Rabu, 18 Juli 2018


Rabu, 21 Februari 2018 13:30 WIB

Konstruksi Seni Rupa Modern Indonesia

Reporter :
Kategori : Oase Esai

Ilustrasi. Penyerahan Diepo Negoro kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus Baron de Kock, 28 Maret 1830, yang mengakhiri Perang Jawa (1825-30). Sumber: wikipedia.org

Oleh: Asikin Hasan*

Ketika kita bicara seni rupa modern Indonesia, sesungguhnya kita hanya bicara tentang seni rupa Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan sedikit kota-kota lain di seputar Jawa. Lalu, bagaimana bagian lain Indonesia yang besar dan luas itu?



1. Akar

Kolonial Belanda datang ke Nusantara tak hanya membawa tipu daya, dan tentara. Tapi juga membonceng para ahli gambar. Sebab, dengan gambar itulah mereka membuat pelbagai arsip dan pemetaan mengenai harta kekayaan alam nusantara. Sembari lewat gambar pula mereka merendahkan masyarakat pribumi dengan cara pandang orientalisme; berkaki ayam, berkulit legam, suka madat, tak berbaju, memikul beban di punggung, kadang-kadang bersorban.

Tapi ahli gambar itu seniman bebas yang, rupanya tak betah hanya menggambar jenis-jenis buah-buahan, tetumbuhan, hewan, wajah pribumi yang eksotis, dan gambar pesanan lainnya. Mereka euforia dengan alam sorga nusantara, mereka tak tahan menyimpan rasa haru biru. Lalu, dari situ terbitlah lukisan alam pemandangan “Mooi Indie”. Nusantara dilihat sebagai seorang perempuan molek seksi tengah bertelanjang bulat, sedap dipandang mata.

Belakangan, orang pribumi juga melukis serupa orang-orang Barat itu. Ahli gambar kolonial kaget. Mereka tak menduga kalau sang pribumi yang selalu digambarkan dekil ternyata juga bisa menggambar dan pintar. Raden Saleh (1807-1880) memulai sejarah baru itu. Ia belajar pada pelukis dan ahli litografi Eropa, Antoine Auguste Joseph Payen. Raden Saleh dianggap berbakat, dan mendapat beasiswa untuk melanglang buana ke negeri Eropa; belajar, melukis, dan berdiplomasi dengan petinggi kerajaan di Belanda, Perancis, Jerman, dan lain sebagainya.

Tak terhindari Raden Saleh terbelah dalam dua dunia. Di satu sisi, ia hidup dan melukis di lingkaran istana para penjajah, di sisi lain menyaksikan bangsanya yang susah dan terluka oleh penjajah. Tapi, lukisan “Tertangkapnya Diponegoro”, memperlihatkan sikap kritisnya atas kuasa politik kolonial. Dan, bisa juga upaya mengobati luka menganga bangsanya.

Beberapa dekade setelah Raden Saleh, sang pribumi bahkan bergerak lebih maju. Mereka bahkan berani mengeritik keras bahwa, karya ahli gambar kolonial tak lebih dari manifestasi selera rendah. Mimpi sebuah rupa yang hanya memuaskan dirinya sendiri. S. Sudjojono (akrab disapa Pak Djon; 1913-1986) dalam “Seni Loekis di Indonesia Sekarang Dan Jang Akan Datang”, dimuat Majalah Boelanan “Keboedajaan dan Masjarakat, No. 6, Th I, Oktober 1939, membongkar kedangkalan “Mooi Indie” yang hanya terampil menggambar trimurti; sawah, pohon kelapa, dan gunung.

Gambar sejati dan benar adalah yang memperlihatkan kedalaman “jiwa” pelukisnya atas realitas. Pak Djon menyebutnya dalam Jawa sebagai “Jiwa Ketok”. Corak lukisan ini memang berbeda dari “Mooi Indie”. Lukisannya banyak mengangkat antara lain; fenomena sosial, politik, heroisme, dan parodi. Siapa nyana pak Djon dan teman-teman yang kemudian menghimpun diri dalam PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia), bisa memajang karya-karyanya di Kunskring, Batavia, ruang pamer bergengsi yang pernah memamerkan antara lain karya Picasso, Vincent van Gogh, Victor Vasarely, Mark Chagall, dan lain-lain.

Dari mana ahli gambar pribumi bisa berfikir kritis dan berkarya secanggih itu. Tentu saja dengan susah payah belajar dari para pihak, dan membaca buku-buku dari Barat juga. Pak Djon pernah belajar pada pelukis Mooi Indie; Pirngadi dan seorang pelukis Jepang bernama Yazaki.

2. Peristiwa

Kehadiran seorang perupa dan karya-karya dinyatakan di ruang pamer, atau dalam peristiwa-peristiwa seni rupa. Pada 1974, untuk pertama kali berlangsung Pameran Besar Seni Lukis Indonesia, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta/Taman Ismail Marzuki. Kendati labelnya “Seni Lukis Indonesia”, jangan tanya siapa peserta pameran, panitia, dewan juri, pengunjung, dan penggunjingnya. Dalam catatan saya dari 81 peserta, sebagian besar berasal dari segitiga emas; Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Hanya beberapa dari kota lain; Surabaya 8 orang, Surakarta 1 orang, dan Bukittinggi (Sumbar) 1 orang, yaitu; Oesman Effendi. Sebagian besar dari mereka berlatar pendidikan ASRI/STSRI, Dep. Seni Rupa ITB, LPKJ/IKJ, dan AKSERA-Surabaya.

Belum setahun berselang, pada 1975 juga di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, muncul peristiwa lebih besar, dan ini disinyalir sebagai tonggak seni rupa kontemporer Indonesia yaitu, lahirnya Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Peristiwa ini paling menarik perhatian bukan hanya di Indonesia, tapi di kawasan Asia Tenggara. Gerakan yang sempat surut pada 1979, dan kemudian pasang kembali pada 1987, dan berakhir pada 1989, dengan karya instalasi “The Silent World” dipamerkan uji coba di TIM-Jakarta, sebelum kemudian dipamerkan di forum internasional ARX, Australia. Di masa-masa inilah Sanento Yulimaan melontarkan gagasan pluralisme dalam seni rupa. Dan, ia mengajukan tesis Seni Rupa Atas dan Seni Rupa Bawah.

Di Yogyakarta pada 1992 muncul Binal Experimental Arts, selaku sindiran atas Biennale III Yogyakarta yang, tak memberi ruang kreativitas bagi para perupa muda di masa itu. Pameran Binal yang justru lebih menarik perhatian publik, dan diulas besar-besaran oleh media, terutama majalah TEMPO, karena menampilkan performance “Kuda Binal”. Memelesetkan pelbagai hal yang terjadi di sekitarnya memang menjadi ciri khas Yogyakarta di masa itu. Peristiwa yang antara lain dipelopori Heri Dono dan Edhi Hara, itu segera menarik perhatian. Heri Dono muncul sebagai bintang baru dan diundang dipelbagai peristiwa seni rupa penting di mancanegara. Kantung-kantung seni rupa kontemporer dipelbagai negarapun silih berganti mengundangnya untuk residensi.

Pada akhir 1993, berlangsung Bienniale IX; Pameran Seni Rupa Kontemporer Jakarta, ditandai sebagai gejala Seni Rupa Post-Modernisme, menampilkan kecenderungan media baru; instalasi, video art, performance, obyek, fotografi, disamping masih menyisakan ruang bagi lukis dan patung. Komentar sosial politik nampak menguat dalam pameran ini, terutama dengan kehadiran instalasi “Penggalian Kembali”, karya Semsar Siahaan. Gema pameran ini terdengar sampai jauh. Berbulan-bulan setelah pameran usai, media massa, dan forum-forum diskusi masih membicarakan kuratorial, karya-karya, dan pelbagai paradoks di dalamnya.

3. Debat

Debat itu bagus, kendati kadang-kadang bisa melukai satu sama lain. Tapi jangan khawatir luka-luka itu justru yang akan menguatkan semangat untuk menempuh perjalanan mendaki dan bergerak jauh. Bahkan, kondisi kheos kita perlukan untuk membangun kembali konstruksi baru dari kehidupan kita. Soekarno pernah bilang bahwa, kita tak ingin menjadi bangsa yang hanya “adem tentrem”, kita adalah bangsa yang hampir hancur lebur, dan bangkit kembali. Picasso juga pernah berujar bahwa, karya-karya besar lahir dari peristiwa-peristiwa besar.

Kita ingat ketika seni rupa modern memasuki usia remaja di sekitar 1960-an, antara kekuatan Yogyakarta dan Bandung nampak bertungkuslumus untuk menegaskan; kenapa mereka memilih ini dan bukan itu. Yogyakarta yang memandang diri memihak pada rakyat, merasa perlu menyerang Bandung yang kebarat-baratan dan individualistik. Trisno Sumardjo seorang penulis seni rupa menuding Bandung sebagai “Pengabdi Laboratorium Barat”. Setelah PERSAGI menyerang “Mooi Indie” sebagai lukisan penyejuk hati para turis, inilah ketegangan dan debat yang banyak memberi pelajaran bagi kita.

Di era 1970-an kontroversi dan debat atas karya-karya Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), di DKJ/TIM Jakarta, menandai sebuah perubahan besar akan terjadi. Kritik tajam anggota GSRB atas universalisme yang mendasari lahirnya seni rupa modern di Indonesia, mengguncang para pelukis yang merasa posisinya sudah mantap, dan bahkan membuat gusar perguruan tinggi seni rupa. Pandangan pluralisme yang diajukan GSRB mendapat tantangan, sekaligus juga dukungan dari pelbagai pihak. Setelah benturan keras di antara para pihak, lahirlah sebuah orde yang baru yang sekarang kita kenal sebagai seni rupa kontemporer. Dan, buahnya dinikmati oleh beberapa generasi sesudahnya hingga kini.

Seni Rupa Kontemporer dirayakan besar-besaran dalam Bienniale IX Jakarta 1993. Isu seni rupa post-modernisme dilontarkan kuratornya, untuk menandai karya-karya yang ditampilkan dalam pameran tersebut. Dan, tentu saja seperti peristiwa besar lainnya, wacana seni rupa post-modern menjadi perdebatan seru di masa itu.

4. Wadah

Perang kita dengan kolonial Belanda sesungguhnya bukan soal saling melukai fisik. Oleh sebab itu kisah “bambu runcing” segera sirna dalam ingatan kolektif kita kini. Perang kita sesungguhnya adalah perang budaya. Bayangkan pada 1778, Belanda bukan membangun pabrik senjata, melainkan merancang bangunan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Watenchappen (Lembaga Kebudayaan Kolonial Belanda) – sekarang menjadi Museum Nasional, terletak di ring satu Jakarta. Dari lembaga itulah sesungguhnya awal mula kita mengenal seni rupa modern. Juga pada 1914 mereka membangun tempat pameran seni rupa modern KUNSTKRING, yang pada masa itu pernah memamerkan karya-karya; Vincent van Gogh, Mark Chagall, Pablo Picasso, dan lain sebagainya.

Mereka juga menyiapkan sekolah, atau produsen yang memproduksi kaum intelektual, teknokrat, dan seniman. Mereka membangun THS – sekarang ITB. Dan, turunan dari apa yang dibangun oleh kolonialisme itulah di kemudian hari, Bung Karno menggagas berdirinya ASRI. Sejumlah pelukis yang terlibat dalam sanggar seni rupa di Yogyakarta dimobilisasi untuk mengajar dan membagi pengetahuan. Di Bandung, dengan inisiatif Ries Mulder, seorang Belanda, mendirikan Departemen Seni Rupa di ITB.

Kolase ini sekedar menggambarkan pelbagai soal yang ikut membangun konstruksi seni rupa modern kita saat ini.

*Asikin Hasan adalah kurator galeri nasional Indonesia. Tulisan ini merupakan paper penulis dengan judul Kolase yang disampaikan dalam Dialog Seni Rupa Modern Indonesia, rangkaian kegiatan dalam Temu karya taman Budaya se-Indonesia, yang ditaja Taman Budaya Provinsi Jambi pada 4-8 Juni 2013. Pemuatan ini atas seizin Taman Budaya Jambi dengan tujuan memasyarakatkan literatur seni dan budaya.


Tag : #Kolonial Belanda #ahli gambar #orientalisme #Raden Saleh #Seni Rupa Indonesia



Berita Terbaru

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 11:48 WIB

Ini Bacaleg Golkar yang Berpotensi Dulang Suara di Kota Jambi


Kajanglako.com, Kota Jambi - Golkar Kota Jambi optimis akan meraih maksimal di Pemilu 2019, mereka menargetkan 7 hingga 8 kursi di DPRD Kota Jambi.    Pengurus

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 11:15 WIB

Jumlah Bacaleg yang Terdaftar di KPU Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Proses penerimaan pendaftaran Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) Pemilu 2019 untuk DPRD Provinsi Jambi, telah rampung dilaksanakan

 

Rabu, 18 Juli 2018 09:09 WIB

Pertanyakan Akuisisi Pertagas oleh PGN, Ihsan: Apa Urgensinya?


Kajanglako.com, Jakarta - Selasa, 17 Juli 2018, Komisi VI DPR RI melanjutkan rangkaian Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan mitra komisi. Kali ini RDP berlangsung

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 03:49 WIB

Ini Dasar KPU Bungo Tolak Berkas Partai Garuda Hingga Tereleminasi


Kajanglako.com, Bungo - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bungo menolak berkas pendaftaran Bacaleg dari Partai Garuda. Penolakan tersebut disebabkan masih

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 03:42 WIB

Hari Terakhir Pendaftaran di KPU Bungo, Bacaleg Partai Garuda Tereleminasi


Kajanglako.com, Bungo - Banyak partai politik di Kabupaten Bungo memilih mendaftarkan bakal calon legislatifnya pada akhir waktu. Padahal tidak ada