Senin, 21 Mei 2018


Kamis, 22 Februari 2018 17:57 WIB

Urbanisasi Awal di DAS Batanghari

Reporter :
Kategori : Jejak

Jhon Miksic sebagai Pembicara Kunci pada Pembukaan ICJS Pertama di Jambi (21 November 2013). Sumber foto: Jumardi P.

Prof. John N. Miksic*

Saya merasa terharu sekali karena diberi kesempatan menyampaikan makalah pertama dalam pertemuan ilmiah internasional perdana mengenai kebudayaan Jambi. Padahal kunjungan ini merupakan kali ketiga saya pribadi menginjak Tanah Pilih Pusako Betuah, Kota Jambi. Namun sejak beberapa dasawarsa lalu, saya penasaran sekali tentang sejarah kawasan Batanghari, oleh karena kaitan di antara tanah ini dengan nama kerajaan Malayu.



Selama menjadi murid Prof. Dr. Oliver Wolters, saya selalu diganggu pertanyaan tentang hubungan antara Singapura dan Malayu. Menurut Pak Wolters, bab dua sampai 6 dari naskah Sulalatus-Salatin (lebih umum dikenal sebagai Sejarah Malayu atau Malay Annals atau Raffles MS 18),  semuanya merupakan khayalan belaka yang diciptakan mutlak untuk menutupi suatu kurun waktu apabila kekuasaan di Sumatera bagian tenggara, yang sudah berabad-abad dipegang pihak Palembang diambil alih oleh pihak Jambi.

Raffles Naskah 18 dikarang pada tahun 1612 Masehi, sewaktu pusat kekuasaan Melayu sedang berada di ulu Sungai Johor, tepatnya di Batu Sawar. Rupanya pelabuhan pada muara Sungai Singapura yang sudah bertahan selama tiga ratus tahun baru saja dimusnahkan. Pusat kerajaan orang Malayu sudah berada di Batu Sawar sejak 1587.

Sebelum itu, pada abad 16, istana keluarga yang mengaku asal-usulnya dari Bukit Seguntang telah mondar-mandir selama tiga perempat abad; dua kali bertempat di Johor Lama (awal 1570-an s/d 1587, lalu dihancurkan oleh serangan dari orang Portugis), serta 1536 s/d 1564 (dijatuhkan oleh serangan dari orang Aceh). Di antara kedua bab ini, istana berada di Bukit Seluyut.  Lebih awal lagi, ibukota kerajaan terletak di Sayong Pinang (1530an-1536). Semua pergeseran ini disebabkan karena kekalahan yang dideritakan kerajaan Melaka pada tahun 1511.

Selama masa ini, Singapura tetap berperan sebagai suatu pelabuhan yang berguna untuk menghubungi pelayaran antara laut Cina Selatan, Samudra Hindia, serta Laut Jawa. Selama tiga abad setelah didirikan sekitar tahun 1300 M, Singapura berada di bawah beberapa tuan. Selama 150 tahun, tuannya tinggal di semenanjung Malayu, baik di Johor maupun Melaka. Sebelum itu, nampaknya Singapura dipaksa membayar upeti kepada kerajaan Majapahit maupun Ayutthaya di negeri Siam. Hal ini juga tidak disebutkan dalam Sejarah Malayu. Maka pelabuhan ini tetap bertahan walaupun keadaan di sekitarnya tidak menentu. Ibukota sering berpindah, sesuai dengan gambaran yang diberi Pak Anthony Reid mengenai perkotaan di alam Malayu: kota-kota mudah sekali berpindah.  Sumberdaya pertama dalam kerajaan Malayu adalah tenaga manusia, bukan tanah. Persediaan tanah kosong melimpah, sedangkan manusia untuk mengerjakannya berkurang. Maka kalau diserang, raja lebih suka berpindah daripada mempertahankan harta lain agar menghemat harta berupa orang.

Gejala ini menimbulkan masalah berat bagi para pakar arkeologi. Kota (dalam pengertian pusat pemukiman padat) di alam Malayu biasanya dibuat dari bahan yang tidak tahan lama. Lebih parah lagi, pemukiman sering merupakan rakit yang mengapung di sungai, atau malah merupakan kapal yang mudah berpindah tempat. Maka kalau hancur dalam serangan misalnya, sisanya akan terus tenggelam tanpa meninggalkan bekas.

Alfred Russel Wallace telah menciptakan istilah Malay Archipelago sebagai judul bukunya tentang kawasan nusantara yang diterbitkan pada pertengahan abad 19. Beliau dianggap prakarsa teori evolusi manusia yang kemudian disebarkan Charles Darwin. Sebenarnya karya Wallace memiliki berbagai kelebihan dibanding buku Darwin tentang Origin of Species and Descent of Man. Wallace senang bergaul dengan orang Indonesia, Beliau sering naik kapal setempat untuk mengumpul datanya di Indonesia, bukan kapal Inggris. Pengamatannya tentang pola pemukiman Malayu sangat tajam.

Sayangnya, beliau tidak mengunjungi Jambi, tetapi sewaktu berada di Palembang, Wallace sempat merekam bahwa rumah-rumah rakyat berdiri di atas penggung bamboo, atau rakit kayu atau bambu, ditambat ke darat dengan tali rotan. Rakit ini cukup luas; di samping perumahan dan kantor, juga terdapat kebun yang indah dengan pohon dan tumbuh-tumbuhan. Semua pasar berada di atas sungai, mudah didatangi tanpa mendarat. Seorang Malayu sejati, katanya, tidak pernah akan naik darat kalau tujuannya dapat dicapai dengan perahu.

Jadi, bagaimana seorang pakar arkeolog dapat mengumpul data tentang pola pemukiman? Yang ada di darat hanya terdiri dari istana, masjid atau candi pada masa pra-Islam, serta pertahanan dan pemukiman orang asing. Kebanyakan sisa kehidupan biasa termasuk pasar dan industri sampai pengolahan logam dilakukan di atas air, bukan di darat. Peninggalan kuno di bawah air memang bisa dicari, tetapi penelitian ini membutuhkan dana cukup besar.

Selama ini hanya beberapa orang pernah berhasil mengumpul benda kuno dari dasar sungai di pulau Sumatera, tetapi mereka bukan pakar arkeologi, yang sasarannya adalah mencari harta karun untuk dijual. Kegiatan ini sudah dilaporkan dari kawasan Sungai Musi Palembang maupun Batanghari bagian hulu, dengan hasil yang sukar dibuktikan tetapi pasti cukup mewah. Kebanyakan benda yang dikumpul mereka terdiri benda mahal, sedangkan sisa kehidupan bisa dibiarkan saja di bawah air.

Jadi, apakah mungkin ada harapan untuk menemukan kembali sisa perkotaan kuno di dataran timur pulau Sumatera? Memang kita sudah memiliki data dari Jambi, Provinsi Sumsel, maupun Sumtra Utara, tetapi sebagian besarnya hanya mewakili kegiatan tertentu, seperti agama (percandian dan arca). Memang benda yang pernah digunakan masyarakat biasa dalam kehidupan sehari-hari juga kadang-kadang muncul di sekitar candi, tetapi dalam konteks yang sukar ditafsirkan karena letaknya bukan di sekitar perumahan melainkan dekat pusat upacara.

Selama sekitar 37 tahun, tujuan utama dari penelitian saya berpusat pada pencarian data dari benda maupun sumber tertulis tentang pemukiman kuno di Selat Melaka. Sebelumnya, saya pernah sempat menetap di sekitar Sungai Merbok, kawasan selatan Negeri Kedah, Malaysia, selama dua tahun (1968-70). Selama masa itu, saya memperoleh pengetahuan pertama tentang sejarah dan kebudayaan Melayu. Seperti dikatakan Yijing  (I-Tsing), pendeta Cina pada akhir abad ke-7, jalur pelayaran dari Cina ke India melewati Sriwijaya, Melayu, lalu ke Kedah sebelum ke India. Maka di antara ketiga pelabuhan ini sudah terjalin hubungan erat.

Setelah penelitian di daerah kota Medan bersama Hasan Ambari, Nurhadi Rangkuti, Edwards McKinnon, dan almarhum Pieter Ferdinandus, saya tinggal di Bengkulu selama dua tahun sebagai konsultan Bappeda tingkat I. Dari situ liku hidup saya mengarah ke Universitas Gajah Mada tahun1981-1987 sebagai dosen tamu. Namun selama waktu itu saya berkesempatan mengembara ke Jambi untuk pertama kali, lalu Sumatra Barat, dan kembali ke Bengkulu. Pada tempat yang terakhir pernah saya ikut dua kali penggalian bersama Pak Hasan dalam rangka perbandingan antara pemukiman orang Inggris dan orang Malayu setempat pada akhir abad 17. Hasilnya cukup menarik.

Selama 25 tahun terakhir setelah pindah ke Singapura, saya sempat menemukan data yang cukup banyak tentang pola pemukiman pada pulau itu. Keadaan peninggalan di situ agak lain dari pola di Sumatera, oleh karena sungai Singapura cukup pendek dan sempit, sehingga kebanyakan penduduk justru tinggal di darat. Luas wilayah kota kuno di sana meliputi sekitar 85 hektar, jauh lebih kecil dari Muara Jambi, misalnya, sesuai dengan kedudukannya sebagai sebuah pelabuhan yang biasanya merupakan bagian dari kerajaan yang berpusat di tempat lain. Namun data dari situ cukup banyak, karena berada di darat, bukan pada dasar sungai.

Data arkeologi yang dikumpul sejak tahun 1984 menunjuk kepada kesimpulan bahwa Singapura dihuni sejak sekitar 700 tahun lalu atau tahun 1300 masehi. Kesimpulan ini sesuai dengan petunjuk yang ada pada Sululatus-salatin. Dalam sumber itu, ditulis bahwa Singapura pernah dikuasai oleh lima orang raja, yang terakhir bernama Iskandar Shah. Bahwa baginda pernah hidup dibuktikan oleh sumber Cina yang menyebut bahwa nama Sultan Melaka pada tahun 1405 yang dikunjungi Zheng He adalah Iskandar Syah.

Juga dilaporkan bahwa baginda meninggal pada tahun 1413. Menurut Sululatus-salatin, kelima raja Singapura berkuasa selamat 114 tahun, sehingga Singapura menjadi kerajaan pada tahun 1299 M.  Tanggal itu cocok sekali dengan peninggalan arkeologi, terutama keramik Cina, yang mulai muncul di Singapura sekitar tahun 1300. Jejak searah Singapura dapat ditemukan sampai dengan sekitar tahun 1600, apabila dihancurkan. Singapura kemudian ditinggalkan selama 200 tahun, Kerajaan di sekitar Singapura nyaris tidak ada selama 60 tahun kemudian. Diketahui misalnya bahwa Batu Sawar pernah diserang oleh Jambi antara tahun 1640-75. Akhirnya sebuah pusat kerajaan baru didirikan di kepulauan Riau pada tahun1680.

Semua data yang disebutkan tadi menunjukkan bahwa keadaan politis di kawasan ujung selatan Selat Melaka sangat kacau setelah tahun 1500, serentak dengan kedatangan orang Eropa.

Bagaimana keadaan sebelumnya?

Sudah jelas bahwa cerita Sulalatus-salatin tidak dapat dipegang sebagai sumber data pasti, namun sebaliknya juga bukan khayalan semata. Fakta dan khayalan tercampur. Data sejarah dapat dipakai untuk menjelaskan beberapa hal, namun harapan utama untuk masa depan adalah arkeologi.

Salah satu pertanyaan besar yang muncul dari pelajaran Sejarah Melayu (SM) menyangkut Jambi. Sekarang pendapat Pak Wolters bahwa bagian SM yang menggambarkan Singapura  merupakan khayalan tidak dapat diterima. Lalu, kenapa Jambi tidak pernah muncul dalam SM?

Pada tahap ini, saya minta izin untuk mengemukakan beberapa kesimpulan dari penelitian saya selama ini.Pertama-tama, kedudukan Palembang sebagai pusat kerajaan Sriwijaya tidak dapat disangkal. Kedua, kekuasaan Sriwijaya di selat Melaka tidak mutlak seperti disimpulkan oleh berbagai pakar sejarah. Prasasti terakhir dari Asia Tenggara yang menyebut nama Sriwijaya adalah prasasti Ligor, bertanggal 775 M. Utusan terakhir dari Sriwijaya ke Cina telah tiba pada tahun 742. Sumber-sumber Cina dari masa itu menjelaskan bahwa Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan ganda dengan pusat pentadbiran kedua di Barus.

Setelah tahun 742, sumber Cina tidak lagi menyebut Shili foshi.  Sebuah nama baru mulai muncul sebagai sebutan untuk Sumatra Tenggara: San foshi. Banyak sejarahwan tetap berpegang pada pendapat bahwa perubahan ini tidak berarti, dan terus menterjemahkannya dengan kata Sriwijaya. Guru saya, Pak Wolters, akhirnya mengakui bahwa pada nama Sriwijaya tidak tepat lagi untuk menyebut pusat penguasa tertinggi di Sumatra Tenggara setelah 1082 (Wolters 1983: 51). Menurut hemat saya, pada tahun 840 Jambi tidak lagi tertunduk kepada kedaulatan Sriwijaya, karena utusan Jambi dikirim ke Cina pada tahun 852 dan 871. Tidak terdapat utusan dari Sriwijaya pada kurun waktu itu, suatu tanda bahwa kekuasaan utama sudah pindah dari Palembang ke Jambi.

Ketua dari kampung saudagar di Fujian pada tahun 904 berasal dari Sumatra. Utusan dari San foshi dengan gelar “Jambi” telah tiba di Cina pada tahun 905.Hubungan antara Sanfoshi dan Cina telah berjalan terus antara abad 10 dan 15. Pendeta terkenal dari India bernama Atisha telah menetap di Sumatra selama 12-13 tahun sebelum pindah ke Tibet. Beliau cuma melaporkan bahwa tempat tinggalnya di Sumatra bernama Sriwijayanagara di Malayagiri di Suvarnadvipa. Mungkin Nagara (dalam arti pusat kerajaan) dari Sriwijaya sedang terletak di kerajaan Malayu.

Kerajaan Chola pada tahun 1025 mengakui telah mengalahkan Sriwijaya dan Malayu, tetapi utusan Sanfosi telah tiba di Cina pada tahun 1028. Rupanya orang Tamil hanya berkuasa di bagian utara Selat Melaka, bukan di Jambi atau Palembang.

Utusan dari Sanfoshi tetap datang ke Cina selama beberapa abad. Nama Palembang baru muncul pada pertengahan abad 14, disebut Gugang, Pelabuhan Lama. Kurun waktu paling sibuk dalam kaitan ini adalah abad 12. Nama Malayu sebagai kerajaan muncul kembali di sumber Cina pada abad ke-13.

Kajian sejarah Jambi memang kaya dengan data, tetapi potensi dari kajian arkeologi untuk memberi sumbangan kepada sejarah selama ini masih belum banyak digarap. Pada tahun 2005 suatu pusat penelitian di Universitas Nasional Singapura, bernama Asia Research Centre (ARI), telah diberi sumbangan dana dari M. Paul Munoz, seorang usahawan yang bergerak di bidang pengemasan muatan kapal. Karena minat beliau, ARI diberi kesempatan bekerjasama dengan BP3 (kini berganti Badan Pelestarian Cagar Budaya/BPCB) Jambi, terutama Agus Widiatmoko, Ignatius Suharno, Mohammad Ikhsan, Tri Marhaeni (Balar Palembang), dua orang staff dan lima orang mahasiswa dari Jurusan Arkeologi Unud, dan dua orang staf ARI (Dr. Edmund Edwards McKinnon dan saya), serta mahasiswa NUS termasuk Mr.Lim Chen Siang dan Ms. Foo Shu Tieng, yang sekarang sudah menyelesaikan S2nya dan menjadi staf Satu Arkeologi NSC, ISEAS. Bapak Anthony Reid, ketua ARI pada waktu itu, juga sempat datang ke Jambi. Sejak masa itu, saya juga mulai berkenalan dengan Ibu Sondang Siregar, pakar pengarcaan, dan Ibu Retno Purwanti, khusus penelitiannya tentang kolam Telagarajo.

Pada kesempatan itu, kami merasa terkejut melihat jumlah data yang sudah terkumpul oleh BP3 (Kini BPCB)  Jambi. Hasil penelitian yang sudah dilakukan mereka sangat membantu untuk mempertajam soal penelitian yang dikejar tim kami. Penelitian ini hanya berjalan selama 10 hari,  karena keterbatasan dana, tetapi hasilnya cukup menarik. Wilayah yang disurvei meliputi bagian bawah dari DAS Batanghari, terutama pinggir sungai. Pendekatan ini dilakukan karena dianggap paling tepat agar mencari peninggalan dari masyarakat yang hidup di habitat tersebut.

Kesimpulan yang ditarik adalah bahwa suatu pola pemukiman rumit pernah muncul selama Batanghari bagian bawah pada abad 11-13. Kebanayak artefak yang dapat dipertanggalkan langsung adalah keramik Cina, yang timbul dalam jumlah melimpah sehingga menggarisbawahi kesimpulan bahwa masyarakat Jambi pada abad 11-13 cukup kaya dan terkait erat dengan jaringan perdagangan jarak jauh.

Salah satu temuan menarik adalah botol yang disebut xiao ko ping atau “botol bermulut kecil” dalam bahasa Cina. Pecahan benda yang sama pernah ditemukan dalam penggalian sebelah timur dari Telagaraja (Retno Purwanti 2009: 43). Banyak sekali pecahannya ditemukan di Singapore, dan sebuah contoh hampir utuh ditemukan pada waktu survei.

Diperkirakan oleh beberapa pakar bahwa botol tersebut dirancang khusus untuk menampung air raksa. Bahan tersebut dipakai dalam pengolahan emas. Menurut seorang pakar geologi Beldan, Tobler, terdapat pertambangan air raksa di pedalaman Batanghari waktu Belanda masuk ke sana (Tobler, A. “Djambi verslag uitkomsten van het geologisch-mijnbouwkundige onderzoek in de residentie Djambi 1906-1912.” Jaarboek van het Mijnwezen in Nederlandsch Oost-Indie, Verhandelingen 48,3).  

Air raksa ditemukan pakar geologi lain bernama Hovig dekat tambang emas kuno di Bengkulu; kemungkinan besar di bawah dari Jambi. Menurut laporan Zhao Rugua, arca-arca perwujudan dibuat oleh raja-raja Sanfoqi pada abad 13 awal, dengan sesajen wadah emas, lengkap dengan prasasti yang mengancam orang pada generasi berikut dengan hukuman berat kalau arca tersebut dileburkan. Rupanya ancaman tersebut tidak begitu diperhatikan orang.

Kesimpulan ini masih sementara karena belum didukung oleh penggalian luas, hanya data survei permukaan dan beberapa penggalian ujicoba yang dilakukan secara cepat. Namun data ini dapat dipakai untuk menggambarkan suatu pola pemukiman yang cocok dengan masyarakat yang memiliki sistem ekonomi kompleks. Kesimpulan ini berdasarkan grafik dengan tata jenjang situs (site hierarchy) dengan empat tingkat.Tingkat pertama terdiri dari situs di bawah 1 hektar. Jumlahnya sekitar 25. Pada tingkat kedua, terdapat  situs dengan luas wilayah antara 1 dengan seratus hektar. Jumlahnya 4. Tingkat ketiga, luas wilayah antara 100 dan seribu, terdapat satu, sedangkan tingkat teratas diduduki situs Muara Jambi dengan areal lebih dari 1000 hektar. Pola seperti ini dianggap mewakili masyarakat dengan struktur sosiol ekonomi serta pemerintahan yang sudah maju.

Pola ini dapat dibandingkan dengan wilayah Palembang. Padahal, data seperti ini setahu saya belum dikumpul untuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi. Maka terpaksalah digunakan data dari zaman Belanda. Ternyata di situ juga pernah muncul pola pemukiman dengan empat tingkat. Namun belum diketahui apakah pola tersebut sudah ada pada zaman sebelum penjajahan Belanda.

Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa kerajaan di DAS Batanghari di antara Muara Jambi dan Lambur pada abad 11-13 telah ditandai oleh pola ekonomi yang kompleks. Tetapi gambaran ini baru didasarkan atas data dari sebagian kecil dari seluruh DAS Batanghari. Kalau bagian yang berada di hulu dari Muara Jambi juga termasuk, mungkin keadaan sebelum dan sesudah kurun waktu itu dapat diketahui.

Pada abad 14, rupanya kawasan Batanghari paling hulu sudah menjadi semacam pusat juga, berkaitan dengan kerajaan Adityawarman. Menurut prasasti pada alas arca Amoghapasa dari Padang Roco, arca itu didirikan pada Dharmasraya pada tahun 1286.  Pada waktu itu Malayu juga dikenal oleh Marco Polo sebagai suatu kerajaan, sedangkan rupanya Dharmasaraya adalah pusatnya.

Menurut naskah Nagarakrtagama atau Desawarnana, di antara 24 tempat di Tanah Malayu, yang paling penting adalah Jambi dan Palembang, disusul oleh Teba, kemungkinan Batang Tebo, di hulu Batanghari di mana peninggalan awal bersifat agama Buddha telah ditemukan, dan Dharmasraya. Menurut Hikayat Raja-Raja Pasai, pasukan Patih Gajah Mada telah mendarat dari kapalnya pada Priangan di Jambi (Hill 1960: 62). Mungkin tanggal tersebut menandai penutupan sejarah kerajaan Malayu kuno.

Sekarang, tinggal beberapa pertanyaan yang belum bisa terjawab. Dari segi sejarah, yang bikin saya penasaran adalah: kenapa kerajaan Malayu dan Maharaja Parameswara tidak ditemukan pada SM? Bahwa kedua-duanya pernah berada dapat dipastikan dari berbagai sumber. Rupanya Parameswara harus dianggap sebagai raja terakhir Singapura dan pendiri kerajaan Melaka, bukan Iskandar Shah, tetapi beliau tidak disebut sama sekali dalam SM.

Dari mana asalnya: Palembang, atau Jambi?  Masalah kedua: di mana terletak pusat kerajaan Malayu atau Jambi sebelum abad 11?  Peninggalan setelah serangan Chola cukup padat, sekurang-kurangnya di bagian hilir Batanghari, tetapi di mana lokasi kerajaan yang telah mengirim utusannya ke Cina pada tahun 644-45, sebelum nama Sriwijaya pertama muncul? Di mana letaknya pelabuhan yang dikunjungi Yijing dalam perjalanannya ke India dan pulang ke Cina pada abad  yang sama?

Yang menarik perhatian adalah gelar raja pertama Singapura, yaitu Sri Tri Buana. Kita teringat tentang nama Srimat Tribhuwana Mauliwarmadewa, yang disebut dalam prasasti Amoghapasha sebagai nama raja kerajaan Malayu pada tahun 1275, di samping nama ratu Majapahit pada zamana emasnya Patih Gajah Mada, yaitu Sritribuanatunggadewi. Jadi penggunaan nama ini merujuk baik pada hubungan dengan kerajaan Malayu maupun Majapahit, di mana gelar itu dipakai raja Malayu terlebih dulu.

Karena berbagai faktor, kawasan Sumsel dan Palembang telah berhasil mengambil alih kedudukan utama dalam pensejarahan peradaban Indonesia awal, sedangkan perhatian tentang kerajaan Malayu dan wilayah Jambi masih hampir tidak ada, meskipun peninggalan karya arsitektur di Sumsel jauh lebih sedikit dibandingkan Muara Jambi. Ada beberapa faktor yang dapat ditunjuk bertanggungjawab atas keadaan ini, tetapi kesimpulan utama adalah bahwa penelitian tentang sejarah kuno wilayah Jambi perlu sekali ditingkatkan, dan bahwa hasilnya memiliki potensial untuk merubah gambaran peradaban awal di Sumatera bagian tenggara secara keseluruhan.

*John N. Miksic adalah profesor di National University of Singapore. Ia juga merupakan Kepala Unit Arkeologi, Pusat Nalanda-Sriwijaya, Institut Studi Asia Tenggara. Miksic dikenal luas sebagai pakar internasional terkemuka tentang arkeologi dan sejarah Sumatera. Tulisan di atas merupakan makalah Prof Jhon N. Miksic sebagai pembicara kunci pada pembukaan Konferensi Internasional Studi Jambi Pertama (The First International Conference on Jambi Studies) yang ditaja oleh Jurnal Seloko, Dewan Kesenian Jambi, dan Disbudpar Prov. Jambi pada 21-23 November 2013. Redaksi Kajanglako melakukan penyuntingan seperlunya .


Tag : #Sulalatus-Salatin #Raffles #Majapahit #Malay Archipelago #Origin of Species and Descent of Man



Berita Terbaru

 

Masjid Tua
Senin, 21 Mei 2018 16:39 WIB

Masjid Batu Peninggalan Sayyid Idrus di Seberang Kota Jambi


Kawasan Seberang Kota Jambi dikenal luas sebagai wilayah kampung tradisional Melayu Jambi. Di wilayah ini pula berdiri beberapa pesantren tua dan sisa

 

Senin, 21 Mei 2018 14:28 WIB

Sekda Tanggapi Kabar Monopoli Bank Jambi di Pasar Angso Duo Baru


Kajanglako.com,  Jambi - Terkait beredar kabar di masyarakat bahwa pihak Bank Jambi disebut memonopoli PT EBN, dalam pengelolaan kredit tokok dan

 

Senin, 21 Mei 2018 14:21 WIB

Masalah Pemindahan Pedagang Angsoduo, Ini Kata Sekda Dianto


Kajanglako.com, Jambi - Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, M Dianto angkat bicara terkait permasalahan pemindahan pedagang Pasar Angso Duo lama ke Pasar

 

Senin, 21 Mei 2018 14:13 WIB

Hingga Pendaftaran Tutup, Hanya Satu Nama Mencalonkan Jadi Ketua KNPI Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Dewan Pengurus Daerah (DPD) II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bungo, siap menggelar Musyawarah Daerah (Musda)

 

Senin, 21 Mei 2018 13:58 WIB

Shoft Lounching Kantor Imigrasi, Bupati Bungo: Warga Urus Paspor Lebih Mudah


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, H Mashuri, secara resmi melaksanakan Soft Launching Kantor Imigrasi Kabupaten Bungo, Senin 21 Mei 2018.  Dengan