Rabu, 26 September 2018


Jumat, 02 Maret 2018 18:00 WIB

Gus Dur Maju Pilpres 2019

Reporter :
Kategori : Sudut

ilustrasi.

Oleh: Fredy Torang Widiyanto*

Pagi ini aku terdampar di sebuah bengkel. Tujuannya memang ingin menyervis motor. Aku lupa kapan persisnya terakhir servis motor. Sepertinya 2 bulan yang lalu. Begitu tiba di bengkel itu, seorang montir langsung sigap menghampiri aku dan bertanya keluhan di motorku.



Usai menjelaskan inti-intinya, si montir yang tadinya mendengar ucapanku sambil menatap motorku, langsung bergegas mengambil perkakasnya untuk mengutak-atik bagian kerusakan dari motorku.

Tidak berapa lama kemudian datang lagi seorang pelanggan lain dengan motornya. Sulit rasanya bila tidak menganggap ia adalah seorang PNS, sebab berpakaian batik kantor dan motornya yang ber-plat merah seolah tegas memberi pernyataan demikian.

Seorang montir lain langsung bergegas bertanya ke bapak itu mengenai keluhannya. Rupanya, masalah orang ini hanyalah lampu motor, setidaknya itu yang aku dengar dari percakapan mereka.

Si montir pun langsung mengutak-atiknya dengan cekatan. Tak lama montir yang sedang memperbaiki motor bapak itu bilang kalau masalahnya adalah lampu.

“Kenapa ya”, sahutnya.

“Lampunya selalu dihidupkan siang-malam. Sehingga cepat putus”, balasnya.

“Apakah bisa dipasang stop contactnya?" mintanya.  Si montir menjawab, "Bisa sih pak, tapi lama, karena mesti bongkar bagian kepala motor".

Mendengar hal itu. Si montir yang tengah membuka satu per satu baut mesin di motor saya untuk membuang oli mesinnya langsung menyambar obrolan mereka dengan sedikit senyum bercanda. "Kalau dimatikan, nanti Gus Dur sulit membacanya?". "Terang aja nggak bisa baca, apalagi lampunya dimatikan, gimana orang buta".

Mendengar hal demikian itu membuatku terkejut. Dalam hatiku bergumam, "wowww...kok bisa begitu ucapannya ya??". Keterkejutanku bertambah lagi tatkala saya mendengar ucapan balasan si bapak yang memiliki motor berplat merah itu tadi.

Ia spontan mengatakan, "Pilpres 2019 dia nggak maju lagi kan yaa??". Si montir tadi pun membalas. "Ya ndalah, kan dah buta begitu. Amerika aja heran, hanya di Indonesialah Presiden Buta".

Terhadap candaan mereka itu, saya yang tadinya hanya mendengar sambil lalu karena sedang mengirimkan alamat email kepada seorang senior di kampus saya yang dulu, langsung berhenti dan kemudian memandangi bapak yang memiliki motor plat merah itu. Saya melihat tidak ada tanda-tanda bercanda di wajahnya, sehingga membuat saya ketawa besar karena mirisnya kejadian ini sekaligus kecewa karena obrolan mereka.

Saya bergumam dalam hati apakah memang mereka benar-benar tidak tahu siapa Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid-Presiden keempat RI), dan perjuangannya hingga tutup usia? Namun tak lama kemudian, pikiran saya yang nakal kemudian melompat jauh pada ungkapan yang sering disematkan bangsa ini kepada seorang Gus Dur, yaitu Guru Bangsa.

Penyematan ungkapan itu bukan tanpa sebab. Tersebab beliaulah salah satu pendidik bagi bangsa ini. Banyak perombakan yang beliau lakukan untuk membuka seluas-luasnya kesempatan bagi semua pihak. Tak terkecuali hak-hak kelompok minoritas yang diperjuangkannya bersama kelompok pro-demokrasi hingga bisa tegak sejajar di depan hukum. Sekalipun harus kita akui dewasa ini, yang diperjuangkannya semasa hidup belumlah selesai. Di sana-sini masih kita temui perlakuan-perlakuan diskriminatif terhadap minoritas.

Namun bila dilihat secara kritis ungkapan Gus Dur itu pun akan mengantarkan kita pada beberapa kenyataan pahit tentang seorang guru. Sesuatu yang pasti dari semua itu adalah ketika seorang yang dididik berhasil, maka jasa yang digoreskan oleh seorang guru untuk mendidik umumnya akan terlupakan.

Sekalipun demikian, bagi Guru Bangsa macam Gus Dur, obrolan bernada hinaan di atas tadi, sekalipun saya sesalkan, tetaplah mampu dilalui olehnya. Bahkan mungkin Gus Dur memaafkan. Maka, di titik itu, saya kembali diingatkan pada konsistensi seorang Gus Dur, yang senantiasa mengatakan, “Saya tidak peduli, mau popularitas saya hancur, difitnah, dicaci maki, atau dituduh apapun, tapi bangsa dan Negara ini harus diselamatkan dari perpecahan oleh praktek diskrimintif dalam hal apapun dan terhadap siapapun.

*Pemerhati masalah sosial. Alumnus CRCS Pascasarjana UGM Yogyakarta. Jambi 01 Maret 2018


Tag : #Gus Dur #Guru Bangsa



Berita Terbaru

 

Rabu, 26 September 2018 12:15 WIB

Bacakan Visi Misi MANTAP, Al Haris Ajak Fauzi dan Nalim Bangun Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Bupati dan Wakil Bupati Merangin, Al Haris-Mashuri, Rabu (26/9), membacakan visi dan misi membangun Merangin 2018-2023.   Visi

 

Rabu, 26 September 2018 12:03 WIB

Santriwati Korban Nikah Paksa Habib Bahrun Datangi Polres Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari - Sekira pukul 10.00 WIB, Rabu (26/9), P Batubara dengan anaknya MG (18) korban ataupun santriwati yang pernah bernaung di Pondok

 

Rabu, 26 September 2018 11:51 WIB

Sempat Tertunda, Akhirnya Kapolri Mendarat di Bandara Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, beserta rombongan akhirnya tiba di Bandara Muara Bungo, sekira pukul 10.22 WIB, Rabu (26/9).   Kedantangan

 

Rabu, 26 September 2018 11:40 WIB

Dua Wakil Ketua DPRD Tak Hadiri Paripurna Pidato Penyampaian Visi Misi HAMAS


Kajanglako.com, Merangin - Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Merangin dengan agenda penyampaian pidato visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Merangin Haris

 

Agama dan Pemikiran
Rabu, 26 September 2018 10:51 WIB

Corak Pemikiran 4 Imam Mazhab


Oleh: K.H. Husein Muhammad* Memenuhi permintaan beberapa orang kiyai muda (ustaz) tentang corak pemikiran para Imam mazhab empat, aku menulis ini : Dr.