Sabtu, 15 Desember 2018


Sabtu, 03 Maret 2018 08:00 WIB

Penjelajahan dan Penelitian Ekspedisi Sumatra

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Setelah gagasan mengenai ekspedisi ke pedalaman Sumatra matang, rencana itu diajukan ke Rapat Umum Lembaga Ilmu Bumi Kerajaan Belanda, pada tanggal 20 Juni 1874 di Rotterdam. Setelah mendengarkan pemaparan tentang rencana ekspedisi itu, tentang Pulau Sumatra yang sangat luas, akhirnya Rapat Umum itu memusatkan perhatian pada Djambi dan lembah Korintji. Daerah inilah yang akan menjadi sasaran penelitian ekspedisi itu.



Yang menjadi titik tolak adalah ekspedisi itu tidak hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga diharapkan akan membawa manfaat bagi perdagangan dan pekerjaan. Ekspedisi itu harus dapat memperkenalkan daerah-daerah yang didatangi sehingga menarik perhatian para pedagang, pengusaha industri dan ilmuwan dari berbagai latar belakang keilmuan.

Rencana ekspedisi itu tentunya perlu dukungan dari pemerintah karena itu, pada bulan Oktober 1874, menghadap ke Kementerian Koloni. Menteri itu tanpa ragu-ragu langsung menghubungi pejabat-pejabat dan kantor-kantor yang yang berwenang di Hindia-Belanda.

Tanggapan dari Hindia-Belanda baru tiba menjelang pertengahan tahun berikutnya. Ternyata, pejabat-pejabat Hindia-Belanda di Palembang, Benkoelen dan Pesisir Barat Sumatra—yang wilayah-wilayahnya mengelilingi Djambi—sangat mendukung gagasan ekspedisi. Bahkan, masing-masing pejabat itu mengusulkan agar ekspedisi itu dimulai dari wilayahnya saja! Ketiganya juga menyampaikan bahwa situasi politik di Djambi cukup aman sehingga sebuah ekspedisi ilmiah tentu dapat dilaksanakan.

Seperti juga Residen di Palembang, Asisten-Residen di Palembang berpendapat bahwa keamanan dan keselamatan para penjelajah itu dapat dijamin bila penjelajahan dan penelitian ekspedisi itu diungkapkan kepada Sultan Djambi. Takkan ada yang berani menggangu atau menghambat kegiatan ekspedisi bila Sang Sultan menyetujui kegiatan itu dan menyediakan pemandu. Residen

Palembang menambahkan bahwa penduduk di perbatasan di antara Palembang dan Djambi lebih banyak akan menunjukkan sikap bersahabat daripada bermusuhan. Residen itu bahkan berjanji akan secara pribadi meminta persetujuan Sultan dan meminta agar menantu Sultan dapat menjadi pemandu ekspedisi itu.

Gubernur Pesisir Barat Sumatra pun yakin bahwa situasi politik di Djambi dan sekitarnya takkan menjadi hambatan bagi kelancaran jalannya ekspedisi itu. Ia hanya menambahkan catatan bahwa walau daerah Korintji agak kurang tenang, namun keadaan di sana pun tak berbahaya bagi penjelajah-penjelajah Eropa.

Dukungan dan persetujuan dari pejabat-pejabat Hindia-Belanda di sekeliling Djambi sudah di tangan. Persetujuan sudah didapat. Kini tinggal mencari dana untuk membiayai ekspedisi itu. Bagian keuangan ekspedisi itu memasang iklan di jurnal KNAG dan beberapa koran di Belanda untuk mencari donatur. Cukup banyak orang yang tergerak menyumbangkan uang, terutama pedagang dan pengusaha di kota-kota besar. Menjelang akhir tahun 1876, sebanyak ƒ30.000,- berhasil dikumpulkan.

Sementara itu, tujuan ekspedisi sudah pula diformulasikan, yaitu: 1) memetakan daerah-daerah yang dijelajahi;  2) meneliti  produktifitas tanah dan alam di daerah-daerah itu;  3) meneliti aspek linguistik dan etnografis masyarakat-masyarakat yang ditemui; dan 4)meneliti sejarah alam daerah-daerah itu.

Untuk poin pertama, memetakan daerah-daerah yang dijelajahi, tim ekspedisi akan menelusuri dan menggambarkan secara rinci segala kelok aliran sungai-sungai dan anak-anak sungai di Djambi dari muara sampai ke sumber mata airnya. Daerah-daerah yang terdapat di antara dan di sekitar aliran-aliran sungai-sungai itu pun akan digambarkan dan dipetakan (ketinggian puncak-puncak gunung dan tempat-tempat yang tak dapat didatangi akan diperkirakan dengan menggunakan sistem perkiraan tertentu). Mereka juga akan meneliti sejauh mana sungai-sungai di Djambi dapat dilayari dan alternatif darat yang dapat digunakan untuk mendatangi daerah-daerah yang kaya mineral.

Selain itu, juga dianjurkan untuk melakukan penelitian terhadap aspek pertanian: kecocokan tanah untuk ditanami komoditi tropis yang dapat dijual di pasar Eropa; tanaman-tanaman yang biasa ditanam masyarakat di daerah yang akan didatangi; hasil tanaman dan panennya; sistem pertanian tradisional dan pengolahan tanah dan tenaga kerja yang tersedia untuk mengolah lahan-lahan pertanian itu. Tim ekspedisi juga akan mengumpulkan spesimen-spesimen mineral dan geologi dari daerah-daerah yang didatangi.

Terkait penelitian linguistik dan etnologi, tim ekspedisi akan memperhatikan dan mencatat bahasa-bahasa dan dialek yang digunakan masyarakat, hasil karya kebahasaan, cerita-cerita rakyat. Mereka juga akan mencatat dan menggambarkan artefak-artefak yang diketemukan. Juga akan merinci konsep-konsep agama dan kepercayaan masyarakat, sistem organisasi sosial serta adat-istiadat dan kebiasaan di tempat-tempat yang didatangi. Mereka juga akan mencatat keterbukaan masyarakat terhadap dan untuk usaha-usaha perkebunan.

Aspek kajian sejarah alam akan memperhatikan dan menggambarkan dunia flora dan fauna. Anggota tim ekspedisi yang bertugas melakukan pengkajian ini bertugas juga mengumpulkan, menggambarkan dan mengeringkan aneka tanaman serta menangkap dan mengawetkan binatang-binatang. Tanaman dan binatang yang terutama menjadi fokus adalah yang istimewa dan jarang (atau belum pernah) dikenal sebelumnya di Eropa.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Lembaga Ilmu Bumi Kerajaan Belanda #Jambi #Palembang



Berita Terbaru

 

Sabtu, 15 Desember 2018 12:40 WIB

Sepanjang 2018, BI Jambi Amankan 1.228 Lembar Uang Palsu


Kajanglako.com, Jambi - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi, selama kurun waktu satu tahun ini telah mengamankan 1.228 lembar uang kertas

 

Sabtu, 15 Desember 2018 11:31 WIB

BI Jambi Siapkan Rp2,63 Triliun Hadapi Natal dan Tahun Baru


Kajanglako.com, Jambi - Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi merilis proyeksi dan realisasi kebutuhan uang menghadapi Natal dan akhir tahun 2018. "Kita sudah

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Sabtu, 15 Desember 2018 11:12 WIB

Persiapan Menuju Pedalaman Djambi


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Untuk sementara, cerita mengenai penjelajahan di Dataran Tinggi Padang, disimpan dulu. Van Hasselt (yang

 

Sabtu, 15 Desember 2018 11:09 WIB

BI Jambi Tarik Peredaran Uang Kertas Lama


Kajanglako.com, Jambi – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi melalui Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/33/PBI/2008 telah mencabut dan

 

Jumat, 14 Desember 2018 22:15 WIB

Nota Ponita, Bocah Penderita Penyempitan Usus dapat Bantuan Fachrori


Kajanglako.com, Jambi – Nasib malang dialami Nota Ponita, bocah berusia lima tahun warga Kelurahan Handil Jaya, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi ini