Selasa, 16 Oktober 2018


Selasa, 20 Februari 2018 10:02 WIB

Tipologi Pemilih Pileg 2019 di Jambi Pasca-OTT KPK

Reporter :
Kategori : Perspektif

Ilustrasi. Sumber Foto: metrotvnews

Oleh : Ratna Dewi*

Prihatin. Mungkin itu kata yang tepat menggambarkan suasana kebatinan kita pada umumnya beberapa waktu lalu, ketika satu tindakan dari rangkaian prosedural pemberantasan tindak pidana korupsi, akhirnya juga menyasar Jambi setelah sebelumnya menggegerkan beberapa daerah tetangga. Memang ada kesan atau mungkin juga fakta, bahwa respon masyarakat Jambi seperti terbelah. Sebagian mengutuk, bersedih lalu bersimpati. Sebagian lain bertepuk tangan, bergembira dan tak henti bersorak di media sosial seolah entah merayakan apa.



Setiap peristiwa, biasanya mengandung kontradiksinya sendiri, seperti dua bilah mata pisau apalagi yang setajam Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. Ia merupakan bencana sekaligus juga hadiah bagi mereka yang mementingkan kenyataan di atas tipudaya. Bencana karena memporakporandakan tatanan pemerintahan yang kelihatannya tenang dan mengganggu kinerja secara umum. Hadiah, karena atasnyalah, praktek kotor yang tersembunyi dapat terdongkel ke permukaaan dan menjadi semacam arus balik bagi mereka yang merindukan politik lokal yang bersih.

Setelah memasuki babak persidangan para tersangka (hasil OTT), makin terbuka lanskap persekongkolan anggaran antar legislatif dan eksekutif serta siapa saja aktor dan dari partai mana mereka berasal. Setidaknya 17 nama anggota dewan disebut termasuk para pimpinan dan ketua fraksi. Di luar yang disebut, disangkakan juga akan menerima sejumlah rupiah yang terhalang soal waktu saja. Praktis semua partai yang memiliki kursi disebut. Golkar, PDIP, PAN, Demokrat, Gerindra, Hanura, Nasdem, PKB dan PPP. Hanya PBB dan PKS yang belum menerima walau disebut bahwa jatah rupiah untuk mereka juga telah disiapkan.

Dus, para anggota dewan dan partainya itu merupakan produk pemilu legislatif (pileg) tahun 2014 di provinsi Jambi. Saat itu, tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,2 persen, angka yang cukup besar dibandingkan nasional 75,11 persen. Tingkat partisipasi memang ditentukan oleh banyak faktor, tetapi tulisan ini berupaya melihat seberapa jauh OTT KPK berpengaruh terhadap kecenderungan partisipatif masyarakat yang sekaligus mewakili arah pemilu legislatif di Jambi tahun depan.

Saya melakukan survei kecil dan terbatas dengan memberi pertanyaan pada 43 orang yang dipilih secara acak. Dari 43 itu, ada10 orang partisipan yang mengaku golput aktif sejak pemilu 2014 dan memilih tetap golput di 2019. Jumlah yang cukup besar yaitu 23,26 % dari populasi sampel. Jumlah ini selanjutnya tidak akan dihitung karena ada atau tidaknya peristiwa OTT KPK tidak mempengaruhi keputusan golput mereka yang telah menahun.

Sisanya yaitu 33 orang lainnya adalah pemilih aktif. Dari jumlah ini ada 4 partisipan (12,12%) yang memutuskan tidak akan menggunakan lagi hak pilihnya di pemilu 2019 paska OTT (menambah angka golput menjadi 32,56%). Sementara 29 orang sisanya  (87,88) bergeming. Mereka tetap akan mencoblos. Derivasi terjadi pada pilihan coblosan. 15 orang (51,73% dari 29 peilih) secara tegas menyatakan tidak akan memilih partai maupun anggota dewan yang disebut menerima uang 'ketok palu' (ada 11 partai incumben). Sisanya 11 partisipan (37,93%)  akan tetap memilih partai yang terlibat skandal ketok palu namun tidak akan memilih anggota dewannya lagi, kecuali 1 orang saja dengan alasan kekerabatan. Sisanya 3 orang pemilih masing-masing menyatakan masih ragu, bingung dan tak peduli.

Responden

Apakah anda menggunakan hak pilih pada pileg 2014?

Paska OTT KPK, apakah anda akan tetap menggunakan hak pilih di pileg 2019?

Apakah anda akan memilih partai dan anggota dewan yang disebut menerima uang ketok palu?

1

Ya

Tidak

Tidak

2

Ya

Ya

Ya (memilih karena faktor kerabat)

3

Ya

Ya

Tidak

4

Ya

Ya

Masih bingung

5

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

6

Tidak

Tidak

Tidak

7

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

8

Ya

Ya

Tidak

9

Tidak

Tidak

Tidak

10

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

12

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

13

Tidak

Tidak

Tidak

14

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

15

Ya

Tidak

Tidak

16

Tidak

Tidak

Tidak

17

Ya

Ya

Tidak

18

Ya

Ya

Tidak

19

Tidak

Tidak

Tidak

20

Ya

Ya

Tidak

21

Ya

Ya

Tidak

22

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

23

Tidak (faktor teknis)

Ya

Tidak

24

Tidak

Ragu

Tak peduli, kalau kenal secara pribadi dipilih

25

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

26

Ya

Ya

Tidak

27

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

28

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

29

Ya

Ya

Tidak

30

Ya

Ya

Tidak

31

Ya

Ya

Tidak

32

Ya

Ya

Tidak

33

Ya

Ya

Tidak`                                                   

34

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

35

Ya

Ya

Tidak

36

Tidak

Tidak

Tidak

37

Tidak

Tidak

Tidak

38

Tidak

Ya

Tidak

39

Tidak

Tidak

Tidak

40

Ya

Tidak

Tidak

41

Ya

Ya

Ya (partai), tidak (anggota dewan)

42

Ya

Tidak

Tidak

43

Tidak

Tidak

Tidak

Menilik tabel di atas, kita dapat melihat tingkat pelibatan diri pemilih Jambi ke TPS pada pemilu tahun 2019 masih akan tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh previlensi angka partisipan yang tak bergeming sebesar 87,88 %. Adapun kemungkinan tingkat keterpilihan partai yang terlibat skandal ketok palucukup terjun bebas ke angka 37,93%, dengan harapan nyaris nol (0) untuk anggota dewan yang terlibat skandal bisa terpilih kembali jika mereka mencalonkan.

Opsi memilih terbesar yaitu 51,73% justru disumbang oleh mereka yang berkomitmen mencoblos  di luar 11 partai incumben. Angka ini tentu menarik untuk digarap 3 partai baru yang telah ditetapkan KPU menjadi peserta pemilu pada pileg 2019 yaitu PSI, Partai Garuda dan Partai Berkarya.

Dari hasil survey itu, beberapa hal dapat disimpulkan sementara. Pertama, skandal suap anggaran yang melibatkan anggota DPRD Provinsi Jambi akan menyumbang penambahan 12,12% angka golput di pileg 2014. Skandal ini juga menggulung pesimisme yang semakin akut dari para golputers yang semakin antipati terhadap pemilu. Tidak ada satu faktor besar terkait kinerja atau prestasi yang mampu melelehkan kebekuan pilihan politik para golputers untuk datang ke TPS.

Kedua, skandal suap anggaran menurunkan prevelensi keterpilihan 11 partai incumben dan membuka kesempatan lebih luas bagi 3 partai baru untuk mencuri suara pemilih yang beralih.

Ketiga, bertambahnya angka golput 12,12%, tidak mengurangi optimisme 88,87% pemilih pileg 2014 lalu yang memutuskan tetap mencoblos di 2019 mendatang. Di sini terlihat tipologi masyarakat Jambi termasuk kategori pemilih yang tahan banting. Mereka enggan “menyerah” pada keadaan, ogah kapok pada praktek politik anggota dewan yang korup. Mereka sepertinya percaya bahwa jika mereka pernah menjatuhkan pilihan yang salah, maka cara terbaik untuk memperbaikinya adalah dengan mengoreksi pilihan sebelumnya, bukan memutuskan untuk pergi dan tak peduli.

Pada poin ketiga inilah, saya melihat mental korektif orang-orang Melayu. Mereka terbuka untuk mengakui kesalahan dan bersedia melakoni mekanisme perbaikan diri yang terus menerus, bahkan dalam politik sekalipun. Bukankah memang demikian demokrasi mengajarkan kita. Yang terpenting bukan melulu mencari kebenaran, tapi juga menemukan kesalahan dan memperbaikinya.

Mari bergembira menyambut pesta demokrasi kita.

*Penulis pernah menjabat sebagai Ketua KPU Kota Jambi periode 2008-2013 dan sekarang aktif sebagai peneliti di Seloko Institute. Opini penulis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi.


Tag : #Pileg 2019 di Jambi #Demokrasi #OTT KPK di Jambi



Berita Terbaru

 

Selasa, 16 Oktober 2018 09:43 WIB

Bagi yang Lolos Seleksi CPNS 2018, Ini Gaji yang Kamu Terima


Kajanglako.com - Tahun 2018 ini, Pemerintah telah resmi membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Baik untuk Kementerian, Lembaga dan Pemerintah

 

Karya
Selasa, 16 Oktober 2018 09:02 WIB

Seputar 'Sang Nabi' Kahlil Gibran


Oleh: Widodo* Beberapa hari lalu, saya mengunjungi Gramedia Jambi. Dan saya terkejut. Di antara koleksi pustaka sastranya yang minimalis, ternyata toko

 

Selasa, 16 Oktober 2018 08:06 WIB

5 Tahun Berturut Tak Diraih, Pemkab Sarolangun Bertekad Rebut Kembali Adipura


Kajanglako.com, Sarolangun - Sudah 5 tahun Kabupaten Sarolangun tak lagi diganjar sebagai kota bersih, untuk itu Pemerintah Kabupaten kembali menargetkan

 

Selasa, 16 Oktober 2018 07:45 WIB

Menuju 10 Besar, Nilai Tes Calon Anggota KPU Akan Diakumulasi


Kajanglako.com, Jambi - Sistem penilaian berbeda dari seleksi-seleksi sebelumnya dilakukan dalam seleksi Calon Anggota KPU 4 Kabupaten/Kota di Provinsi

 

Pencurian Ternak
Senin, 15 Oktober 2018 22:18 WIB

Polisi Tangkap Kawanan Spesialis Pencuri dan Penjagal Ternak Sapi


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Empat pelaku spesialis pencuri ternak sapi, tak berkutik saat ditangkap Polsek Pengabuan. Kawanan pelaku ditangkap