Rabu, 26 September 2018


Sabtu, 17 Februari 2018 11:08 WIB

Pergantian Sultan-sultan di Djambi

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Konon, Radja Kijai Gede memerintah secara semena-mena. Banyak orang yang dibunuh di kraton dan ada pula yang mengatakan bahwa ia bahkan berniat membunuh Sultan, ayahandanya. Untunglah, ini tidak terjadi. Karena ia takut pada kemarahan ayahnya, ia segera menemui Residen dan menyampaikan bahwa Sang Sultan diam-diam merencanakan pengkhianatan. Residen itu menyelenggarakan pesta dan mengundang Sultan. Akan tetapi, ternyata pada waktu pesta itu, Sang Sultan ditangkapnya dan dibawa ke Batavia. (terkait peristiwa ini, versi lain disampaikan oleh Valentijn (1726), yaitu bahwa pada tahun 1690, pejabat tertinggi Belanda dibunuh di Djambi dan karenanya, Sultan Serie Ingalaha ditangkap dan dibawa ke Pulau Jawa).



Ketika Sultan ditangkap, rakyat memberontak, dipimpin oleh Radin Djoemat (adik Radja Kijai Gede) dan Demang Ketjie. Pemberontakan mereka berhasil digagalkan. Kedua orang itu menyelamatkan diri ke dusun Moeara Tebo. Radin Kijai Gede kemudian menjadi sultan. Radin Djoemat—yang kini bermusuhan dengan kakaknya dan Belanda—juga mengambil gelar ‘sultan’ dengan nama Maharadja Ratoe. Demang Ketjie menjadi panglimanya. Mendengar bahwa adiknya telah menobatkan dirinya sebagai sultan juga, Sultan Kijai Gede murka. Ia mengutus seseorang yang dipercaya ke Palembang untuk meminta bala-bantuan memerangi adiknya. Tak lama kemudian, pasukan-pasukan bantuan dari Palembang, tiba di Djambi.

Pecahlah perang. Mereka bertempur di Serapie. Demang Ketjie tewas dalam pertempuran itu. Jang Dipertoean dari Menangkabaoe turun tangan menengahi. Sebuah kesepakatan tercapai dan peperangan itu berakhir. Kedua belah pihak kembali ke tempatnya masing-masing. Mereka bersepakat bahwa kedua kakak-beradik itu sama-sama melepas kekuasaan mereka. Putra Maharadja Ratoe—dengan gelar Mahomed Sjah—dinobatkan sebagai sultan atas seluruh wilayah Djambi.

Namun, tak lama kemudian, sultan baru ini meninggal dunia. Kijai Gede menggunakan kesempatan itu untuk kembali merebut kekuasaan. Ia berhasil mendapatkan kepercayaan Maharadja Ratoe. Dengan bersepakat dengan Belanda, Kijai Gede berhasil membuat Maharadja Ratoe ditangkap dan dibawa sebagai tawanan ke Pulau Jawa—persis seperti yang dulu terjadi pada ayahandanya (catatan FA: referensi mengenai hal ini juga diungkapkan oleh Valentijn, 1726).  

Dalam suatu perjalanan ke daerah, Sultan Kijai Gede bertemu dengan kemenakannya—anak lelaki adiknya di Moeara Sebo. Karena ia sendiri tidak dikaruniai anak, kemenakannya itu dibawanya pulang. Kijai Gede bermaksud mengangkat kemenakannya itu sebagai putra mahkota. Ketika Kijai Gede meninggal dunia, kemenakan itulah yang menggantikannya di tahta kerajaan, dengan nama Abdoel Mochijie.

(Mantan-) Sultan Maharadja Ratoe sebetulnya memiliki seorang anak lelaki satu lagi, yang bernama Abdul Rachman. Lelaki ini pun merasa memiliki hak untuk menduduki tahta. Setelah Kijai Gede meninggal dunia, Abdul Rahman mengumpulkan massa dan menggempur saudara lelakinya, Abdoel Mochijie. Sang Sultan—yang tidak memiliki kekayaan atau dana untuk berperang, berusaha menyelesaikan pertikaian bersaudara itu dengan jalan damai. Ia menyerahkan tahtanya kepada Abdul Rahman. Abdoel Mochijie kembali ke Soengie Koempeh dan saudara lelakinya dinobatkan sebagai sultan dengan nama Sultan Abdul Rachman Anoem Serie Inglago.

Sultan Abdul Rachman berniat mengatur pemerintahan di kesultanannya dengan cara yang lebih baik. Ia mulai mengatur hirarki pembesar-pembesar kesultanan dan memberikan gelar-gelar yang lebih pantas untuk mereka: putra mahkota—yang akan menjadi sultan di kemudian hari—mendapatkan gelar Pangeran Ratoe. Di bawahnya, terdapat pembesar-pembesar yang bergelar Tommengong, Demang dan Ingebeij.

Salag seorang demang bernama Mieskin. Nama itu sebetulnya tak cocok untuknya karena Demang Mieskin kaya sekali. Oleh kekayaannya itu, ia berniat menikahi salah seorang putri Sultan. Hal ini membuat Sultan gusar. Kemarahan Sultan membuat Demang Miskien pun marah. Ia mendatangi Residen dan menyampaikan hal-hal yang tak benar. Salah satu cerita bohong yang disampaikannya adalah bahwa Sultan telah mengumpulkan segala pembesar kesultanan untuk nantinya menyerang dan membunuh semua orang Belanda di daerah itu. ‘Petor’ atau pejabat tertinggi Belanda itu mempercayai segala-sesuatu yang disampaikan oleh Demang Miskien.

‘Petor’ itu memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan persenjataan. Dalam waktu sesingkat-singkatnya, mereka menyerang kraton Sultan. Terjadilah pertempuran. Kraton Sultan digempur tembakan dari darat dan dari atas sebuah kapal yang berlabuh di perairan di depan kraton. Sontak, Sultan menutup rapat-rapat gerbang kraton. Pasukan-pasukannya membalas tembakan-tembakan Belanda; begitu gencar tembakan balasan itu sehingga Belanda terpaksa menyerah dan mundur, meninggalkan Djambi (catatan FA: pun peristiwa ini tercatat dalam tulisan Valentijn, 1726).

Sang Sultan, yang sebetulnya tidak tahu-menahu dari mana datangnya permusuhan Belanda itu, akhirnya mengetahui bahwa semua itu terjadi oleh pengkhianatan Demang Mieskin. Rupanya Demang Mieskin pun telah meninggalkan Djambi, bersama dengan ‘Petor’ Belanda tadi.

Sultan Abdul Rahman segera mengirim surat kepada Gubernur-Jendral VOC di Batavia. Ia mengungkapkan bahwa peperangan yang terjadi bukanlah salahnya: Petor telah menyerang kratonnya tanpa alasan  dan bahwa semua itu terjadi oleh ulah dan pengkhinatan Demang Mieskin. Sang Sultan menuntut agar peristiwa ini diteliti. Sultan mengutus tiga orang untuk menyampaikan surat itu, yaitu Radin Kabat, Radin Bakan dan Radin Toemoe.

Pemerintah Hindia-Belanda meneliti peristiwa itu dan memutuskan bahwa ‘Petor’ telah berlaku salah. Ia dicopot dari jabatannya. Seorang Residen baru diberangkatkan ke Djambi untuk menggantinya. Selanjutnya, perkara itu diselesaikan secara damai. Kumpeni membangun pertahanan di Moeara Koempeh pada tahun 1707. Demang Mieskin diserahkan kepada Sultan. Selanjutnya, ia hanya menerima upah untuk apa-apa yang dikerjakannya.

Pada waktunya, Abdoel Rachman meninggal dunia. Ia digantikan oleh anaknya yang bergelar Sultan Achmad Zenoedin. Sultan ini memiliki tiga orang anak lelaki. Di zaman pemerintahan Sultan Achmad Zenoedin terjadi pemberontakan. Huru-hara itu terjadi karena salah seorang menantu Sultan, Pangeran Smartoean, ternyata telah menerima uang muka (atau komisi) untuk pasokan lada, padahal hal itu melanggar kesepakatan. ‘Petor’ (Residen) yang baru menangkapnya dan mengirimkannya ke Pulau Jawa sebagai tawanan. Penangkapan itu membangkitkan kemarahan massa. Mereka menyerang pertahanan Belanda di Djambi.

Pertempuran yang terjadi berlangsung selama lima hari. Setelah korban berjatuhan, para penyerang Belanda menarik diri. Akan tetapi, Belanda—yang merasa tak sanggup mempertahankan diri melawan serangan kedua dari orang-orang, segera mempersiapkan kapal-kapal mereka dan secepatnya, meninggalkan Djambi.

Beberapa waktu kemudian, ketika Sultan Zenoedin meninggal dunia, kedudukannya digantikan oleh anaknya, Masoed Badaroedin. Setelah itu, Pangeran Ratoe Adie menjadi sultan dengan nama Sultan Machmoed Mahiedin. Sultan ini digantikan oleh anak lelakinya, Machmoed Pharoedin yang mengangkat Pangeran Marta Mingrat sebagai Pangeran Ratoe. Ketika tulisan ini diterbitkan Pangeran Ratoe Marta Mingrat telah dinobatkan menjadi sultan dengan nama Sultan Ratoe Abdul Rachman Nasaroedin.

Demikianlah Anonim mengakhiri tulisannya mengenai legenda dan Sultan-sultan Djambi di Palembang, pada bulan Agustus 1843.

*Sumber naskah: Anonim. ‘Legenden van Djambi,’ dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, vol 8 (Batavia: Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen, 1846. Hal. 33- 56.

 

 


Tag : #Djambi #Sultan-sultan #Radja Kijai Gede #Sultan #Frieda Amran #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Selasa, 25 September 2018 18:04 WIB

Sosialisasi Pemilu Damai di Bungo, Kapolda: Berbeda Pilihan, Jangan Merusak Persaudaraan


Kajanglako.com, Bungo - Kapolda Jambi, Irjen Pol Muchlis. Mensosialisasikan bahaya Radikalisme, Terorisme dan Pemilu Damai ke Kabupaten Bungo.    Kedatangan

 

Kekerasan Terhadap Jurnalis
Selasa, 25 September 2018 15:05 WIB

Penyidikan Kasus Ancaman Pembunuhan Wartawan, Camat Marosebo Ulu Berhalangan Hadir


Kajanglako.com, Batanghari - Polres Batanghari terus melakukan penyelidikan terhadap kasus ancaman pembunuhan wartawan yang dilakukan oknum ASN Kantor

 

Selasa, 25 September 2018 13:43 WIB

Penjual Emas PETI Diamankan saat Tunggu Pembeli di Pinggir Jalan


Kajanglako.com, Merangin - Polisi Resor Merangin mengamankan dua orang penjual emas hasil pertambangan ilegal. Pelaku diamankan di wilayah Kelurahan Pasar

 

Lelang Jebatan
Selasa, 25 September 2018 13:26 WIB

Tiga Besar Lelang Jabatan Pemprov Diumumkan, Ini Daftarnya


Kajanglako.com, Jambi - Panitia Pelaksana Lelang Jabatan Pemprov Jambi, telah mengumumkan tiga besar terbaik hasil uji kompetensi lelang jabatan Eselon

 

Unjuk Rasa
Selasa, 25 September 2018 12:57 WIB

Pilrio Ditunda, Warga Ujung Tanjung Unjuk Rasa ke DPRD Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Ratusan masyarakat Dusun Ujung Tanjung, Kecamatan Jujuhan menggeruduk Kantor DPRD Bungo, Selasa (25/9).   Dalam aksinya warga