sejarah Sumatera, 2016 : 243).

Kekalahan Aceh dari Belanda tahun 1667 menyebabkan terjadinya lonjakan migrasi orang Minangkabau ke kawasan Jambi hulu. Kali mereka terlibat dalam penambangan emas terutama di daerah, Tabir, Jujuhan, Tebo, dan Tembesi hulu (Andaya, 2016 : 256).

***

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa terbentuknya pemukiman kuno di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Batanghari dipengaruhi oleh faktor geografis, kebutuhan dan kepentingan para pemukim sesuai dengan zamannya. Faktor geografis mencakup letak pemukiman yang dinilai praktis dan mendukung untuk mobilitas kehidupan, struktur dan kesuburan tanah serta ketersediaan air, dan lingkungan fisik yang dipandang sehat untuk kehidupan.

Faktor kebutuhan dan kepentingan, yaitu ketersediaan sumber daya alam dan tempat yang dinilai praktis, strategis serta aman dari berbagai gangguan baik alamiah, maupun keamanan dalam segi politik.

Keberadaan pemukiman kuno berdampak pada terbuka suatu kawasan tempat mukim dari yang semula kosong atau tidak berkembang menjadi kawasan yang bernilai penting baik secara ekonomi, politik, maupun sosial budaya. Keberadaan pemukiman awal menghasilkan terbukanya lahan pertanian berupa ladang, kebun, dan persawahan. Pada masa berikutnya berkembang pula kegiatan pertambangan, terutama emas.

Besarnya potensi sumber daya alam serta jumlah produksi yang melimpah yang berkombinasi dengan letak geografis yang strategis telah menyebabkan sejumlah pemukiman-pemukiman tersebut berkembang sebagai pusat kerajaan dan bandar-bandar perdagangan yang penting yang dikunjung berbagai kalangan terutama pedagang, baik yang berasal dari sesama bangsa di Nusantara maupun dari luar kawasan seperti, Cina, India, Persia, Arab dan Eropa.

 

*Arif Rahim, M.Hum adalah pengajar sejarah di FKIP Universitas Batanghari (UNBARI), Kota Jambi.

*Catatan Redaksi: Tulisan di atas merupakan penelitian penulis bertajuk Pemukiman-Pemukiman Kuno di Daerah Aliran Sungai Batanghari. Pertama kali terbit di Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari, Jambi, Vol.17 No. 3 Tahun 2017. Uraian penulis di atas (sambungan dari tulisan sebelumnya: Pemukiman Kuno: Koto Kandis, Muaro Jambi dan Solok Sipin) menjawab faktor-faktor yang mendorong munculnya banyak pemukiman di sepanjang daerah aliran sungai Batanghari serta keberadaan dan peranan pemukiman tersebut dalam perspektif sejarah. Pemuatan di sini bertujuan memasyarakatkan literatur-literatur tentang Jambi. Tulisan di atas perlu dibaca secara cermat, sesuai konteks seraya menimbang pelbagai kajian dan publikasi dengan tema serupa lainnya. Redaksi melakukan penyuntingan seperlunya.


Tag : #Menapo #Kabupaten Merangin #Jambi #Sumatra #Orang Batin #Suku Penghulu #Batanghari



Berita Terbaru

 

Tradisi Unik
Selasa, 21 Agustus 2018 10:32 WIB

Festival Ngaru Dodol di Pelabuhan Dagang, Warga Harus Mengaduk Tiada Henti


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Anda mungkin sudah pernah mendengar Tradisi Ngaru Dodol, tradisi unik dan turun-temurun ini ada di Pelabuhan Dagang,

 

Operasi Jaran Siginjai
Selasa, 21 Agustus 2018 10:01 WIB

Selama Agustus, Polres Tanjabbar Ringkus 10 Pelaku Curanmor


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Polres Tanjab Barat berhasil menangkap 10 orang pelaku tindak pidana Pencurian Kendaraan Bermotor (Curanmor) selama

 

Aksi Pengeroyokan
Senin, 20 Agustus 2018 23:55 WIB

Ini Penjelasan Panitia Terkait Aksi Pengeroyokan di Kampus UIN STS Jambi


Kajanglako.com, Jambi – Aksi Pengeroyokan yang terjadi di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Taha Syaifudin (UIN STS) Jambi, Senin sore (20/08),

 

Aksi Pengeroyokan
Senin, 20 Agustus 2018 23:30 WIB

Terjadi Pengeroyokan di Kampus UIN STS Jambi


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Aksi pengeroyokan terjadi di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Taha Syaifudin (UIN STS) Jambi. Diduga aksi pengeroyokan

 

Senin, 20 Agustus 2018 22:01 WIB

Ihsan Yunus Beri Masukan Penyelenggaraan OSS


Kajanglako.com, Jakarta - Berlakunya pelayanan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik atau Online Single Submission (OSS) masih menyimpan pro