Rabu, 18 Juli 2018


Senin, 05 Maret 2018 17:25 WIB

Membaca Peta Mengenali Sejarah

Reporter :
Kategori : Oase Esai

Ilustrasi. Peta lama Jambi masa Keresidenan.

Oleh: Wiwin Eko Santoso*

Dua hari lepas, saya membeli peta Kota Jambi dan Provinsi Jambi di toko buku Tropi. Peta Kota Jambi edisi 2016 itu dicetak dan diterbitkan oleh CV. Indo Buwana.



Kalau dibandingkan dengan peta edisi 2012 dan 2013, jelas bedanya. Peta Kota Jambi itu memuat delapan kecamatan, yakni: Kecamatan Danau Teluk, Kecamatan Jambi Selatan, Kecamatan Jambi Timur, Kecamatan Jelutung, Kecamatan Kotabaru, Kecamatan Pasar Jambi, Kecamatan Pelayangan, dan Kecamatan Telanaipura.

Sementara Peta Kota Jambi yang saya beli beberapa hari lalu itu, Kota Jambi memiliki 11 Kecamatan, yakni; Kecamatan Danau Teluk, Kecamatan Jambi Selatan, Kecamatan Paal Merah, Kecamatan Jambi Timur, Kecamatan Jelutung, Kecamatan Kotabaru, Kecamatan Alam Berajo, Kecamatan Pasar Jambi, Kecamatan Pelayangan, Kecamatan Telanaipura, dan Kecamatan Danau Sipin. Perbedaan keduanya

Nah, bagaimana dengan Peta Provinsi Jambi?

Mau tak mau, saya harus membeli dua versi. 3 Maret 2018, saya membeli Peta Provinsi Jambi tertulis sebagai “didistribusikan oleh Tropi dan Trona Toko Buku. Selang sehari setelahnya,  saya membeli Peta Provinsi Jambi di toko Gramedia yang diterbitkan dan diterbitkan oleh PT Karya Pembina Swajaya. Rupanya, kedua peta saling melengkapi.

Kedua itu sama-sama tidak ada Pulau Berhalanya (Berbeda dengan Peta yang saya beli tahun 2008). Tentu Anda masih ingat putusan Mahkamah Konstitusi yang memenangkan Kepri terhadap Jambi dalam sengketa kepemilikan pulau eksotis itu).

Peta Provinsi Jambi terbitan Tropi-Trona diberi Insert di pojok kanan bawah berjudul “[Kota] Jambi Kawasan Pusat Kegiatan”, sedangkan Peta Provinsi Jambi dari Gramedia diberi insert berupa index nama-nama tempat.

Dalam hal tertentu, misalnya, anak sungai bernama Sungai Air Hitam, yang posisinya sekitar dari Bangko hingga sekitar selatan Taman Nasional Bukit Duabelas—tercantum. Ini berbeda dengan Peta Provinsi Jambi edisi yang saya beli tahun 2008, tidak dicantumkan nama Sungai Air Hitam itu. Itu contoh kecil.

Kemudian, saya mengecek jalan kecil, selain jalan raya atau jalan arteri, yakni jalan kolektor atau jalan lokal. Dalam hal tertentu, misalnya, pada Peta Provinsi Jambi terbitan Tropi-Trona itu tidak dicantum “jalan kolektor dari Simpang Tuan menuju ke Kuala Tungkal atau ke Muaro Sabak. Sementara itu, Peta Provinsi Jambi dari toko Gramedia diberi atau dicantum rute ‘jalan kolektor dari Simpang Tuan hingga Kuala Tungkal atau ke Muara Sabak. Di situ perbedaannya.

Peta Provinsi Jambi terbitan Tropi-Trona diberi nama-nama sungai kecil, sedangkan Peta Provinsi Jambi dari Gramedia kalah banyak penamaannya. Contohnya, di Peta Provinsi Jambi terbitan Tropi-Trona ada nama Sungai Banyu, yang ada di arah tenggara Betungbedarah.

Hanya saja, Peta Provinsi Jambi dari toko Gramedia yang diterbitkan oleh PT Karya Pembina Swajaya, ada teks profil singkat Provinsi Jambi, misalnya informasi di bidang sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Hemat saya, Peta Provinsi Jambi ini penting. Dulu, dalam pembacaan Peta Provinsi Jambi, saya sering, hingga kini, dibuat bingung oleh kemiripan nama-nama tempat. Ambil misal, nama Tebing Tinggi, yang saya baca ada di empat titik, yakni di baratnya ibukota Kabupaten Muaro Bulian, di timur lautnya, lalu di baratnya ibukota Kabupaten Muaro Bungo (dulu?), dan di utaranya Merlung.

Nama Pemusiran ada di baratnya Nipah Panjang dan di timur laut Sarolangun. Nama Puding ada di tenggaranya Kota Jambi dan di tenggaranya Muaro Sabak. Nama Betung ada di tenggaranya Londerang dan ada di selatan kota Muaro Bulian. Nama Limbur ada di timur laut Bangko, di tenggara Bangko, dan juga di barat Muaro Bungo.

Begitu juga nama Rantau Panjang ada di barat lautnya kota Muaro Bungo, ada di timurnya Jangkat, dan di tenggara Jangkat. Ada juga nama desa Sungai Terap di timurnya Kota Jambi dan di barat laut Kuala Tungkal. Nama ‘desa’ Simpang di arah tenggaranya Muara Sabak Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan di barat lautnya Jangkat yang dekat dengan Sungai Siau dan sungai Duku.

Terkadang, selain Peta Provinsi Jambi, kita butuh peta-peta lain untuk mengetahui detail sungai-sungai kecil tertentu. Contoh, Sungai Pemusirandalam yang berlokasi di timurnya Muara Sabak, itu terlihat di Peta Provinsi Jambi. Hanya saja, anak dari Sungai Pamusirandalam seperti Sungai Raya dan Sungai Belida, itu tidak nampak, kecuali misal di lampiran karya ilmiah si Junus Satrio Atmodjo berjudul “Lanskap Pemukiman Rawa Pesisir Masyarakat Jambi Abad XI-XIII”, disertasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Pasca Sarjana Pengkhususan Arkeologi Universitas Indonesia, halaman 380.

Di dekat Nipah Panjang, itu ada anak Sungai Batang Berbak yakni Sungai Sadu. Nah, ini tidak terlihat di Peta Provinsi Jambi. Apalagi, anak sungai Sadu, yakni Sungai Batu Api (itu saya lihat nampak di lampiran disertasi si Junus Satrio Atmodjo berjudul “Lanskap Pemukiman Rawa Pesisir Masyarakat Jambi Abad XI-XIII” tadi.

Kesadaran historikal juga harus dibarengi dengan kesadaran spasial. Saya tidak terlalu yakin, apakah siswa kelas XII atau mahasiswa di Jambi dapat menjawab dengan cepat di mana itu Dusun Tengah dan Lubuk Rusa di Peta Provinsi Jambi? Kalau mereka tahu dua tempat itu berada di arah barat kota Jambi dan di pinggir Sungai Batanghari, maka saya tidak akan bertanya pernah ke sana atau tidak, melainkan peristiwa sejarah apa yang perlu diingat di situ?

Di Dusun Tengah ada rumah tempat tinggalnya Sultan Ahmad Nazarudin (1858-1881), pamannya Sultan Thaha Saifudin (1855-1904). Ingat, di daerah Jambi kala itu, Sultannya ada dua orang. Pada tahun 1866, Sultan Ahmad Nazaruddin pernah mengirim surat kepada pihak Belanda via Residen Palembang untuk pengampunan bagi Sultan Thaha. Itulah Sultan Ahmad Nazarudin di Dusun Tengah.

Sebagai “sultan bayang”, takala Sultan Ahmad Nazarudin tinggal di Dusun Tengah, ia jarang ke Kota Jambi. Karena itu, Sultan Ahmad Nazarudin menunjuk wakilnya di ibukota Jambi, yakni Pangeran Wirokusumo, menantunya. Sementara itu, Sultan Thaha tetap berkuasa di daerah hulu, yang markas utamanya di Pematang (Nah, mari lihat Peta Provinsi Jambi mana itu Pematang?)

Bagaimana peristiwa di Lubuk Rusa? Setelah Sultan Thaha wafat tahun 1904, rakyat memilih Pangeran Prabu sebagai pengganti Sultan Thaha, dan memilih Raden Mat Tahir sebagai Pengeran Ratu. Pangeran Prabu mendapat tekanan berat dari Belanda karena ipar laki-lakinya Raden Muhammad Kasim yang tinggal di Lubuk Rusa diketahui berkomplot dengan kelompok pejuang Raden Mat Tahir. Lubuk Rusa itu dekat dengan Dusun Tengah.

Saya juga tidak terlalu yakin, apakah siswa atau mahasiwa Jambi dapat dengan cepat menunjukan kepada saya di Peta Provinsi Jambi mana itu kampung atau desa Simpang? Kalaupun dapat menunjukan, saya akan tanya, ada apa dengan kampung Simpang itu?

Baiklah. Kampung Simpang itu berada di simpang belahanan ujung atau hilir Sungai Batanghari, yakni antara Sungai Niur dan Sungai Berbak. Dari kampung Simpang belok kanan atau timur melewati Sungai Berbak lalu ke utara akan sampailah di Nipah Panjang, sedangkan belok kiri atau barat melewati Sungai Niur akan sampailah di pelabuhan Muara Sabak.

Dulu, kampung Simpang menjadi tempat penting bagi Orang Laut, karena kampung itu merupakan gerbang atau titik awal pedagang laut untuk memasuki daerah hulu Jambi melalui Sungai Batanghari. Hulu Jambi sebagai penghasil lada menjadi daerah rahasia bagi orang Eropa.

Sejak Orang Laut sebagai pemandu lokal menuntun orang Portugis berhubungan dengan Raja (Sultan Jambi), maka rahasia itu menjadi milik orang Portugis. Dari kampung Simpang itu pula, Orang Laut berperan sebagai pendayung perahu raja, penyampai surat, hadiah, dan pemegang informasi. Begitulah tulis Barbara Watson Andaya. Kampung Simpang tempat makam Orang Kayo Hitam berada. Kelak, orang Belanda VOC membuat kantor dagang di kampung Simpang.

Nah, di Kampung Simpang, Februari 1760, pernah disinggahi oleh 11 kapal  besar Bugis dengan 400 orang prajuritnya. Sejak itu, sentimen anti VOC semakin kencang karena adanya persekutuan orang Bugis dengan Sultan Anum Seri Ingalogo (1770-1790).

Saya tidak yakin, apakah siswa atau mahasiswa di Jambi akan mampu menunjukkan secara cepat di mana itu kampung Sungai Baung?

Baiklah. Kampung Sungai Baung berada di arah baratnya kota Sarolangun sekarang. Daerah ini tidak jauh dengan perbatasan keresidenan Palembang. Suatu ketika, Sultan Jambi yang bernama Muhammad Facharuddin (1833-1841) pernah membantu bangsawan Palembang yang sedang bergerilya melawan Belanda di Rawas. Akibatnya, Sultan Muhammad Facharuddin digempur dan dikepung Belanda pimpinan Letkol Michiels di Sungai Baung.

Pada 15 Desember 1834, Sultan Muhammad Facharuddin diminta menandatangani sebuah perjanjian, yang dikenal sebagai Piagam Sungai Baung. Pada 21 April 1835, Piagam tersebut diperbaharui lagi, yang salah satu isinya: pemerintah Belanda tidak akan mencampuri urusan ketatanegaraan dan adat istiadat Jambi, namun Sultan Muhammad Facharuddin harus membantu Belanda untuk menumpas Padri di Sumatera Barat.

Itulah contoh peristiwa di kampung Sungai Baung, tempat Sultan Muhammad Facharuddin dikepung dan dipaksa bikin perjanjian Sungai Baung. Wajarlah, Sultan Thaha Saifudin (1855-1904) pernah berkata: “Saya tidak ingin menyerang pemerintah. Tetapi saya mengeluh karena jauh di masa lalu, di masa orang-orang tua, yaitu di masa Muhammad Facharudin, saya pernah diangkat menjadi anak gubernur jenderal.

Menurut adat, jika kita marah kepada anak, kita pukul dia dengan sebatang rotan dan jika kita marah dengan seorang anak yang telah tumbuh dewasa, maka kita pukul dia dengan kata-kata. Akan tetapi, sekarang ayah saya, Sri Paduka Gubernur Jenderal, memukul saya dengan peluru. Oleh karena itulah saya geram dengan para perwakilannya.”

Kembali ke Peta Provinsi Jambi, apakah siswa atau mahasiswa di Jambi cepat menunjukkan di mana itu kampung Tanjung dan Kuamang?

Yah, Tanjung dan Kuamang ada di sebelah barat laut kota Muaro Bungo. Dulu, Tanjung dan Kuamang merupakan dua distrik produsen utama lada yang ditanam oleh imigran Minangkabau. Sekitar pertengahan 1630, orang Cina pun mulai membangun tempat tinggal di Kuamang dan menjadi agen merica oleh imigran Minangkabau.

Saat musim kemarau dan sungai banyak kering, Tanjung dan Kuamang menjadi pensuplai lada untuk Muaro Tebo. Gara-gara itu, Muaro Tebo disebut sebagai “Malaka Kecil”.

Pada akhir tahun 1656, Sultan Jambi, yakni Sultan Abdul Jalil (1643-1665), mengirim diplomatnya kepada Sunan Amangkurat di Mataram. Itu sebabnya, secara kultural dan ideologis, Jambi sangat dipengaruhi oleh Mataram. Itu sebabnya, penduduk Kuamang dan Tanjung, yang sehari-hari berpakaian Melayu (Minang), wajib menggunakan pakaian gaya Jawa saat datang menghadap Sultan Jambi di Tanah Pilih.

Senafas dengan cerita tersebut di atas. Tiga hari sebelum catatan kutulis, seorang siswa kelas XII IPS sempat menyatakan Mesir itu ada di Timur Tengah. Saya koreksi, Mesir itu ada di Afrika. Eh, mereka sempat protes: “Kok Mesir di Afrika, Pak?”

Saya ambil peta umum dari tas, kemudian saya sodor sambil berkata: “Ini lho, Mesir, ada di Afrika Utara.”

Di kelas yang sama, ada pula siswi sempat berkata bahwa pegunungan Himalaya itu berada di dekat Yugoslavia, negara Josep Broz Tito. Kemudian, saya tunjukan pakai peta, Himalaya itu ada di utaranya India, jauh dari Yugoslavia.

Dengan demikian, saya cukup yakin, di hadapan peta tidak buta pun, siswa macam ini tidak akan cepat menunjuk di mana itu Rengasdengklok saat Sukarno diculik pemuda pada 1945, atau di mana itu Tanahgaro yang pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan Sultan Thaha Saifuddin di daerah hulu.

*Penulis merupakan pengamat sejarah. Kini aktif mengajar dan mengisi dialog-dialog sejarah di Kota Jambi.


Tag : #Betungbedarah #Lubuk Rusa #Sultan Ahmad Nazarudin #Jambi #Sumatra



Berita Terbaru

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 11:48 WIB

Ini Bacaleg Golkar yang Berpotensi Dulang Suara di Kota Jambi


Kajanglako.com, Kota Jambi - Golkar Kota Jambi optimis akan meraih maksimal di Pemilu 2019, mereka menargetkan 7 hingga 8 kursi di DPRD Kota Jambi.    Pengurus

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 11:15 WIB

Jumlah Bacaleg yang Terdaftar di KPU Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Proses penerimaan pendaftaran Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) Pemilu 2019 untuk DPRD Provinsi Jambi, telah rampung dilaksanakan

 

Rabu, 18 Juli 2018 09:09 WIB

Pertanyakan Akuisisi Pertagas oleh PGN, Ihsan: Apa Urgensinya?


Kajanglako.com, Jakarta - Selasa, 17 Juli 2018, Komisi VI DPR RI melanjutkan rangkaian Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan mitra komisi. Kali ini RDP berlangsung

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 03:49 WIB

Ini Dasar KPU Bungo Tolak Berkas Partai Garuda Hingga Tereleminasi


Kajanglako.com, Bungo - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bungo menolak berkas pendaftaran Bacaleg dari Partai Garuda. Penolakan tersebut disebabkan masih

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 03:42 WIB

Hari Terakhir Pendaftaran di KPU Bungo, Bacaleg Partai Garuda Tereleminasi


Kajanglako.com, Bungo - Banyak partai politik di Kabupaten Bungo memilih mendaftarkan bakal calon legislatifnya pada akhir waktu. Padahal tidak ada