Senin, 21 Mei 2018


Senin, 05 Maret 2018 14:51 WIB

Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme

Reporter :
Kategori : Pustaka

Karya Jack Turner

Oleh: Dion Yulianto*

Lada, pala, cengkih, merica, kapur barus, jahe, ketumbar, jintan; sungguh tidak disangka bahwa bahan-bahan yang biasa kita temukan di dapur ini ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang. Tidak sedikit darah yang tumpah, uang yang dihabiskan, emas dan permata yang digadaikan demi mendapatkan sejumput lada atau beberapa ons pala.



Sejarah telah membuktikan bahwa pencarian rempah-rempah bangsa Eropa ke pusatnya di Maluku turut menjadi awal dari babakan sejarah yang kemudian mengharu-biru perjalanan bangsa kita: penjajahan.

Dimulai dari Portugis, lalu Spanyol, kemudian Inggris, dan akhirnya Belanda. Kepulauan Nusantara telah menjadi bulan-bulanan dan rebutan dari bangsa-bangsa tersebut. Dari yang semuka hanya demi mendapatkan pasokan rempah, kemudian berubah menjadi niat untuk menjajah.

Mengapa barang seremeh sebiji pala dan sejumput lada bisa kemudian menjadi salah satu bahan yang turut menggerakkan sejarah dunia? Buku Sejarah Rempah karya Jack Turner (Komunitas Bambu, 2011) ini menjawabnya dengan sedemikian detail untuk pembaca.

Dengan runtut, dituliskannya berbagai peristiwa dalam sejarah yang berkaitan dengan rempah-rempah: betapa dulu lada sangat digemari di Prancis dan Inggris, betapa Cleopatra dan syekh-syehk di Arabia lama begitu tergantung pada cengkih dan pala untuk memanaskan rumah tangga mereka, juga tentang aroma rempah yang konon bisa menghalau udara jahat yang membawa penyakit (tentu saja kala itu virus penyakit belum ditemukan). Inilah yang membuat rempah-rempah sedemikian berharga sehingga kadang nilainya lebih tinggi dari emas.

Menyusul jatuhnya Konstantinopel ke tangan pasukan Turki pada tahun 1495 (saya lupa tahunnya, CMIIW ya), pasokan rempah ke Eropa semakin sedikit karena kota itu merupakan penghubung utama antara Barat dan Timur. Selama ini, pasokan rempah dari nusantara dan India datang ke Eropa lewat Jalur Sutra atau lewat Laut Merah sebelum kemudian singgah di Konstantinopel.

Jatuhnya benteng terakhir Bizantium itu menjadikan pasokan rempah ke Eropa semakin jarang, sehingga bisa ditebak, efeknya harganya langsung melonjak tajam. Padahal, rempah kala itu sangat disukai (bukannya dibutuhkan kalau kita baca bab terakhir buku ini) sebagai sesuatu yang mahal, bumbu penyedap bagi masakan Eropa yang hambar, bahkan untuk upacara keagamaan.

Inilah yang kemudian mendorong bangsa Eropa untuk mencari langsung rempah-rempah ke sumber aslinya, yakni ke Kepulauan Nusantara. Salah satu babakan sejarah yang mendorong datangnya abad penjelajahan samudra, penemuan benua Amerika,dan (sedihnya) era kolonialisme dan penjajahan.

Mungkin, kaitan antara rempah dan penjajahan sudah banyak disinggung di buku lain. Tapi di buku ini, isinya tidak hanya itu. Ada banyak sekali peristiwa sejarah yang mungkin kita tidak tahu, peristiwa-peristiwa kecil di sebuah biara terpencil di Prancis abad 10, atau di sebuah hutan Eropa ketika seorang Raja besar tewas karena salah mengonsumsi ikan.

Penulis menyitir banyak sekali dugaan menarik dan keliru tentang rempah, juga tentang berbagai kebiasaan aneh (dan kadang lucu) yang masih banyak dianut bangsa Eropa di abad pertengahan dan masa sebelumnya. Juga, tentang kegunaan rempah-rempah dalam banyak segi.

Paling menarik tentu bahasan tentang rempah-rempah sebagai bumbu pemanas di tempat tidur. Bukan hanya konon-kononan, tapi penulis mengisahkan banyak sekali kisah-kisah yang terasa nyata tentang para raja, ratu, dan penguasa legendaris yang menggunakan rempah sebagai aroma pembangkit kekuatan. Kemudian, efek dan manfaat itu diselaraskan dengan efek medis atau penemuan terkini tentang kandungan-kandungan dalam lada atau merica.

Kayaknya berat, tapi enggak kok, membaca buku ini santai banget, seperti ikut bertualang ke dunia rempah-rempah yang hangat dan menggoda. Buku yang komplet menurut saya, dan bisa dibaca sampai selesai (walau kudu dicicil) karena narasinya yang berbeda dari buku-buku referensi biasa.

*Penulis merupakan editor buku, penerjemah, dan peresensi buku-buku fiksi-non fiksi. Selain dalam bentuk buku, karya tulisnya dapat dibaca di blog pribadi: www.dionyulianto.blogspot.co.id.


Tag : #Jack Turner #Maluku #Rempah-Rempah #Penjajahan #Nusantara



Berita Terbaru

 

Masjid Tua
Senin, 21 Mei 2018 16:39 WIB

Masjid Batu Peninggalan Sayyid Idrus di Seberang Kota Jambi


Kawasan Seberang Kota Jambi dikenal luas sebagai wilayah kampung tradisional Melayu Jambi. Di wilayah ini pula berdiri beberapa pesantren tua dan sisa

 

Senin, 21 Mei 2018 14:28 WIB

Sekda Tanggapi Kabar Monopoli Bank Jambi di Pasar Angso Duo Baru


Kajanglako.com,  Jambi - Terkait beredar kabar di masyarakat bahwa pihak Bank Jambi disebut memonopoli PT EBN, dalam pengelolaan kredit tokok dan

 

Senin, 21 Mei 2018 14:21 WIB

Masalah Pemindahan Pedagang Angsoduo, Ini Kata Sekda Dianto


Kajanglako.com, Jambi - Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, M Dianto angkat bicara terkait permasalahan pemindahan pedagang Pasar Angso Duo lama ke Pasar

 

Senin, 21 Mei 2018 14:13 WIB

Hingga Pendaftaran Tutup, Hanya Satu Nama Mencalonkan Jadi Ketua KNPI Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Dewan Pengurus Daerah (DPD) II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bungo, siap menggelar Musyawarah Daerah (Musda)

 

Senin, 21 Mei 2018 13:58 WIB

Shoft Lounching Kantor Imigrasi, Bupati Bungo: Warga Urus Paspor Lebih Mudah


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, H Mashuri, secara resmi melaksanakan Soft Launching Kantor Imigrasi Kabupaten Bungo, Senin 21 Mei 2018.  Dengan