Senin, 21 Mei 2018


Sabtu, 10 Maret 2018 07:14 WIB

Kendala Dana dan Situasi Politik (Ekspedisi Sumatra Tengah 1877)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Dari 23 orang Belanda yang mengirimkan lamaran untuk ikut serta di dalam Ekspedisi Sumatra Tengah, Letnan J Schouw Santvoort dipilih untuk menjadi pemimpinnya. Karena cakupan penelitian yang akan dilakukan begitu luas, AL van Hasselt—seorang Kontrolir--diangkat untuk menjadi pemimpin kedua, membantu Schouw Santvoort.  Schouw Santvoort akan bertanggung jawab atas penelitian sungai dan daerah aliran sungai, sedang van Hasselt memimpin penelitian di darat, terutama di daerah dataran tinggi.



Untuk keperluan penelitian sungai dan daerah alirannya, pemerintah menyediakan sebuah kapal uap yang ditata dan dilengkapi dengan peralatan, sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan van Schouw Santvoort. Kapal itu dipersiapkan dan diberangkatkan menuju nusantara di bulan Oktober 1876.

Ir DD Veth dan ahli zoologi, JF Snelleman  bekerja di dalam kelompok van Hasselt. Pekerjaan mereka akan dimulai di dataran tinggi Padang, lalu terus ke daerah-daerah di Djambi. Selain sebagai pemimpin tim, van Hasselt sendiri akan meneliti aspek pertanian, linguistik dan etnografi. DD Veth mengerjakan penelitian geografi dan geologi. Karena ekspedisi itu tidak membawa pelukis, sebuah kamera disediakan. DD Veth juga bertugas menjadi fotografer.

Di awal 1877, rombongan tim ekspedisi itu berangkat menuju Padang. Maatschappij Nederland  yang mereka tumpangi menuju nusantara juga merupakan maskapai pelayaran yang mengirimkan kapal uap ekspedisi itu. Pengiriman kapal uap itu sama sekali gratis, sebagai sumbangan perusahaan untuk keperluan ekspedisi.

Ketika tim penjelajah meninggalkan Belanda, bendahara ekspedisi telah berhasil mengumpulkan dana yang cukup untuk membiayai penjelajahan selama setahun. Akan tetapi, menurut rencana, ekspedisi itu memerlukan waktu dua tahun. Karena itu, sementara anggota-anggota tim memulai penjelajahan, usaha mengumpulkan dana terus dilakukan.

Laporan-laporan yang dikirimkan secara teratur dari lapangan dan diterbitkan di dalam berbagai harian dan jurnal KNAG membuat rakyat Belanda semakin lama semakin tertarik dengan jalannya penjelajahan itu. Semakin banyak saja orang yang bersedia membuka kocek untuk menambah dana ekspedisi itu. Akhirnya, seluruh kegiatan tim Ekspedisi Sumatra Tengah memakan waktu hampir dua tahun: dari 1 Agustus 1877 sampai tanggal 7 Maret 1879.

Penjelajahan Ekspedisi Sumatra Tengah akhirnya diterbitkan menjadi beberapa buah buku. Perpustakaan KITLV dan Asia Library di Universitas Leiden menyimpannya, akan tetapi buku-buku itu hanya bisa dibaca di ruang naskah saja. Untunglah, kini semuanya sudah diunggah di internet.

Untuk Kajanglako, buku jilid kedua—yang menceritakan awal penjelajahan—diolah dalam rubrik ‘Telusur Jambi’. Perlu dicatat, bahwa hanya bagian-bagian yang kiranya relevan untuk Jambi yang akan dibaca bersama. Bab kedua, berjudul ‘de Politieke Toestand van Midden Sumatra, tijdens de Uitrusting der Expeditie’ (‘Situasi Politik di Sumatra Tengah pada waktu Ekspedisi’) ditulis oleh Prof. PJ Veth, seorang ahli etnografi dari Leiden. Bab inilah yang akan membuka cerita mengenai penjelajahan itu.

PJ Veth menjelaskan bahwa penjelajahan Ekspedisi Sumatra Tengah membawa pengetahuan dan bahan penelitian yang luar biasa banyaknya: berbagai peta, manuskrip bertulis tangan, foto, lukisan dan gambar, tanaman, aneka binatang, spesimen hasil tambang dan bebatuan, benda-benda etnografi.

Semua itu digambar, difoto atau dikumpulkan sendiri oleh para penjelajah. Hebatnya pula, semua barang yang dikirimkan dari nusantara sampai dengan selamat ke kantor KNAG di negeri Belanda, bahkan lempengan-lempengan kaca berisi sekitar 300 foto yang dibuat oleh DD Veth hampir semua utuh tiba di alamat tujuan.

Kenyataan ini mengagumkan dan menggembirakan mengingat bahwa ketika Raffles mengirimkan dokumentasi penelitian, benda-benda etnografi serta spesimen flora dan fauna dari Bengkulu, kapal pengangkutnya karam dan semua benda itu hilang dan hancur ditelan Samudera Hindia.

Oleh kabar adanya situasi politik yang tidak stabil, Rapat Umum KNAG di Belanda melarang tim penjelajahan itu mendatangi lembah Korintji. Selama penjelajahan berlangsung, larangan terus diberlakukan. Apa boleh buat. Daerah itu tak dapat dijelajahi sama sekali.

Akan tetapi, ternyata di lapangan, acapkali terdengar berita mengenai daerah Korintji yang membuat anggota-anggota tim itu mempertanyakan larangan tadi. Di lapangan, di Sumatra, banyak orang berpendapat bahwa justeru daerah Korintji—bila para penjelajah itu awas dan berhati-hati—aman-aman saja didatangi.

Banyak daerah di lembah Korintji (yang belum dikuasai Belanda) bahkan dianggap lebih aman daripada beberapa daerah Djambi yang sudah dijajah. Banyak wilayah Djambi, yang kuat mendukung Sultan Taha, yang lebih menakutkan. Namun demikian, KNAG mematuhi kebijakan pemerintah (Hindia-Belanda) yang mengeluarkan larangan itu.

Sejak dahulu kala, Kesultanan Djambi berbatasan dengan Kesultanan Minangkabau. Ketika VOC melebarkan sayap ke beberapa tempat di pesisir barat Sumatra, daerah di antara pesisir timur sampai ke Dataran Tinggi Padang dikuasai oleh Kesultanan Djambi. Di mana persisnya batas di antara keduanya tampaknya tidak dapat ditentukan dengan pasti. Rimba raya yang luas dan belantara lebat membagi-bagi dan membatasi permukiman kedua kesultanan itu. Barangkali prinsip siapa yang lebih dulu membuat permukiman merupakan patokan yang menentukan apakah suatu wilayah termasuk ke dalam wilayah kesultanan yang satu atau yang lain.

Orang Melayu dari Minangkabau mendirikan permukiman di daerah-daerah belantara yang tidak dapat dirintis oleh orang Djambi karena penduduknya yang terlalu sedikit untuk melakukan itu. Upaya menjaga hubungan dengan tempat asal nenek-moyang mereka membuat orang Djambi tak terlalu menuntut penjabaran ketat atas batas-batas daerah.

Nyatanya, di Batang Asei dan Limoen terdapat masyarakat yang (masih) mengaku berasal dari Minangkabau. Mereka bahkan berkomunikasi dengan dialek Minangkabau yang kental. Walaupun demikian, daerah-daerah terpencil ini merupakan bagian dari wilayah Djambi. Seberapa dekat hubungan orang-orang ini dengan tempat asal nenek-moyangnya? Hal ini akan diungkapkan oleh tim penjelajahan itu.

*Catatan penulis: ekspedisi ini termasuk salah satu ekspedisi pertama yang membuat foto-foto dari penjelajahan mereka. Sebagian besar foto Sumatra Tengah dan Djambi abad ke-19 yang kini dapat diketemukan merupakan hasil karya DD. Veth.

 *Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.

*Sumber foto: Kapal Uap Penjelajahan di Sungai Batanghari, 1877-1879 ( dalam buku “Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879”).


Tag : #AL van Hasselt #Letnan J Schouw Santvoort #Batang Asei #Jambi #Sumatra



Berita Terbaru

 

Senin, 21 Mei 2018 14:28 WIB

Sekda Tanggapi Kabar Monopoli Bank Jambi di Pasar Angso Duo Baru


Kajanglako.com,  Jambi - Terkait beredar kabar di masyarakat bahwa pihak Bank Jambi disebut memonopoli PT EBN, dalam pengelolaan kredit tokok dan

 

Senin, 21 Mei 2018 14:21 WIB

Masalah Pemindahan Pedagang Angsoduo, Ini Kata Sekda Dianto


Kajanglako.com, Jambi - Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, M Dianto angkat bicara terkait permasalahan pemindahan pedagang Pasar Angso Duo lama ke Pasar

 

Senin, 21 Mei 2018 14:13 WIB

Hingga Pendaftaran Tutup, Hanya Satu Nama Mencalonkan Jadi Ketua KNPI Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Dewan Pengurus Daerah (DPD) II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bungo, siap menggelar Musyawarah Daerah (Musda)

 

Senin, 21 Mei 2018 13:58 WIB

Shoft Lounching Kantor Imigrasi, Bupati Bungo: Warga Urus Paspor Lebih Mudah


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, H Mashuri, secara resmi melaksanakan Soft Launching Kantor Imigrasi Kabupaten Bungo, Senin 21 Mei 2018.  Dengan

 

Senin, 21 Mei 2018 13:31 WIB

Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Fachrori Ajak Generasi Muda Teladani Bung Tomo


Kajanglako.com, Jambi - Plt Gubernur Jambi, Fachrori Umar, Senin (21/5) pagi memimpin upacara Hari Kebangkitan Nasional ke-110 di lapangan Kantor Gubernur