Senin, 10 Desember 2018


Sabtu, 10 Februari 2018 09:03 WIB

Di Balik Kompetisi Global

Reporter : Redaksi
Kategori : Ragam

Yudi Latif. Sumber foto: rilis.id

Oleh: Yudi Latif*

Saudaraku, apa yang bisa kita pertaruhkan dalam kompetisi global dengan gerak mobilitas yang bergegas, saling terkait, merobohkan tapal batas, dan menciptakan arena permainan yang merata (flat)?



Jawaban yang dimunculkan sebagai tumpuan daya saing ini biasanya hanya merujuk pada aset-aset yang ”teraba” (tangible): sumberdaya material, tenaga terampil, arus investasi, prosedur demokrasi, legislasi dan sejenisnya.

Tetapi orang seringkali luput pada kearifan tradisional. Bahwa di balik perubahan-perubahan cepat dan serempak, ada elemen-elemen konstanta yang sepanjang sejarah umat manusia tetap menjadi jangkar kekuatan suatu masyarakat. Salah satunya adalah kekuatan akhlak-karakter sebagai aset yang tak teraba (intangible). Yang dimaksud karakter di sini berkaitan dengan segi-segi otoritas khas suatu masyarakat yang ditimbulkan oleh kualitas-kualitas keterpercayaan (trustworthy), kreativitas dan ketahanan dalam menghadapi krisis.

Faktanya, meskipun globalisasi cenderung melemahkan otoritas negara, negara-negara yang memperoleh banyak keuntungan dari globalisasi justru negara-negara dengan karakter “kuat” yang mampu menegakkan otoritas dan karakter bangsanya.

Pembangunan ekonomi dan politik harus dimulai dari usaha memulihkan rasa saling percaya bahwa rasionalitas kepentingan individual tak akan dibayar oleh irasionalitas kepentingan kolektif. Kepercayaan bahwa warga negara akan mendapatkan politik sesuai dengan perilakunya harus diubah dengan kepercayaan bahwa politik terpercaya akan mendapatkan partisipasi politik yang sepadan dengannya.

Dalam hal ini, ada baiknya kita menyimak pernyataan Lee Kuan Yew mengenai ”trust”, sebagai modal terpenting dalam usahanya mentransformasikan Singapura yang miskin menjadi negara maju. ”Modal kami cuma kepercayaan dan keyakinan rakyat, kerja keras, hemat, haus belajar, serta kesadaran bahwa tindakan korup akan menghancurkan segala harapan.” Lantas ia tekankan, "Jangan sia-siakan kepercayaan rakyat. Sebab, modal terbesar untuk perubahan adalah kepercayaan dan keyakinan rakyat. Tugasku adalah untuk memberikan harapan kepada rakyat, bukan untuk membuatnya mengalami demoralisasi.”

Masalah trust ini bukan hanya penting dalam kehidupan politik tetapi juga dalam daya saing perekonomian suatu bangsa. Seperti dinyatakan oleh Francis Fukuyama (1995), “Kemakmuran suatu bangsa, dan juga kemampuannya untuk berkompetisi di pasar global, dikondisikan oleh suatu karakteristik kultural yang bersifar pervasif, yakni tingkat “percaya” (trust) yang secara inheren ada dalam masyarakat tersebut.”

Dalam pandangannya, kita tidak dapat memisahkan kehidupan ekonomi dari kehidupan budaya. Dalam suatu era ketika “modal sosial” sama pentingnya dengan “modal fisik”, hanya masyarakat dengan tingkat kepercayaan sosial yang tinggilah yang akan mampu menciptakan fleksibilitas, organisasi bisnis berskala luas yang diperlukan untuk berkompetisi dalam perekonomian global. Ditambahkan pula bahwa level trust yang tinggi bisa mengurangi berbagai ongkos transaksi yang membuat perekonomian berbiaya murah dengan kemampuan membangun jaringan dalam skala luas.

Berdiri di awal milenium baru, menyaksikan arus globalisasi yang kian luas cakupannya, dalam penetrasinya dan instan kecepatannya, mengusik rasa hirau kita akan eksistensi bangsa kita di pentas dunia. Adakah yang bisa banggakan di pentas dunia selain gelar-gelar buruk?

Setiap hari, yang giat kita tabur hanyalah manipulasi dan caci maki. Rasa saling percaya lenyap. Setiap orang berlomba menghianati sesama dan negaranya. Kebaikan dimusuhi, keburukan diagungkan.

Jika bangsa ini kehilangan sumberdaya material, kita cuma kehilangan sesuatu. Jika kita tak kunjung menemukan pemimpin yang tepat, kita cuma kehilangan seseorang. Namun jika bangsa ini kehilangan karakter, maka kita akan kehilangan segalanya.

Marilah kita muliakan rasa saling percaya, dengan kesungguhan mengemban kepercayaan publik, dibarengi semangat saling berbagi dan saling menghormati.

*Yudi Latif, Ph.D. merupakan Kepala Pelaksana Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Pemikirannya dalam bidang keagamaan dan kenegaraan tersebar di berbagai media, salah satunya dituangkan dalam buku "Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila"  Esai ini pertama kali diunggah di laman facebook pribadinya, 9 Februari 2018, dengan judul Percaya. Pemuatan tulisan ini atas izin yang bersangkutan.


Tag : #Kompetisi Global #Singapura #Francis Fukuyama #Kepercayaan Publik



Berita Terbaru

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:45 WIB

Premi BPJS Kesehatan ASN Muarojambi Capai Rp12,24 Miliar


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Setiap tahun Pemerintah Kabupaten Muarojambi mengeluarkan dana sebesar Rp12,24 miliar.    Dana sebesar itu digunakan

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:31 WIB

Kontraktor Curi Listrik, Saryoto Sebut Pihak Rekanan Lobi Denda ke PLN Jambi


Kajanglako.com, Batanghari - Hingga saat ini, KWH di Kantor Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:08 WIB

Tumpukan Sampah Bikin Kesal, Warga Bagan Pete Blokir Jalan


Kajanglako.com, Jambi  - Puluhan warga Bagan Pete RT 15 Kenali Besar, Kota Jambi, melakukan aksi pemblokiran jalan. Minggu (9/12).   Aksi merupakan

 

Minggu, 09 Desember 2018 11:18 WIB

BNNK Bungo Antisipasi Meningkatnya Peredaran Narkoba Jelang Tahun Baru


Kajanglako.com, Bungo - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bungo mengantisipasi peningkatan peredaran barang haram jelang Tahun Baru 2019.   Ketua

 

Sabtu, 08 Desember 2018 14:56 WIB

Biaya Makan Napi Minus, Lapas Sarolangun Hutang ke Rekanan


Kajanglako.com, Sarolangun – Anggaran untuk makan Napi di Lapas Klas III Sarolangun yang dikucurkan Kementerian Hukum dan HAM melalui Dirjen Pemasyarakatan