Senin, 21 Mei 2018


Senin, 12 Februari 2018 17:07 WIB

Tari Sekapur Sirih, Simbol Keterbukaan Masyarakat Jambi

Reporter : Redaksi
Kategori : Ensklopedia

Tari Sekapur Sirih

Tari Sekapur Sirih merupakan tarian tradisional yang berasal dari daerah Jambi. Tarian ini masuk ke dalam kategori tarian penyambutan tamu yang datang. Dengan berpakaian adat serta diiringi alunan musik pengiring, para penari menggerakkan tubuhnya dengan lemah lembut sembari membawakan cerano sebagai tanda persembahan.

Tari Sekapur Sirih pertama kali diciptakan oleh seniman Jambi, Firdaus Chatap. Pada 1962 tarian ini diperkenalkan kepada masyarakat luas. Tersebab awalnya merupakan gerakan dasar, beberapa seniman mengembangkan tarian ini dengan disertai iringan musik dan lagu, sehingga membuatnya menarik perhatian warga maupun tamu yang menyaksikan.



Gerakan dalam tarian ini dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya gerakan melenggang, sembah tinggi, merentang kepak, bersolek, dan gerakan berputar. Sedangkan untuk pola lantai yang dimainkan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat pementasan.

Tari ini difungsikan sebagai tarian selamat datang untuk menyambut para tamu. Tarian ini menjelaskan sikap keterbukaan masyarakat daerah Jambi. Selain itu, Tari Sekapur Sirih juga artikan sebagai ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat dalam menyambut para tamu tersebut.

Tari Sekapur Sirih umumnya ditampilkan oleh penari wanita, tetapi ada juga yang menambahkan penari pria sebagai penari pendukung. Untuk jumlah penari biasanya terdiri dari sembilan penari wanita dan tiga penari pria. Para penari pria ini biasanya berperan sebagai pengawal dan pembawa payung. Sedangkan penari wanita berperan sebagai penari utama.

Secara pertunjukan Tari Sekapur Sirih biasanya diiringi oleh alunan musik tradisional seperti gambus, rebana, biola, gendang, gong, serta kordeon. Musik tradisional tersebut dimainkan oleh para pengiring dengan irama melayu yang khas, sesuai dengan lagu daerah yang dinyanyikan.

Adapun kostum yang digunakan para penari dalam Tari Sekapur Sirih ini biasanya adalah busana tradisional. Busana tersebut biasanya terdiri dari baju kurung dan kain songket khas Jambi. Pada bagian kepala penari biasanya menggunakan sanggul lipat pandan, sunting beringin,dan kembang goyang. Sedangkan untuk aksesoris biasanya terdiri dari teratai, pending, gelang dan selendang yang digunakan untuk menari.

Salah satu keunikan tarian ini yaitu pada akhir tarian biasanya para penari akan menyuguhkan cerano berisi sekapur sirih kepada tamu dan meminta mereka untuk mencicipinya. Hal ini dilakukan sebagai simbol atau bukti bahwa para tamu tersebut menerima sambutan selamat datang dari masyarakat.

*Diolah oleh redaksi dari berbagai sumber tentang Tari Sekapur Sirih, Tarian Tradisional dari Jambi”


Tag : #songket #baju kurung #gambus #rebana #Jambi #Sumatra #Tarian Tradisional



Berita Terbaru

 

Senin, 21 Mei 2018 14:28 WIB

Sekda Tanggapi Kabar Monopoli Bank Jambi di Pasar Angso Duo Baru


Kajanglako.com,  Jambi - Terkait beredar kabar di masyarakat bahwa pihak Bank Jambi disebut memonopoli PT EBN, dalam pengelolaan kredit tokok dan

 

Senin, 21 Mei 2018 14:21 WIB

Masalah Pemindahan Pedagang Angsoduo, Ini Kata Sekda Dianto


Kajanglako.com, Jambi - Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, M Dianto angkat bicara terkait permasalahan pemindahan pedagang Pasar Angso Duo lama ke Pasar

 

Senin, 21 Mei 2018 14:13 WIB

Hingga Pendaftaran Tutup, Hanya Satu Nama Mencalonkan Jadi Ketua KNPI Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Dewan Pengurus Daerah (DPD) II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bungo, siap menggelar Musyawarah Daerah (Musda)

 

Senin, 21 Mei 2018 13:58 WIB

Shoft Lounching Kantor Imigrasi, Bupati Bungo: Warga Urus Paspor Lebih Mudah


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, H Mashuri, secara resmi melaksanakan Soft Launching Kantor Imigrasi Kabupaten Bungo, Senin 21 Mei 2018.  Dengan

 

Senin, 21 Mei 2018 13:31 WIB

Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Fachrori Ajak Generasi Muda Teladani Bung Tomo


Kajanglako.com, Jambi - Plt Gubernur Jambi, Fachrori Umar, Senin (21/5) pagi memimpin upacara Hari Kebangkitan Nasional ke-110 di lapangan Kantor Gubernur