Sabtu, 15 Desember 2018


Selasa, 13 Februari 2018 10:41 WIB

Simpang Pulai ke Tugu Juang: Wajah Kota yang Berdesakan

Reporter : Redaksi
Kategori : Sudut

Kota Jambi Malam Hari. Sumber foto: pesonajambi

Oleh: Jumardi Putra*

21.45



Hujan lebat. Percakapan istirahat total. Bentang ruang di balik kaca Let’srock cafe, Jl Prof. H. M. Amin, nyaris kosong. Ada dua tenda merah dan beberapa kursi kayu tak berpengunjung. Satu, dua mobil melintas, tapi segera hilang di perempatan. Jajakan batu akik di bahu kiri-kanan jalan, meski tak lagi ramai, disinggahi oleh beberapa peminatnya.

Kami, jamaah NgotaBuku, yang sebelumnya diskusi trilogi Darah Emas-nya Meiliana K. Tansri, di dalam cafe, menunggu hingga hujan reda. Tak juga henti. Hujan betul-betul mendermakan kasihnya, setelah beberapa hari sebelumnya, langit Tanah Pilih Pusako Betuah, Kota Jambi, berawan cerah. Tak ada yang menggerutu. Masing-masing kami larut dalam deraian hujan disertai tembang lawas Still Loving Younya The Scorpions.

23.15

Satu per satu dari kami memilih pulang bermantelkan hujan. Saya tak tahu berapa jarak yang mereka tempuh untuk sampai ke rumah masing-masing. Yang terlintas di pikiran saya justru ungkapan arsitek cum sastrawan Avianti Armand, berikut ini, “bersentuhan dengan air karenanya seperti mengembalikan sensasi primitif yang pernah kita rasakan di awal kehidupan-perasaan aman dan nyaman ketika berada dalam rahim. Seperti “pulang” (2011).  

Tiba giliran saya bersama istri dan anak pulang. Hujan masih total. Lampu-lampu di sepanjang jalan mengisi ruang dengan selongsong cahaya yang berebutan. Tukang tampal ban seolah mendapati musimnya, sepi. Warung-warung kecil dan kaki lima, satu per satu gulung tikar. Berganti pusat-pusat perbelanjaan dan merah putih Kentucky Fried Chicken atau suasana malam yang gemerlap oleh cafe dan restoran. Pun begitu polusi visual, seperti poster, baliho, spanduk, dan billboard membuat kota tampil berdesakan. Bahkan, hampir di setiap sore hari, pengandara selalu diganggu oleh kehadiran sales yang memenuhi badan jalan demi menjajaki smartphone dengan segala rayuan fitur canggihnya.

Tepat di perempatan Simpang Pulai, pandangan saya tertuju ke kiri bahu jalan. Taman Gajah. Seketika itu, album kenangan saya bersama Kaindra, anak pertama saya, dan bocah-bocah lainnya, menyeruak sisi lain ibu kota Bumi Pucuk Jambi Sembilan Lurah. Apa sebab? Sebuah ruang publik amat kecil yang tidak dikelaskan oleh “daftar biaya” atau apapun istilah ekonomitriknya. Dari yang papa sampai super punya, taman gajah-ruang publik nan kecil itu-mempersilakan siapa saja, bercengkrama, sebagaimana tradisi Alun-alun kota di tanah Jawa. Sementara terhadap Tugu Pers, berlokasi arah kanan sepemandangan saya menyembulkan tanya, “Ke mana tukang itu pergi, setelah Tugu Pers selesai dibangun?”

Traffic light menunjukkan tanda hijau. Saya tancap gas. Pikiranku menangkap kesan. Kota Jambi dewasa ini tak bisa lagi menyembunyikan “kelelahan” yang kian membuntal. Semua ruang ditakar hanya dengan “nilai tukar”, bukan “nilai guna”. Menyerupai kepadatan yang palsu dan waktu menjelma uang yang tak lekang.  Tak syak, tergerusnya ruang-ruang terbuka non komersil (terutama untuk remaja dan anak-anak) di tengah kota, stabilitas dapur kaum miskin kota yang terus goyah, dan minimnya prasarana-prasarana sosial, yang oleh John Ormsbee Simonds disebut sebagai “urban paradise” (surga perkotaan) menjadikannya kian jauh dari harapan warga, utamanya kaum miskin kota.

Memang, dari sepanjang arah jalan Simpang Pulai sampai ke Tugu Juang, terdapat satu, dua,  tiga sekolah, dan  dua taman. Juga berdiri perguruan tinggi, toko buku, dan perpustakaan. Tapi keberadaannya seolah terhimpit oleh buldoser modal yang menguasai ruang, sehingga yang tak bermodal terpaksa menyingkir perlahan-lahan. Kota melebar tak terkendali, terfragmentasi, dan terkonsentrasi dalam ruang-ruang kalkulatif. 

01.10

Usai berteduh di dua tempat sepanjang Simpang Pulai ke Beliung Patah, tibalah kami di rumah. Bagaimanapun ini kusebut sebuah perjalanan, lantaran dari Simpang Pulai ke arah Tugu Juang, memuat tanda dan pola yang kian manunggal, kepadatan warga kota yang menguras emosi dan energi, yang terkadang jatuh dan mengeluh pada batas-batas harapan-sendiri.

Kondisi tersebut menggiring warga pada pengalaman-pengalaman yang tereduksi. Penggalan yang seperti perspektif, hanya menyisakan satu sudut pandang. Apa sebab? Seluruh proyeksi mengarah pada komodifikasi ruang yang semakin total dan tak peduli. Kota ini, bila tak segera menyadari gurita modal yang merenggutnya, maka segera menjadi sekadar tempat bertahan hidup, bukan tempat hidup, yang sejatinya memberi arti keberadaan kepada penghuni yang tinggal di dalamnya.

Beranjak dari hal itu, untuk menyeimbangi derasnya modal, yang selama ini menjadikan kebudayaan Jambi sebagai sektor minor, bahkan cenderung dibuat periferik, sangatlah tepat bila pemerintah kota Jambi dengan kepemilikan ruang-ruang terbuka dan pemerintah provinsi Jambi (untuk menyebut salah satu contoh) dapat menjelmakan area taman Tugu Juang (baru saja direnovasi) sebagai “nol kilometer” kebudayaan Bumi Pucuk Jambi Sembilan Lurah, yakni sebagai salah satu ruang publik strategis yang menjadikan kebudayaan sebagai basisnya. Kebudayaan yang saya maksud di sini, yang dihubungkan dengan aktualitas bidang-bidang kesenian kreatif, yaitu mencakup pertautan dengan bahasa, sastra, musik, film, tari, senirupa, dan lainnya. Tradisi-modern sama-sama mendapat tempat. Tidak sebagaimana sekarang dan waktu-waktu lewat, ruang-ruang publik justru menjelma ‘pasar malam’ dengan segala macam modusnya.

Dalam konteks demikianlah, lewat ruang dan ekspresi kesenian di ruang-ruang publik di Tanah Pilih Pusako Betuah, Kota Jambi, ini muncul dialektika kaum kreatif perkotaan yan senantiasa menghadirkan kembali masa lampau dan kekinian dalam bingkai pemuliaan sikap berpengetahuan, semangat kewargaan, keseimbangan lingkungan, kohesi sosial, kebangunan seni-budaya, yang berujung pada perasaan bangga segenap warga kota.

*Penulis pecinta buku dan kesenian. Peristiwa dalam catatan sederhana ini terjadi dua tahun lalu. Tetapi akselerasi pembangunan di Kota Jambi dewasa ini tetap saja menyembulkan kekhawatiran bagi pudarnya kohesi sosial.


Tag : #kohesi sosial #taman tugu juang #nol kilometer kebudayaan #kota jambi



Berita Terbaru

 

Jumat, 14 Desember 2018 22:15 WIB

Nota Ponita, Bocah Penderita Penyempitan Usus dapat Bantuan Fachrori


Kajanglako.com, Jambi – Nasib malang dialami Nota Ponita, bocah berusia lima tahun warga Kelurahan Handil Jaya, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi ini

 

Jumat, 14 Desember 2018 21:48 WIB

Puluhan Emak-emak Keracunan Makanan Usai Acara Yasinan


Kajanglako.com, Batanghari - Puluhan ibu-ibu keracunan gara gara menyantap hidangan di acara yasinan rutin pada Kamis malam (13/12) di Desa Rambutan Masam.

 

Jumat, 14 Desember 2018 20:54 WIB

AJI Jambi Gelar Halfday Basic Workshop Hoax Busting and Digital Hygiene


Kajanglako.com, Jambi - Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jambi, bekerjasama dengan Google News Initiative dan Internews Halfday Basic menggelar Workshop

 

Jumat, 14 Desember 2018 19:57 WIB

Ini Program Jangka Menengah Pemkab Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin melaksanakan rapat konsultasi publik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

 

Jumat, 14 Desember 2018 19:54 WIB

Atlet Pemenang Gala Desa Protes Tak Ada Uang Pembina, Tobroni Yusuf: Tanya ke Menpora


Kajanglako.com, Bungo - Event pertandingan yang diselenggarakan pada 27 November lalu, Kamis malam (13/12) resmi ditutup oleh Tobroni Yusuf, Plt Kadis