Minggu, 25 Februari 2018


Sabtu, 10 Februari 2018 08:07 WIB

Sultan Serie Ingloga, Radja Djohor dan Belanda

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Al-kisah, pada suatu hari, putri Radja Menangkabaoe menyampaikan kepada ayahandanya bahwa ia ingin pergi, meninggalkan tanah kelahirannya dan mencari tempat tinggal baru. Putri itu bernama Putri Pinang Masak. Ia adalah keturunan dewa. Ayahandanya, Radja Menangkabaoe memberikan restu dan izinnya. Berangkatlah Putri Pinang Masak. Ia berjalan dan berjalan sampai ia tiba di tempat yang dulu ditinggali oleh Toean Talanie. Di tempat ini, Putri Pinang Masak mendirikan permukiman.



Beberapa waktu kemudian, kabar mengenai kepindahan Putri Pinang Masak ke tempat itu terdengar oleh Pangeran Rangas Pandak. Ia segera mengutus seseorang untuk menanyakan maksud kedatangannya di tanah Djambi. Putri Pinang Masak segera memerintahkan utusan itu untuk kembali saja dan menyampaikan pesan bahwa Putri Pinang Masak ingin bertemu sendiri dengan Pangeran Rangas Pandak.

Pangeran Rangas Pandak tersentak mendengar pesan jawaban dari Pinang Masak. Ia segera berangkat untuk menemui perempuan yang begitu berani menantangnya. Bertemulah keduanya. Tak ayal, Pangeran Rengas Pandak jatuh hati dan menikahi Putri Pinang Masak. Ketika saatnya kembali ke ibukota kerajaannya, Pangeran Rangas Pandak membawa isteri. Dari perkawinan ini, keduanya dikaruniai empat orang anak, yaitu: Pangeran Tommengong, Pangeran Depattie, Pangeran Pakoe Negara dan Panumbahan Bawo Sawo.

Walau Pangeran Rangas Pandak telah memerintah sekian lama, masih ada sebagian rakyat yang memusuhinya dan tak mau tunduk pada kekuasaannya. Setelah ia meninggal dunia, sebelum anak sulungnya, sebelum dinobatkan sebagai raja oleh rakyat, Pangeran Tommenggong memindahkan ibukota kerajaan ke Malie Poero. Tak lama setelah pindah, Pangerang Tommenggong mulai memerangi semua yang memusuhi kerajaannya. Adik-adiknya pun ikut mengangkat senjata. Perjuangan mereka tak sia-sia. Mereka tidak hanya berhasil memenangkan peperangan itu, tetapi juga berhasil merangsek masuk sampai ke Tanjong Semelidoe. Rakyat di VII dan IX Kotta  terpaksa tunduk mengakui kekuasaan mereka.

Berita ini tentang ditaklukkannya sebagian wilayahnya oleh Pangerang Tomenggong dan adik-adiknya sampai pula ke telinga Jang Dipertoean dari Menangkabaoe. Ia segera mengerahkan kekuatan; ia mengumpulkan petinggi kerajaan dan pasukan. Secepat mungkin, mereka berbaris ke Tanjong Semelidoe.

Sesampai di Tanjong Semelidoe, Jang Dipertoean dari Menangkabaoe memanggil Panumbahan Rawo Sawo agar menghadap kepadanya. Lelaki ini pun datang dan menghaturkan sembah: “Tabik, Baginda. Hamba, Panumbahan Rawo Sawo adalah sanak Baginda. Kami empat beradik.”

Jang Dipertoean dari Menangkabaoe memerintahkan agar keempat kakak-beradik itu segera datang ke hadapannya. Lalu, ia bertanya: “Siapakah gerangan raja kerajaan ini?”

Pertanyaan itu tak terjawab karena belum ada raja yang dinobatkan. Akhirnya, dengan persetujuan Panumbahan Rawo Sawo, keempat kakak-beradik menobatkan adik yang bungsu itu sebagai raja. Sebuah kesepakatan dibuat untuk menjalin hubungan persahabatan, kesetiaan dan saling menghormati dengan Keradjaan Menangkabaoe. Pada saat itu juga mereka menyembelih hewan-hewan korban.  Tanjong Semelidoe ditentukan sebagai perbatasan di antara Keradjaan Menangkabaoe dan Keradjaan Djambi. Setelah berpesta, kedua belah pihak kembali ke wilayah kerajaan masing-masing.

Dalam perjalanan pulang, langkah Panumbahan Rawo Sawo, raja yang baru saja dinobatkan itu, terhenti di daerah Pilie. Ia terdiam melihat keindahan daerah itu. Seketika, ia memutuskan untuk memindahkan ibukota kerajaannya ke Pilie. Setelah kraton raja selesai dibangun, mulailah dibangun pula sebuah kampung di dekatnya. Pangeran Tommenggong diangkat sebagai kepala kampung itu. Semua orang, pun masyarakat yang tadinya memusuhi raja, bersatu di tempat itu. Dua kakak-adik yang tersisa meneruskan perjalanan. Seorang kemudian tinggal di Poerbon; seorang lagi tinggal di Keboemen.

Panumbahan Rawo Sawo dikaruniai dua orang anak: seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Yang perempuan menikah dengan Radja Djohor dan dikaruniai tiga orang anak. Pada waktunya, anak lelaki Panumbahan Rawo Sawo menggantikan ayahnya sebagai raja dengan gelar Sultan Serie Ingloga. Sejak saat inilah, raja-raja Djambi mulai menyandang gelar ‘Sultan’.

Sultan Serie Ingloga membangun kraton di Djeboes. Ia menjalankan kekuasaannya dari tempat ini. Adik perempuannya—yang menikah dengan Radja Djohor—meninggal dunia. Jasadnya diantarkan pulang ke Djambi oleh suaminya. Pada saat itu, Sang Sultan sedang bepergian. Radja Djohor mengambil kesempatan ketidakhadiran Sultan untuk mencuri senjata keramat dan gong yang telah diterima Sultan dari para dewa. Benda-benda pusaka itu dibawanya pulang ke Djohor.

Ketika Sultan Serie Ingloga kembali, ia segera melihat bahwa benda-benda pusaka kerajaan telah raib. Ia menitahkan agar pusaka-pusaka itu dibawa kembali ke Djeboes. Seorang kepercayaan Sultan di negeri seberang laut itu berhasil merampasnya dan membawanya  pulang. Tentu saja hal itu membuat Radja Djohor murka. Ia mengumumkan akan memerangi Djambi dan meminta bantuan dari Palembang.

Sultan Djambi—yang gelisah dan khawatir membayangkan akan diserang oleh Palembang, memperkuat pertahanannya. Ia mengirimkan utusan ke Padang untuk meminta bala-bantuan. Ketika Radja Djohor--dengan tambahan pasukan dari Palembang—tiba untuk menyerang Djambi, ternyata ia tidak hanya harus menghadapi Sultan Djambi dan pasukannya. Ia juga harus berhadapan dengan seorang Residen Belanda dan pasukan-pasukan Eropa yang telah datang dari Padang untuk membantu Sultan.

Peperangan berlangsung seru, tetapi Radja Djohor akhirnya terpaksa mengangkat tangan. Ia menyelamatkan diri dan meninggalkan Djambi. Setelah peristiwa ini, orang Eropa mulai bercokol di Djambi. Mereka membangun gudang dan perkantoran. Kapal-kapal dan perbekalan didatangkan dari Batavia untuk keperluan itu.

Sultan Djambi, yang pada waktu itu bergelar Sultan Agong, dikaruniai dua orang anak, yaitu Radin Kiajai Gede dan Djoemat.

* Sumber naskah: Anonim. ‘Legenden van Djambi,’ dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, vol 8 (Batavia: Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen, 1846. Hal. 33- 56.


Tag : #Djambi #Sumatra #Raja Djohor #Sultan Agong #Legenden van Djambi



Berita Terbaru

 

Pusaran Korupsi Jambi
Minggu, 25 Februari 2018 21:48 WIB

Soal 'Uang Ketok Palu', Pengacara Arfan: Perintahnya Berjenjang


Kajanglako.com, Jambi - Sidang lanjutan kasus dugaan suap pengesahan RAPBD Provinsi Jambi 2018, dengan terdakwa Erwan Malik,  Saipudin dan Arpan akan

 

Pilkada Kerinci 2018
Minggu, 25 Februari 2018 21:23 WIB

Beri Dukungan, Masyarakat Siulak Sambangi Posko ZA


Kajanglako.com, Kerinci - Tak hanya dari masyarakat wilayah Kerinci wilayah hilir, dukungan untuk pasangan calon Bupati Kerinci dan Wakil Bupati Kerinci

 

Pilkada Kerinci 2018
Minggu, 25 Februari 2018 21:08 WIB

Enam Desa Kemantan Siap Menangkan Zainal-Arsal, Ini Alasannya


Kajanglako.com, Kerinci - Dukungan untuk pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kerinci Nomor Urut 3, Zainal Abidin dan Arsal Apri terus mengalir.    Sabtu

 

Sidang Suap RAPBD
Minggu, 25 Februari 2018 20:45 WIB

Ini Daftar Anggota DPRD Provinsi yang Jalani Sidang OTT Besok


Kajanglako.com, Jambi - Senin (26/2) besok, dijadwalkan sejumlah Anggota DPRD Provinsi Jambi akan menjalani sidang sebagai saksi, dalam sidang lanjutan

 

Minggu, 25 Februari 2018 15:28 WIB

2019, Tiga Kecamatan di Batanghari Bakal Dapat Jembatan Gantung Melalui APBD Provinsi


Kajanglako.com, Batanghari - Pemerintah provinsi Jambi, pada tahun 2019 mendatang rencananya akan membangun jembatan gantung di wilayah Kabupaten Batanghari.