Sabtu, 19 Januari 2019


Jumat, 09 Februari 2018 16:38 WIB

A.N Alcaff, Aktor Film Kelahiran Jambi yang Terlupakan (1925-1987)

Reporter : Redaksi
Kategori : Sosok

AlCaff ketika berperan sebagai Iskandar dalam Film LEWAT DJAM MALAM yang digarap tahun 1954 oleh Usmar Ismail. Sumber: kapanlagi.com

Oleh: Jumardi Putra*

Mungkin tidak banyak masyarakat Jambi mengenal nama Achmad Nungcik Alcaff yang kerap disapa Alcaff.  Pria kelahiran Jambi, 17 Agustus 1925 ini pernah menempuh pendidikan Neutrale Schakel School pada 1931-1938. Dlam masa pendudukan Jepang, ia menjadi pegawai Nippon Tannin Kabusiki Khaisa (1943), lalu bergabung dengan kesatuan polisi tentara dengan pangkat Pembantu Letnan (1946-1950).



Sebelum aktif di dunia film, Alcaff menekuni dunia sandiwara, yaitu bersama Kamal Chatab mendirikan sandiwara amatir bernama Tjendrawasih. Kariernya di dunia film bermula pada 1951, melalui film karya sutradara Usmar Ismail yang berjudul Dosa Tak Berampun. Di film yang ceritanya berdasarkan sandiwara ‘Ayahku pulang’ itu Alcaff bermain sebagai pemeran utama bersama Rd. Ismail, Laksmi, dan Awal (mantan Kapolri Jendral Awaludin Djamin).

Usai kesuksesan itu menyusul film-film tenar Alcaff berikutnya, antara lain, Lewat Djam Malam (1954) karya sutradara Usmar Ismail, yang membawanya berhasil meraih penghargaan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik  di Festival Film Indonesia (FFI I) tahun 1955. Penghargaan FFI untuk Pemeran Utama Pria Terbaik adalah sebuah penghargaan yang diberikan di Festival Film Indonesia kepada aktor-aktor Indonesia untuk prestasi-prestasi mereka dalam peran utama. Singkatnya, keberhasilannya mencapai posisi sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik di masa itu tak lain adalah capaian luar biasa.

Dimulai 1951 hingga 1965 tidak kurang dari dua puluh empat judul film yang dibintanginya dan semuanya sebagai pemeran utama, seperti dalam film-film berikut ini, antara lain, Embun (1951), Sangkar Emas (1952), Ajah Kikir (1953), Mendung Sendja Hari (1960), dan Malam Tak Berembun (1961).

Selain terlibat sebagai pemeran utama, periode 1970-1971, Alcaff juga pernah bermain sebagai pemeran pembantu, seperti dalam film Dan Bunga-Bunga Berguguran (1970) serta Brandal-Brandal Metropolitan (1971). Selain itu, tahun-tahun berikutnya ia lebih banyak memerankan pembantu dalam film-film seperti Ratapan Si Miskin (1974), Pembalasan Si Pitung (1977), Ratu Pantai Selatan (1980) dan Sunan Kalijaga (1983).

Tak berhenti di situ saja, pada 1972, Alcaff dipercaya melakoni pengalaman baru, yakni menyutradarai film Intan Perawan Kubu produksi bersama PT. Indah Geeta Film dan Pemerintah Daerah Jambi.

Film tersebut secara spesifik menceritakan sebuah ekspedisi yang sengaja dibentuk untuk mencari orang yang hilang di daerah Air Hitam, belantara Jambi. Singkatnya mengurai konflik yang terjadi dalam tubuh anggota ekspedisi dengan suku Kubu (untuk menyebut Suku Anak Dalam atau Orang Rimba sekarang), dan dibumbui aroma percintaan antara kepala ekspedisi yang juga calon dokter dengan putri kepala suku.

Sayang, film yang tayang empat puluh satu tahun lalu itu seolah terlupakan, utamanya di kalangan warga Jambi, terlebih oleh geliat film tanah air dewasa ini, untuk menyebut contoh, yaitu kesuksesan film layar lebar, Sokola Rimba, besutan sutradara ternama Riri Reza (2013).

Tercatat dari 1951-1983 Alcaff telah membintangi sekurangnya 45 film dengan melakoni berbagai peran. Sejak 1984 sampai 1987, Alcaff tidak lagi aktif sebagai pemain film hingga ia meninggal dunia pada 22 Desember 1987.  

Berikut daftar film yang diperankan Achmad Nungcik Alcaff sebelum memilih istirahat dari dunia film hingga wafat:

  1. Dosa Tak Berampun (1951),
  2. Embun (1951),
  3. Sorga Terakhir (1952),
  4. Chandra Dewi (1952),
  5. Sangkar Emas (1952),
  6. Penjelundup (1952),
  7. Asmara Murni (1953),
  8. Lagu Kenangan (1953),
  9. Ajah Kikir (1953),
  10. Kenari (1953),
  11. Air Pasang (1954),
  12. Lewat Djam Malam (1954),
  13. Mendung Sendja Hari (1960),
  14. Desa Yang Dilupakan (1960),
  15. Istana Yang Hilang (1960),
  16. Santy (1961),
  17. Malam Tak Berembun (1961),
  18. Korban Fitnah (1961),
  19. Bintang Ketjil (1963),
  20. Membina Dunia Baru (1964),
  21. Apa Jang Kautangisi (1965),
  22. Dan Bunga-Bunga Berguguran (1970),
  23. Hidup, Tjinta Dan Air Mata (1970),
  24. Air Mata Kekasih (1971),
  25. Ratna (1971),
  26. Tiada Maaf Bagimu (1971),
  27. Brandal-Brandal Metropolitan (1971),
  28. Diantara Anggrek Berbunga (1972),
  29. Intan Perawan Kubu (1972),
  30. Percintaan (1973),
  31. Pengorbanan (1974),
  32. Pembalasan Si Pitung (1977),
  33. Krakatau (1977),
  34. Duo Kribo (1977),
  35. Kuda-Kuda Binal (1978),
  36. Kasus (1978),
  37. Karena Dia (1979),
  38. Anak-Anak Tak Beribu (1980),
  39. Ratu Pantai Selatan (1980),
  40. Khana (1980),
  41. Dukun Lintah (1981),
  42. Perawan-Perawan (1981),
  43. Bukan Impian Semusim (1981),
  44. Bayi Ajaib (1982),
  45. Sunan Kalijaga (1983)

 

 *Penulis penyuka buku dan kesenian. Kini bekerja dan tinggal di Jambi. Tulisan di atas diolah dari berbagai sumber.


Tag : #Lewat Jam Malam 1954 #Intan Perawan Kubu #Usmar Ismail #Festival Film Indonesia



Berita Terbaru

 

Sabtu, 19 Januari 2019 12:25 WIB

Bupati Syahirsah Hadiri Sosialisasi BPOM Bersama Anggota DPR RI


Kajanglako.com, Batanghari - Bupati Batanghari, Syahirsah Sy, Kamis (17/01) lalu, membuka Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Komunikasi Informasi

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Sabtu, 19 Januari 2019 07:12 WIB

Raden Hassan, Danau Sipin dan Tanah Pileh


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Raden Hassan menunjukkan beberapa contoh batu bara yang dapat ditemukan di daerah Sekamis, di tepian

 

Jumat, 18 Januari 2019 20:15 WIB

Kunker ke Kerinci, Fachrori Bicara Pentingnya Pendidikan dan Kesehatan


Kajanglako.com, Jambi - Plt Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menyampaikan pesan pentingnya pendidikan dan kesehatan menjelang pelaksanaan ibadah Salat Jumat

 

Jumat, 18 Januari 2019 19:55 WIB

Penuhi Panggilan Bawaslu, Sutan Adil Menolak Disebut Diperiksa


Kajanglako.com, Jambi – Kasus pembagian Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) yang diduga dijadikan jualan politik oleh lima Caleg Gerindra, termasuk

 

Warga Tenggelam
Jumat, 18 Januari 2019 17:52 WIB

Petani yang Terseret Arus di Sungai Tembesi Ditemukan Tewas


Kajanglako.com, Merangin - Sarmidi (35), warga Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau yang terseret arus sungai Tembesi pada Rabu (16/1) lalu, berhasil