Rabu, 26 September 2018


Rabu, 14 Maret 2018 14:23 WIB

Pemukiman Kuno: Koto Kandis, Muaro Jambi dan Solok Sipin (I)

Reporter :
Kategori : Jejak

Situs Solok Sipin. Kondisi situs terhimpit di pemukiman warga

Oleh: Arif Rahim*

Kajian sejarah pada umumnya menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia (termasuk Sumatera) berasal dari Hindia belakang, daerah pedalaman Asia Tenggara atau Taiwan (Gusti Asnan, Sungai dan Sejarah Sumatra, 2016: 46-47).



Mereka berpindah melalui laut dan sungai-sungai besar dan menyebar memasuki berbagai daerah kepulauan Nusantara. Untuk wilayah Sumatera kedatangan mereka diyakini melalui laut Cina Selatan dan selanjutnya memasuki perairan pantai timur Sumatera, terutama perairan selat Malaka dan selat Karimata. Selanjutnya memasuki berbagai muara sungai-sungai Sumatera dan menyusurinya hingga ke hulu.

Pada umumnya sungai-sungai besar Sumatera berhulu di pedalaman sebelah barat dan bermuara di pantai timur. Kendati kedatangan penduduk begerak dari daerah pantai atau hilir di timur, pemukiman-pemukiman tertua di pulau Sumatera justru ditemukan di daerah pedalaman.

Pemukiman-pemukiman tertua itu adalah berupa goa-goa yang berlokasi pada kawasan yang tidak jauh dari aliran sungai. Tentu saja ada banyak goa alam yang kemungkinan pernah mereka tempati. Namun sejauh ini baru lima lokasi yang sudah dipastikan para ilmuwan (arkeolog) sebagai daerah hunian manusia tertua itu (Gusti Asnan, Sungai...,2016 :54-55).

Kelima lokasi tersebut berada di kawasan hulu Batang Mahat (Batang Kampar), dan kawasan Balubuih di Lima puluh Kota, daerah kawasan hulu sungai Ogan (anak sungai Musi) serta di kawasan Sukumun Dusun (Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan). Untuk kawasan aliran sungai Batanghari ialah daerah hulu Batang Sangir, Solok Selatan, Sumatera Barat.

Di dalam goa-goa itu ditemukan bekas-bekas kehidupan berupa tinggalan berbagai alat yang pernah mereka gunakan. Dalam satu goa ditemukan lebih dari 3000 benda. Hal yang sama ditemukan juga di kawasan hulu sungai Ogan.

Pada beberapa goa alam yang terdapat di kabupaten Lima puluh Kota, temuan-temuan arkeologi dengan mudah bisa ditemukan. Bila tanah dasar goa dicongkel dengan bilah kecil (potongan bambu) atau digali sedikit saja maka berbagai tinggalan tersebut akan bisa didapati.

Di daerah Kerinci dan Merangin, di antaranya, di Sungai Tenang banyak ditemukan tinggalan arkeologis yang tergolong pada kebudayaan Megalitik. Yang paling banyak ditemukan adalah berupa batu selindrik, atau disebut batu larung oleh penduduk setempat. Menurut arkeolog keberadaan benda megalitik tersebut berfungsi sebagai pusat ritual. Selain itu, ditemukan pula tinggalan berupa tembikar, alat besi, batu giling, dan alat serpih dari obsidian, maupun batu rijang.

Berdasarkan tinggalan-tinggalan tersebut dapat diindikasikan adanya perkampungan atau hunian suatu komunitas manusia masa lalu (Nurhadi Rangkuti, Kerincimu  Kerinciku Dataran Tinggi Jambi Dalam Perspektif Arkeologi, 2016: 76-77). Tentang terbentuknya Pemukiman awal di pedalaman disebabkan karena sebagian besar kawasan pantai timur Sumatera (terutama bagian tengah dan selatan), bukanlah bukanlah negeri yang diimpikan oleh para migrant tersebut sewaktu mereka meninggalkan negeri asalnya.

Kondisi alam dan lingkungan fisik kawasan tersebut tidak sama dengan negeri yang mereka tinggalkan. Negeri asal mereka di Asia Tenggara adalah daerah pedalaman (darat) yang memungkinkan mereka mengembangkan kehidupan agraris (setidaknya menggantungkan hidup pada berburu dan mengumpulkan hasil tanah darat). Di samping itu, daerah asal di pedalaman Asia Tenggara tersebut juga menyediakan air tawar yang layak konsumsi dalam jumlah melimpah, serta lingkungan fisik lainnya yang lebih sehat.

Ketika mereka sampai di kawasan timur (bagian tengah dan selatan) pulau Sumatera mereka mendapati kondisi alam dan lingkungan fisik yang jauh berbeda dengan tempat asal mereka. Akan tetapi, para migran itu mendapati sungai-sungai berukuran luas yang dapat dilayari. Dengan semangat petualangan yang masih membara mereka melanjutkan pelayaran mereka mencari tanah impian dengan memudiki sungai-sungai tersebut hingga mencapai ratusan kilo ke pedalaman.

Perjalanan mereka baru mulai berhenti ketika ditemui tanah yang relatif stabil (keras), dan daerah yang jauh lebih sehat, serta adanya air tawar dalam jumlah melimpah. Selain itu di kawasan tersebut juga tersedia gua-gua alam yang dapat dijadikan sebagai tempat tinggal (Gusti Asnan, Sungai dan Sejarah.., 2016: 49-50).

Koto Kandis, Muaro Jambi dan Solok Sipin

Situs Koto Kandis terletak sekitar 100 Km dari Jambi ke arah muara, tepatnya di tepi sebelah timur Sungai Nyiur yang merupakan cabang dari sungai Batanghari. Di Koto Kandis terdapat situs pemukiman yang tidak begitu luas namun cukup padat. Perkiraan itu didasarkan pada banyaknya ditemukan pecahan-pecahan tembikar, dan beberapa di antaranya masih utuh berbentuk kendi. Dalam sebuah tempat ekskavasi berukuran 2 x 2 meter ditemukan 5 buah kendi utuh.

Temuan-temuan ini juga menunjukkan bahwa daerah-daerah ini sudah dimukimi sekurang-kurangnya sejak abad 10 M. Keramik ditemukan di tepi sungai dan daratan tanggul alam sepanjang 100 meter dan lebar 50 meter. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemukiman yang yang terbentuk di area ini adalah pemukiman dengan pola memanjang.

Situs Koto Kandis di temukan tahun 1981, berawal ketika seorang anak bermain di tepian sungai dan menemukan sebuah arca perunggu. Berdasarkan langgamnya arca ini berlanggam Cola, yang diperkirakan bersal dari abad 13. Dari ciri dan atributnya diketahui bahwa arca tersebut adalah arca dipalaksmi.

Tinggalan lain yang ditemukan adalah pecahan botol mercuri. Mercuri adalah bahan utama yang digunakan dalam pengerjaan emas. Dengan demikian dapat dikatakan pula bahwa penduduk Koto Kandis pada masa itu terlibat dalam kegiatan perdagangan terutama perdagangan emas.

Berdasarkan kajian arkeologis, lokasi pemukiman Koto Kandis berada di rawa-rawa belakang (back swamp). Berhubung bangunan terbuat dari bahan-bahan yang cepat rusak (kayu,bamboo, lalang, dll) sisa-sisa bangunan sangat sedikit yang ditemukan.

Situs percandian Muaro Jambi terdapat di tepian sungai Batanghari. Secara administratif termasuk ke dalam kabupaten Muaro Jambi. Situs ini mencakup areal yang cukup luas, meliputi sekitar 12 km peregi. Areal situs terdiri dari komplek percandian yang dikelilingi tembok pagar keliling, serta sejumlah menapo-menapo kecil lainnya. Sejumlah candi yang terdapat dalam areal kemplek tersebut adalah Candi Teluk, Candi Kembar Batu, Candi Gedong, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kedaton, dan Candi Koto Mahligai. Yang agak terpisah letaknya adalah Candi Astano, Menapo Melayu, dan menapo-menapo kecil lainnya.

Situs Percandian Muaro Jambi merupakan situs keagamaan bercorak Budhistis. Hal itu berdasarkan pada landskap yang menggambarkan  keserasian antara makro kosmos ( jagad raya) dan mikro kosmos (dunia manusia). Pengertian kosmos dari percandian Muaro Jambi digambarkan dalam bentuk arsitektur candi yang merupakan replika dari jagad raya. (Bambang Budi Utomo, Batanghari Riwayatmu Dulu”, Makalah disampaikan pada Seminar Sejarah Melayu Kuno, 1992: 167).

Penelitian arkeologi yang dilakukan sepanjang tahun 1981-1986 menghasilkan sisa-sisa pemukiman di barat daya/selatan Candi Astano, timur dan barat Candi Tinggi, selatan Candi Gumpung, selatan Candi Kembar Batu, dan Utara Candi Teluk. Dekat dengan tepian sungai Batanghari ditemukan sisa bangunan bata yang tidak permanen dengan denah seperti huruf L, yang kakinya ke arah selatan pada dua sisi lantai bangunan terdapat lubang yang diperkirakan bekas kayu. Diperkirakan merupakan tempat tinggal pengelola bangunan Candi Teluk. (Bambang Budi Utomo, Batanghari Riwayatmu Dulu...,1992 : 169).

Menurut konsep agama Budha pemukiman seharusnya terletak di selatan Gunung Mer (disimbolkan dengan bangunan Candi), yang dalam penggambarannya terletak di selatan Candi Astana. Namun kenyataannya tidak semua sisa pemukiman terletak di selatan bangunan candi. Di sisi utara Batanghari temuan sisa pemukiman sebagian besar memang terdapat di selatan Candi.

Namun pada sisi selatan Batanghari temuan sisa pemukiman justru terletak di utara candi. Menurut para ahli hal ini bisa saja terjadi karena pemukiman dibentuk biasanya mendekati sungai. Dengan demikian penerapan konsep agama Budha mengenai gambaran jagad raya tidak ketat (Bambang Budi Utomo, Batanghari Riwayatmu Dulu..,1992: 170).

Situs pemukiman lainnya untuk kawasan hilir berada di wilayah Jambi kota, terletak l.k 200 meter dari tepian sungai Batanghari. Berbeda dengan daerah-daerah Koto Kandis dan Muaro Jambi yang mana arealnya berupa dataran rendah dan rawa-rawa, Solok Sipin merupakan sebidang tanah berbukit-bukit dan tidak rata. Pada lokasi ini ditemukan sisa bangunan batu arca Budha dari batu andesit serta empat buah makara dari bahan yang sama, yang diperkirakan berasal dari abad ke 8 M.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut diperkirakan di lokasi ini juga merupakan lokasi pemukiman penduduk. Namun karena letak situs ini berada di tengah pemukiman penduduk yang padat maka para arkeolog belum berhasil menampakkan denah seluruh bangunan. (Bambang Budi Utomo, Batanghari Riwayatmu Dulu..,1992: 171).

Terbentuknya pemukiman-pemukiman kuno di Koto Kandis, Muaro Jambi dan Solok Sipin tak terlepas dari posisinya yang strategis, yakni di dekat selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional, serta di muara sungai Batanghari yang merupakan jalan raya yang menghubungkan antara pesisir timur sebagai kawasan perdagangan dan daerah pedalaman sebagai daerah penghasil komuditas perdagangan.

Dalam perkembangan selanjutnya pemukiman pemukiman kawasan hilir terutama Muaro Jambi tidak hanya berkembang sebagai pemukiman semata, melainkan tumbuh sebagai pusat kerajaan, Bandar perdagangan, dan pusat pendidikan agama Budha (Bambang Budi utomo, Batanghari Riwayatmu Dulu..,1992 :187).

 

Pengantar redaksi:

Penulis (Arif Rahim, M.Hum) merupakan pengajar sejarah di FKIP Universitas Batanghari. Tulisan di atas merupakan penelitian kepustakaan penulis mengenai Pemukiman-Pemukiman Kuno di Daerah Aliran Sungai (DAS)Batanghari. Pertama kali terbit di Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari, Jambi, Vol.17 No. 3 Tahun 2017. Uraian penulis di atas menjawab faktor-faktor yang mendorong munculnya pemukiman di sepanjang daerah aliran sungai Batanghari serta keberadaan dan peranan pemukiman tersebut dalam perspektif sejarah. Pemuatan di sini bertujuan memasyarakatkan literatur-literatur tentang Jambi. Tulisan di atas perlu dibaca secara cermat, sesuai konteks seraya menimbang pelbagai kajian dan publikasi dengan tema serupa lainnya yang terbit sebelum, semasa dan hingga sekarang. Redaksi melakukan penyuntingan seperlunya. Bagian II dari artikel ini akan tayang Kamis, 15 Maret 2018. 


Tag : #Situs Solok Sipin #Percandian Muarojambi #DAS Batanghari #Jambi #Nusantara #Sumatra



Berita Terbaru

 

Rabu, 26 September 2018 08:28 WIB

Ditandatangani CE, PAW 7 Anggota DPRD Sarolangun Diusulkan ke Gubernur


Kajanglako.com, Sarolangun - 7 Anggota DPRD Sarolangun aktif yang kembali maju di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, namun pindah partai politik, akan

 

Pasar Angsoduo Modern
Rabu, 26 September 2018 08:05 WIB

26 Oktober Pedagang Mulai Berjualan di Angsoduo Baru


Kajanglako.com, Jambi - Relokasi pedagang ke Pasar Angso Duo baru mulai dilakukan, PT Eraguna Bina Nusa (EBN) memastikan pedagang mulai berjualan pada

 

Selasa, 25 September 2018 18:04 WIB

Sosialisasi Pemilu Damai di Bungo, Kapolda: Berbeda Pilihan, Jangan Merusak Persaudaraan


Kajanglako.com, Bungo - Kapolda Jambi, Irjen Pol Muchlis. Mensosialisasikan bahaya Radikalisme, Terorisme dan Pemilu Damai ke Kabupaten Bungo.    Kedatangan

 

Kekerasan Terhadap Jurnalis
Selasa, 25 September 2018 15:05 WIB

Penyidikan Kasus Ancaman Pembunuhan Wartawan, Camat Marosebo Ulu Berhalangan Hadir


Kajanglako.com, Batanghari - Polres Batanghari terus melakukan penyelidikan terhadap kasus ancaman pembunuhan wartawan yang dilakukan oknum ASN Kantor

 

Selasa, 25 September 2018 13:43 WIB

Penjual Emas PETI Diamankan saat Tunggu Pembeli di Pinggir Jalan


Kajanglako.com, Merangin - Polisi Resor Merangin mengamankan dua orang penjual emas hasil pertambangan ilegal. Pelaku diamankan di wilayah Kelurahan Pasar