Senin, 21 Mei 2018


Rabu, 28 Februari 2018 18:01 WIB

Sejarah Sungai di Sumatra yang Terabaikan

Reporter :
Kategori : Pustaka

Kegiatan pelabuhan di Jambi. Sumber foto: tropenmuseum

Oleh: Dedi Arman*

Sedari bersama, pemerintah sekarang ini sibuk menggalakkan tol laut, pembangunan tol Sumatra, membuka trans Kalimantan, Sulawesi, Papua dan daerah lain. Hebatnya upaya membenahi kemaritiman, kementrian koordinator kemaritiman pun dibentuk. Meski begitu ada yang terlupakan dalam perhatian kita. Kemaritiman itu selalu dianggap berhubungan dengan kelautan, kebaharian. Sungai yang pernah menjadi urat nadi transportasi dan perdagangan masa lampau, kini seakan terlupakan. Padahal siapa yang bisa membantah sungai bagian dari dunia kemaritiman.



Tak hanya terlupakan dalam segi kebijakan, sungai dalam kajian atau penelitian sejarah di Indonesia juga belum banyak tergarap(untuk menyebut kajiannya masih terbatas). Sungai dalam panggung sejarah penulisannya masih gelap dan belum banyak terjamah. Kebanyakan penelitian maritim yang ada di Indonesia masih memfokuskan pada ruang perairan yang luas seperti samudra, laut, selat dan teluk.

Padahal dalam dinamika sejarah sendiri, proses perdagangan di beberapa pulau di nusantara mengandalkan sungai sebagai sarana transportasi utama wilayahnya. Terutama pulau Sumatra dan Kalimantan yang dialiri oleh banyak sungai besar. Sungai-sungai tersebut menentukan proses sejarah yang terjadi di kedua pulau tersebut.
Banyak sejarawan Indonesia yang disertasinya tentang maritim, tapi fokusnya tentang laut. Sebut saja AB Lapian yang dianggap sebagai sejarahwan maritim Indonesia. Disertasinya “Orang Laut – Bajak Laut – Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX” dianggap telah membuka lembaran baru dalam penulisan sajarah maritim dan sejarah kawasan di Indonesia.

Susanto Zuhdi menulis Labu Rope Labu Wana: Sejarah Butun Abad XVII-XVIII, 1999. Gusti Asnan juga menulis disertasi tentang maritim, berjudul Trading and Shipping Activities: The West Coast of Sumatra, 1819–1906″. Begitu juga Edward L. Poelinggomang karyanya tentang maritim, Makassar Abad XIX: Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim.

Karya lain ditulis M Nur tentang Bandar Sibolga di Pantai Barat Sumatra pada Abad Ke-19 sampai Pertengahan Abad Ke-20. Singkatnya, masih banyak disertasi dan buku yang terbit menulis tentang sejarah maritim.

Berbeda dengan kajian sungai begitu minim. Penelitian tentang kajian sungai khususnya di Sumatra sangat langka dan terbatas. Barulah Gusti Asnan yang menerbitkan bukunya mengenai Sungai dan Sejarah Sumatra yang terbit akhir 2016 oleh penerbit Ombak di Yogyakarta.

Menurut Gusti Asnan, dasar pemikiran penulisan dan penerbitan buku ini karena masih minimnya perhatian sejarawan terhadap sungai-sungai di Sumatera. Melalui buku ini, Gusti sedang mengisi ruang kosong. Inilah satu di antara sedikit buku yang mengkaji sungai-sungai di Sumatera berikut peranan historisnya.

Pandangan Gusti Asnan, setiap kegiatan manusia di Sumatra, itu tidak terlepas kaitannya dengan sungai. Sejak berabad-abad sebelum abad ke-20, sungai menjadi tempat sentral berbagai kegiatan manusia mulai dari mandi, mencuci, sumber air utama, hingga nanti pada perkembangan berikutnya menjadi sumber energi (PLTA).

Namun peran besar sungai ada pada bidang transportasi dan ekonomi, dimana ketika memasuki abad ke-20 sungai menjadi dominan sekali untuk mendistribusikan barang komoditas dari pedalaman. Peran yang menyerupai “jalan raya” ini hanya terdapat di belahan timur Sumatra.

Sungai merupakan rupa bumi yang sangat dominan di Sumatra. Di masa lalu, sungai adalah jalan raya tempat sebagian besar warga Sumatera berlalu-lalang atau membawa barang. Sejumlah permukiman tertua di Sumatera juga ditemukan di kawasan (aliran) sungai. Ada ribuan sungai dengan berbagai ukuran yang mengalir di seantero Sumatra. Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, kehidupan warga Sumatera, secara langsung atau tidak, dipengaruhi oleh sungai.

Keberadaan buku Sungai dan Sejarah Sumatra ini sangat dirasakan manfaatnya. Nanda Julian Utama dalam tesisnya berjudul Perdagangan dan Pelayaran di Sungai-Sungai Keresidenan Palembang 1900-1930 yang selesai Januari 2017 lalu, menyebut buku karya Gusti Asnan itu merupakan buku yang khusus mengkaji masalah sejarah sungai di wilayah Sumatra. Kajian yang dilakukan oleh Gusti Asnan bisa dibilang merupakan salah satu yang pertama membahas masalah sungai di Sumatra.

Hanya saja bahasan yang diberikan masih umum. Hal ini mungkin dapat dimaklumi karena ada begitu banyak sungai yang akan dibahas di wilayah Sumatra ini. Umum dalam kaitan hanya membahas kulitnya saja walaupun cakupannya berupa sejarah sungai, budaya masyarakat yang dipengaruhi sungai, dan perkembangan transportasi air.(Nanda,2016:15).

Meski dipuji banyak kalangan, Gusti dengan rendah hati mengakui masih banyak tabir sejarah Sumatra dalam kaitannya dengan dunia sungai yang belum terungkap dalam buku ini. Menurutnya penerbitan buku ini akan merangsang minat sejarawan dan peneliti untuk mengkajinya lagi secara komprehensif. Kajian mengenai sungai juga kompleks seperti halnya perairan lain yang lebih luas.

Dengan demikian, Gusti telah memulai dan terbuka lebar bagi sesiapa untuk mengkaji lebih lanjut mengenai sejarah Sungai Musi, Batanghari, Kuantan (Indragiri) dan sungai-sungai lainnya di Pulau Sumatra.

*Dedi Arman merupakan peneliti sejarah. Kini bekerja di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepulauan Riau.


Tag : #Maritim #Sumatra #Batanghari #Gusti Asnan #AB Lapian



Berita Terbaru

 

Masjid Tua
Senin, 21 Mei 2018 16:39 WIB

Masjid Batu Peninggalan Sayyid Idrus di Seberang Kota Jambi


Kawasan Seberang Kota Jambi dikenal luas sebagai wilayah kampung tradisional Melayu Jambi. Di wilayah ini pula berdiri beberapa pesantren tua dan sisa

 

Senin, 21 Mei 2018 14:28 WIB

Sekda Tanggapi Kabar Monopoli Bank Jambi di Pasar Angso Duo Baru


Kajanglako.com,  Jambi - Terkait beredar kabar di masyarakat bahwa pihak Bank Jambi disebut memonopoli PT EBN, dalam pengelolaan kredit tokok dan

 

Senin, 21 Mei 2018 14:21 WIB

Masalah Pemindahan Pedagang Angsoduo, Ini Kata Sekda Dianto


Kajanglako.com, Jambi - Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, M Dianto angkat bicara terkait permasalahan pemindahan pedagang Pasar Angso Duo lama ke Pasar

 

Senin, 21 Mei 2018 14:13 WIB

Hingga Pendaftaran Tutup, Hanya Satu Nama Mencalonkan Jadi Ketua KNPI Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Dewan Pengurus Daerah (DPD) II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bungo, siap menggelar Musyawarah Daerah (Musda)

 

Senin, 21 Mei 2018 13:58 WIB

Shoft Lounching Kantor Imigrasi, Bupati Bungo: Warga Urus Paspor Lebih Mudah


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, H Mashuri, secara resmi melaksanakan Soft Launching Kantor Imigrasi Kabupaten Bungo, Senin 21 Mei 2018.  Dengan