Selasa, 17 Juli 2018


Minggu, 17 September 2017 14:14 WIB

Datuk Usuf Lebai: Mengadu Taji Belanda di Masa Muda, Mengajar Ngaji di Masa Tua

Reporter :
Kategori : Sosok

Datuk Usuf Lebai bersama Istri

Oleh: Wiwin Eko Santoso*

Sekira 2006, yaitu saat aku mudik pulang ke Jambi, tepatnya saat liburan kuliah, aku diceritakan oleh ibu dan adikku bahwa Datuk Usuf Lebai dipanggil oleh Allah SWT untuk selamanya.



Tak berhenti sampai di situ, si Igun, adikku bercerita, bahwa yang membuat terkejut banyak orang di daerah Pancasila Kelurahan Telanaipura Kota Jambi, yaitu setelah pengumuman bahwa Datuk Usuf akan dishalat jenazahkan, ramai tentara berseragam lengkap mengisi upacara pelepasan jenazah Datuk Usuf Lebai.

Rupanya, Datuk Usuf Lebai yang menjadi Guru ngaji kami waktu kecil, juga adalah seorang veteran atau tentara tempur awal Negara Republik Indonesia.

Dari rumah Datuk Usuf Lebai yang berada di RT 1 dekat SDN 175/ Madrasah Iftidayah Jambi, lewat jalanan kecil yang turun ke daerah bawah sampai jalan naik ke sekitar Masjid Dakwatul Islamiyah—semuanya dipenuhi tentara berbaris sisi jalan kecil memberikan salvo ke udara. Upacara militer terus mengiringi jenazah datuk Usuf Lebai sampai ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Satria Bhakti di Jalan Jenderal Soedirman The Hok Jambi.

Tak puas mendapati cerita sang adik akan sosok Datuk Usuf Lebai, sekira 8 Februari 2017, aku bertanya pada salah seorang cucu Datuk Usuf Lebai, yang dulu juga teman sepengajian atau sejamaah di Masjid Dakwatul Islamiyah, “Apa pangkat terakhir yang disandang Datuk Usuf”, tanyaku. Kata Muhammad Subhi Sayuti, “Datuk meninggal tahun 2006 dengan pangkat militer terakhir sebagai prajurit Peltu (Pembantu Letnan Satu), mantan anggota Kompi Merdeka di Pulau Tamiang”.

Merujuk buku “Sejarah Kabupaten Tebo (Bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung)” karya Adanhuri Mukti dkk (2008: 78), dikisahkan untuk mengantisipasi kemungkinan Agresi Militer I Belanda (27 Juli 1947) ke daerah Jambi, Komandan Brigade Garuda Putih (Letkol Abunjani) membentuk Kompi Merdeka yang bersifat mobil atau mampu berpindah-pindah tempat, misalnya untuk gerilya (hit and run). Kompi Merdeka ini ditempatkan di Muaro Tebo dan dipimpin oleh Letnan Satu Muhammad Sayuti Makalam. Nah, dari 37 prajurit yang tercatat dalam buku Adanhuri Mukti dkk (2008: 79), nama Muhammad Yusuf Lebai menjadi salah satu prajurit Kompi Merdeka di Pulau Temiang daerah Tebo.

Bagaimana posisi seorang prajurit bernama M Yusuf Lebai ini dalam struktur militer-pemerintahan awal perjuangan RI itu?

Menurut buku “Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I (1945-1949) di Propinsi Jambi,” karya Tim Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Propinsi Jambi (1990: 54), pada tahun 1947, di Jambi terbentuklah Dewan Pertahanan Daerah Keresidenan Jambi dengan susunan begini: Ketua Raden Inu Kertapati (Residen RI Jambi) dan Wakil ketua Kolonel Abunjani (Komandan Resimen 43 Jambi). Kemudian berdasarkan penetapan Presiden Soekarno pada 3 Juni 1947 tentang TRI menjadi TNI, Resimen 43 Jambi diubah menjadi Brigade Garuda Putih dalam jajaran Divisi VIII/ Garuda Sumatera Selatan. Kolonel Abunjani komandan Brigade Garuda Putih.

Lantas, dalam sebuah rapat pimpinan TNI Brigade Garuda Putih, strategi pertahanan untuk keresidenan Jambi diatur menjadi 3 bentuk, yakni: (1) Pertahanan minyak mentah, antara Kenali Asam-Kasang, Kenali Asam-Paal Merah, dan Tempino-Palembang, (2) Pertahanan barikade, di desa-desa Bayung Lincir, dan (3) Pertahanan fisik.

Pada strategi pertahanan fisik itulah dibentuk sebuah kompi sebagai inti pertahanan, yakni Kompi “Merdeka” di Muaro Tebo pimpinan Letnan Satu M Sayuti Makalam. Kompi Merdeka ini mampu bergerak kesana ke mari terutama untuk membantu Batalyon Sarolangun pimpinan Letnan Dua M Yustar. Kompi Merdeka itu dibagi menjadi empat seksi, salah satunya seksi pimpinan komandan Letnan Muda Aziz Larose (Lihat Tim DHD 45 Propinsi Jambi, 1990: 64). Prajurit bernama M Yusuf Lebai merupakan anggota Kompi Merdeka, yang mungkin sejak itu di bawah seksi Letnan Muda Aziz Larose.

Pada Oktober 1948, Kompi Merdeka dipindah-pusatkan ke Sarolangun untuk mencegah serangan NICA Belanda dari arah Sumatera Selatan (Lihat Adanhuri Mukti dkk, 2008: 80). Otomatis prajurit M Yusuf Lebai pindah ke Sarolangun. Perlu dicatat, sejak 1 Juni 1948, TNI Brigade Garuda Putih diganti menjadi TNI Sub Territorium Djambi (STD), tetap dengan komandannya Kolonel Abunjani. Dari Muaro Tebo, Kompi Merdeka membantu sepasukan pimpinan Letnan Satu H Hasan di Sarolangun dan Bangko. (Tim DHD 45 Propinsi Jambi, 1990: 68 & 72)

Pada 1949, terjadi penyerangan besar TNI STD (Sub Territorium Djambi) kepada markas Belanda di Durian Luncuk (sekarang di Kabupaten Batanghari). Berangkat dari Sarolangun pada 6 Februari 1949, pasukan TNI Sub Territorium Djambi (STD) baru menyerang Durian Luncuk pada 18 Februari 1949, hingga berhasil membunuh 20 dari 60 tentara Belanda (Lihat Tim DHD 45 Propinsi Jambi, 1990: 122-124).

Setelah peristiwa penyergapan Durian Luncuk tahun 1949 itu, rapat Komando Sub Territorium Djambi (STD) di Bangko menghasilkan kesepakatan untuk membentuk tiga batalyon di keresidenan Jambi, yakni: (1) Batalyon Gajah Mada pimpinan Mayor Brori Mansur di Bangko, (2) Batalyon Cindur Mato pimpinan Kapten Hasyim Alamlah di Muaro Tebo, dan (3) Batalyon Gatot Kaca pimpinan Mayor Z Rivai di Merlung. (Lihat Tim DHD 45 Propinsi Jambi, 1990: 106, 108, 127, 156, & 160)

Gajah Mada, Cindur Mato, dan Gatot Kaca?

Jadi, tahun 1949, TNI STD pimpinan Kolonel Abunjani sudah memiliki tiga batalyon. Salah satu Batalyon, yakni Batalyon Cindur Mato yang membentuk 3 seksi pasukan lagi, yakni: (a) Pasukan Sayang Terbuang (ST) pimpinan Letnan Muda Aziz Larose, (b) Pasukan Beruang Merah pimpinan Sersan Mayor Albert Silalahi di dusun Sengkati-Tebing Tinggi, dan (c) Pasukan B 17 pimpinan Sersan Mayor Kadet Parluhutan Lubis. (Lihat Tim DHD 45 Propinsi Jambi, 1990:110, 125, & 144)

Nah, Muhammad Yusuf Lebai menjadi anggota Pasukan Sayang Terbuang (ST) pimpinan Letnan Muda Aziz Larose, dengan teritori tugasnya meliputi antara Muaro Tebo dan Muaro Tembesi yang terkenal sebagai “Front Batanghari Area”.

Sebenarnya, Pasukan Sayang Terbuang ini terbentuk sejak jatuhnya Kota Jambi dan Muaro Tembesi pada 29 Desember 1948 kepada tentara NICA Belanda. Pasukan Sayang Terbuang berada di front terdepan menguasai daerah Sungai Bengkal dan Muaro Tebo menghadap Muaro Tembesi milik Belanda. Pasukan ini eksis hingga penghentian tembak menembak (Cease fire) pada 3 Agustus 1949 kelak.

Pasukan Sayang Terbuang, tempat kesatuan M Yusuf Lebai bertugas, merupakan pasukan paling disegani oleh tentara Belanda karena keberanian dan persenjataannya lebih lengkap daripada kesatuan Sub Territorium Djambi (STD) lainnya. Pihak Belanda cukup kenyang menghadapi penyusupan dan penghadangan oleh seksi Pasukan Sayang Terbuang di antara Muaro Tembesi dan Sungai Bengkal.

Jadi catat, Pasukan Sayang Terbuang pimpinan Letnan Muda Aziz Larose merupakan salah seksi dari Batalyon Cindur Mato di Muaro Tebo pimpinan Kapten Hasyim Alam.

Kongkritnya, sejak Januari 1949 Durian Luncuk (sekarang daerah Batin XXIV Kabupaten Batanghari) dikuasai Belanda dan 3 Februari 1949 kota Bangko dihujani tembakan oleh pesawat pemburu Belanda jenis Mustang, maka Pasukan Sayang Terbuang melakukan gerakan agresif di “BatangHari Area” (Lihat Tim DHD 45 Propinsi Jambi, 1990: 122 & 125; Menurut “Peta Sejarah Propinsi Jambi.” Karya Wiwik Kuswiah dkk 1990:12, perlawanan rakyat semesta di Durian Luncuk terjadi pada 2 Maret 1949)

Apa saja yang dilakukan oleh Pasukan Sayang Terbuang tempat Datuk Usuf Lebai ikut berjuang itu?

Pertama, pos Belanda di Pematang Gadung (sekarang nama desa di Kecamatan Mersam Kabupaten Batanghari) diganggu oleh Pasukan Sayang Terbuang. Gerakan kedua, ketika Belanda hendak menjepit TNI dari Sungai Batanghari dan dari jalan raya, justru Pasukan Sayang Terbuang mampu menjebak balik pasukan Belanda hingga terpojok di tepi Sungai Kasim dekat jerambah. Pasukan Sayang Terbuang berhasil membunuh 7 orang Belanda, kemudian menghilang bergerilya.

Pasukan Belanda marah kemudian menangkap beberapa penduduk Mersam, termasuk Ngebi Zakaria, dengan tuduhan telah membantu gerilyawan Pasukan Sayang Terbuang. Gerakan ketiga, Pasukan Sayang Terbuang selalu mengganggu patroli Belanda sepanjang Sungai Batanghari, yakni dari Muaro Tembesi hingga daerah Sungai Rengas. (Lihat Tim DHD 45 Propinsi Jambi, 1990: 125-126). Tidak diketahui apakah Muhammad Yusuf Lebai termasuk salah satu yang membunuh orang Belanda tersebut atau tidak, namun bisa dipastikan dia ikut memuntahkan beberapa peluru. Selain itu, aku juga belum tahu pula apakah pangkat M Yusuf Lebai masih seorang prajurit saat itu atau tidak.

Setelah Perjanjian Roem Royen, secara nasional tanggal 1 Agustus 1949, Indonesia dan Belanda sepakat gencatan senjata. Pada 3 Agustus 1949, Gubernur Militer Sumatera Selatan Dr. Adnan Kapau Gani memerintahkan untuk gencatan senjata dengan Belanda. Pada 5 September 1949, di ruangan kantor Bupati di Bangko ada perundingan antara Letkol A.G.W Navis dengan Local Joint Commitee pimpinan Kol. Abunjani. Hasilnya antara lain: Pasukan Cindur Mato berkumpul di Rantau Ikil dan Tanah Tumbuh, sedangkan Pasukan Sayang Terbuang akan menduduki Muaro Tebo (Lihat Tim DHD 45 Propinsi Jambi, 1990: 177-179).

Itulah kisah ringkas Datuk Muhammad Yusuf Lebai.

Sayangnya, rasanya, sewaktu aku kecil mengaji al-Quran bersamanya, tak pernah kudengar Datuk Usuf Lebai bercerita tentang dirinya pernah berperang menghadapi Belanda. Atau, barangkali pernah Datuk mencoba untuk bercerita, tetapi aku saja yang tidak tertarik mendengarkannya kala itu.

Aku teringat Film “Nagabonar Jadi 2” produksi tahun 2007, setahun setelah wafatnya Datuk M Yusuf Lebai. Dalam film itu, ada adegan si kakek pejuang atau si Nagabonar bercerita tentang perang-perangnya menghadapi Belanda kepada anaknya sopir bajaj si Umar. Anak kecil itu terbengong-bengong mendengarkan cerita semangat Nagabonar.

Tapi aku?

Hah, aku tak pernah terbengong-bengong dengar kisah perang melawan Belanda macam di film Nagabonar itu. Datuk Usuf Lebai tak pernah bercerita atau berapi-api seperti itu. Boro-boro kepadaku, cucunya sendiri, misal si Muhammad Subhi Sayuti saja, Datuk pun tak pernah bercerita bahwa ia mantan tentara nasional Indonesia angkatan 45.

Cucunya, si M Subhi itu, pada 8 Februari 2017, sedikit pernah bercerita kepadaku begini: “... O iyo Mas, bukannyo mau sombong yo, waktu awak masih sekolah dulu, ‘kan sering ikut ngawani Datuk ‘tuh. Awak tengok Datuk tu kalau ketemu tentara aktif atau pun (purnawirawan), biak pun lebih tinggi pangkat orang tu, tapi tetap orang tu yang lebih dulu hormat dengan Datuk. Sekarang awak baru tahu ngapo gitu, ternyato Datuk tu punyo bintang gerilya. Makonyo waktu beliau meninggal, mulai dari rumah, di mesjid, sampai di Taman Makam Pahlawan, itu semua pakai upacara militer dan salvo ke udara semua...”

Aku hanya ingin mencatat dan berusaha mengingat, waktu aku kecil, kalau Datuk Usuf Lebai lewat rumah bedeng Nurdin Hamzah dan melihat aku dan adikku duduk di lantai depan rumah, ia pernah bertingkah ingin mengejar-ngejar kami. Aku pun berlari masuk ke dalam rumah. Kadang-kadang dari dalam rumah, aku menggoda datuk yang lewat, “Datuk, dari manolah Tuuuk?”

Pun sewaktu belajar mengaji kepadanya di rumah bedeng, aku pun pernah mengerjai datuk Usuf Lebai yang tua itu. Masa tuanya, datuk Usuf pernah mengejar aku hendak menjewer telingaku dan aku berkilik ke sana kemari di antara kursi ruang tamu. Padahal, di masa mudanya, Datuklah yang berkilik-kilik mengincar dan membedil pasukan NICA Belanda di Jambi.

Ya, itulah di masa mudanya, Datuk Usuf Lebai siap membunuh orang Belanda dalam perang, sedangkan di masa tuanya, datuk Usuf Lebai siap untuk tidak membunuh “kesenangan” masa kecilku.

 

*Penulis merupakan pemerhati sejarah, alumnus Sejarah UGM Yogyakarta. Kini tinggal dan bekerja di Kota Jambi.


Tag : #Sejarah Jambi #Pejuang 45 #Guru Ngaji #Kemerdekaan RI #Tokoh Jambi



Berita Terbaru

 

Senin, 16 Juli 2018 21:34 WIB

PAW Hasan Ibrahim Sebagai Anggota DPRD Provinsi Telah Diusulkan ke KPU


Kajanglako.com, Jambi - DPW PPP Provinsi Jambi telah mengusulkan Pergantian Antar Waktu (PAW) Hasan Ibrahim sebagai Anggota DPRD Provinsi Jambi.   Dari

 

Pemilu 2019
Senin, 16 Juli 2018 21:00 WIB

Daftarkan 34 Bacaleg ke KPU Sarolangun, PPP Targetkan Kursi Ketua DPRD


Kajanglako.com, Sarolangun - Memasuki H-2 penutupan pendaftaran Bakal Calon Legislatif, PPP merupakan partai perdana yang melakukan penyalinan softcopy

 

Senin, 16 Juli 2018 20:26 WIB

Ihsan Yunus Soroti Urgensitas Penyelamatan BUMN 'Sakit'


Kajanglako.com, Jakarta - Senin, 16 Juli 2018, Komisi VI DPR-RI melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) selaku

 

Senin, 16 Juli 2018 19:20 WIB

Nekat, Oknum Staf Kesbagpol Palsukan Tandatangan Bupati CE untuk Cairkan Dana LSM dan OKP


Kajanglako.com, Sarolangun - Akibat tak kunjung cair dana LSM dan OKP, oknum Staf Kantor Kesbangpol Kabupaten Sarolangun nekat memalsukan tandatangan Bupati

 

Perampokan Bersenpi
Senin, 16 Juli 2018 14:11 WIB

Breaking News! Siang Bolong Perampok Gasak Tokoh Emas di Tabir Selatan


Kajanglako.com, Merangin - Perampokan toko emas terjadi di pasar SPC, Kecamatan Tabir Selatan, Senin (16/7) siang ini. Kawanan perampok yang informasinya