Selasa, 16 Oktober 2018


Rabu, 21 Februari 2018 12:56 WIB

Uang dan Krisis Moral

Reporter :
Kategori : Ragam Features

ilustrasi

Oleh: Yudi Latif*

Saudaraku, di zaman pemberhalaan materi, kemana pun derap langkah seakan tak ada keselamatan di luar pasar. Di hadapan kuasa uang, segala agama-etika meleleh.



Banjir uang yang menerjang jagat politik membawa penyakit epidemik di ranah publik. Segala nilai dikonversikan jadi nilai uang.

Relasi publik menjadi hubungan konsumtif. Politik mengalami konsumerisasi dan privatisasi. Pengibaran citra-diri menggantikan kualitas jati-diri.

Sihir moneter ini bahkan menembus jantung pertahanan sipil. Masyarakat madani sebagai reservoir nilai sipilitas dan kesukarelaan jebol ketika uang menjadi penentu, bahkan dalam pemilihan pemimpin ormas keagamaan.

Dalam kehidupan publik yang sehat, ada banyak hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Namun, kini, cuma sedikit yang masih tersisa.

Memberi harga pada pranata kebajikan publik mengandung daya korosif dan koruptif bagi perkembangan bangsa. Alasannya karena uang (pasar) bukan saja mengalokasikan barang, tetapi juga mempengaruhi sikap manusia dan nilai barang yang diperjualbelikan.

Melelang bangku sekolah kepada pembayar tertinggi memang bisa meningkatkan keuntungan, namun juga melunturkan integritas dunia persekolahan dan nilai ijazahnya, seraya merusak prinsip kesetaraan meritokratis.

Menyewakan “kenyamanan” sel tahanan kepada para pesakitan berduit tidak bisa diterima, karena tahanan bukanlah tempat pelesiran, melainkan tempat hukuman-rehabilitasi sosial. Memberi kenyamanan kepada tahanan menempatkan kejahatan sebagai sesuatu yang mulia.

Pilihan politik bukan untuk diperjualbelikan, karena hal itu menyangkut hak dan kewajiban warga negara. Kewajiban kewargaan tidak sepatutnya dianggap sebagai properti perseorangan yang bisa dijual, tetapi harus dipandang sebagai pertanggungjawaban publik. Menjual hak pilih menjadikan urusan publik dikendalikan oleh kekuatan privat.

Ayat-ayat kitab suci bukan untuk diperjualbelikan, karena pemanipulasian pesan-pesan keilahian bagi kepentingan murahan mencerminkan korupsi terdalam terhadap sumber etika-moralitas, yang akan membuat warga kehilangan kepercayaan pada apapun dan siapapun.

Kita sudah menyaksikan bagaimana konstitusi terus ditambah pasal-pasalnya dan berbilang undang-undang terus diproduksi, namun sekadar untuk dilanggar. Konstitusi dan hukum tak dapat berdiri tegak tanpa basis moral yang kuat.

Pada akar tunjang krisis penyelenggaraan negara saat ini terletak krisis moral. Dan krisis moral penyelenggara negara itu mencerminkan rendahnya tingkat literasi budi-pekerti dalam masyarakat. Bangkit dari keterpurukan harus dimulai dari gerakan “keutamaan budi” (budi utomo), dalam "persekutuan kebajikan" (jami'at khair). Itulah khitah sejarah kebangkitan kita.

Dalam kebangkitan dengan keutamaan budi itu, hendaklah kita mengingat pitutur Socrates. "Kebajikan tidaklah datang dari uang; tetapi dari kebajikanlah, uang dan hal baik lainnya datang kepada manusia, baik kepada individu maupun negara."

*Yudi Latif, Ph.D. merupakan Kepala Pelaksana Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Pemikirannya dalam bidang keagamaan dan kenegaraan tersebar di berbagai media, salah satunya dituangkan dalam buku "Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila". Catatan ini (oleh penulis disebut Makrifat Pagi) pertama kali diunggah di laman facebook pribadinya, 22 Februari 2018. Pemuatan tulisan ini atas izin yang bersangkutan.

 


Tag : #politik uang #krisis moral #pemberhalaan materi



Berita Terbaru

 

Penerimaan CPNS 2018
Selasa, 16 Oktober 2018 11:34 WIB

243 Pelamar CPNS Pemprov Jambi Tak Lolos Verifikasi


Kajanglako.com, Jambi - Pendaftaran online CPNS 2018, secara resmi telah ditutup Minggu (14/10) pukul 23.59 WIB   Khusus pelamar CPNS Pemprov Jambi,

 

Selasa, 16 Oktober 2018 11:21 WIB

Pendirian Tempat Ibadah Harus Rekom FKUB


Kajanglako.com, Merangin - Untuk pendirian tempat ibadah baru di Merangin harus mendapat izin Bupati. Pada prosesnya setiap pembangunan tempat ibadah harus

 

Selasa, 16 Oktober 2018 09:43 WIB

Bagi yang Lolos Seleksi CPNS 2018, Ini Gaji yang Kamu Terima


Kajanglako.com - Tahun 2018 ini, Pemerintah telah resmi membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Baik untuk Kementerian, Lembaga dan Pemerintah

 

Karya
Selasa, 16 Oktober 2018 09:02 WIB

Seputar 'Sang Nabi' Kahlil Gibran


Oleh: Widodo* Beberapa hari lalu, saya mengunjungi Gramedia Jambi. Dan saya terkejut. Di antara koleksi pustaka sastranya yang minimalis, ternyata toko

 

Selasa, 16 Oktober 2018 08:06 WIB

5 Tahun Berturut Tak Diraih, Pemkab Sarolangun Bertekad Rebut Kembali Adipura


Kajanglako.com, Sarolangun - Sudah 5 tahun Kabupaten Sarolangun tak lagi diganjar sebagai kota bersih, untuk itu Pemerintah Kabupaten kembali menargetkan