Rabu, 18 Juli 2018


Minggu, 11 Februari 2018 09:41 WIB

Melacak Jejak Sejarah Lewat 'Ziarah Batanghari'

Reporter : Redaksi
Kategori : Pustaka

Buku Puisi Ziarah Batanghari

Oleh: Dimas Arika Mihardja*

Ada seorang pemuda, Jumardi Putra namanya. Ia berdiri di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari memegang teropong untuk menelisik masa lampau, masa kini, dan kemungkinan kehadiran masa depan. Anak muda itu gamang, risau, dan bahkan galau melihat geliat Batanghari yang meliuk serupa naga raksasa, yang mengingatkan sebuah tembang khas daerah ini:



Dari danau sampai muaro

Kau macam nago dari Selatan

Bentukmu indah, arusmu tenang

Kau susuri kota Jambi

 

Sudah berapa zaman telah kau lewati

Prasasti kerjaan Melayu

Sampai kini, sampai kini kau tetap akan abadi

Batanghari, oi, batanghari

sungai yang terpanjang di pulau Sumatera

 

Pemuda itu, melalui teropong historis (kesejarahan) seolah menemukan kenyataan aktual, kehidupaan fiksional dan imajinasi pada ruang waktu yang hilang silih berganti, susul-menyusul, yang kemudian menghasilkan kenyataan baru yang aktual, yang kemudian diganti oleh kenyataan baru yang lebih aktual. Begitulah inti substansi perjalanan sejarah: terpapar dan terpendar pada masa lampau, masa kini, dan masa depan.

Semua dimensi waktu itu (masa lalu, masa kini, dan masa depan) seakan teraduk-aduk menjadi semacam “gado-gado” dalam puisi-puisi Jumardi Putra yang terangkum dalam “Ziarah Batanghari” (Ayyana, Yogyakarta, 2013, merangkum 69 puisi, kata pengantar oleh Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, plus endorsment Prof. Abdul Hadi WM, Prof. CW Watson, Acep zamzam Noor, Ibnu Wahyudi, Regina Yanti,Ph.D. Marhalim Zaini, dan Wayan Sunarta).

Semua yang terpapar dan tergelar dalam puisi-puisi Jumardi Putra, langsung atau tidak lanagsung memperlihatkan sikap, pandangan, visi, atau falsafah yang dianutnya. Puisi dengan demikian turut berkembang seiring perputaran roda zaman, melalui penafsiran-penafsiran baru.

Puisi diasumsikan sebagai rekaman napas zaman yang memiliki unsur untuk dapat dijadikan bahan kajian sejarah (historis). Unsur-unsur yang dinilai sebagai fakta sejarah itu  setelah didukung oleh informasi, imajinasi, dokumen-dokumen lainnya diperlukan untuk kajian puisi dengan pendekatan historis. Pendekatan historis selain menemukan fakta sejarah juga melakukan seleksi untuk mengambil unsur yang memiliki nilai sejarah.

Ambil misalnya puisi berjudul  “Tanah Pilih” (hal. 1),  “Chan-pi di Mata Sayoeti” (hal. 3), “Athisha Berguru di Svarnadvipa” (hal.4), “Kajanglako Telungkup di Tanggorajo” (hal. 8), “Tak Hilang Melayu di Jambi” (hal 10), “Balada Bujang Melayu” (hal. 11), “Aku, Kembarbatu dan Telagorajo’ (hal. 14),  “Nandung Tanah Sejarah” (hal. 16),  “Balada Candi Teluk” (hal. 17), “Kedaton” (hal. 18), “Rumah Batu Olak Kemang “(hal. 19), “Mengenang Selempang Merah” (hal. 20),“Setelah Pulau Berhala Tak Ada Lagi” (ha. 21), “Senyerang” (hal. 22), “Tiga Bukit, Sungai Au” ,(hal. 23), ‘Jalan Menikung ke Limbur Lubuk Mangkuang” (hal. 25), “Cerita di Lubuk Landai” (hal. 28), “Balada Buyung Empelu’ (hal. 29), “Di Ketinggian Jerambah Muaratembesi” (hal. 31), “Di Tepian Bukit Talanca” (hal. 32), “Orang-orang Empelu” (hal. 33), dan puisi-puisi lainnya.

Pendekatan historis mencari dan menemukan nilai-nilai yang tersembunyi di balik teks puisi. Pendekatan ini juga mempedulikan hubungan antara puisi dengan aspek sosio-budaya, ideologi, falsafah yang berkembang pada suatu kurun waktu tertentu. Dalam metodologisnya, pendekatan historis ini perlu mengkaji diri penulis (siapakah Jumardi Putra, apakah yang menjadi acuan dalam hidup dan kehidupan, keyakinan, dan aneka wacana pemikirannya yang masuk ke dalam puisi-puisi yang ditulisnya). Kajian historis juga menelisik pengaruh aspek-aspek ekstrinsik (sosial, budaya, ekonomi, politik, agama) yang tumbuh pada saat puisi ditulisnya. Penerapan pendekatan historis ini harus didukung oleh dokumen-dokumen lain selain puisi yang dikaji sehingga menghasilkan simpulan yang meyakinkan.

Buku “Ziarah Batanghari” yang kini ada di tangan kita, telah terbuka dan perlu dibaca untuk melacak jejak sejarah negeri Tanah Pilih. Kita baca hasil kontemplasi Jumardi Putra melalui puisi “Tanah Pilih” yang mengawali isi buku ini.

Kini aku mengerti, Saudaraku

Kenapa Tanah Pilih begitu lesu

Menjelma yatim piatu

dalam kesepian mahapanjang

Tanggal, bulan, tahun, atau mungkin

abad-abad terlalu sanggat di Tanggorajo

....

Teropong yang dipakai oleh Jumardi Putra dalam puisi ini berlensa buram, suram, dan Jambi dipandangnya sebagai sebuah negeri tertutup dan berselimut kabut. Tidak jelas, terlihat lesu, yatim piatu, dalam kesepian yang mahapanjang. Kenapa Jambi seperti itu? Dalam bait selanjutnya JP menulis karena “Kita sengaja lupa” dan “Tanah Pilih tak lagi kuasa menampung hasrat pribadi anak zamannya”....”Berbagai suasana telah menyusun dirinya/dalam segala prasangka cuaca”.

Kabut dan kemelut yang menutupi fakta sejarah dan karut-marut negeri ini dalam perspektif teropong Jumardi Putra diliputi suasana “segala prasangka cuaca”. Perspektif sejarah negeri ini tentu serupa pelangi—warna-warni oleh gelegak ambisi, gejolak nurani, yang semuanya berkonfrontasi untuk mencari solusi. Sebagai pemuda yang peduli pada persoalan Jambi, Jumardi Putra menutup buku dengan puisi “Saya Ingin Lihat Semua ini Berakhir” (hal. 69) yang selengkapnya diturunkan sebagai berikut: Saya ingin Lihat Semua Ini Berakhir

: Pram

Pada kesendirianku kau bercerita:

“Aku pernah memohon kepada Tuhan

Tolong cabut nyawaku saat ini juga

Bila saya tak lagi diperlukan”

 

Terhadap masa mudaku

Kau menitipkan pesan:

“Saya tidak pernah tenang.

Saya sangat muda, saya tidak

pernah berhenti sebentar”

 

Dalam amarahmu kutemukan:

‘Tahun-tahun sepi di mataku.

Di dadaku, daun-daun gugur berabad-abad.

Dalam pernyataan cintaku terhadap airmata,

Kupikul bumi manusia yang begitu berat”

 

Dalam romanmu kujumpai:

“Saya memesan hujan,

juga meminta kemarau,

dan musim-musim lain

dan segala prasangka cuaca.

Menemui orang-orang kecil di labirin

yang mendebarkan.

Hinga aku menanatang siapa saja

tentang manusia dan cita-cita”

 

Pada dialog kusimpulkan:

“Saya ingin lihat semua ini berakhir

Apa yang paling penting,

bila hayatku memisahi badan?

Aku bisa mendengar bisikan

Di bumi manusia, anak cucuku

menemukan keberanian”

 

Di akhir hayatmu, kusimpulkan;

“Reformasi belum mengubah banyak.

Dengan sukacita saya membakar sampah.

Menghanyutkan amarah, menemui arah”.

Jambi 2013.

 

Puisi ini merupakan ‘dialog imajiner” dengan sosok Pramoedya Ananta Toer—seorang sastrawan dan budayawan kebanggaan Indonesia lantaran ide dan pemikirannya brilian. Jumardi Putra sebagai generasi muda membaca sosok dan pemikiran Pramoedya, serta mengidentifikasi alam pikirannya untuk dijadikan bahan dasar melontarkan wacana baru. Ketika para elit politik hanya berebut kursi sebagai tahta kekuasaan, melakukan intrik dan tekanan, manipulasi, kolusi, nepotisme dan lainnya, Jumardi Putra merasa suntuk dan berkehendak agar semuanya ini berakhir. Harapan ini, untuk segera mengakhiri silang-sengkarut wacana mengenai berbagai hal mengenai hidup dan kehidupan merupakan keniscayaan, sebab harapan itu akan tetap tinggal sebagai harapan yang sulit terwujudkan.

Bagaimana seorang Jumardi Putra memandang “Arti kelahiran”? Dalam sebuah puisi di halaman 40 JP menulis seperti ini:

Arti Kelahiran

Masa lalu dilumuti batu-batu

Bagaimana menuju abad berlalu

Bila merasa tak perlu

Duka dihalau tak juga lerai

karena masa depan dituju

tidak dengan rakit bambu

Beribu pertanyaan terus berlaku

karena kelahiran tiba tidak sendirian

Jambi, 2012. 

Lahirnya era baru, bangkitnya generasi baru lahir atas kehendak bersama-sama, sebuah perjuangan kolektif untuk menuju cita-cita bersama. Peradaban tak bisa diubah oleh hanya seorang, melainkan harus didukung oleh kerja kolektif—masif sifatnya.

Secara personal, Jumardi Putra tentu sedang membangun sejarahnya sendiri. Ia menjadikan puisi sebagai media bertegur sapa, berdiskusi mengkritisi fenomena yang berkembang. Meski acap bimbang, melalui puisi yang dirangkum dalam buku “Ziarah Batanghari” setidaknya Jumardi Putra berupaya menembang—melagukan gigil peradaban, menguak pintu-pintu sejarah, dan berupaya melihat segala apa yang pernah dicatat dan diingat. Jumardi Putra tentu saja ingin dicatat, dan tak ingin dicatut namanya hanya untuk kebenaran sebuah sejarah. Sejarah pemikiran anak muda telah terhidang di hadapan kita, marilah kita diskusikan bersama.

*Dimas Arika Mihardja adalah pseudonim Dr. Sudaryono, lahir di Jogjakarta 3 Juli 1959. Tahun 1985 hijrah ke Jambi menjadi dosen di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Jambi. Gelar Doktor diraihnya 2002 dengan disertasi “Pasemon dalam Wacana Puisi Indonesia” (telah dibukukan oleh Kelompok Studi Penulisan, 2003). Tulisan di atas merupakan timbangannya terhadap buku puisi Ziarah Batanghari karya Jumadi Putra dalam diskusi yang berlangsung di FKIP Universitas Jambi tahun 2013 dengan judul Teropong Historis untuk Melacak Jejak pada "Ziarah batanghari". Karya tulis Dimas berupa cerpen, esai, dan kritik sastra tersebar di berbagai media massa koran dan jurnal-jurnal ilmiah. 


Tag : #Buku Puisi Ziarah Batanghari #Jambi #Sumatra #Sungai Batanghari



Berita Terbaru

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 11:48 WIB

Ini Bacaleg Golkar yang Berpotensi Dulang Suara di Kota Jambi


Kajanglako.com, Kota Jambi - Golkar Kota Jambi optimis akan meraih maksimal di Pemilu 2019, mereka menargetkan 7 hingga 8 kursi di DPRD Kota Jambi.    Pengurus

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 11:15 WIB

Jumlah Bacaleg yang Terdaftar di KPU Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Proses penerimaan pendaftaran Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) Pemilu 2019 untuk DPRD Provinsi Jambi, telah rampung dilaksanakan

 

Rabu, 18 Juli 2018 09:09 WIB

Pertanyakan Akuisisi Pertagas oleh PGN, Ihsan: Apa Urgensinya?


Kajanglako.com, Jakarta - Selasa, 17 Juli 2018, Komisi VI DPR RI melanjutkan rangkaian Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan mitra komisi. Kali ini RDP berlangsung

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 03:49 WIB

Ini Dasar KPU Bungo Tolak Berkas Partai Garuda Hingga Tereleminasi


Kajanglako.com, Bungo - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bungo menolak berkas pendaftaran Bacaleg dari Partai Garuda. Penolakan tersebut disebabkan masih

 

Pemilu 2019
Rabu, 18 Juli 2018 03:42 WIB

Hari Terakhir Pendaftaran di KPU Bungo, Bacaleg Partai Garuda Tereleminasi


Kajanglako.com, Bungo - Banyak partai politik di Kabupaten Bungo memilih mendaftarkan bakal calon legislatifnya pada akhir waktu. Padahal tidak ada