Selasa, 28 Januari 2020


Sabtu, 24 Februari 2018 07:00 WIB

Ekspedisi ke Sumatra Tengah (1890)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pada tahun 1890, Lembaga Ilmu Bumi Kerajaan Belanda atau Koninklijk Nederlands Aardrijkskundige Genootschap (KNAG) memberangkatkan beberapa ilmuwan dan penjelajah dalam Ekspedisi Sumatra Tengah untuk mengumpulkan informasi mengenai lingkungan alam (jenis tanah, gunung, sungai), kekayaan alam (mineral dan produk hutan serta pertanian) serta kebudayaan dan masyarakat di bagian tengah Pulau Sumatra, khususnya Jambi. Beberapa tahun kemudian, informasi yang dikumpulkan oleh tim ekspedisi itu diterbitkan menjadi tiga buku tebal yang sangat menarik. Ekspedisi seperti itu memakan biaya cukup banyak. Hampir 15 tahun sebelum, pada tahun 1875, WF Versteeg, salah seorang pemrakarsa ekspedisi itu mulai mempersiapkannya dengan membuat tulisan untuk mengumpulkan dukungan dan dana pelaksanaannya.



Dalam bahasa Indonesia, judul tulisannya adalah ‘Penjelajahan ke Djambi dan Korintji (Kerinci)’. Di dalamnya, ia terutama mengungkapkan alasan-alasan perlunya melakukan suatu penjelajahan ke daerah Sumatra Tengah. Sebagian tulisannya diolah untuk rubrik ‘Telusur Jambi’ agar pembaca dapat membayangkan apa yang diharapkan dan dituju oleh orang Belanda ketika melakukan eskpedisi semacam itu. Selain menambah pengetahuan umum mengenai suatu daerah dan masyarakat yang belum dikenal dan masih dianggap eksotis, tentunya kepentingan ekspansi politik, ekonomi dan kekuasaan Belanda di nusantara merupakan alasan penting.

WF Versteeg membuka kalimatnya dengan kata-kata: “Na Java,  is Sumatra het grote eiland hetwelk het meest de aandacht verdiend” atau dengan kata lain: Setelah Jawa, Sumatra merupakan pulau yang paling banyak (perlu) diperhatikan. Mengapa Pulau Sumatra perlu diperhatikan?

Memang, kata Versteeg, penduduk di Sumatra sangat sedikit. Penduduk berjumlah lebih banyak di daerah-daerah yang sudah dikuasai Belanda. Pegunungan berapi berderet-deret sepanjang pulau. Pebukitan di kaki gunung-gunung dipenuhi tanaman yang tumbuh subur. Aneka tanaman itu memenuhi kebutuhan hidup penduduk yang tinggal di sekitarnya. Akan tetapi, produk yang juga dihasilkan untuk pasar di Eropa, sebetulnya sudah banyak dikenal di seluruh dunia, misalnya saja kopi unggul dari Padang dan tembakau Deli yang bermutu tinggi.

Tanah Sumatra kaya akan bermacam logam dan mineral—dalam kuantitas dan keragaman yang hampir tak terbayangkan. Semua itu hanya menunggu diolah oleh para penambang saja. Salah satunya adalah batubara. Di beberapa tempat, kandungan batubara itu begitu kaya sehingga kalau diolah dengan seksama dapat diperkirakan bahwa Sumatra akan menjadi titik perhatian perdagangan batubara di dunia. Banyak orang mengatakan: bila Jawa merupakan negeri masakini, maka Sumatra merupakan negeri masa depan. Pernyataan ini sepenuhnya diaminkan oleh Versteeg.

Namun demikian, tak banyak yang diketahui mengenai Pulau Sumatra. Banyak daerah di pulau itu yang hanya dikenal namanya saja, tetapi tak pernah didatangi oleh orang Belanda atau orang asing lainnya. Memang, Sumatra perlu diperhatikan. Tetapi, di pulau seluas itu, bagian mana yang perlu mendapat perhatian khusus?

Sumatra bagian utara—yang dihuni oleh orang Batak—sangat menarik dipelajari oleh yang mempelajari bahasa dan kebudayaan manusia, akan tetapi Versteeg menduga tak banyak lagi sumber-sumber alam baru yang dapat dikembangkan untuk perdagangan Belanda. Pun, situasi politik yang tak stabil membuat bagian tengah Pulau Sumatra menjadi semakin menarik. Situasi politik di Sumatra tengah pun lebih stabil dan takkan menghambat rencana penjelajahan dan penelitian suatu ekspedisi.

Daerah di tengah-tengah pulau, dengan sungai-sungai besar dan dalam yang dapat dilayari sampai jauh ke pedalaman serta alamnya yang subur menjanjikan hasil yang berlimpah bila usaha perkebunan dapat dikembangkan. Untuk ini diperlukan pemetaan dan pengetahuan rinci mengenai daerah yang dilalui oleh sungai-sungai itu. Apalagi bila diingat bahwa deretan pegunungan tinggi yang menghubungkan Gunung Talang dan Gunung Korintji merintangi upaya untuk membuat jalur perhubungan perkereta-apian dan jalan darat ke pelabuhan-pelabuhan di Padang.

Daerah sungai-sungai Djambi, termasuk lembah Korintji, dibatasi di dua sisi oleh daerah yang sudah dikuasai Belanda, yaitu Palembang dan Benkoelen (Bengkulu) di sebelah selatan; daerah Pesisir Barat Sumatra di sebelah barat dan Selat Bangka dan Riouw (Riau) membatasi bagian timurnya. Bagian sebelah utara berbatasan dengan kerajaan-kerajaan Kwantan, Indragirie dan Reteh—yang juga tak banyak dikenal oleh Belanda.

Sepanjang yang sudah diketahui, semua penduduk yang tinggal di perbatasan antara Djambi dan daerah yang sudah dikuasai Belanda, merupakan penduduk yang cinta damai. Versteeg yakin bahwa penduduk daerah-daerah itu takkan terlalu menyulitkan jalannya ekspedisi. Pun, dokumen-dokumen pemerintah jajahan mencatat bahwa daerah Korintji dihuni oleh masyarakat yang hidup teratur dan ada hubungan baik di antara Sultan Djambi, pembesar-pembesarnya dan Belanda.

Ekspedisi penjelajahan itu akan dilakukan oleh peneliti-peneliti lelaki berbangsa Belanda. Cakupan rencana penelitian dalam penjelajahan itu dibuat selengkap mungkin. Para penjelajah peneliti itu akan mengumpulkan informasi terkait ilmu bumi, ilmu alam, sejarah perkembangan daerahnya, bahasa dan kebudayaan masyarakatnya. Di kemudian hari, informasi lengkap itu akan disediakan bagi pihak-pihak yang bersedia menyediakan modal untuk mengembangkan pertanian, kerajian dan perdagangan di Sumatra tengah.

*Acuan Kepustakaan: WF Versteeg. De Ontdekkingstocht naar Djambi en Korintji. Gent: Univ van Gent. 1875


Tag : #Koninklijk Nederlands Aardrijkskundige Genootschap (KNAG) #WF Versteeg #Jambi #Sumatra Tengah



Berita Terbaru

 

Senin, 27 Januari 2020 16:41 WIB

Fachrori Ingatkan Perusahaan Utamakan K3 Bagi Pekerja


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, bertindak sebagai Inspektur Upacara peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tahun

 

Senin, 27 Januari 2020 15:01 WIB

Cabuli Anak Tiri, Warga Tanjung Marwo Diciduk Polisi


Kajanglako.com, Batanghari - IS (27), warga RT 02 Desa Tanjung Marwo kecamatan Muara Tembesi terpaksa meringkuk di jeruji besi sel tahanan Polres Batanghari.

 

Senin, 27 Januari 2020 14:50 WIB

Mantap..! Merangin Wakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Thailand


Kajanglako.com, Merangin - Kabupaten Merangin akan mewakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Kota Yala Thailand pada 7-9 Februari 2020

 

Senin, 27 Januari 2020 14:37 WIB

Aksi Warga 12 Desa Kecamatan Mandiangin di Kantor Bupati Berakhir, Warga Akan Langsung Duduki Lahan


Kajanglako.com, Sarolangun - Puluhan warga dari 12 desa di Kecematan Mandiangin yang berdemo di kantor Bupati Sarolangun menuntut PT AAS mengambil lahan

 

Senin, 27 Januari 2020 14:25 WIB

Tinjau Pencarian Korban Tenggelam, Al Haris Ingatkan Orang Tua Agar Awasi Anak


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin,  Al Haris, meninjau pencarian korban hanyut di sungai Merangin wilayah Pulau Rayo, Kelurahan Dusun Bangko,