Rabu, 26 September 2018


Sabtu, 03 Maret 2018 15:07 WIB

Siak: Pusat Kekuasaan Ganda di Negeri Kacukan

Reporter :
Kategori : Pustaka

Karya Timothy P. Barnard (KITLV, Leiden, 2003).

Oleh: Dedi Arman*

Tulisan mengenai Siak masa kolonial yang dikenal luas di kalangan sejarawan adalah karya Elisa Netscher, pegawai kolonial Belanda yang menulis Belanda di Johor dan Siak 1602-1865. Kesimpulan Netscher adalah mereka yang berada di sepanjang Sungai Siak adalah orang-orang merdeka, rakyat tanpa penguasa. Kesimpulan Netscher inilah yang dibantah habis Timothy P. Barnard dalam bukunya, Multiple Centres of Authority Society and Environment in Siak and Eastern Sumatera, 1674-1827 (KITLV Press, Leiden, 2003). Cara pandang kolonial atau Eropasentris tak bisa menangkap fakta yang terjadi di Siak dan Sumatera Timur pada abad 17 sampai 19.



Dalam rentang waktu 200 tahun, banyak perubahan yang terjadi di Siak dan Sumatera Timur. Komunitas lokal di Siak dan Sumatera Timur pada masa ini telah bangkit melepaskan diri dari ketergantungan pada  kekuasaan besar, yakni Minangkabau dan Johor. Mereka jadi negeri merdeka yang menguasai seluruh Sumatera Timur sampai Laut Cina Selatan. Para pemimpin Siak menguasai kapal-kapal perompak dan menguasai perdagangan di Selat Malaka. Pendek kata pada kurun waktu ini, negeri Siak dan Sumatera Timur amatlah makmur.

Hal yang menarik dalam buku ini, Barnard menyebut istilah kacukan untuk mengambarkan kondisi masyarakat Siak dan Sumatera Timur. Kacuk artinya campuran atau tidak murni. Hal ini mengambarkan karakteristik masyarakat yang ambigu atau juga dikenal dengan istilah midle ground. Sifat kacuk tergambar dalam lembaga pemerintahan. Jabatan-jabatan dibuat mengakomodir posisi tradisional masyarakat Melayu dan Minangkabau.

Pada awalnya elite Siak disebut Minangkabau, lalu berubah menjadi Melayu-Minangkabau. Namun, akhirnya mereka diidentifikasi sebagai Orang Siak atau orang dari Siak. Proses yang tersirat di dalam peralihan ini mencerminkan sifat ambigu masyarakat di kawasan tersebut. Fakta kekacukan itu memungkinkan kelompok-kelompok ini meleburkan identitas mereka ke dalam pencerminan yang berubah karena pergeseran cermin dan pemahaman lokal mengenai kekuasaan.

Barnard dalam kajiannya yang bersumber pada arsip-arsip VOC dan teks Melayu tradisional dapat menunjukkan bagaimana pemimpin-pemimpinan Kerajaan Siak pada abad 17 dan 18 dapat menyatukan komunitas-komunitas multi-etnis untuk membawa kemakmuran. Dinasti Raja Kecik yang memimpin Kerajaan Siak mampu menggunakan mitos dan kharisma dalam mengatasi perbedaan dan menyatukan berbagai komunitas dan etnis yang ada di Siak dan Sumatera Timur. Raja Kecik dan turunannya mampu memanfaatkan simbol kekuasaan lokal yang bersumber dari istana Melayu dan Minangkabau. Raka Kecik dapat dilihat sebagai raja lokal yang memahami dan memanfaatkan sepenuhnya lingkungan sosial dan alamnya.

Terlepas dari tingkat keberhasilan utamanya dalam mengembangkan pemerintahan lokal di wilayah sempadan pada abad ke 18, Siak seringkali digambarkan sebagai penyimpangan yang keluar dari batas-batas budaya Melayu. Dalam Tuhfat Al Nafis, Raja Ali Haji sering menyebut raja-raja Siak sebagai orang Minangkabau dan Arab, dan melihat keberadaannya sebagai pelecehan bagi negeri Melayu yang sungguh, yakni Johor-Riau. Siak tampil di luar batas-batas negeri Melayu karena keberagamannya, meskipun Riau juga mengembangkan budaya Melayu berdasarkan kelenturan dan kekacukan. (hal.231). 

Buku setebal 255 halaman ini terdiri dari delapan bab. Kesimpulannya, Siak dan Sumatera Timur meskipun secara tradisional berada di bawah Johor, namun berbagai komunitas bersatu di bawah Raja Kecik pada abad ke 18 dan membentuk sebuah komunitas merdeka di sepanjang Sungai Siak. Raja Kecik dan keturunannya berusaha mendapatkan kekuasaan dalam perdagangan. Komunitas dan wilayah kekuasaan bisa disatukan melalui perkawinan, persekutuan, perompakan, perdagangan dan mitos. Menjelang akhir abas ke 18, pusat kekuasaan ganda yang membentuk Siak menjadi wujud yang dominan.

Kajian menarik yang dilakukan Timothy P. Barnard ini juga ada sisi kekurangan atau kelemahan yang bisa terlihat. Meski judul utama buku tentang Siak dan Sumatera Timur, namun dalam buku ini fokusnya pada wilayah Siak saja. Sementara wilayah Sumatera Timur tak banyak mendapat perhatian.  Ada 12 wilayah di Sumatera Timur yang menjadi daerah taklukan Kerajaan Siak, yakni Asahan, Serdang, Deli, Temiang, Panai, Bilah, Kualiluh, Badagai, Pagarawan, Langkat dan Batubara. Kekuasaan Siak di Sumatera Timur hanya ditulis dalam beberapa halaman saja.   

Nah, peminat sejarah yang ingin mengetahui Sejarah Siak bisa membaca buku ini. Kerajaan Siak yang didirikan Raja Kecik tahun 1723 berakhir tahun 1945. Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia. Sultan menyumbangkan kekayaannya 13 juta gulden untuk republik. Bukti kejayaan Siak dapat terlihat dari Istana Sultan Siak yang hingga saat ini masih kokoh dan menjadi ikon wisata Provinsi Riau.

*Dedi Arman adalah peneliti sejarah. Kini bekerja di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepri.

Ket: Buku ini awalnya disertasi Timothy P Barnad di Universitas Hawaii Manoa dan diterbitkan KITLV Press Leiden tahun 2003. Karya dosen Universitas Nasional Singapura itu kemudian diterjemahkan Peneliti BPNB Kepri, Sita Rohana dan diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau (2006) dengan judul Pusat Kekuasaan Ganda Masyarakat dan Alam Siak & Sumatera Timur 1674-1827.


Tag : #Sejarah Siak #Sumatra Timur #Johor #Raja Ali Haji



Berita Terbaru

 

Rabu, 26 September 2018 12:15 WIB

Bacakan Visi Misi MANTAP, Al Haris Ajak Fauzi dan Nalim Bangun Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Bupati dan Wakil Bupati Merangin, Al Haris-Mashuri, Rabu (26/9), membacakan visi dan misi membangun Merangin 2018-2023.   Visi

 

Rabu, 26 September 2018 12:03 WIB

Santriwati Korban Nikah Paksa Habib Bahrun Datangi Polres Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari - Sekira pukul 10.00 WIB, Rabu (26/9), P Batubara dengan anaknya MG (18) korban ataupun santriwati yang pernah bernaung di Pondok

 

Rabu, 26 September 2018 11:51 WIB

Sempat Tertunda, Akhirnya Kapolri Mendarat di Bandara Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, beserta rombongan akhirnya tiba di Bandara Muara Bungo, sekira pukul 10.22 WIB, Rabu (26/9).   Kedantangan

 

Rabu, 26 September 2018 11:40 WIB

Dua Wakil Ketua DPRD Tak Hadiri Paripurna Pidato Penyampaian Visi Misi HAMAS


Kajanglako.com, Merangin - Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Merangin dengan agenda penyampaian pidato visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Merangin Haris

 

Agama dan Pemikiran
Rabu, 26 September 2018 10:51 WIB

Corak Pemikiran 4 Imam Mazhab


Oleh: K.H. Husein Muhammad* Memenuhi permintaan beberapa orang kiyai muda (ustaz) tentang corak pemikiran para Imam mazhab empat, aku menulis ini : Dr.